Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.
Aturan di Balik Pintu Tertutup
Hari ketiga sebagai Nyonya Wijaya dimulai dengan suara ketukan pelan di pintu kamar Aluna.
Ia baru saja selesai mandi ketika suara Bi Sari terdengar dari luar.
“Nyonya, Tuan Arkan menunggu di ruang kerja. Katanya ada hal penting yang perlu dibicarakan.”
Aluna terdiam sesaat.
Hal penting.
Sejak pernikahan itu terjadi, hampir setiap percakapan dengan Arkan selalu terdengar seperti pertemuan bisnis. Tidak pernah santai. Tidak pernah personal.
“Baik, Bi. Saya segera turun.”
Ia memilih blus krem sederhana dan rok panjang yang anggun. Tidak terlalu mencolok, tapi cukup pantas sebagai istri CEO. Ia menatap bayangannya di cermin sejenak.
Nyonya Wijaya.
Gelar itu masih terasa seperti kostum yang belum benar-benar pas di tubuhnya.
—
Ruang kerja Arkan berada di ujung lorong lantai dua. Berbeda dengan kamar tamu yang hangat, ruangan ini didominasi warna gelap—hitam, abu-abu, dan kayu tua. Rak buku tinggi memenuhi satu sisi dinding. Meja kerja besar menghadap jendela lebar.
Arkan berdiri membelakangi pintu saat Aluna masuk.
Ia mengenakan kemeja putih tanpa jas, lengan digulung hingga siku. Tatapannya tertuju pada tablet di tangannya.
“Kau datang,” ucapnya tanpa menoleh.
“Iya.”
Ia meletakkan tablet itu di meja, lalu berbalik menghadap Aluna.
“Ada beberapa hal yang harus kita sepakati mulai hari ini.”
Nada suaranya serius, tegas, seperti sedang memimpin rapat direksi.
Aluna mengangguk pelan.
Arkan berjalan mendekat dan menyerahkan sebuah map tipis.
“Ini jadwal dan daftar acara publik selama tiga bulan ke depan. Kau harus hadir di sebagian besar acara itu bersamaku.”
Aluna membuka map tersebut. Gala amal. Peresmian gedung baru. Makan malam dengan investor. Wawancara media terbatas.
“Sebagai istriku, keberadaanmu akan diamati. Setiap gerakan, ekspresi, bahkan cara bicaramu.”
Ia menatapnya lurus.
“Kau harus terlihat mencintaiku.”
Kalimat itu membuat Aluna sedikit terkejut.
“Terlihat?” ulangnya.
“Ya. Hanya terlihat.” Arkan menekankan kata itu. “Publik tidak peduli apa yang sebenarnya terjadi. Mereka hanya peduli apa yang mereka lihat.”
Aluna menarik napas pelan.
“Dan kalau saya gagal?”
Arkan tidak langsung menjawab. Ia berjalan kembali ke meja, menautkan kedua tangannya.
“Kalau kau gagal, tekanan pada perusahaan akan meningkat. Dewan akan memanfaatkan celah itu. Ayahku juga.”
Nada suaranya tetap datar, tapi Aluna bisa merasakan beban di baliknya.
“Baik,” jawabnya tenang. “Saya akan berusaha.”
Arkan mengamatinya beberapa detik lebih lama dari biasanya.
“Kau tidak perlu memanggilku ‘Pak’ lagi.”
Aluna tersentak kecil.
“Lalu…?”
“Arkan. Di depan umum dan di rumah.”
Ia ragu sejenak, lalu mengangguk. “Baik… Arkan.”
Nama itu terasa aneh di lidahnya. Terlalu dekat. Terlalu pribadi.
—
Sore itu, mereka harus menghadiri makan malam keluarga besar Wijaya.
Aluna berdiri di depan lemari pakaiannya yang kini sudah diisi berbagai gaun mahal kiriman butik ternama. Ia memilih gaun biru tua dengan potongan sederhana namun elegan.
Saat turun ke lobi, Arkan sudah menunggu.
Ia mengenakan setelan abu-abu gelap yang menonjolkan postur tegapnya.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk sepersekian detik, Arkan terlihat terdiam.
“Kau cocok dengan warna itu,” katanya singkat.
Aluna terkejut, tapi mencoba tidak menunjukkannya. “Terima kasih.”
Mereka berjalan berdampingan menuju mobil.
Di luar gerbang rumah, beberapa wartawan sudah menunggu. Lampu kamera menyala terang.
Arkan meraih tangan Aluna tanpa berkata apa-apa.
Sentuhan itu hangat.
Bukan sekadar formalitas.
Jari-jarinya menggenggam cukup erat, seolah ingin memastikan Aluna tidak goyah di tengah sorotan.
Senyum tipis terpasang di wajah mereka saat berjalan melewati kamera.
“Pak Arkan! Sejak kapan hubungan ini dimulai?”
“Apakah benar ini pernikahan kilat?”
“Bagaimana perasaan Nyonya menjadi istri CEO termuda?”
Arkan tidak menjawab satu pun pertanyaan. Ia hanya membuka pintu mobil untuk Aluna, lalu masuk setelahnya.
Begitu pintu tertutup dan suara kamera menjauh, genggamannya terlepas.
“Terima kasih,” ucap Aluna pelan.
“Itu bagian dari peranmu,” jawabnya.
Namun kali ini, nada suaranya tidak sedingin biasanya.
—
Rumah keluarga besar Wijaya jauh lebih megah dibanding rumah utama Arkan.
Bangunan klasik dengan pilar tinggi berdiri angkuh di tengah taman luas. Di dalamnya, lampu kristal besar menggantung di langit-langit tinggi.
Keluarga besar sudah berkumpul.
Tatapan penasaran langsung tertuju pada Aluna.
Beberapa wanita berbisik. Beberapa pria mengangguk sopan.
Seorang wanita paruh baya mendekat dengan senyum tipis.
“Kau Aluna?” tanyanya.
“Iya, Tante.”
“Aku kakak ayah Arkan. Semoga kau bisa bertahan lama.”
Kalimat itu terdengar seperti doa sekaligus sindiran.
Arkan merangkul bahu Aluna dengan santai.
“Istriku tidak selemah yang kalian kira.”
Nada suaranya tegas.
Aluna bisa merasakan beberapa pasang mata membelalak.
Sepanjang makan malam, pertanyaan demi pertanyaan diarahkan padanya.
“Keluargamu di mana?”
“Kau lulusan mana?”
“Apa yang membuat Arkan memilihmu?”
Pertanyaan terakhir itu membuat ruangan sedikit hening.
Aluna menatap Arkan sekilas.
Ia tersenyum kecil.
“Mungkin karena saya tidak pernah mencoba memanfaatkan dia.”
Jawaban itu sederhana, tapi cukup membuat beberapa orang terdiam.
Arkan memandangnya dengan ekspresi sulit ditebak.
Di ujung meja, Cemalia duduk dengan gaun hitam elegan. Ia diundang sebagai rekan bisnis keluarga.
Tatapannya tidak pernah lepas dari mereka.
Saat makan malam hampir selesai, ia berdiri dan mengangkat gelas.
“Untuk Arkan dan… istrinya,” ucapnya ringan. “Semoga pernikahan ini bertahan lebih lama dari yang sebelumnya.”
Sindiran itu jelas.
Suasana menegang.
Arkan berdiri perlahan.
“Terima kasih atas doanya,” jawabnya datar. “Kali ini, aku tidak akan salah memilih.”
Kalimat itu membuat Cemalia membeku sesaat.
Aluna menahan napas.
Apakah itu hanya permainan kata-kata? Atau ada makna lain?
—
Perjalanan pulang terasa sunyi.
Lampu kota berkelebat di luar jendela mobil.
Aluna akhirnya memberanikan diri berbicara.
“Kamu tidak perlu membelaku sebanyak itu.”
Arkan menatap lurus ke depan.
“Aku tidak membelamu.”
“Lalu?”
“Aku menjaga apa yang menjadi milikku.”
Jawaban itu membuat dadanya bergetar aneh.
Milikku.
Ia tidak tahu apakah harus tersinggung atau tersentuh.
Mobil berhenti di depan rumah.
Begitu masuk ke dalam, Arkan melepas jasnya dengan gerakan lelah.
“Besok kau ikut denganku ke kantor.”
Aluna terkejut.
“Kantor?”
“Sebagai istri CEO, kau harus terlihat terlibat. Minimal muncul sesekali.”
“Apa yang harus saya lakukan?”
“Belajar.”
Ia menatapnya serius.
“Dunia ini tidak sederhana, Aluna. Orang-orang akan mencoba menjatuhkanmu untuk menjatuhkanku.”
Aluna menelan ludah.
“Apa kamu takut aku jadi kelemahanmu?”
Arkan terdiam beberapa detik.
Lalu ia menjawab pelan, “Semua orang punya kelemahan.”
Tatapan mereka terkunci lebih lama dari seharusnya.
Jarak di antara mereka terasa lebih sempit.
Entah siapa yang bergerak lebih dulu, namun tanpa sadar, Aluna berdiri sangat dekat dengannya.
Jantungnya berdetak cepat.
Arkan menatap bibirnya sesaat, lalu kembali ke matanya.
“Jangan salah paham,” ucapnya rendah. “Kedekatan ini hanya untuk menjaga citra.”
Namun ia tidak mundur.
Tidak juga Aluna.
Udara di antara mereka terasa berat.
Hingga akhirnya Arkan menghela napas dan melangkah mundur.
“Istirahatlah. Besok hari panjang.”
Ia berbalik dan berjalan menuju kamarnya.
Aluna berdiri sendirian di ruang tamu luas itu.
Dadanya masih terasa hangat.
Kontrak mereka mungkin jelas di atas kertas.
Namun garis batas di antara mereka perlahan mulai kabur.
—
Di kamarnya, Arkan menutup pintu dan bersandar di baliknya.
Ia menutup mata.
Ia tidak boleh lengah.
Pernikahan ini hanya strategi.
Namun ketika Aluna menjawab pertanyaan keluarga dengan tenang tadi… ketika ia berdiri tanpa gentar di tengah tatapan meremehkan…
Ada rasa bangga yang muncul tanpa ia sadari.
Dan itu berbahaya.
Karena semakin ia menghargai wanita itu, semakin sulit menjaga jarak.
—
Sementara itu, di apartemen mewahnya, Cemalia menatap layar ponsel dengan ekspresi dingin.
Foto Arkan dan Aluna tersebar di media sosial. Judul-judul berita terus bertambah.
Ia tersenyum tipis.
“Pernikahan tanpa cinta tidak akan bertahan,” gumamnya.
Ia membuka laci dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat.
Di dalamnya, ada beberapa dokumen lama.
Dokumen yang bisa menghancurkan reputasi seseorang.
Dan ia tahu persis siapa yang akan ia targetkan lebih dulu.
Aluna Maheswari.
—
Malam semakin larut.
Di dalam rumah besar itu, dua kamar terpisah menyimpan dua hati yang sama-sama gelisah.
Kontrak mungkin mengikat mereka selama satu tahun.
Namun dunia di luar sana sudah mulai bergerak.
Dan badai pertama mereka mungkin datang lebih cepat dari yang diduga.