NovelToon NovelToon
Gadis Pembawa Kemalangan

Gadis Pembawa Kemalangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Kerajaan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: VanGenZ

Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.

Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemarahan

Kereta keluarga Marquess tiba lebih dulu di halaman mansion, roda-rodanya berhenti dengan bunyi kasar di atas batu basah. Alberto turun tanpa menunggu pelayan membuka pintu, sepatu botnya menghantam tanah dengan tergesa yang jarang ia perlihatkan. Kael menyusul dari sisi lain, lebih tenang, tetapi matanya tajam mengawasi sekitar.

Elenna dibawa masuk dengan pengawalan ketat, dua pelayan perempuan di kiri-kanannya, seorang penjaga berjalan setengah langkah di belakang, seolah bayangan yang tak boleh lepas. Gaunnya kotor, dan beberapa bagian terkoyak. Pucat di wajahnya tak bisa disembunyikan sepenuhnya.

Marquess sudah menunggu di ruang kerja. Tirai ditarik setengah, menyisakan cahaya sore yang tipis dan dingin. Kabar itu tiba lebih cepat dari kereta mana pun. Seorang penjaga yang dikirim Kael berlari mendahului mereka, napasnya tersengal saat menyampaikan bahwa Elenna diculik oleh seorang bangsawan asing.

Nama Count disebut dengan suara tertahan. Kata “hampir” diulang dua kali, seolah pengulangan itu mampu menghapus kemungkinan terburuk yang nyaris terjadi.

Saat Alberto masuk, ia tidak membuang waktu. “Count menjadi gila dan menculik Elenna,” katanya singkat, suaranya ditekan agar tetap datar. “Kami tiba sebelum ia sempat melukainya lebih jauh.” Ia tidak menyebut bagaimana tangan pria itu sudah menampar pipi Elenna, atau bagaimana mata Elenna tidak menunjukkan tangis atas situasi yang menimpanya.

Marquess tidak bertanya siapa yang mengirim Elenna sendirian. Ia sudah tahu. Kerutan di dahinya bukan menunjukkan kebingungan, melainkan dari perhitungan yang telah selesai dilakukan bahkan sebelum semua orang berdiri di hadapannya.

Beberapa menit kemudian, Lilith dan Louis tiba dengan kereta terpisah. Lilith turun dengan mata sembab, langkahnya sedikit goyah seperti seseorang yang terlalu lama menangis. Louis mendampinginya terlalu dekat, tangannya nyaris menyentuh siku gadis itu seolah takut ia akan runtuh.

Di dalam ruang kerja, udara terasa padat dan tertahan. Perapian menyala rendah, kayu berderak pelan, tetapi tak cukup untuk menghangatkan suasana. “Jelaskan,” kata Marquess.

Lilith menunduk, rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah. “Aku yang menyuruh Elenna membeli kue. Aku tidak mengira akan terjadi apa-apa. Jaraknya cukup dekat.” Suaranya lembut, sedikit pecah, cukup untuk terdengar tulus.

“Tanpa pelayan.” Nada Marquess tetap datar.

Lilith menelan ludah. “Ya.”

“Tanpa pengawal.”

Ia mengangguk, hampir tak terlihat.

“Tanpa pendamping."

Satu demi satu kalimat itu dijatuhkan seperti palu kecil yang terukur. Lilith menggenggam ujung gaunnya. “Aku tidak bermaksud-"

“Hasilnya tetap sama. Lagipula mengapa kau tidak menyuruh pelayan atau pengawal yang membeli kue tersebut?"

Hening menyebar, menempel di dinding dan langit-langit. Kael bersandar di dinding dengan tangan terlipat, wajahnya tak menunjukkan emosi, tetapi rahangnya menegang.

Alberto berdiri kaku di sisi lain, sorot matanya masih menyimpan sisa kemarahan yang belum padam.

“Kau akan menjadi perwakilan keluarga di Festival Gadis Suci,” lanjut Marquess. “Itu bukan sekadar berdiri dan tersenyum. Itu wajah keluarga ini. Itu adalah simbol dan makna keluarga ini."

“Aku tahu, Ayah…”

“Jika kau tahu, kau tidak akan melakukan tindakan bodoh itu."

Lilith mengangkat wajahnya perlahan. Matanya berkilat oleh air mata yang belum jatuh. “Aku menganggapnya keluarga.”

“Jangan mengalihkan topik, dan jika kau menganggapnya keluarga,” jawab Marquess tanpa meninggikan suara, “maka kau tidak akan mengacuhkannya selama ini.”

Kalimat itu menampar lebih keras daripada teriakan. Wajah Lilith menegang sepersekian detik sebelum kembali rapuh. Retakan kecil itu hanya terlihat bagi mereka yang memperhatikan dengan cermat.

Louis maju setengah langkah. “Marquess, ini bukan sepenuhnya kesalahan nona Lilith. Yang bersalah adalah penculiknya.” Suaranya sopan, tetapi terlalu cepat membela.

Tatapan Marquess beralih padanya, tenang namun berat. “Tuan muda Louis, ini urusan keluarga kami."

Louis terdiam, menyadari batas yang tak boleh ia lewati.

Kael akhirnya berbicara, suaranya datar. Tetapi lebih tajam daripada biasanya. “Ia hampir dipukuli ketika kami tiba.”

“Dipukuli?” ulang Marquess, matanya mengeras.

Alberto mengangguk. “Count itu berniat mempermalukannya lagi. Ia menyebut nama keluarga kita dengan nada yang tidak pantas.” Tetapi ka tidak menyebut bagaimana ia hampir menyeret pria itu keluar dengan tangannya sendiri.

Api di perapian berderak kecil, seolah menandai keputusan yang segera diambil. “Mulai hari ini,” kata Marquess, “Elenna tidak boleh ditinggalkan sendiri. Bahkan ketika di dalam mansion.”

Perintah itu tidak perlu diulang, karena semua tahu dampaknya.

Lalu Marquess beralih tatapan ke Lilith “Dan jika terjadi hal serupa lagi, aku akan mengganti perwakilan keluarga untuk festival gadis suci"

Atmosfer terasa lebih berat dari sebelumnya. Gelar gadis suci bukan sekadar kehormatan; itu pengakuan publik, panggung sosial, dan jembatan menuju aliansi yang lebih besar.

“Ayah…?” suara Lilith hampir tak terdengar.

“Gelar itu bukan hak. Itu adalah tanggung jawab, dan tanggung jawab harus diiringi oleh tindakan dan sikap yang serupa."

Pembicaraan selesai. Tidak ada yang berani menambahkan satu kata pun. Lilith membungkuk dan keluar, langkahnya teratur meski jantungnya berdegup tidak rata.

Lorong mansion terasa panjang dan sunyi. Pelayan-pelayan menunduk saat ia lewat, pura-pura sibuk dengan nampan dan kain lap. Tidak ada yang berani berbicara, tetapi bisikan tanpa suara terasa di punggungnya. Ia berhenti di depan cermin besar di ujung lorong. Wajahnya sembab, pipinya masih basah oleh sisa air mata. Cantik. Rapuh. Cukup untuk membangkitkan simpati siapa pun yang melihat.

Ia menyentuh sudut matanya, memastikan bekas itu masih terlihat alami. Tangannya bergerak perlahan, terlatih. Dalam pantulan cermin, ia menilai dirinya sendiri seperti seorang seniman yang menilai lukisan, apakah ekspresi itu cukup meyakinkan, apakah garis bibirnya terlalu tegang.

Seketika, suara itu terlintas kembali di kepalanya. Bisikan seorang wanita beberapa hari lalu, di balik tirai ruang doa yang remang. Suara lembut namun tajam, seperti sutra yang menyembunyikan pisau. “Buat Elenna keluar dari butik, dan ia tidak akan pernah menghalangi posisimu"

Lilith mengatupkan gigi. Wanita itu menjanjikan bahwa semuanya akan berjalan sesuai rencana. Bahwa satu insiden kecil cukup untuk membuat Elenna tersingkir perlahan, bukan dengan skandal besar, tetapi dengan serangkaian kesalahan kecil yang tampak tidak disengaja. Sebuah dorongan halus agar keluarga mulai meragukannya.

Namun, nyatanya Elenna selamat. Bukan hanya selamat, Ia kembali dengan pengawalan, dengan perhatian, dan simpati. Dan yang lebih menyakitkan, semua orang memusatkan perhatian padanya seolah Ia adalah korban yang terlalu berharga untuk disentuh.

Sekarang ayahnya marah. Kakak laki-lakinya tidak sudi memandangnya, dan perhatian semua orang tertuju pada gadis tersebut

“Memangnya apa baiknya gadis itu?” bisik Lilith lirih, matanya mengeras dalam pantulan cermin. “Ia hanyalah anak haram, aib keluarga, yang seharusnya tidak pernah menunjukkan diri seolah dia tak pernah ada"

Justru ketenangan Elenna yang membuatnya terlihat lebih murni. Lebih pantas. Setiap kali Elenna memilih diam, orang-orang mengartikannya sebagai ketabahan. Setiap kali ia menahan diri, mereka menyebutnya dewasa. Lilith tahu bagaimana cara menangis dengan indah, tetapi ia tidak pernah belajar bagaimana caranya terlihat kuat tanpa usaha.

1
Ran
up thorr
Ran
cie elena mulai suka 🤭
Ran
Lilith ini keknya punya gangguan jiwa atau kelainan berpikir ya/Speechless/, stress banget jadi orang
Ran
ayo berlayar kapal elena dan tuan pengawal
Anonymous
semangat thor
VanGenZ: Terima kasih atas dukungannya🙏
total 1 replies
Ran
Lilith play victim jir
Ran
up thorr
Ran
itu mah akal akalan Lilith aja
Ran
sakit banget jadi elena
Ran
Lilith sok gatel lagi sama Kael
Ran
yahh, ayang beb udah mau pergi
Ran
mampus dimarahin ga tuh
Ran
kill aja tuh count
Ran
curiga sama lilith
Ran
buat apa dikasih tau kalau sejak awal udh ditentuin perannya, dasar marquess ga punya hati
Ran
semua gada yang bisa dipercaya kecuali elenna sendiri jir
Ran
Lilith sok baik/Panic//Pooh-pooh/
Ran
lumayan sih. walaupun minim dialog, tetap berkarya thor
Ran: sama-sama thor
total 2 replies
Ran
pengen deh bejek2 Lilith manusia ular itu/Panic/
Ran
kasian banget jadi Elenna/Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!