NovelToon NovelToon
Cinta Di Orang Yang Sama

Cinta Di Orang Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Mulai Berdamai dengan Jiwa

Setelah badai di masa SMA itu berlalu, rumah kediaman Laurent tak lagi terasa sepi dan tegang. Kini, setiap sudutnya dipenuhi oleh gelak tawa dan aroma masakan rumah yang hangat. Abel telah menutup buku masa lalunya, dan fokus utamanya kini adalah pendidikan serta hubungannya yang semakin solid dengan Reno.

Reno tetap menjadi kakak yang protektif, namun ia mulai belajar memberi ruang. Meski begitu, jiwa usilnya tidak pernah padam.

"Abel! Lo naruh detergen liquid di botol sampo gue ya?!" teriak Reno dari kamar mandi suatu pagi, membuat Abel yang sedang sarapan di meja makan tertawa sampai tersedak.

"Itu pembalasan karena Kakak sembunyikan kacamata aku kemarin!" balas Abel tanpa rasa bersalah.

Reno keluar dengan rambut yang penuh busa putih yang terlalu melimpah dan wajah ditekuk. "Gue ada janji temu sama dosen, Bel! Kalau rambut gue kaku kayak ijuk gimana?"

"Bodo amat," tawa Abel pecah,dan Abel hanya menjulurkan lidah. Inilah kehidupan mereka. Perselisihan kecil yang justru menjadi perekat saat orang tua mereka masih sibuk di Jerman.

Keadaan berbalik saat Abel menyadari ada yang berbeda dari kakaknya. Reno Oliver Laurent, si jenius IT yang dingin dan tegas, tiba-tiba sering melamun di depan laptop sambil tersenyum-senyum sendiri. Ia bahkan mulai rajin memakai parfum dan mencukur bersih janggut dan kumis tipisnya.

"Ciyee... yang dari tadi ngetik satu paragraf tapi dihapus lagi," goda Abel sambil menyelinap ke belakang kursi kerja Reno.

"Apaan sih, Bel? Sana hus, belajar!" Reno berusaha menutupi layar laptopnya, tapi Abel lebih cepat.

"Namanya Kak Sarah? Anak Kedokteran ya? Wah, Kak Reno seleranya tinggi juga. Mau aku kasih tips cara deketin cewek nggak? Secara, aku kan mantan 'pengamat' profesional," ucap Abel dengan nada jahil yang telak menyindir masa lalunya sendiri.

Wajah Reno memerah—pemandangan langka yang sangat dinikmati Abel. "Nggak usah aneh-aneh. Gue bisa sendiri. Sana pergi dan belajar yang benar."

Abel tidak menyerah. Saat Reno sedang mandi, Abel diam-diam mengganti wallpaper laptop Reno dengan foto Reno yang sedang tidur mangap dengan tulisan besar: "SARAH, I LOVE YOU".

Rumah itu pun meledak dengan aksi kejar-kejaran. Reno yang panik dan Abel yang tertawa lepas hingga perutnya sakit. Di saat-saat seperti itulah, Abel menyadari bahwa kebahagiaan sejati tidak butuh validasi dari orang populer di sekolah. Kebahagiaan itu ada di sini, di dalam rumah yang menerimanya apa adanya.

Sakit hati karena Arslan memang meninggalkan bekas, tapi kasih sayang Reno yang ugal-ugalan telah membasuh luka itu hingga hampir tak berbekas. Abel bersyukur atas segala yang terjadi. Jika bukan karena rasa sakit itu, mungkin ia tidak akan pernah menghargai betapa berharganya memiliki seorang kakak seperti Reno.

Di sela tawa mereka, Abel terkadang teringat buku cokelat itu, buku yang entah dimana. Namun kini, ia hanya tersenyum tipis. Ia sudah merelakan buku itu dibawa pergi oleh seseorang dari masa lalunya, sementara ia sendiri melangkah maju menuju masa depan yang jauh lebih cerah, dikelilingi oleh orang-orang yang benar-benar menyayanginya.

Malam itu, ruang makan yang biasanya penuh tawa berubah menjadi arena diskusi yang cukup serius. Di atas meja, brosur-brosur universitas tersebar, dan satu nama jurusan dilingkari dengan tinta merah oleh Abel: Psikologi.

Reno, yang baru saja menyesap kopi hitamnya, meletakkan cangkir itu dengan dahi berkerut. "Psikologi? Abel, kita sudah sepakat. Lo punya otak yang encer di logika. Teknik Informatika atau Sistem Informasi itu masa depan. Gue bisa bantu lo belajar coding dari dasar, lo bakal jadi the next tech-wizard di perusahaan Ayah-Bunda."

Abel menarik napas panjang, ia sudah menduga reaksi ini. "Kak, aku nggak mau jadi 'Reno versi perempuan'. Aku nggak mau menghabiskan hidupku di depan layar monitor cuma buat nyari bug di barisan kode. Yang ada nanti mataku makin sakit."

"Ini bukan soal jadi versi siapa, Bel. Ini soal keamanan karier. Di Psikologi, lo mau jadi apa? Dengerin curhatan orang setiap hari? Lo sendiri aja dulu gampang banget ditipu!" Reno berujar dengan nada tinggi, insting protektifnya kembali mengambil alih. "Gue cuma nggak mau lo pilih jurusan yang 'lembek' cuma karena lo lagi menghindari matematika."

"Aku nggak menghindari matematika, Kak! Aku cuma pengen cari pengalaman baru!" balas Abel tak kalah tegas. "Selama ini hidupku cuma soal rumus dan angka tetap. Aku pengen belajar tentang manusia. Aku pengen tahu kenapa orang bisa berbohong, kenapa orang bisa manipulatif, dan gimana cara nyembuhin luka yang nggak kelihatan."

Suasana mendadak hening. Reno tahu persis arah pembicaraan ini. Luka yang dimaksud Abel adalah luka yang disebabkan oleh Arslan—sebuah luka yang membuat Abel sadar bahwa memahami manusia jauh lebih rumit daripada memecahkan algoritma paling kompleks sekalipun.

"Psikologi itu cara aku buat berdamai dengan masa lalu, Kak. Dan aku mau bantu orang lain supaya nggak se-naif aku dulu," tambah Abel, suaranya kini merendah, hampir berbisik.

Reno terdiam. Ia menatap adiknya lekat-lekat. Ia melihat api kepercayaan diri yang baru di mata Abel. Gadis di depannya bukan lagi Abel yang hanya bisa bersembunyi di balik buku kalkulus, tapi Abel yang ingin memahami dunia dengan caranya sendiri.

Setelah keheningan yang cukup lama, Reno menyandarkan punggungnya ke kursi dan menghela napas pasrah. "Oke. Gue kalah. Kali ini lo boleh menentukan pilihan lo sendiri."

Abel mengerjapkan mata. "Hah? Kakak serius?"

"Iya, serius. Tapi ada syaratnya," Reno menunjuk Abel dengan telunjuknya, kembali ke mode usilnya. "IPK lo nggak boleh di bawah 3.5. Kalau lo sampai dapet nilai jelek, gue bakal paksa lo ikut bootcamp coding bareng gue setiap akhir pekan. Gimana?"

Abel langsung melompat dari kursinya dan memeluk Reno erat dan mencium pipi Kakaknya dengan gemas. "Deal! Makasih, Kak Reno! Kakak emang kakak terbaik sedunia, meskipun kadang nyebelinnya minta ampun!"

"Iya, iya. Udah, lepasin! Sesek nih," gerutu Reno, meski tangannya balas menepuk punggung adiknya dengan sayang. "Lagian bagus juga sih lo ambil Psikologi. Nanti kalau gue makin gila karena ngerjain skripsi, gue nggak perlu jauh-jauh cari terapis. Gratis kan buat kakak sendiri?"

"Enak aja! Tetap bayar pakai nasi goreng gila tiap malam!" tawa Abel pecah.

"Bangkrut iya, capek iya dah gue."

Tawa mereka pecah, kehangatan tercipta diantara kakak beradik itu.

Malam itu, sebuah keputusan besar diambil. Abel akan melangkah ke dunia yang sama sekali baru, dunia yang tidak ada hubungannya dengan barisan kode milik Reno atau bisnis teknologi orang tua mereka. Ia akan belajar memahami jiwa manusia, dimulai dengan menyembuhkan jiwanya sendiri.

Abel belum sepenuhnya sebuh dari luka cinta pertamanya. Luka yang mendewasakan dirinya, luka yang memberikan sedikit kekuatan. Meski setiap malam ada saja tangisan rindu dan penyesalan.

Abel yang kini berdiri, bukan Abel yang dulu selalu mengagumi satu sosok pria. Ia ingin menyimpan kenangan berharga itu di labirin paling dalam yang tak bisa tersentuh lagi. Menyimpan satu nama yang telah memberikannya sebuah pelajaran hidup yang berharga, untuk tidak di ulang di masa yang akan datang.

1
Ariany Sudjana
tetap waspada yah dokter Arslan, bagaimanapun kamu dokter, konglomerat pula, pasti banyak pelakor yang ingin menjadi istri kamu
Mifhara Dewi: bumbu kehidupan tetap akan di sajikan. tunggu bab selanjutnya ya Kak
total 1 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, tinggal langkah selanjutnya Arslan dan Abel
Mifhara Dewi: mau seperti apa nantinya Kak? langsung sat set atau belok2 dulu?
total 1 replies
Naomi Willem Tuasela
semangatttt Thor 👊🏼😇💙💗
Mifhara Dewi: terimakasih Kak
total 1 replies
Mifhara Dewi
Satu saran dari kalian adalah penyemangat untuk ku terus berkarya 🥰🙏
Dwi Sulistyowati
lanjut kak seru cerita nya
Mifhara Dewi: di tunggu updatenya ya kak. kita usahakan 1 hari bisa up 3 bab
total 1 replies
kucing kawai
Bagus bngt
Mifhara Dewi: terimakasih banyak Kak
total 1 replies
kucing kawai
up yg banyak ya thor
Mifhara Dewi: terimakasih kak, di tunggu ya bab selanjutnya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!