NovelToon NovelToon
Ratu Racun Dari Dimensi Lain

Ratu Racun Dari Dimensi Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam pengganti / Reinkarnasi / Ruang Ajaib
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora79

Mo Yuyan, 16 tahun—putri angkat Ketua Sekte Abadi, yang dikenal sebagai gadis lembut, patuh, dan selalu menunduk.

Namun, semuanya berubah malam itu ...

Malam ketika dia dituduh mencuri pusaka sekte, dikhianati oleh orang-orang yang dia anggap keluarga … lalu dibuang ke dalam Jurang Pemakan Jiwa untuk mati!

Akan tetapi, Takdir membuatnya kembali!

Bukan sebagai Mo Yuyan yang dulu, melainkan sebagai Mo Yuyan yang baru.

Dimana sosok jiwa asing dari masa ribuan tahun ke depan mengambil alih raganya. Sosok yang dingin, angkuh, cerdas, dan terlalu tenang untuk seorang gadis yang baru menginjak dewasa.

Jiwa itu tersenyum dan mulai menghitung semuanya.

Sekte Abadi bahkan tidak menyadarinya, jika mereka ...

Baru saja membangkitkan seorang 'Ratu Racun' berjiwa psikopat dari masa depan.

"HUTANG INI AKAN AKU TAGIH SEMUANYA! KALIAN SEMUA AKAN MUSNAH!"

"ARRRGHHHH!!!!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 04: Mata Air Yin-Racun!

***

"K--kamuuuu ...!"

Nenek Du hanya tersenyum tipis, seperti melihat anak kecil yang sedang berulah.

"Sudah lama tidak bertemu ... bocah berdarah campuran," ujar Nenek Du pelan.

Mo Yuyan menyipitkan matanya, saat mendengar ucapan Nenek Du.

"Darah campuran? Apa maksudnya, Nek?" tanya Mo Yuyan.

Sosok berjubah hitam itu menggeretakkan giginya, saat mendengar panggilan Nenek Du.

"DIAM! Jangan pernah panggil aku dengan sebutan itu, wanita tua sia-lan!" bentak sosok itu tidak suka.

Nenek Du menatap sosok itu dengan tatapan dingin.

"Cih! Masih belum berubah juga rupanya setelah sekian lama ... Mulutmu tajam, tapi nyalimu kecil!" sahut Nenek Du sambil berdecih.

Mo Yuyan menoleh ke arah sosok berjubah itu dengan wajah bingung.

"Jadi, kalian ternyata saling mengenal?" tanya Mo Yuyan.

Sosok berjubah hitam itu terdiam, sepertinya dia ragu untuk menjawab pertanyaan itu.

Dengan gerakan perlahan, tangannya bergerak ke arah atas tudung jubahnya.

"Hmm ...??" gumam Mo Yuyan sambil mengangkat alisnya.

Dia sedikit bingung dengan pria yang ada dihadapannya ini, tinggal jawab aja kok repot.

"Oh ...? Ceritanya mau buka topeng sekarang, gitu?" tanya Mo Yuyan kepada sosok itu.

"Tsk! Kamu itu bisa diam tidak?!" bentaknya kepada Mo Yuyan.

Sosok itu menarik tudung kepalanya, sehingga wajah aslinya pun terlihat jelas.

SRAK!

Dia ternyata seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahunan, tampan dengan garis wajah yang tajam, berkulit pucat, dan mata berwarna merah gelap, seperti tetesan da-rah yang sudah lama mengering.

Di lehernya ada sebuah tanda bekas belenggu dan segel warna hitam.

Mo Yuyan menatap pemuda itu dengan wajah tanpa ekspresi.

"Haaaah ...."

Pemuda itu terlihat kesal, saat mendengar hembusan napas Mo Yuyan yang terdengar kencang.

"Apa maksudnya dengan 'Haaah' itu?! Apakah kamu kecewa, saat melihat wajahku?!" tanya pemuda itu kepada Mo Yuyan.

Mo Yuyan hanya mengendikkan bahunya dengan acuh.

"Aku pikir kamu pria paruh baya, ternyata hanya seorang pemuda yang sok bijak ..." jawab Mo Yuyan dengan nada kecewa.

Pemuda itu hampir saja tersedak salivanya sendiri, saat mendengar ucapan Mo Yuyan.

"K--Kamu ...!!!!"

Nenek Du menengahi mereka dengan kekehan ringan.

"Hehehehe ... Sudahlah, hentikan! Nama dia 'Duan Xue', Ratuku ..." ujar Nenek Du kepada Mo Yuyan.

Mo Yuyan menatap ke arah pemuda itu sambil menilai dalam diam.

"Hmm ... Duan Xue ..." gumam Mo Yuyan.

Duan Xue menatap Mo Yuyan dengan tatapan tajam.

"Ya ... Apakah sudah puas melihatnya?"

Mo Yuyan menganggukan kepalanya.

"Ya ... Lumayan untuk pemuda seusia kamu. Namamu terdengar cukup bagus daripada sikapmu itu ..." ujar Mo Yuyan.

Duan Xue: " .... "

Nenek Du mendekat ke arah Duan Xue, lalu dia menatap pemuda itu seperti sedang menilai sebuah barang rusak.

"Kamu tahu tidak, kenapa kamu masih bisa hidup sampai sekarang?" tanya Nenek Du dengan nada sinis.

"Itu karena kepintaranku ..." jawab Duan Xue dengan suara seperti desisan tertahan.

Mendengar jawaban itu, Nenek Du tersenyum sinis.

"Bukan karena itu, tapi karena kamu seorang ... Pengecut!" ujar Nenek Du dengan tajam.

Duan Xue mengepalkan tangannya dengan erat, saat dia ingin menjawab ucapan Nenek Du, Mo Yuyan menyela mereka dngan suara datar.

"Kalian berdua, hentikan! Sudah cukup!"

Mereka berdua langsung menoleh ke arah Mo Yuyan.

"Aku tidak perduli dengan 'drama' kalian sejak awal! Yang jadi pertanyaanku adalah ... Kenapa Duan Xue ini terus menempel kepadaku sejak awal pertemuan?" ujar Mo Yuyan dengan nada penuh selidik.

Duan Xue membuang wajahnya ke arah samping, dia tidak sanggup menatap wajah Mo Yuyan yang dingin itu.

" ... Itu bukan urusanmu ..." jawab Duan Xue.

"Hey, jawabanmu itu salah! Tentu saja semua itu menjadi urusanku, karena kamu terus menempel layak lintah kepadaku!" sahut Mo Yuyan dengan nada naik satu oktaf.

Mo Yuyan maju satu langkah ke hadapan Duan Xue.

"Kamu mengikuti sejak mengetahui, jika raga ini tidak mati ... Kamu memberiku racun, walau tidak jadi karena aku mengetahuinya. Kamu juga melihat aku menelan inti roh serigala jurang bulat-bulat dan saat aku membuka formasi ..."

Mo Yuyan melangkah semakin dekat ke arah Duan Xue, dan menatap matanya dengan tajam.

"Kamu pikir ... aku masih seorang gadis 'naif' dan mudah untuk dibohongi, ya? Katakan, apa tujuanmu?!"

Tubuh Duan Xue menegang, saat mendengar ucapan Mo Yuyan.

"Hahaha! Insting Ratuku ternyata sangat tajam sekali!" ujar Nenek Du sambil tertawa pelan.

Mo Yuyan mengalihkan pandangannya ke arah Nenek Du.

"Bisakah Nenek Du diam dulu?" tanya Mo Yuyan dengan tatapan tajam.

Nenek Du menunduk hormat.

"Tentu saja bisa, Ratuku ..."

"Bagus ..."

Mo Yuyan kembali menatap Duan Xue dengan tajam.

"Sekarang, jelaskan semuanya!" perintahnya kepada Duan Xue.

"Baik ..." jawab Duan Xue.

"Aku dalam pelarian karena dibuang ..." ujar Duan Xue.

Mo Yuyan menggeram kesal, saat mendengar jawaban Duan Xue.

"Apakah kamu bisa bicara lebih banyak lagi, hah?! Selesaikan ceritamu, jangan berhenti setengah-setengah begitu! Bikin kesal saja!" bentak Mo Yuyan tidak sabar.

"Apa maksudmu dengan dibuang? Dibuang sama siapa? Keluargamu?" tanya Mo Yuyan bertubi-tubi.

Duan Xue menatap Nenek Du sekilas, lalu dia kembali fokus kepada Mo Yuyan.

"Bangsa Iblis ..."

Nenek Du menyeringai tipis, saat mendengar jawaban Duan Xue.

"Kamu bukan dibuang, tapi diusir!" sahut Nenek Du menyela.

Duan Xue menatap nyalang Nenek Du, dia benar-benar tidak suka keberadaan wanita tua ini.

"Diam kamu, dasar wanita tua sia-lan!!!" hardik Duan Xue, kesal.

Mo Yuyan menatap tanda segel hitam yang ada dileher Duan Xue.

"Itu segel apa?" tanya Mo Yuyan.

Duan Xue menjawabnya dengan nada rendah.

"Ini adalah segel 'Budak'. Aku pernah dijadikan alat oleh seseorang ..."

Mo Yuyan menganggukan kepalanya tanda mengerti, karena di dunia ini masih diperbolehkan memperdagangkan manusia sebagai budak belian.

"Ternyata kamu bukan orang pintar ..." ujar Mo Yuyan.

"Apa maksudmu? Apa hubungannya segel dengan otak seseorang?" tanya Duan Xue dengan nada tidak suka.

"Maksud aku, jika kamu pintar ... maka kamu tidak akan dijadikan alat oleh siapapun ..." jawab Mo Yuyan dengan nada santai.

Duan Xue: " ..... "

Nenek Du menatap kagum Mo Yuyan, karena dia bisa dengan cepat menyimpulkan hal tersebut.

"Dan kamu mengikutiku karena ingin memanfaatkan aku ... Benar tidak?" lanjut Mo Yuyan dengan nada santai.

Mendengar semua ucapan Mo Yuyan, Duan Xue tersenyum sinis.

"Kamu baru sadar sekarang?" tanya Duan Xue.

Mo Yuyan menaikkan alisnya, saat mendengar ucapan percaya diri dari pemuda itu.

"Aku sudah tahu dari awal, dan aku membiarkannya ..." jawab Mo Yuyan.

Duan Xue tidak bisa berkata-kata lagi, saat mendengar jawaban Mo Yuyan.

"Kamu tidak penasaran kenapa aku membiarkan kamu? Itu karena ... aku juga sedang memanfaatkan kamu," lanjut Mo Yuyan sambil menyeringai.

Gluk!

Duan Xue menelan salivanya dengan susah payah, kenapa dia bisa bertemu gadis gila dihadapannya ini?

Apakah semua kepercayaan dirinya sejak awal itu ternyata ... sia-sia?

" ... Kamu ini ... benar-benar gadis gila!"

Mo Yuyan hanya tersenyum tipis saat mendengar perkataan itu.

'Terima kasih ... Itu memang julukanku di dunia sebelumnya ... 'Ratu Racun Kejam dan Psikopat Gila' ..."

Mo Yuyan berjalan menuju ke Istana Giok Ungu miliknya, Nenek Du dan Duan Xue mengikutinya dari belakang.

Begitu mereka masuk ke sana, suasananya langsung berubah.

Di dalam Istana itu terdapat sebuah aula yang sangat luas dengan lantai giok berwarna ungu terang.

Ditengah-tengah aula itu terdapat sebuah kolam seukuran manusia dewasa, yang berisi air berwarna ungu bercampur hitam, yang sedang berputar pelan.

Duan Xue langsung mengernyit, saat melihat kolam tersebut.

"Ini ...."

"Mata Air Yin-Racun ..." jawab Nenek Du.

Mo Yuyan menatap kolam itu tanpa berkedip.

"Apakah air ini yang akan membangkitkan 'Akar Roh' langka milikku sepenuhnya?" tanya Mo Yuyan.

"Ya ..." jawab Nenek Du, singkat.

Duan Xue berjalan ke arah Mo Yuyan, dan dia menatap Mo Yuyan dengan wajah datar.

"Jangan minum banyak-banyak! Cukup satu tetes saja!" ujarnya memperingatkan Mo Yuyan.

Mo Yuyan menatap pemuda itu dengan wajah datar.

"Ternyata kamu masih punya rasa perduli juga, ya?" sahut Mo Yuyan dengan nada sinis.

Duan Xue gelagapan saat mendengar ucapan Mo Yuyan.

"B-bukan begitu, bo-doh! Aku hanya tidak ingin kamu mati!" ujar Duan Xue dengan suara pelan.

Mo Yuyan tersenyum tipis mendengarnya.

"Tenang saja ... Aku tidak sebodoh itu ..." ujar Mo Yuyan.

Mo Yuyan berjongkok di tepi kolam tersebut, lalu dia mencelupkan sedikit ujung jarinya ke dalam kolam tersebut.

Air itu terasa sangat dingin ... namun dibalik rasa dingin itu, ada sensasi rasa panas seperti bara.

Dia mengangkat jarinya perlahan, menatap tetesan air warna ungu kehitaman yang sedikit mengental di ujung jarinya.

"Jika Anda sudah siap, minumlah air itu, Ratuku ..." bsik Nenek Du ditelinga Mo Yuyan.

Mo Yuyan masih menatap tetesan air itu dengan takjub, dia masih tidak percaya dengan kekuatan dari setetes air yang berada di ujung jemarinya itu.

"Apa yang akan terjadi jika aku meminumnya, Nek?" tanya Mo Yuyan.

"Akar Roh Anda yang terbentuk sempurna dan bangkit, lalu Anda akan menjadi 'Ratu Racun' yang seutuhnya di dunia ini ..." jawab Nenek Du sambil tersenyum.

"Dan setelah itu ... Kamu bukan lagi manusia biasa, Yuyan ..." sahut Duan Xue menambahkan.

Mo Yuyan menolehkan kepalanya ke arah Duan Xue.

"Aku memang tidak pernah ingin menjadi manusia biasa ..." ujar Mo Yuyan.

Tidak lama kemudian, Mo Yuyan menjilat tetesan air tersebut dengan mata berbinar.

Setelah ini, dia akan hidup seperti para 'Dewa', yang memiliki kekuatan dan musuh di dunia ini.

Adrenalinnya terpacu, saat membayangkan aksinya kelak di dunia ini.

Dimana hanya manusia yang memiliki kekuatan 'Absolut"-lah, yang akan diakui sebagai pemimpin.

Dia bisa memuaskan jiwa 'psikopatnya' di dunia ini, tanpa harus melanggar hukum.

Karena di dunia ini ... Dia-lah hukum yang sesungguhnya!

Setelah tetesan air itu masuk ke dalam kerongkongannya, matanya langsung membeliak dan tubuhnya membeku.

Mo Yuyan: "_!"

Duan Xue refleks ingin maju, namun Nenek Du menahannya.

"Jangan sentuh dia!" ujar Nenek Du dengan wajah datar.

Setelah itu, Mo Yuyan terhuyung, dan langsung jatuh berlutut.

Brugh!

Aura berwarna ungu kehitaman langsung meledak dari dalam tubuhnya.

Blaaar!

Seluruh aula Istana Giok Ungu bergetar hebat, seolah sedang menyambut kedatangan penguasa mereka.

Pilar-pilar giok disana menyala, sehingga membuat 'Mural' bergambar ular kobra besar di dinding bergerak hidup, melata kesana-kemari, menunggu kebangkitan penguasa mereka.

Mo Yuyan menggeretakkan geliginya, menahan rasa sakit yang ada di seluruh bagian tubuhnya.

"ARRRRGHHHH ...!!!!"

Duan Xue menatap Mo Yuyan penuh kengerian.

"I-itu ... Itu bukanlah pembangkitan akar roh seperti biasanya ..." gumam Duan Xue.

Nenek Du menatap Mo Yuyan dengan mata berbinar.

"Tentu saja bukan akar roh biasa! Ratuku tidak akan pernah menjadi 'biasa' ..."

Mo Yuyan menundukkan kepalanya, menahan rasa sakit hebat dibawah perutnya.

Di dalam dantian miliknya, inti akar roh racun miliknya tumbuh membesar lalu ... pecah.

Bukan pecah meghancurkan, namun pecah seperti sebuah kepompong yang terbuka untuk melahirkan seekor kupu-kupu.

Dari dalam dantiannya, muncul sesuatu seperti sebuah akar yang hidup.

Sebuah akar spiritual berwarna ungu pekat, seperti sebuah sulur tanaman yang terbuat dari esensi racun murni yang alami.

Slap!

Mo Yuyan membuka matanya perlahan ...

Pupil matanya kini bukan hanya berwarna ungu pekat, namun ada pola bunga mawar hitam di dalamnya.

Mo Yuyan menghembuskan napas panjang, sebelum dia berkata:

"Aku berhasil ..."

Nenek Du membungkukkan tubuhnya lebih dalam, untuk memberikan sebuah penghormatan besar kepada Mo Yuyan.

"Selamat, Ratuku ..."

Sementara Duan Xue, dia menatap Mo Yuyan dengan takjub.

"Kamu ... Kamu benar-benar ..."

Mo Yuyan mengacuhkan semuanya, dia langsung berdiri dari atas lantai.

Matanya terlihat indah dan tajam, kecantikannya berbeda dengan para gadis seusianya, dan senyumannya ... sebuah senyuman yang akan mematikan lawannya dengan kejam.

Aura ungu yang mengelilinginya perlahan stabil, lalu kembali masuk ke dalam tubuhnya.

Mo Yuyan menatap tangannya, tato ular kobra yang sebelumnya samar, kini tampak lebih jelas dengan warna ungu tua yang menyala.

Dia menyeringai puas, kehidupan keduanya ternyata tidak seburuk yang dia bayangkan.

"Raga ini sekarang semakin cocok dengan jiwaku, hanya tinggal memperkuatnya dengan latihan rutin ..." gumam Mo Yuyan.

Mo yuyan menurunkan pandangannya, dimana segel miliknya berada.

"Segel ini masih ada ternyata ..." ujar Mo Yuyan, yang entah kepada siapa.

"Ya, memang masih ada. Tapi Anda sudah mempunyai 'jalan' untuk menghapusnya secara perlahan. Untuk saat ini, Anda sudah menahan segel itu sampai beberapa tahun ke depan," sahut Nenek Du.

Mo Yuyan menoleh ke arah Duan Xue.

"Bagaimana dengan kamu?" tanya Mo Yuyan.

"Bagaimana apanya?" tanya Duan Xue balik dengan wajah bingung.

Mo Yuyan menunjuk ke tanda segel hitam kecil di leher Duan Xue.

"Siapa yang memasang segel budak itu dilehermu?" tanya Mo Yuyan.

Duan Xue menatap ke arah lantai, wajahnya terlihat tidak senang.

"Itu ... Seseorang dari Sekte Abadi ..." jawab Duan Xue dengan suara pelan.

Mo Yuyan tersenyum samar, saat mendengar jawaban Duan Xue.

"Oh ... pantas saja kamu memberikan aku racun sebelumnya, ternyata ada yang menyuruhmu, ya?" ujar Mo Yuyan.

Duan Xue langsung mengangkat kepalanya dengan cepat.

"Tolong jangan salah paham dulu! Aku bukan salah satu murid dari Sekte itu, oke?! Aku hanya~" ujar Duan Xue panik.

"Aku paham! Aku pun tidak perduli siapa kamu. Namun, jika Sekte Abadi ingin berurusan dengan Bangsa Iblis, itu berarti ..."

Mo Yuyan tidak meneruskan ucapannya, tapi dia menoleh ke arah Nenek Du.

"Nenek, apakah Anda tahu tentang Sekte Abadi ini? Aku tidak banyak menerima ingatan dari jiwa gadis ini soalnya ..." tanya Mo Yuyan kepada Nenek Du.

"Sekte Abadi bukanlah sebuah Sekte yang 'bersih', Ratuku ..." jawab Nenek Du sambil tersenyum sinis.

Mo Yuyan terkekeh mendengarnya.

"Itu bagus! Karena aku suka sesuatu yang tidak 'bersih' ... Hehehehe!"

Duan Xue: "....."

Keesokan harinya, mo Yuyan langsung melatih raga barunya dengan keras di dalam ruang dimensi 'Seribu Racun' milikmya, dibantu oleh Nenek Du.

Hari pertama, dia berkultivasi dengan menyerap kabut Yin di hutan belati.

Hari kedua, dia merendam tubuhnya di dalam 'Mata Air Yin-Racun', demi menguj batas kekuatan bertahan tubuhnya.

Hari ketiga, dia memakan semua pil dan ramuan racun kuno buatan nenek Du, agar tubuhnya kebal terhadap segala jenis racun dan darahnya menjadi racun yang sangat mematikan.

Hari keempat, dia mulai berkultivasi kembali sambil menstabilkan aura kabut Yin yang ada di dalam tubuhnya, untuk dimurnikan dan dijadikan makanan bagi akar roh langka miliknya.

Hari kelima, aura ungu di sekujur tubuhnya sudah seperti kabut tipis yang hidup mengelilinginya.

Hari keenam, Mo Yuyan benar-benar keras dalam berlatih dan berkultivasi tanpa henti, sehingga Duan Xue pun mulai merasa takut untuk mendekatinya.

Dan pada hari ketujuh pelatihan neraka dirinya, Mo Yuyan terlihat duduk bersila di aula Istana.

Nenek Du berdiri disampingnya dengan wajah penuh kebanggaan dan kepuasan.

Sementara Duan Xue? Dia berdiri jauh dari Mo Yuyan, namun keringat dingin sudah menetes deras dari seluruh pori-pori tubuhnya.

SLAP!

Mo Yuyan membuka matanya, tekanan di dalam ruangan itu sangat kuat, dan terdengar ledakan kecil dari aura miliknya.

BLAM!

Senyuman indah tersungging di bibir Mo Yuyan.

"... Tahap Pengumpul Qi-tingkat sembilan. Tidak buruk ..." gumam Mo Yuyan.

Duan Xue ternganga mendengarnya.

"A---apa ....??? Dalam satu minggu ... Tahap tiga-tingkat sembilan ...?!!"

Mo Yuyan menganggukkan kepalanya.

"Ya ... Sangat lambat sekali ..." sahut Mo Yuyan, tidak puas.

Duan Xue semakin menganga dibuatnya, kecepatan seperti ini masih dia bilang ... lambat??

Benar-benar sosok monster!

Nenek Du menginterupsi mereka sambil menundukkan kepalanya.

"Dengan kekuatan ini, Anda sudah bisa kembali ke dunia luar, Ratuku ..." ujar Nenek Du.

"Baiklah. Nenek menetap di Dimensi ini kan? Atau mau keluar bersamaku? Mulai sekarang, Nenek panggil aku Yuyan saja, jangan Ratu. Anggap aku cucumu, Nek ... Aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini," ujar mo Yuyan kepada Nenek Du.

Nenek Du terharu mendengarnya, dia juga ingin mempunyai keluarga di dunia, karena selama ribuan tahun dia terjebak di dalam reruntuhan kuno ini, demi menunggu 'Sang Pewaris' dari dimensi lain.

"Baklah ... Nenek ikut kamu keluar, dan kamu sekarang adalah cucu Nenek satu-satunya. Lagipula, kita bisa keluar masuk dimensi ini dengan leluasa, tapi tidak berlaku untuk si Duan Xue itu ..." jawab Nenek Du dengan senyuman tulus diwajahnya.

"Apakah kamu ingin kembali ke Sekte Abadi?" tanya Duan Xue.

"Ya ... " jawab Mo Yuyan.

"Tidak takut mati?" tanya Duan Xue.

"Aku tidak akan mati dengan mudah ..." desis Mo yuyan.

Lalu dia menyentuh tanda segel yang ada di dadaya.

"Dendam ini akan aku balaskan beserta bunganya, itulah janjiku kepada 'Mo Yuyan' asli!" lanjut Mo Yuyan dengan nada penuh perhitungan.

Nenek Du tersenyum puas, gadisnya tidak lemah sekarang.

"Apa rencanamu, Yuyan?" tanya Nenek Du.

"Aku akan kembali sebagai Mo Yuyan yang naif, dan mmbawa nenek kesana sebagai orang yang telah menyelamatkanku ..." jawab Mo Yuyan.

'Bukankah akan lebih baik kembali dengan identitas barumu sebagai Ratu Racun dari Alam Iblis?" tanya Duan Xue, bingung.

Mo Yuyan berdecih kesal, karena pemuda di depannya ini sangat 'LOLA'.

"Tsk! Isi kepalamu itu apa sih sebenarnya? Bagaimana aku bisa menyelidiki kematian 'Mo Yuyan' asli, jika aku menggunakan identitas baruku, ha?! Menyebalkan sekali!" jawab Mo Yuyan, emosi.

Mo Yuyan melangkahkan kakinya ke arah pintu utama Istana Giok Ungu.

"Mulai besok ... Sekte Abadi adalah sasaran pertama Ratu Racun ini ..."

"Mereka semua akan merasakan racunku secara perlahan ..."

"Karena kematian terlalu 'murah' untuk mereka semua!"

☣☣☣

1
Diah Susanti
lha emang iya dia udah mati, kan itu jiwa baru dari dunia lain
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: 😂😂😂😂😂
total 1 replies
Diah Susanti
baru kali ini, ada novel penjaga ruang dimensinya nenek nenek😄😄😄
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: 🤭🤭🤭🤭🤭 ... Kalau sudah berusia ratusan tahun, bukankah namanya nenek ya Kak Diah? 😂😂😂. Terima kasih hadirnya Kak ... 🙏🏻😊🫰🏻🫰🏻🫰🏻💖💖💖
total 1 replies
Maria Lina
saya berharap double sih thor
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: Mau bagaimana lagi, Ya Kak biar bisa dobel? Otaknya pas2an soalnya ...🤣🤣🤣🤣. Terima kasih Kak Maria atas dukungannya ...😊🙏🏻😘🫰🏻🫰🏻🫰🏻💖💖💖
total 1 replies
Ipeh tiga Putra
siapa dia thor
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: Hayooo tebak, Kak Ipeh ...😁😁😁. Siapa, ya? 🫢🫢🫢
total 1 replies
Murni Dewita
💪💪💪
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: 😁🙏🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻💖💖💖
total 1 replies
Murni Dewita
double up thor
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: Pastinya Kak Murni ...🙏🏻😊😘🫰🏻🫰🏻🫰🏻💖
total 3 replies
MataPanda?_
ceritanya seru kak semangat trus 😀
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: Terima kasih apresiasi dan dukungannya, Kak Panda ... 😊🙏🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻💖💖💖
total 1 replies
Murni Dewita
👣
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: Terima kasih dukungannya, Kak Murni ...🙏🏻😊🫰🏻🫰🏻🫰🏻💖💖💖
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
salah cari lawan boz
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: Aku juga berpikiran begitu, Kak Dewi ...😂😂😂😂
total 1 replies
Dania
semangat tor
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: Terima kasih, Kak Dania ...🙏🏻😊🤗🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻💖
total 1 replies
Juvita Lin
up yg bnyk kak..👍
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: Maunya begitu, Kak Lin ... apa daya, otakku tak.mampu ...🤣🤣🤣.
total 1 replies
Andira Rahmawati
absen dulu yahhh
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: Aduh, sampai absen dulu, Kak Dira ini ...🤭. Jadi malu aku ..😁. Terima kasih hadir dan dukungannya, Kak Dira ...🙏🏻🤗😘🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻💖💖💖
total 1 replies
Enah Siti
hadir thor 😍😍😍💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: Hallo Kak Siti ... Terima kasih hadirnya dan dukungannya ... 🤗🙏🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻💖💖💖💖
total 1 replies
Maria Lina
lgi ya thor plisss
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: Ashiaaap Kak Maria ...🤗
total 1 replies
Maria Lina
ok siap thor
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: Oke, Kak Maria ... Setiap hari update bab panjang untuk kak Maria, biar puas bacanya ...🙏🏻🤗😊💖💖💖💖
total 3 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: Selamat datang Kak Dewi ... Terima kasih hadirnya. Semoga suka.dengan cerita barunya ... 🙏🏻😊🤗🫰🏻🫰🏻🫰🏻💖💖💖
total 1 replies
yetiku86
semangat up kak Aurora 💪💪💪😊
yetiku86: kembali kasih Kak 😊🙏
total 2 replies
azka aldric Pratama
absen dl 🤭🤭
༆ᏗᏬRᎧRᏗ79༄: Hallo Kak Azka ... Simpan dulu ya Kak, biar banyak ...🤣. Terima kasih hadirnya, Kak ...🙏🏻🤗🫰🏻🫰🏻🫰🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!