NovelToon NovelToon
Sebelah Mata

Sebelah Mata

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dunia Masa Depan / Keluarga / Karir / Persahabatan / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: joekris

Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.

Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.

Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: KOPERASI DAN BENTENG KERTAS

Sisa-sisa ketegangan semalam masih menggantung di udara Oetimu seperti bau mesiu yang samar. Meskipun garis polisi telah dilepas dan Tuan Markus telah mundur dengan dendam yang membara, Jonatan tahu bahwa kemenangan semalam hanyalah gencatan senjata sementara. Di dunia luar, hukum dan birokrasi adalah rimba yang lebih kejam daripada hutan batu Timor. Jika ia ingin melindungi air ini selamanya, ia tidak bisa lagi hanya mengandalkan parang Matheus atau pagar betis para ibu.

Pagi itu, bengkel Jonatan berubah menjadi kantor darurat. Sarah duduk di depan laptopnya yang sudah lecet, sementara Jonatan, Matheus, dan Pak Berto duduk melingkar di atas tikar pandan. Di luar, suara kucuran air dari bak penampungan utama terdengar seperti musik yang menenangkan, namun Jonatan terus menatap tumpukan surat peringatan dari dinas pendapatan daerah yang baru saja diantar oleh kurir kecamatan.

"Pajak Air Tanah, Pajak Bumi dan Bangunan untuk area fasilitas umum, hingga Izin Gangguan atau HO," Sarah membacakan daftar itu dengan nada datar, namun matanya memancarkan kemarahan. "Tuan Markus tidak main-main. Dia menggunakan koneksinya di kabupaten untuk menekan kita lewat jalur administratif. Total tagihan dan denda yang mereka tuntut dalam sebulan ke depan hampir mencapai lima puluh juta rupiah."

Matheus tersedak kopi pahitnya. "Lima puluh juta? Dari mana kita punya uang sebanyak itu? Kita bahkan belum menarik biaya sepeser pun dari warga!"

"Itulah celah yang mereka pakai, Theus," jawab Jonatan sambil memijat pelipisnya. "Selama 'Oetimu Mandiri' berstatus yayasan pribadi atau proyek mahasiswa, kita dianggap sebagai penyedia jasa ilegal yang menghindari pajak. Mereka mau membuat kita bangkrut secara administratif sebelum kita sempat berkembang."

Jonatan berdiri, berjalan menuju jendela dan menatap warga yang sedang antre mengambil air dengan tertib. "Kita harus mengubah wajah kita. Kita tidak boleh lagi menjadi 'proyek Jonatan'. Kita harus menjadi 'Koperasi Oetimu'."

"Koperasi?" Pak Berto mengerutkan kening. "Bukankah itu urusan orang kantoran di kota?"

"Tidak, Bapa. Koperasi itu urusan kita. Jika air ini milik koperasi, maka setiap warga adalah pemiliknya. Pajak bagi koperasi rakyat jauh lebih ringan, dan yang paling penting, Tuan Markus tidak bisa menuntut individu. Dia harus berhadapan dengan seluruh warga sebagai satu badan hukum," Sarah menjelaskan dengan semangat.

Maka, dimulailah hari-hari paling melelahkan bagi Jonatan. Jika sebelumnya ia bergelut dengan kabel, kini ia bergelut dengan pasal-pasal. Ia dan Sarah berkeliling dari rumah ke rumah, dari gubuk di lereng bukit hingga rumah panggung di lembah Nekmese. Mereka menjelaskan konsep yang sederhana: bahwa air ini bukan pemberian Jonatan, melainkan harta bersama yang harus dijaga bersama.

"Bapa dan Mama cukup setor seribu rupiah per minggu," ujar Jonatan di depan kumpulan warga dusun bawah. "Uang itu bukan untuk saya. Uang itu untuk beli kabel kalau putus, untuk bayar pajak ke negara supaya mereka tidak punya alasan tutup sumur kita, dan sisanya untuk dana sekolah anak-anak kita."

Awalnya, ada keraguan. Beberapa warga yang sudah terbiasa dengan janji manis politisi merasa ini hanyalah cara lain untuk memeras mereka. Namun, saat Bu Maria maju dan meletakkan koin seribu rupiah pertamanya di atas meja, keraguan itu runtuh.

"Selama ini kita bayar lima ribu untuk satu jerigen air tangki yang kuning dan bau," suara Bu Maria parau namun tegas. "Sekarang anak Jon kasih air bening sampai ke depan pintu, masakan kita pelit untuk seribu rupiah? Saya orang pertama yang masuk koperasi!"

Dalam waktu tiga hari, lebih dari dua ratus kepala keluarga mendaftarkan diri. Sarah bekerja siang malam menyusun akta pendirian, sementara Jonatan harus kembali ke kota untuk menghadapi sidang administratif di kantor dinas.

Pertemuan di kantor dinas itu terasa seperti masuk ke kandang serigala yang wangi. Jonatan datang mengenakan kemeja tenunnya, berhadapan dengan para pejabat yang duduk di balik meja jati besar. Di pojok ruangan, ia melihat asisten pribadi Tuan Markus sedang berbisik dengan kepala dinas.

"Saudara Jonatan," kepala dinas itu memulai dengan suara yang dibuat-buat prihatin. "Niat Anda mulia. Tapi aturan adalah aturan. Pengambilan air tanah tanpa izin komersial adalah pelanggaran berat. Kami terpaksa akan menyegel permanen pompa Anda jika denda tidak dibayar lusa."

Jonatan tidak gentar. Ia meletakkan sebuah map tebal di atas meja. "Ini adalah dokumen pendirian Koperasi Air Oetimu Mandiri. Berdasarkan Undang-Undang Koperasi dan Peraturan Pemerintah tentang pengelolaan air berbasis masyarakat, kami memiliki hak istimewa untuk masa transisi izin selama dua tahun. Dan mengenai denda, sebagai badan hukum koperasi yang baru berdiri di daerah tertinggal, kami mengajukan surat permohonan pemutihan berdasarkan pasal insentif ekonomi kerakyatan."

Kepala dinas itu tampak terkejut. Ia melirik asisten Tuan Markus yang kini wajahnya menegang. Mereka tidak menyangka "anak desa" ini paham celah hukum serumit itu.

"Anda sangat cerdik, Jonatan," gumam si kepala dinas sambil membolak-balik dokumen Sarah. "Tapi koperasi butuh pengurus yang sah. Mana jaminannya bahwa ini bukan akal-akalan Anda saja?"

"Jaminannya ada di luar kantor Bapak," jawab Jonatan tenang.

Di luar gedung, ratusan warga Oetimu dan Nekmese telah berkumpul. Mereka tidak membawa senjata. Mereka membawa buku tabungan koperasi yang baru saja dicetak sederhana dari kertas daur ulang. Mereka duduk diam di aspal panas, menunjukkan bahwa jika Jonatan ditekan, maka seluruh penggerak ekonomi mikro di desa itu akan ikut bergerak.

Sarah, yang mendampingi Jonatan, menambahkan dengan nada tajam, "Kami juga sudah mengirimkan salinan dokumen ini ke kementerian di Jakarta dan rekan media di Surabaya. Jika prosedur koperasi ini dipersulit tanpa alasan hukum yang jelas, kami akan melaporkan adanya dugaan maladministrasi dan penyalahgunaan wewenang untuk kepentingan pihak swasta."

Tembok birokrasi itu mulai retak. Dengan enggan dan wajah yang masam, kepala dinas tersebut menandatangani surat tanda terima dokumen transisi. Segel permanen itu batal dilaksanakan.

Jonatan keluar dari kantor dinas dengan kaki yang terasa ringan. Di bawah sinar matahari sore, ia disambut sorak-sorai warga. Matheus mengangkat Jonatan ke pundaknya. Namun, di tengah kegembiraan itu, Jonatan melihat Tuan Markus berdiri di seberang jalan, bersandar di mobil mewahnya. Pria tua itu tidak lagi berteriak. Ia hanya menatap Jonatan dengan tatapan dingin, lalu membuat gerakan menggorok leher dengan jempolnya sebelum masuk ke mobil dan pergi.

Malam itu, di balai desa, rapat koperasi pertama diadakan. Air mengalir deras dari kran yang baru dipasang di tengah alun-alun. Jonatan duduk di tangga balai desa, memandangi botol plastik ayahnya yang kini ia simpan di dalam lemari kaca kecil di bengkel sebagai pengingat.

"Pajak sudah aman, izin sedang jalan. Tapi kita tetap harus waspada, Jon," Sarah duduk di sampingnya, menyerahkan secangkir teh hangat. "Tuan Markus kalah di kertas, dia kalah di massa. Orang seperti dia biasanya akan mulai menggunakan cara-cara yang... tidak terlihat."

Jonatan menyesap tehnya, merasakan kehangatan menjalar di dadanya. "Dia bisa serang saya, dia bisa serang mesin saya. Tapi sekarang dia harus menyerang seluruh desa. Dan desa ini, Sar, sudah tidak lagi merasa takut."

Namun, ucapan Jonatan itu segera diuji. Tengah malam, saat desa baru saja terlelap, terdengar suara ledakan kecil dari arah bukit belakang—arah di mana pipa utama yang menyalurkan air ke pemukiman berada.

Jonatan tersentak bangun. Ia menyambar senter dan berlari menuju bukit. Di sana, ia menemukan pipa PVC besar itu bukan sekadar pecah, tapi digergaji secara rapi dan di dalamnya dijejali semen cepat keras yang sudah membatu. Ini bukan kecelakaan teknis. Ini adalah sabotase terencana yang bertujuan merusak seluruh jalur distribusi dari dalam.

"Brengsek!" Matheus mengumpal sambil mencoba membongkar semen itu dengan tangan kosong.

Jonatan berlutut, menyentuh pipa yang tersumbat itu. Ia melihat ke arah rumah besar Tuan Markus yang lampunya tetap padam, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Air terhenti lagi.

"Dia mau kita mati perlahan," bisik Jonatan. Matanya berkilat tertimpa cahaya senter. "Dia pikir dengan menyumbat pipa, dia bisa menyumbat semangat kita."

"Kita lapor polisi, Jon!" teriak warga yang mulai berdatangan.

"Jangan," Jonatan berdiri. "Polisi butuh bukti, dan Tuan Markus terlalu licik untuk meninggalkan jejak. Kita tidak akan lapor. Kita akan buat sistem yang tidak bisa disumbat. Matheus, panggil semua tim teknis. Kita bongkar jalur ini, kita ganti dengan sistem paralel. Jika satu disumbat, sepuluh jalur lain akan tetap mengalir."

Bab 28 ditutup dengan Jonatan yang kembali memegang gergaji dan lem di bawah sinar bulan. Koperasi Oetimu tidak hanya belajar tentang hukum, tapi mulai belajar tentang daya tahan. Di tanah Timor yang keras, air memang harus diperjuangkan setiap tetesnya, bahkan jika itu berarti harus bertarung dengan semen dan pengkhianatan di tengah malam.

1
Kustri
terharu qu😳
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
Kustri
pa johan, smoga kebaikanmu membuat jon smakin bersemangat
Kustri
ya Allah... sepatu pinjaman, itu tetangga baik hati'a
Kustri
penasaran bawa sepatu gk dr oetimu
Kustri
sumpah, setiap baca sedih bgt😭
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
joekris: Amin kak
total 1 replies
Kustri
💪💪💪jon
Kustri
merinding baca'a
kasian
Kustri: insya Allah, thor
total 2 replies
Prabu Hangku
Gila gila asoy bener cerita nya
sendi syam
Keren
🦊 Ara Aurora 🦊
thor gue mampir nih 😅 maaf terlambat mampir yah baru sekarang bisa 🙏
Rizky Rahmat
Alur cerita nya dari kisah nyata kah?
Tarno Hangku
Keren
sendi syam
Semoga bisa bawa nama ntt ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!