NovelToon NovelToon
Cinta Yang Terbuang

Cinta Yang Terbuang

Status: tamat
Genre:Percintaan Konglomerat / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Kau pikir kau mencuri masa depanku malam itu, Nick? Tidak. Kau hanya memberi saya alasan untuk menikmati Rasa sakit di masa depan." — Nedine.

Di balik gemerlap statusnya sebagai putri dari seorang ibu tunggal yang sukses, Nadine Saville menyimpan rahasia yang menghancurkan dirinya secara perlahan. Sejak bangku SMA hingga memasuki dunia kampus yang liar di Amerika, ia terikat dalam hubungan gelap dengan Nickholes Teldford.
Bagi dunia, mereka adalah orang asing. Namun di balik pintu tertutup, Nadine adalah pelampiasan nafsu Nickholes yang tak pernah puas. Terjebak dalam kenaifan dan cinta yang buta, Nadine rela dijadikan alat pemuas demi mempertahankan pria yang ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Malam di apartemen Cheryl yang tadinya penuh ketegangan dramatis tiba-tiba berubah menjadi medan keriwehan tingkat tinggi yang bahkan Daven sendiri tidak sanggup memprediksinya. Baru saja Cheryl meletakkan ponselnya setelah menghadapi Abbey Alton, suara ketukan pintu yang sangat ritmis dan penuh percaya diri terdengar.

Bukan ketukan penuh amarah seperti yang mereka duga dari Abbey, melainkan ketukan yang terdengar seperti... ketukan seorang pemenang.

Daven membuka pintu, dan di sana berdirilah Nickholes Teldford. Sang ayah tampak luar biasa segar dengan setelan jas mahal, didampingi oleh dua asisten pribadinya yang membawa beberapa koper gantung besar bermerek ternama.

"Ayah? Sedang apa di sini?" tanya Daven bingung. "Aku bilang minta tolong dijaga kalau Abbey datang, bukan membawa koper pakaian."

Nick masuk dengan santai, melirik kekacauan di apartemen Cheryl, lalu menatap putranya dengan cengiran yang sangat menyebalkan.

"Daven, Daven... kau ini terlalu lambat. Kalau menunggu kau melamar dan mengurus administrasi, mungkin aku sudah punya cicit baru kau bergerak."

Nick duduk di sofa, sementara Cheryl berdiri terpaku di pojok ruangan. "Duduklah, Cheryl sayang. Kau tampak pucat. Jangan khawatir tentang Abbey. Aku baru saja menutup telepon dengannya sepuluh menit yang lalu."

"Apa yang Ayah katakan padanya?" tanya Daven curiga.

Nick mengedikkan bahu. "Hanya sedikit pembicaraan bisnis. Abbey Alton sedang kesulitan dengan investasinya di Eropa, dan kebetulan Teldford Group sedang mencari mitra di Brooklyn. Aku menawarkan kerja sama yang tidak mungkin ia tolak, dengan satu syarat kecil: restu penuh dan absolut untuk hubungan kalian. Dia setuju. Bahkan dia bilang, Ambil saja Cheryl, asalkan kontraknya ditandatangani malam ini."

Cheryl menutup mulutnya dengan tangan. "Ayahku... semudah itu memberikan restu hanya demi bisnis?"

"Bisnis adalah bahasa ayahmu, Cheryl. Dan aku baru saja menerjemahkan cintamu pada Daven ke dalam angka-angka yang dia mengerti," Nick mengenyitkan mata. "Tapi itu bukan berita utamanya."

Nick memberi isyarat pada asistennya untuk membuka koper gantung tersebut. Di sana, terpampang sebuah gaun pengantin putih yang sangat anggun dan sebuah tuksedo hitam yang terlihat sangat pas untuk ukuran tubuh Daven.

"Daven, Cheryl... Aku sudah mengurus semuanya. Surat izin menikah, pendaftaran di balai kota, hingga pendeta. Semuanya sudah selesai sore tadi. Kalian sudah terdaftar sebagai pasangan yang akan menikah malam ini secara privat di kediaman Teldford," ucap Nick tanpa dosa.

"APA?!" Daven dan Cheryl berteriak bersamaan.

"Ayah, ini gila! Kami baru saja bertemu kembali hari ini! Cheryl bahkan belum sempat mencuci mukanya dengan benar!" protes Daven.

"Justru karena itu!" seru Nick sambil berdiri. "Aku tidak mau ada drama kehilangan lagi selama tiga tahun. Aku tidak mau melihat putraku jadi pria kulkas lagi. Cheryl, kau sudah resmi menjadi menantu pilihanku sejak kau masih berumur sepuluh tahun dan mencuri cokelat di kantorku. Administrasinya sudah beres, hukum sudah mencatat kalian. Sekarang, pakai baju itu."

Daven menatap ayahnya dengan pandangan tak percaya. "Kau mengurus pernikahan kami tanpa memberi tahu kami?"

"Itu namanya efisiensi, Daven. Sifat riweh Teldford itu harus digunakan untuk hal-hal strategis seperti ini," Nick mendorong koper itu ke depan Daven. "Cepat ganti baju. Ibumu sudah menunggu di mansion dengan kue pengantin yang besarnya melebihi kepalamu. Jangan membuat wanita itu menunggu."

Cheryl menatap gaun itu dengan perasaan campur aduk. Ia menatap Daven, lalu menatap Nick. "Tuan Teldford... apakah ini nyata? Ayahku benar-benar setuju?"

"Panggil aku Ayah mulai sekarang, Cheryl. Dan ya, dia sangat setuju, terutama setelah aku bilang akan memberikan suntikan dana untuk perusahaannya," Nick tersenyum lembut, matanya menunjukkan rasa sayang yang tulus. "Aku melakukan ini bukan hanya karena bisnis, Cheryl. Aku melakukan ini karena aku tidak mau melihat kalian berdua membuang waktu lagi karena ego orang tua."

Daven akhirnya menghela napas panjang. Ia mengambil tuksedonya, lalu menatap Cheryl yang masih tampak syok.

"Bakpao," panggil Daven lembut. "Kau mau?"

Cheryl menatap mata biru Daven yang kini penuh dengan kepastian. Ketakutannya pada Abbey hilang, kehampaannya selama di Brooklyn musnah. Ia tersenyum, air mata haru jatuh di pipinya.

"Asal kau berjanji tidak akan pernah membiarkan aku kehilangan kunci lagi," jawab Cheryl.

"Aku yang akan memegang semua kuncimu mulai sekarang," janji Daven.

Satu jam kemudian, suasana di mansion Teldford berubah menjadi negeri dongeng dalam semalam. Nadine menyambut mereka dengan tangisan bahagia, langsung memeluk Cheryl seolah-olah ia adalah putri kandungnya yang kembali dari perang.

Daven berdiri di depan altar kecil yang didirikan di taman belakang yang menghadap ke lampu-lampu kota New York. Ia mengenakan tuksedonya, terlihat sangat luar biasa tampan, jauh lebih dewasa daripada bayangannya di mimpi semalam.

Saat Cheryl keluar dengan gaun putihnya, Daven merasa jantungnya berhenti berdetak. Pipi itu... meski sudah tirus, terlihat merona indah karena malu dan bahagia. Cheryl melangkah anggun, namun hampir tersandung ujung gaunnya sendiri karena ia lupa cara berjalan dengan heels tinggi—mengingatkan Daven bahwa gadis ini tetaplah si pelupa yang ia cintai.

"Hati-hati, Sayang," bisik Daven sambil meraih tangannya.

Pernikahan itu berlangsung sangat privat, sangat cepat, dan sangat Teldford. Di depan pendeta yang sudah dipesan khusus oleh Nick, mereka mengucapkan janji yang lebih dalam daripada sekadar kata-kata manis. Itu adalah janji untuk saling menjaga dari dunia yang keras, janji untuk saling mengingatkan pada hal-hal kecil, dan janji bagi Daven untuk tetap menjadi pria paling riweh bagi Cheryl.

Setelah prosesi selesai, Nick mengangkat gelas sampanyenya. "Untuk keluarga Teldford yang baru! Dan untuk Abbey Alton... semoga dia menikmati kontrak bisnisnya di Brooklyn selagi aku menikmati menantu baruku di sini!"

Daven menarik Cheryl menjauh dari keramaian pesta kecil itu menuju balkon. Ia menatap istrinya—istri sahnya—dengan tatapan yang begitu posesif namun penuh kasih.

"Kau tahu, ini adalah keriwehan Ayah yang paling gila yang pernah ada," ucap Daven.

"Tapi aku menyukainya," bisik Cheryl, menyandarkan kepalanya di bahu Daven. "Aku tidak perlu lagi takut pada ponselku yang bergetar. Aku tidak perlu lagi takut pada bayang-bayang Brooklyn."

Daven tersenyum, lalu ia merogoh saku tuksedonya. Ia mengeluarkan kunci kelinci itu dan memberikannya pada Cheryl. "Ini kunci kotakmu. Simpan baik-baik. Tapi mulai besok, kau tidak butuh lagi foto-foto lama itu untuk mengenangku. Kau punya aku yang asli, 24 jam sehari."

Daven kemudian mendekat, dan kali ini, ia tidak mencubit pipi Cheryl. Ia mencium kening istrinya dengan sangat lama, sebelum akhirnya mendaratkan ciuman manis di bibir Cheryl.

"Selamat datang di keluarga paling riweh di New York, Nyonya Teldford," bisik Daven tepat di depan bibir Cheryl.

Cheryl tertawa, suara tawa yang paling merdu yang pernah Daven dengar. "Aku tidak sabar untuk melihat keriwehan apa lagi yang akan kau lakukan besok pagi, Kapten."

Dan di bawah langit New York yang benderang, cerita yang dimulai dari cubitan pipi di sekolah menengah itu akhirnya berlabuh pada ikatan suci yang takkan terpisahkan oleh jarak, waktu, maupun drama orang tua. Daven Teldford telah resmi memenangkan kembali dunianya.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Endang Sulistia
bagus...ceritanya ringan
Lutfiah Tunnissa
semangat kkk
Lutfiah Tunnissa
hadir kk ceritanya bagus up terus yaa💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!