NovelToon NovelToon
SUAMIKU TERNYATA CEO

SUAMIKU TERNYATA CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari dari Pernikahan / Percintaan Konglomerat / Cinta Beda Dunia
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nana Bear

Siska menikahi Kevin karena cinta, meski harus hidup dalam kesederhanaan. Ia percaya kebahagiaan tidak diukur dari harta.

Namun ketika himpitan ekonomi semakin berat dan harapan terasa semakin jauh, Siska memilih pergi.

Ia tidak tahu bahwa Kevin bukan pria miskin seperti yang ia kira.

Saat takdir mempertemukan mereka kembali, rahasia terungkap—dan cinta diuji oleh penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman yang Menyentuh Rumah

Pesan anonim itu… bukan kebetulan.

Kevin tahu.

Seseorang sedang mengawasi.

Bukan hanya perusahaannya.

Tapi hidupnya.

Keesokan paginya, Kevin memanggil tim IT secara diam-diam.

“Lacak nomor ini,” katanya tenang sambil menyerahkan ponselnya.

“Sulit, Pak. Nomor ini terenkripsi dan pakai server luar negeri.”

Kevin mengangguk pelan.

Ia sudah menduga.

Permainan ini makin personal.

Di rumah, Siska berusaha bersikap biasa.

Ia tetap mengantar Cantika sekolah.

Tetap tersenyum.

Tetap memasak.

Tapi hatinya gelisah.

Pesan itu bukan sekadar ancaman bisnis.

Itu seperti… pengingat bahwa seseorang tahu rutinitas mereka.

Sore itu, saat Siska menjemput Cantika, ia merasa seperti ada mobil yang mengikuti dari jauh.

Awalnya ia mengabaikan.

Mungkin hanya perasaannya.

Tapi mobil hitam itu tetap berada di belakang mereka sampai tiga lampu merah.

Jantung Siska mulai berdetak lebih cepat.

Ia langsung menelepon Kevin.

“Mas…”

“Ada apa?” suara Kevin langsung berubah waspada.

“Kayaknya ada mobil yang ngikutin.”

Seketika darah Kevin terasa dingin.

“Jangan panik. Belok ke pusat perbelanjaan yang ramai. Aku ke sana sekarang.”

Di parkiran mall, mobil hitam itu berhenti beberapa baris dari mereka.

Siska memeluk Cantika erat.

Kevin datang 15 menit kemudian dengan wajah tegang.

Mobil hitam itu sudah pergi.

Kevin memeriksa sekitar dengan tatapan tajam.

“Kamu lihat siapa di dalamnya?” tanyanya pelan.

Siska menggeleng.

“Kacanya gelap.”

Cantika yang tidak mengerti apa-apa hanya bertanya polos,

“Papa, tadi kita main kejar-kejaran ya?”

Hati Kevin terasa diremas.

Ini bukan lagi soal saham.

Ini menyentuh keluarganya.

Malam itu, Kevin duduk di ruang kerja dengan wajah berbeda.

Bukan takut.

Tapi marah yang sangat terkontrol.

Ponselnya kembali bergetar.

Kamu mulai merasa diawasi?

Kevin membalas untuk pertama kalinya.

Jangan sentuh keluargaku.

Balasan datang cepat.

Maka jangan ganggu rencanaku.

Kevin mengepalkan tangan.

Rencana?

Jadi memang ada sesuatu yang lebih besar.

Siska masuk tanpa suara.

“Kita perlu pengamanan,” katanya tegas.

Kevin menatapnya.

“Aku sudah pikirkan itu.”

“Kamu jangan hadapi ini sendirian lagi.”

Kevin terdiam.

Dulu, ia akan menyembunyikan semuanya.

Sekarang, ia menarik kursi di sebelahnya.

“Duduk.”

Siska duduk.

Dan untuk pertama kalinya, Kevin menjelaskan semua detail ancaman itu tanpa menyaringnya.

Siska mendengarkan dengan wajah pucat, tapi matanya tegar.

“Kalau ini soal balas dendam, dia nggak akan berhenti,” katanya pelan.

Kevin mengangguk.

“Tapi aku juga nggak akan mundur.”

Keesokan harinya, sistem keamanan rumah ditingkatkan.

CCTV tambahan.

Satpam berjaga 24 jam.

Rute antar-jemput Cantika diubah.

Cantika sempat protes kecil.

“Kenapa sekarang ada om-om jagain terus?”

Siska tersenyum lembut.

“Biar Papa tenang kerja.”

Kevin memeluk putrinya lebih lama dari biasanya.

Ia mulai sadar—

Musuhnya tidak hanya ingin menjatuhkannya secara finansial.

Musuhnya ingin melihatnya goyah.

Sementara itu, di tempat lain…

Pria dalang itu duduk menatap layar CCTV yang memperlihatkan laporan pengawasan.

“Dia mulai protektif,” gumamnya pelan.

Seorang anak buahnya bertanya,

“Langkah selanjutnya?”

Pria itu tersenyum tipis.

“Kita tekan perlahan. Sampai dia harus memilih.”

Malam hari.

Hujan turun deras.

Listrik sempat padam beberapa detik.

Dalam kegelapan singkat itu, Siska refleks memeluk Cantika.

Kevin berdiri waspada.

Lampu menyala kembali.

Tapi ponselnya berbunyi.

Fase berikutnya dimulai.

Kevin menatap layar itu lama.

Hujan di luar semakin deras.

Ia sadar satu hal.

Permainan ini bukan lagi soal menjatuhkannya di dunia bisnis.

Ini soal menghancurkan ketenangannya sedikit demi sedikit.

Siska berdiri di sampingnya.

“Mas…”

Kevin menoleh.

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ada ketegangan nyata di mata Siska.

Bukan karena ia ingin lari.

Tapi karena ancaman ini terasa lebih dekat dari sebelumnya.

Kevin menggenggam tangan istrinya.

“Apa pun yang dia rencanakan… aku nggak akan biarin dia masuk ke rumah ini.”

Hujan terus mengguyur malam.

Dan di tengah suara gemuruh itu—

Perang yang sebenarnya baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!