Leana putri tunggal seorang pengusaha yang tidak pernah terekspos, sehingga dia di kenal sebagai anak orang miskin yang masuk ke tempat elit demi menaikkan derajat. Menjadi pacar seorang anak miliyader membuatnya menjadi pusat perhatian, Reno putra ke tiga dari keluarga ternama di kotanya, Ketika berkunjung kerumah sang pacar dia mendapati teman baiknya sedang berduaan. Meminta pertanggung jawaban namun tak di hiraukan Reno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhe vi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Sepulangnya dari rumah sakit aku dan tante Mia melakukan pengukuran untuk gaunku, terakhir kali aku juga sudah melakukan pengukuran untuk desain yang tante Mia buat, karena sekarang aku sedang berbadan dua tante Mia akan menyesuaikan kembali ukuranku agar membuatku dan kandunganku terasa nyaman.
"Tante gaunnya cantik banget".
"Ya jelas lah sayang, kan tante yang buat lagian ini juga sudah lama di rencanakan". Aku mengangguk
Tiba-tiba Ray datang melihatku fitting gaun pengantin sambil membawa sebuah papper bag.
"Beb, apa itu?".
"Oh ini buat kamu, bukalah".
Tante Mia keluar meninggalkan kami berdua.
Aku membuka bingkisan yang Ray bawa di dalamnya ada sekotak set perhiasan yang masih tertutup rapi. Aku membukanya dan betapa cantiknya perhiasan ini apa lagi kalungnya perpaduan berlian bermata blue safir batu perhiasan yang paling aku sukai di padukan dengan gaunku semakin cantik di buatnya.
"Lea, maaf jika ini semua terlambat. Leana Valerie maukah kamu menikah denganku, selalu berada di sampingku, menerima aku apa adanya dan akan menemaniku hingga tua nanti".
"Iya Ray aku mau".
"Tapi aku hanya ingin satu hal".
"Katakan lah".
"Bisakah kamu setia hanya kepadaku seorang?".
"Tentu saja, sampai kapanpun cuma kamu yang aku inginkan Love".
"Aku tidak butuh kata-kata janji, aku hanya perlu bukti".
"Akan aku buktikan bahwa cuma kamu seorang yang aku mau".
Ray memelukku dan mengelus kepalaku dengan lembut bahkan dia juga yang memsangkan kalung yang baru ia berikan ini
"Oke Love kamu memang sempurna". Lihatnya pada diriku ujung kaki ke unjung kepala.
Masalah gaun kami sudah selesai, tinggal melihat perkembangan dekorasi pernikahan kami.
Betapa kagetnya aku Ray mengadakan pernikahan di sebuah ballroom terbesar di kota ini, apa ini tidak terlalu mewah aku hanya ingin pernikahan yang sederhana saja.
"Kenapa Love".
"Ini terlalu mewah beb".
"Nggak apa-apa kan sekali seumur hidup love aku juga nggak mau kamu panas-panasan dengan konsep wedding garden".
"Hah terserah kamu aja lah beb aku pusing".
"Pusing kenapa kamu, perlu periksa?".
"Nggak aku bukan pusing karena badanku, tapi aku pusing dengan calon suamiku ini dalam menyiapkan pernikahan yang hanya satu hari ini".
Ray tertawa, entah apa yang lucu tapi semua ini benar-benar membuatku pusing tujuh keliling. Entah berapa banyak uang yang Ray miliki, membelikanku mobil, rumah di perumahan elit dan apartemen mewah di samping unitnya itu saja sudah menghabiskan berapa banyak.
Belum lagi perhiasan, gaun, souvenir, catering, dekorasi, belum lagi undangan.
Ray membawaku pulang ke apart untuk istirahat, begini ya rasanya sedang hamil sebentar-sebentar cepat banget lelahnya.
"Mau makan apa Love".
"Lagi nggak pengen makan beb ngantuk banget ini".
"Kamu harus makan biar ada nutrisi yang masuk dan kamu harus rutin juga minum vitaminnya, kalau mual minum obat mualnya".
Kenapa Ray jadi secerewet ini sih.
"Nanti habis tidur, aku ngantuk banget beb".
"Ya udah istirahat dulu sana".
Ah, kasur memang yang terbaik, tidak lama setelah merebahkan kepalaku aku langsung tertidur, bangun-bangun hari sudah mau malam aja dan Ray tidak membangunkan aku sama sekali.
Bau harum dari dapur ini pasti Ray masak lagi.
Entah kenapa kalau Ray yang masak aku tidak merasakan mual sama sekali, tapi jika mencium bau masakan dari luar rasanya sangat mual.
"Ayo makan dulu Love"
"Iya, makasih".
Kami berdua makan dengan lahap.
"Beb".
"Hmmm kenapa?".
"Kalau nanti aku jadi gendut bagaimana?".
"Ya kenapa, itu artinya kebutuhan kamu telah aku penuhi kan, kamu sehat dan bahagia".
"Jadi nggak masalah kalau nanti badan aku melar".
"Why not, aku sayang kamu mau bagaimanapun nanti kamu aku tetap sama kamu Love".
Pencetnya pada hidungku.
Rasanya hidup penuh kebahagiaan begini memang bikin perasaan nyaman ya setidaknya ada pria yang benar-benar mau menerima diriku apa adanya.
Malamnya kami tidur lebih awal karena besok pagi ada beberapa berkas yang harus kami tanda tangani karena 3 hari lagi kami akan melangsungkan pernikahan.
Di rumah keluarga Wilder, mama Ray sedang sibuk dengan para pekerja untuk merombak ruangan di lantai dasar.
"Ribut banget sih". Keluh Melinda
"Ren, kenapa rumah ini ribut banget sih". tanyanya pada Reno
"Ah nggak tau lihat sendiri sana". Reno membelakangi Melinda
Dengan terpaksa Melinda keluar dari kamar. Melihat para pekerja sedang sibuk mondar mandir di ruang bawah.
"Ribut banget sih ma". Keluh Melinda
"Lalu?".
"Ya berhenti lah ma, aku masih ngantuk".
"Pemalas lihat jam dinding sudah jam berapa sekarang". Tunjuk mama Ray pada dinding yang ada jam besarnya.
Melinda yang penasaran segera turun ke lantai bawah. Terlihat seorang kontraktor dan arsitek sedang sibuk dengan gambar yang mereka pegang.
"Apa ini?". Tanya melinda pada arsitek
"Nyonya minta di rombak untuk kamar".
"Bikin kamar kok heboh banget". Sindir Melinda
"Itu kamar untuk menantuku".
"Menantu?".
Melinda mulai berfikir, bukankah menantu dirumah itu hanya Melinda seorang dilihat dari desainnya pun itu adalah sebuah kamar yang sangat besar dan luas walaupun berada di lantai bawah.
"Repot-repot banget sih ma mau membuat kamar untuk kami".
Isabella yang mdengar tertawa terbahak-bahak.
Melihat Isabella yang seperti itu membuat Melinda menjadi aneh sendiri, jelas di rumah ini hanya dia menantu yang ada di rumah Wilder.
Terlihat Bibi ibunya Melinda sudah selesai mengurus rumah dan mengurus anaknya Melinda
"Mana Adrian bi?". Tanya Melinda
",sedang mau tidur non tadi baru saja dia main".
"Tolong bawa di kesini".
"Baik nona".
Adrian adalah anak Reno dan melinda, tapi hingga sekarang mama Ray tidak pernah mengakui bahwa anak mereka adalah bagian dari keluarga Wilder.
Saat menggendong Andrian, Melisa membawa ke tempat arsitek sedang meninjau kembali denah ruangan bangunannya.
"Nah An kamu suka nggak gambarnya". Tanya Melinda pada anaknya
Tidak lama setelahnya Andrian mengacak-acak kertas yang Melinda tunjuk pada anaknya.
"Nona apa-apaan ini". Protes arsitek
"Itu artinya anakku nggak suka sama desain yg ini".
"Tapi nona, ini permintaan nyonya Wilder".
"Loh, kamu melawan aku? Aku ini menantu beliau dan ruangan ini untukku dan Andrian kalau aku nggak suka kamu mau apa?". Tantang Melinda
Mama Ray yang melihat keributan segera menghampiri keduanya yang sedang berseteru.
"Ada apa ini bu?". Tanya mama Ray pada arsitek tersebut
"Ini nyonya, anak nona ini mengacak-acak pekerjaan kami dan nona ini juga bilang bahwa dia menantu anda".
"Ini memang buat menantuku, tapi bukan dia ini. Lagian siapa yang mau bikin ruangan buat kamu. Apa kurang besar kamar Reno itu?". Marahnya pada Melinda.
"Melin nggak tau ma, ini kerjaan Andrian Meli juga nggak tau". Belanya
"Nona ini anak kecil kok jadi alasan, bukannya tadi anda bilang anda tidak suka sama desainnya".
"Apa? Saya bangun ruangan ini bukan untuk kamu Meli". Marah nyonya Wilder.
semangat ngetik thor sampe tamat..