NovelToon NovelToon
Business, Love And Lies

Business, Love And Lies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Cinta Terlarang
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18 - Jealousy

Setelah aku dan Henry melakukan kegilaan pertama kami itu, aku segera keluar dari ruangannya. Langkahku terasa canggung, seperti seseorang yang baru saja melakukan hal yang tak seharusnya di jam kerja.

Begitu pintu terbuka, aku mendapati Dimas berdiri di depan ruangan Henry. Tatapannya seolah ingin bertanya banyak hal, tapi aku hanya membalas dengan senyum kikuk dan berjalan cepat menuju lift.

Begitu pintu lift tertutup, aku menatap pantulan wajahku di dinding logam. Pipiku masih terasa panas, dan jantungku berdetak kencang seolah baru selesai berlari. Aku memang yang menyuruh Henry menciumnya—lebih tepatnya, memintanya menciumku. Tapi tetap saja, detak jantungku tak bisa diajak kompromi.

Meski begitu, di antara rasa malu dan gugup itu, ada rasa hangat yang tak bisa kujelaskan. Aku senang.

Aku bisa melakukan itu… dengan Henry—yang kini bukan lagi sekadar atasan, atau anak teman Mama, tapi pacarku.

난 남친 있어. (Aku punya pacar.)

Aku tersenyum kecil mendengar suaraku sendiri bergema pelan di kepala.

Begitu lift berhenti di lantai divisiku, aku keluar dan melangkah menuju ruangan. Semua orang sudah berada di tempat, kecuali Fera.

“Lia, kenapa kamu baru datang?” tanya Pak Arman dari meja kerjanya.

“Ehm… itu tadi…” aku tercekat, mencari alasan.

“Tadi Mbak Lia ke ruangan Pak Henry dulu, Pak.” sahut Merry tanpa dosa.

Deg!

“Merry!” seruku spontan, sedikit panik.

Pak Arman menatapku dengan alis terangkat. “Untuk apa kamu ke sana?”

“Ehm… ada hal yang harus saya bicarakan dengan Pak Henry.” jawabku berusaha tenang.

“Membicarakan apa?” tanyanya lagi.

“Urusan pribadi, Pak. Maaf, saya tidak bisa memberitahu.”

Merry terkekeh. “Hayo, urusan pribadi apa, Mbak Lia?”

“Sudah, sudah,” potong Pak Arman “Kamu duduk saja dan lanjutkan pekerjaanmu. Besok kita ke lapangan, jangan lupa siapkan berkasnya.”

“Baik, Pak.” jawabku patuh.

Aku segera menuju mejaku dan duduk. “Fera belum berangkat?” tanyaku pada Riki.

“Dia izin, katanya sakit.” jawab Riki tanpa menoleh.

“Ah…” aku mengangguk singkat lalu menyalakan komputer.

Namun mataku menatap layar tanpa fokus. Bayangan kejadian di ruangan Henry masih berputar jelas di kepalaku. Sentuhannya, tatapan matanya, bahkan caranya memanggil namaku—semuanya kembali terulang seperti rekaman yang tak mau berhenti.

Entah sejak kapan aku berubah menjadi seperti ini. Sejak kemarin, aku seperti kehilangan kendali. Berani melakukan hal-hal yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.

Padahal berkali-kali aku menegaskan di depan Henry bahwa aku tidak menyukainya. Tapi kemarin aku malah menyatakan perasaanku. Pagi tadi aku yang menciumnya lebih dulu, dan beberapa menit lalu… aku yang menyuruhnya menciumku.

Apa ini yang dinamakan gila karena cinta?

Jam makan siang tiba. Aku, Riki, Merry, Dina, dan Beni berjalan bersama menuju kantin. Seperti biasa, suasananya ramai—piring beradu, obrolan bercampur dengan suara langkah orang yang hilir-mudik. Aroma makanan dari berbagai penjuru membuat perutku semakin lapar.

Kami memesan makanan lebih dulu, lalu mencari tempat duduk. Merry, Dina, dan Beni memilih meja yang cukup besar di tengah, sementara aku duduk bersama Riki di meja belakang mereka. Kami duduk bersebelahan, membahas rencana kerja ringan sambil menunggu pesanan datang.

Tak lama kemudian, Caca dan Arvin muncul. Mereka tampak akrab, mereka memesan makanan lalu menuju mejaku.

“Fera mana?” tanya Caca sambil mendekati meja kami.

“Sakit.” jawab Riki singkat.

“Berarti aku bisa duduk di sini dong?” ucap Arvin tanpa menunggu jawaban.

Riki mengangguk ramah, dan Arvin langsung duduk di depanku.

Aku menatapnya dengan dahi berkerut. “Kenapa kamu duduk di sini?”

“Biar kita lebih akrab.” jawabnya santai, seolah itu hal paling wajar di dunia.

Riki menatapnya dengan curiga. “Eh? Kenapa kamu kayak gitu? Jangan-jangan kamu suka sama Lia.”

Arvin hanya tersenyum tipis. “Iya.”

Aku spontan menatapnya tidak percaya. “뭐라고? 니가 나를 좋아한다고? (Apa kamu bilang? Kamu suka aku?)”

“응. 친구로서 좋아해. (Iya, sebagai teman.)”

Aku mengembuskan napas lega. “아, 다행이다. (Syukurlah.)”

Tapi Arvin justru tersenyum miring. “Kenapa? Kalau aku suka kamu bukan sebagai teman, kamu nggak akan terima? Kamu kan nggak punya pacar.”

Aku menatapnya lurus. “응 없어. 근데 좋아하는 남자 있어. (Iya, nggak punya. Tapi ada seseorang yang aku suka.)”

“Siapa?”

“Ehm... Kim Joon Oppa.”

Arvin terkekeh pelan. “Ah, aktor itu. Kirain siapa.”

Aku menatapnya tajam. “니가 나를 좋아하지마. 알겠어? (Kamu jangan suka aku. Mengerti?)”

“왜? (Kenapa?)”

“내가 너를 좋아하지 않으니까. (Karena aku nggak suka kamu.)”

Riki memiringkan kepala. “Kalian ngomong apa sih? Aku ngerasa kayak orang asing di sini.”

Caca tertawa kecil. “Arvin lagi nyatain cinta ke Lia, tapi Lia nolak.”

“Caca!” protesku cepat. “Nggak gitu, Ki. Jangan percaya Caca.”

Kami masih sempat saling menggoda saat makanan datang. Suasana terasa ringan, tapi tiba-tiba Arvin mengulurkan tangan dan menyentuh wajahku.

“뭐 하는 거야?! 왜 내 얼굴을 만졌어? (Ngapain sih? Kenapa nyentuh wajahku?)” ucapku kaget dan kesal.

“Ada sesuatu di wajahmu.” katanya santai.

“Kan kamu bisa bilang ke aku, nggak perlu nyentuh wajahku.”

Seketika ingatanku terlempar pada momen di mana Henry juga pernah melakukan hal yang sama—menyentuh wajahku dengan lembut karena ada sesuatu di pipiku. Tapi saat itu, sentuhannya terasa berbeda… hangat, penuh arti.

Aku belum sempat menepis pikiran itu ketika mataku menangkap sosok yang baru saja masuk ke kantin.

Henry.

Langkahnya tenang, tapi aura dinginnya terasa bahkan dari jauh. Setiap karyawan yang dilewatinya berdiri dan menyapa dengan sopan. Ia membalas singkat, lalu terus berjalan ke arah kami.

Begitu ia berhenti di depan meja kami, aku, Riki, Caca, dan Arvin ikut berdiri.

“Duduk.” ucapnya datar.

Kami segera duduk kembali.

“Apa kalian sedang double date?” tanyanya tenang, namun nadanya membuat udara di sekitar kami terasa menegang.

Caca cepat-cepat menggeleng. “Tidak, Pak.”

“Tapi posisi duduk kalian seperti double date. Dua pria, dua wanita.” ujarnya sambil menatap kami satu per satu.

Riki tertawa gugup. “Tidak, Pak. Ini karena Fera tidak masuk, jadi ya begini. Lagi pula tipe ideal saya bukan seperti Caca atau Lia yang suka Korea.”

Caca mendengus. “Kamu juga bukan tipe idealku. Tipe idealku itu Oppa Kim Hyun-woo, tahu!”

Henry melipat tangan di dada, lalu pandangannya beralih ke Arvin dan aku. “Kalau kalian berdua bagaimana soal tipe ideal?”

Arvin menjawab dengan nada tenang, tapi matanya sekilas melirikku. “Saya tidak punya tipe ideal, Pak. Saya lebih suka kenyamanan. Lagi pula, kita tidak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta.”

Henry menoleh padaku. “Lili, kalau kamu?”

“Eh? Ehm... itu…” aku tergagap, tak tahu harus menjawab apa.

Caca malah menimpali cepat, “Tipe ideal Lia itu—”

“Caca!” potongku cepat. Aku tidak mau semua orang tahu bahwa pria yang kusuka sedang berdiri di depan kami.

Henry menatap Caca dengan tatapan datar. “Lanjutkan.”

“Tipe ideal Lia itu… ganteng, baik, suka membantu, perhatian… seperti…”

Henry menaikkan alis. “Seperti siapa?”

“Seperti Kim Joon Oppa.” jawab Caca mantap.

Aku menunduk pelan. Henry diam beberapa detik. Tatapannya dingin, senyumnya tipis—bukan senyum hangat yang biasa kulihat, tapi senyum yang membuat dadaku terasa sesak.

“Ah, jadi begitu ya,” ucapnya datar. “Wah, berat juga saingannya ya… kalau ada pria yang suka sama kamu.”

Aku berusaha tersenyum. “Tapi kalau pria itu bisa menembus hati saya, bisa membuat saya lupa pada aktor favorit saya, mungkin saya bisa menyukainya balik.”

“진짜 누나? (Beneran, Kak?)” tanya Arvin.

Aku mengangguk.

“알았어. (Baiklah.)”

Aku mendesah. “무엇을 알았으니까? 니가 나를 좋아하지마! 알겠어? (Baiklah apa? Aku bilang jangan suka aku! Mengerti?)”

Arvin tersenyum. “널 막을 순 없어. 사랑이 갑자기 왔기 때문에. (Kamu nggak bisa melarangku. Cinta itu datang tiba-tiba.)”

Caca menepuk lengannya pelan. “Arvin, gimana bisa kamu ngomong kayak gitu?”

Riki mengangkat tangan. “Hei, bisa nggak sih kalian ngomong pakai bahasa yang aku ngerti?”

Henry hanya menatap kami semua dengan ekspresi tak terbaca. “Kalian cocok sekali.” katanya datar.

Aku langsung menoleh ke arahnya. Hati kecilku berdesir aneh.

Tanpa menunggu reaksi, Henry berkata, “Baiklah. Silakan lanjutkan makan kalian.”

Ia berbalik dan pergi tanpa menoleh sedikit pun.

Aku menatap punggungnya yang menjauh. Suara tawa Caca dan Arvin terdengar samar di telingaku, tapi aku sama sekali tak bisa ikut tertawa. Untuk pertama kalinya sejak pagi, selera makanku benar-benar hilang.

Apa dia serius bilang aku dan Arvin cocok?

Atau apa dia sedang cemburu?

Setelah makan dan kembali ke ruanganku, aku mencoba mengirim pesan ke Henry.

[Kak, apa kamu tadi cemburu?]

Namun tak ada balasan.

Apa dia marah?

Atau sedang sibuk?

Aku mencoba menepis pikiran buruk dan memilih fokus bekerja. Tapi bahkan hingga jam pulang, pesan itu tetap tak kunjung dibalas.

Rasanya aku ingin ke ruangannya dan bertanya langsung. Tapi aku tahu, itu tidak mungkin. Aku takut orang-orang akan menatapku aneh, atau lebih parah—menyadari sesuatu tentang hubungan kami yang seharusnya tidak diketahui siapa pun.

Akhirnya, aku memutuskan untuk pulang.

Sepanjang perjalanan, pikiranku terus berputar mengingat Henry. Entah kenapa, semakin aku mencoba berhenti memikirkan dia, justru wajahnya makin jelas di kepalaku.

Tanpa sadar, aku sudah sampai di rumah.

Begitu motor terparkir, aku langsung masuk.

“Masih ingat pulang, kamu?” ucap Mama begitu aku masuk ruang tengah. Mama sedang menonton TV.

Aku tidak menjawab. Hanya lewat di depannya begitu saja.

“Tidur di mana kamu tadi malam? Di rumah Caca?”

“Iya.” jawabku singkat tanpa menoleh.

“Kenapa kamu suka banget sih di rumah Caca?”

Langkahku terhenti. Aku berbalik menatap Mama.

“Karena di rumah Caca suasana keluarganya lebih terasa daripada di sini.”

Mama menatapku tak percaya. “Bisa-bisanya kamu ngomong kayak gitu? Emangnya di sini kenapa?”

Aku menarik napas panjang. “Di sini aku ngerasa kayak bukan bagian dari kalian bertiga. Aku kayak anak angkat di rumah sendiri.”

“Lia! Bisa-bisanya kamu ngomong kayak gitu? Mama yang mengandung kamu sembilan bulan, melahirkan kamu dengan susah payah—terus kamu bilang bukan bagian dari keluarga ini?”

Nada suaranya meninggi, tapi aku sudah tidak peduli.

“Soalnya Mama sama Papa selalu lebih ngeduluin Kak Ana. Katanya, di keluarga itu yang tua harus mengalah buat adik, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Aku yang selalu ngalah, apalagi soal…”

Aku berhenti.

“Soal apa?” tanya Mama curiga.

Aku menggeleng pelan. “Bukan apa-apa.”

Aku tidak mungkin bilang kalau ini tentang Henry. Tentang bagaimana perasaan yang seharusnya tidak ada itu malah membuatku merasa bersalah di depan keluargaku sendiri.

Tanpa menunggu reaksi Mama, aku melangkah pergi menuju kamar.

“Lia!” panggilnya dari belakang, tapi aku tak mempedulikan.

Begitu pintu kamar tertutup, aku langsung bersandar di baliknya, lalu perlahan duduk di lantai. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh juga.

“Kenapa aku harus terlahir di keluarga ini?” bisikku pelan. “Kenapa aku nggak bisa punya orang tua yang nggak pilih kasih? Kenapa?”

Henry belum juga membalas pesanku. Mama marah. Aku pun marah pada hidupku sendiri.

Aku lelah.

Benar-benar lelah.

Rasanya aku ingin menjadi orang lain saja.

Kadang aku ingat apa yang sering dikatakan di drama Korea—kalau di kehidupan sekarang kita menderita, berarti di kehidupan sebelumnya kita pernah berbuat salah.

Jadi… apa di kehidupan sebelumnya aku melakukan dosa besar?

Kalau iya, mungkin ini hukumanku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!