NovelToon NovelToon
Karma Suami Durhaka

Karma Suami Durhaka

Status: tamat
Genre:Pelakor / Keluarga & Kasih Sayang / Selingkuh / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 4.7
Nama Author: Miss Ra

​"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."

​Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.

Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.

Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.

Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.

​Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?

Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?

Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

"Apa kabar, Sahabat Literasi? Pernahkah kalian berada di satu tempat yang sama dengan seseorang dari masa lalu, bernapas di udara yang sama, namun terpisah oleh dinding ego yang begitu tebal? Di episode ini, semesta seolah sedang mempermainkan Bima. Ia berada sangat dekat dengan apa yang ia buang, namun matanya dibutakan oleh kesombongannya sendiri. Mari kita saksikan detik-detik pertemuan yang hampir meruntuhkan segalanya."

.

.

Kabut tipis masih menyelimuti jalanan aspal di kota kecil di kaki gunung itu saat sebuah mobil mewah berwarna hitam legam membelah kesunyian.

Kehadiran mobil itu tampak sangat kontras dengan angkutan pedesaan dan motor-motor tua yang mendominasi jalanan. Di dalam mobil, Bima Erlangga duduk dengan wajah masam, sesekali membenarkan letak jasnya yang terasa gerah.

Ia terpaksa datang ke sini. Salah satu investor besar perusahaannya memiliki aset tanah perkebunan di daerah ini dan mengundangnya untuk meninjau lokasi pembangunan resort kesehatan. Bagi Bima, perjalanan ini adalah sebuah penghinaan terhadap waktunya.

"Tempat ini benar-benar tertinggal," gumam Bima sambil menatap deretan ruko tua di sepanjang jalan. "Kenapa orang kaya itu ingin membangun sesuatu di lubang sembunyi seperti ini?"

Sopir pribadinya melambatkan laju kendaraan saat mereka melewati area pasar utama yang sedang sibuk-sibuknya. Kerumunan orang, bau bumbu dapur, dan teriakan pedagang mulai menembus kaca mobil yang kedap suara.

Tepat di persimpangan dekat pasar, mobil Bima terhenti karena adanya truk pengangkut sayur yang sedang bongkar muat. Bima menghela napas panjang, mengalihkan pandangannya ke arah trotoar yang penuh sesak.

Tiba-tiba, matanya terpaku pada sebuah ruko kecil dengan papan kayu bertuliskan '**Kue Tradisional Saka**'. Di depan ruko itu, seorang wanita sedang sibuk melayani antrean pembeli.

Wanita itu mengenakan daster katun sederhana berwarna biru muda dan celemek putih yang sedikit terkena noda tepung. Rambutnya diikat kuda dengan rapi, memperlihatkan lehernya yang jenjang.

Ia sedang tertawa kecil sambil menyerahkan sekotak kue kepada seorang pelanggan tua.

Jantung Bima mendadak berdegup dengan irama yang tidak beraturan. Hana?

Untuk beberapa detik, Bima terpaku. Postur tubuh itu, cara wanita itu tersenyum, dan sorot matanya yang jernih sangat identik dengan Hana.

Namun, wanita di depannya ini terlihat begitu... hidup. Kulitnya tampak segar meski tanpa riasan, dan gerakannya begitu cekatan, sangat berbeda dengan Hana yang dulu selalu tampak lesu dan bergantung padanya di Jakarta.

"Tidak, tidak mungkin," Bima menggelengkan kepala, mencoba menghapus pemikiran itu.

Ia memperhatikan wanita itu lagi. Wanita itu kini sedang membungkuk untuk merapikan tumpukan kotak kue, memperlihatkan wajahnya secara jelas dari samping.

**Deg** ...!

Bima mencengkeram pegangan pintu mobil. Tangannya sudah siap untuk membuka pintu, namun egonya yang setinggi langit segera membisikkan kata-kata berbisa di telinganya.

"Bima, sadarlah. Hana itu wanita kelas atas. Dia terbiasa dengan AC, wangi parfum mahal, dan pelayan. Mana mungkin Hana yang anggun dan manja mau berkutat dengan asap kukusan di pasar kotor seperti ini? Mana mungkin dia mau melayani tukang becak dan petani dengan senyum selebar itu?"

Bima kembali bersandar di kursinya. Senyum sinis menghiasi bibirnya. "Hana pasti lebih memilih mati daripada harus hidup di tempat kumuh seperti ini. Wanita itu mungkin sekarang sedang bersembunyi di suatu tempat, menunggu aku menjemputnya dengan kemewahan. Sosok itu pasti hanya orang desa yang kebetulan mirip saja."

Ia membuang muka saat mobil mulai melaju kembali. Bima tidak tahu bahwa di dalam ruko itu, bayi Aditya Saka baru saja mengeluarkan suara rengekan kecil, dan wanita yang ia sebut orang desa itu segera berlari ke dalam dengan penuh kasih sayang.

Bima baru saja melewatkan satu-satunya kesempatan untuk melihat harta paling berharga yang pernah ia miliki.

Di dalam ruko, Hana menggendong Saka sambil menepuk-nepuk punggung bayinya. Ia merasa ada sebuah getaran aneh saat sebuah mobil hitam besar lewat di depan rukonya tadi, sebuah rasa sesak yang sempat melintas di dadanya, namun ia segera menepisnya.

"Kenapa, Sayang? Haus ya?" bisik Hana lembut.

Hana berjalan ke depan ruko kembali setelah Saka tenang. Hari ini pesanan untuk kantor Bupati harus segera dikirim. Ia merasa sangat bahagia. Hidup di desa ini memberinya kedamaian yang tidak bisa dibeli dengan uang Bima.

Tiba-tiba, seorang pria masuk ke dalam rukonya. Bukan Bima, melainkan dr. Adrian. Pria itu tampak santai dengan kemeja flanel dan membawa sebuah tas kecil.

"Selamat siang, Mbak Hana. Saya kebetulan ada kunjungan ke puskesmas di desa sebelah, jadi saya mampir sebentar untuk mengecek kondisi Saka," ucap Adrian dengan senyum hangatnya yang khas.

Hana tersenyum cerah. Kehadiran Adrian selalu membawa rasa nyaman. "Dokter Adrian! Terima kasih sudah mampir. Saka sehat sekali, Dok. Dia sudah mulai banyak bergerak."

Adrian mendekat, memeriksa suhu tubuh Saka dengan lembut. "Dia tumbuh dengan baik. Itu karena ibunya juga hebat. Tapi Mbak Hana, jangan lupa istirahat juga ya. Saya lihat pesanan kue Mbak makin banyak, jangan sampai kelelahan."

Hana mengangguk. Ada percikan perhatian di mata Adrian yang membuat Hana merasa dihargai sebagai manusia, bukan sekadar properti seperti saat bersama Bima.

~~

Di sisi lain kota, di dalam ruang rapat sebuah hotel, Bima tidak bisa fokus. Kata-kata investor di depannya terdengar seperti dengungan lebah. Pikirannya terus kembali ke ruko kecil tadi.

Bagaimana jika itu benar-benar dia?

"Pak Bima? Bagaimana menurut Anda tentang rencana perluasan lahan ini?" tanya sang investor, membuyarkan lamunan Bima.

"Ah, ya. Bagus. Saya setuju," jawab Bima asal, membuat rekan-rekannya saling pandang karena Bima baru saja menyetujui poin yang sebenarnya merugikan perusahaannya.

Setelah rapat selesai, Bima memutuskan untuk kembali melewati jalan pasar itu sebelum menuju bandara. Ia ingin memastikan sekali lagi. Ia ingin membuktikan bahwa wanita itu bukan Hana, agar ia bisa pulang ke Jakarta dengan perasaan tenang.

Namun, semesta memiliki rencana lain. Saat mobil Bima melewati ruko '**Kue Tradisional Saka**' untuk kedua kalinya, hari sudah sore. Ruko itu sudah tertutup rapat. Papan tulis di depan pintu bertuliskan - *HABIS. Terima Kasih*.

Bima menatap ruko yang gelap itu. Ada rasa kecewa yang tidak masuk akal menyergap hatinya.

"Sopir, jalan," perintah Bima dingin.

Sepanjang perjalanan pulang ke bandara, Bima terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia benar. Hana tidak akan pernah bisa bertahan di tempat seperti ini. Hana pasti sedang menderita di tempat lain, dan itulah yang seharusnya terjadi.

Bima kembali ke Jakarta, kembali ke pelukan Clarissa yang egois, kembali ke hutang perusahaan yang menumpuk, dan kembali ke kegelapan hatinya.

Sementara itu, di balik pintu ruko yang tertutup, Hana sedang menyalakan lampu kecil, mencium kening Aditya Saka, dan bersyukur karena ia telah selamat dari badai masa lalunya tanpa perlu menoleh ke belakang.

Dua orang itu bernapas di kota yang sama selama beberapa jam, namun takdir memastikan mereka tetap asing. Karena bagi Hana, Bima hanyalah hantu dari masa lalu.

Sedangkan bagi Bima, Hana adalah teka-teki yang mulai menghantuinya setiap malam.

Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Jangan lewatkan kisah Hana dan Bima di Up selanjutnya ....

...----------------...

**To Be Continue** ....

1
Altaf Ghaisan
yaa iyalah,HANA punya harga diri,GK Kya Clarissa,malah merendahkan diri sama suami perempuan lain
Altaf Ghaisan
sok atuh,aku mau liat
Altaf Ghaisan
bukan durhaka lagi Buu,,bima tuh sakit mental deh Kya nya🤣🤣
Altaf Ghaisan
yaaahh...nanti juga bima akan menyesal,,liat aja nnti,,aku yang akan bertepuk tangan dan ketawa yang paling keras untuk kamu bima dan Clarissa pelakorr
Altaf Ghaisan
hehe,kesabaran....?kesebaran sebagai PELAKOR!!
Altaf Ghaisan
yaaa emng GK penting,teruuuus mau apa Lo bima,,
Hua Hua
maaf thor, , jd malas baca karena alur ceritanta banyak yg gag sinkron, memang author dlm merangkai kata2nya sangat baik dan indah, tetapi banyak hal yg membuat ceritanya aneh sebenarnya dari awal, mulai dr kartu s yg sdh dipatahkan didlm taksi, trus ketika memutuskan utk keluar kota dan tdk pulang ke rmh ayahnya tp malah di next bab hana tiba dirmh ayahnya ketemu ibu tiri, kemudian pemgacara yg udh tahu tempat tinggal hana, tp bima malah mencarinya melalui detektif, kemudian disekitaran bab ini, bima yg sdg kepo dgn hana, dan sering berkata bahwa hana manja dan gag pernah pegang sapu, aneh thor, maaf banget, sebelum hana di talak , bukankah kehidupan keduanya baik2 saja? itu banyangan q sbg pembaca ya, krn memang tdk diceritakan sebelumnya, sangat disayangkan thor, di sinopsis ceritanya bagus, tp makin kesini makin nggak sinkron 🙏🙏
Modish Line
👍👍👍👍
Modish Line
Bima kasar bgt
Ros Ani
bagus
Paw_chan🐾
mantap banget
frida
suka suka author.
tiba tiba saja udah gede
kadang manggil mama papa
kadang ayah ibu
kadang bapak ibu
besuk akan ada kejutan apalagi
frida
alur cerita bima menarik semoga tidak berantakan seperti alur cerita Hana
evana gusani
baru mampir
Cici Mamatoni
ini juga selalu ada akhiran disetiap episode..mending ceritanya aja dipanjangin kak...tulisan anda bagus loh...🙏✌
Cici Mamatoni
saya rasa epilog author terlalu banyak..jadi mengganggu cerita..mending ga usah ada
Raji Hamizan
uang hasil jual mobil kemana
Raji Hamizan
bujanya pengacarabya tahu hana dmn, bingung jadinya
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
assalamualaikum ka . bisa saling support aku penulis baru
Hasnawati 64
Kren ceritanya lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!