Suaminya berkhianat, anaknya di tukar dan dihabisii. Selama lima tahun dia merawat anak suami dan selingkuhannya yang bahkan tinggal satu atap dengannya berkedok sebagai pengasuh.
Bahkan dirinya diracuni oleh pelayan kepercayaannya. Ratih, berakhir begitu tragis. Dia pikir dia adalah wanita paling malang di dunia.
Namun nasib berkata lain. Ketika dia membuka mata, dia berada tepat dimana dia akan melahirkan.
Saat itu Ratih bersumpah, dia akan membalas suaminya yang brengsekk itu. Dia akan mengambil bunga dari setiap perbuatan suami dan semua yang telah menyakitinya dan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Permintaan Maaf
Ratih kembali ke kamarnya untuk memberitahu Ben, supaya Ben menjaga apa yang dia katakan tadi dari ayah dan ibunya.
Karena meski Ratih sudah menikah, tapi yang namanya seorang ayah. Putrinya adalah harga matii untuk seorang ayah. Begitu Panji tahu, Fandi menukar bayi Ratih. Dia pasti akan langsung memenjarakan Fandi.
Tapi hal itu terlalu mudah untuk Fandi. Tidak akan ada rasa sakit yang seperti Ratih rasakan dulu, kalau langsung di penjara. Dia akan mengatur semuanya sesuai dengan rencananya.
Namun, ketika Ratih membuka pintu kamarnya. Dua orang laki-laki itu malah sudah berbaring dengan dengkuran halus di atas tempat tidurnya.
Ratih melihat Rafa memeluk lengan Ben. Seolah tidak mau membiarkan pria itu pergi. Ratih pikir, biarkan saja mereka tidur bersama. Ratih kembali menutup pintu dan tidur di kamar tamu.
**
Sementara itu, keributan tengah terjadi di paviliun. Fandi masih berusaha membujuk Sarah yang sudah sangat emosional karena pengkhianatan Fandi dan tamparan yang keras dari Fandi di rumah sakit tadi.
Bahkan sebuah buket dan perhiasan pun tak mampu membuat Sarah menatap Fandi. Dia masih sangat marah.
"Sarah, aku minta maaf. Aku akui aku salah, tapi wanita itu yang terus merayuku. Dia sekertaris yang direkomendasikan pengacara Markus, aku tidak bisa menolaknya!" kata Fandi beralasan.
Sungguh, itu hanya sebuah alasan. Sekertaris itu bahkan tidak kenal pengacara Markus sebelum masuk ke perusahaan. Dia baru mengenal pengacara Markus setelah dia bekerja di perusahaan itu.
Tapi, yang namanya seorang pengkhianat ingin mendapatkan kembali kepercayaan Sarah. Maka Fandi akan mudah mengatur semuanya, mengatakan semuanya. Tidak mungkin juga Sarah akan ke perusahaan dan mengkonfirmasi sendiri siapa wanita itu.
"Sarah, jangan marah lagi. Kita sudah sepakat dengan rencana itu kan? aku akui aku sempat salah. Mau bagaimana lagi? kita jarang sekali bertemu. Dan Ratih sama sekali tidak mau disentuh, aku ini pria normal. Aku juga butuh pelampiasan!"
"Itu sama saja kamu tidak setia mas!" pekik Sarah marah.
"Aku cuma setia sama kamu, aku sudah mengaku salah. Aku janji tidak akan aku ulangi. Maafkan aku Sarah, bagaimanapun kita tidak bisa bertengkar seperti ini. Kita punya rencana yang sangat besar. Nanti kalau kita sudah bersama dengan Rafa, aku janji akan memperlakukan kamu dengan lebih baik lagi...!"
"Kalau begitu bawa Rafa padaku. Aku akan maafkan kamu kalau kamu bisa bawa Rafa padaku sekali saja. Aku mau memeluknya, mas!" kata Sarah.
Dia menjadikan hal itu untuk syarat memaafkan Fandi. Karena dia memang sudah tidak bisa bersabar lagi. Fandi seperti tidak serius ingin mempertemukan Sarah dengan Rafa. Setiap kali, selalu saja ada alasannya. Kalau di gertak seperti ini, tidak mungkin kan kalau Fandi tidak berusaha lebih baik supaya Rafa bisa dia ajak bertemu dengan Sarah.
Fandi diam, dia mencoba berpikir. Sebenarnya selama ini Fandi juga sudah berusaha membawa Rafa pada Sarah. Namun ada saja yang dilakukan oleh Ratih. Hingga Sarah hanya bisa sekedar melihat Rafa saja dari jauh. Tanpa bisa menyentuhnya sama sekali.
"Kalau tidak bisa, aku akan membongkar semuanya..."
"Heh, kenapa kamu seperti ini? nanti yang rugi juga kamu sendiri. Kalau kita ketahuan, bukankah kita akan dilaporkan ke polisi?" tanya Fandi.
"Aku tidak perduli, toh selama ini aku juga tidak bisa memeluk Rafa, kan?" tanya Sarah dengan suara meninggi.
Fandi bisa melihat kalau saat ini Sarah masih sangat emosi. Maka Fandi pun berusaha menenangkannya.
"Oke, oke! aku akan berusaha! kamu tenang dulu. Tenang dulu ya!"
"Dan kalau sampai wanita itu hamil, aku akan beritahu Ratih, kalau pria malam itu juga bukan kamu, mas!" gertak Sarah lagi sambil meninggalkan tempat itu dengan wajah yang terlihat masih marah.
Fandi mengepalkan tangannya dan meninjukan tangannya itu ke udara. Dia sungguh merasa begitu kesal. Bisa-bisanya dia di gertak begitu oleh Sarah. Tapi, mau bagaimana lagi, dia memang harus mendengarkan Sarah. Karena rahasianya, di simpan oleh Sarah dan bibi Erma.
Sarah sudah kembali ke kamarnya. Dimana bibi Erma sudah menunggunya, dengan semangkuk bubur hangat di atas meja.
"Sarah..."
Wajah Sarah kembali terlihat pucat. Dia benar-benar menggunakan seluruh tenaganya untuk marah pada Fandi.
"Makan dulu, setelah itu minum obat ya! jangan pikirkan Fandi lagi, dia pasti akan menurutimu. Dia juga akan berpikir berkali-kali kalua mau macam-macam lagi. Kita sudah menggertaknya kan?"
Sarah mendekati ibunya dan merangkul lengan ibunya itu. Sarah menyandarkan kepalanya di bahu ibunya.
"Aku minta pada mas Fandi untuk membawa Rafa padaku, Bu!"
"Iya begitu juga tidak masalah. Nanti ibu akan bantu dia. Sekarang makan dulu!"
Bibi Erma segera menyuapi anaknya. Dia sangat menyayangi Sarah. Dia hanya punya satu anak. Dia hanya ingin anaknya itu bahagia.
Bibi Erma merasa apa yang dia lakukan itu sama sekali tidak salah. Dia hanya ingin anaknya bahagia. Hanya itu, dia akan lakukan apapun untuk anaknya. Dia sama sekali tidak merasa ada yang salah dengan hal itu. Sungguh pemikiran seseorang yang begitu egois. Tapi memang ada hal seperti itu.
**
Malam semakin larut, Ben terbangun dan melihat Rafa yang tidur di sampingnya. Senyum pria itu mengembang. Ben menatap wajah kecil seperti malaikat itu.
Dia tidak menyentuhnya, karena tidak ingin membangunkan Rafa.
'Anakku!' batinnya.
Tapi beberapa detik kemudian, dia menyadari kalau ada yang kurang di ruangan itu. Matanya berkeliling, melihat seluruh isi kamar.
Dan dia tidak menemukan keberadaan Ratih.
Perlahan, sangat pelan sekali. Ben turun dari tempat tidur Ratih itu. Dia berjalan ke arah kamar mandi, tapi tak menemukan Ratih juga disana.
Ben terdiam. Apa yang dia pikirkan? tidak mungkin Ratih akan tidur satu kamar dengannya kan?
Ben keluar dari dalam kamar, seharusnya dia yang tidur di kamar tamu. Ben mengetuk pintu kamar tamu yang ada di sebelah kamar Ratih. Tapi begitu dia memegang gagang pintu. Pintunya terbuka.
Ben membuka pintu itu, dan melihat Ratih tidur di sana. Wajah yang tenang, dan selimut yang sedikit berantakan.
"Ratih..."
Tangan Ben perlahan menyentuh pipi Ratih. Dan hal itu membuat Ratih, menggeliat perlahan.
"Rafa, anak kita Ratih! Rafa adalah anakku! maafkan aku, seharusnya aku jujur padamu sejak lama, pria malam itu. Adalah aku! Maafkan aku Ratih!"
Mata Ben berkaca-kaca. Sebenarnya sudah lama sekali Ben ingin mengakui hal ini pada Ratih. Tapi dia tidak berani. Dia terlalu takut mengganggu kebahagiaan Ratih dan Fandi. Setelah dia tahu, Fandi sangat jahat. Ben sungguh merasa bersalah.
"Maafkan aku..."
***
Bersambung...
Rafa anak Ratih bukan anakmu 🤭
Khawatir jika kelamaan di rumah itu, keburu bau bangkai..
Dan Fandi pun sudah di cerai..
Kini kehidupan mereka sudah tercerai berai..
Kira² apa selanjutnya yg terjadi..?
Yuk ahh.. Bab berikutnya kita baca lagi.. 🏃♀️🏃♀️😁
Ternyata Ratih sudah mengetahui semuanya..
Dan apa yang terjadi..? Terkejut dong pastinya.. 🤭
Apa lagi Bi Erma, sudah tak mampu lagi berkata untuk menolak fakta..
Karena Ratih punya CCTV yg tersembunyi, dan tak di ketahui oleh mereka bertiga..
Lalu, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya..?
Yuk.. Mari kita baca bab selanjutnya.. 🏃♀️🏃♀️🏃♀️
Harta melimpah..
Ternyata hasil korupsi..
Kasih nafkah anak istri pake uang haram, parah dahh.. 🤦🏻♀️
Kau kira kebusukan bisa kau tutupi selamanya..?
Kau kira kebenaran tak akan menemukan jalannya..?
Mungkin saja kau terbebas saat ini, tapi lihat saja nanti, tunggu saja waktu nya tiba..
Kau akan berada di tempat mu yg seharusnya, yaitu penjara.. 😏