Di sebuah dunia yang damai, tempat berbagai ras hidup berdampingan, seorang gadis ras campuran menjalani kehidupan normalnya yang tampak biasa.
Namun, perlahan sesuatu yang terasa asing menghampiri. Mimpi yang terasa nyata.
Aroma kematian yang menyusup. Dan sesuatu yang mengincarnya dari balik kegelapan.
Rahasia masa lalu, makhluk terkutuk, dan gerbang yang seharusnya tetap tertutup perlahan bergerak menuju satu titik temu.
Tak semua yang melindungi berniat baik. Tak semua mimpi ingin dilupakan.
Ketika kebenaran akhirnya menuntut harga, hanya satu pertanyaan yang tersisa:
apa sebenarnya yang ada dibalik dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amateurss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Grand Cadenza
Lampu lentera meredup perlahan, menyisakan keremangan pilu di atas panggung. Dua sosok berdiri berhadapan dalam sorot cahaya yang kian menipis.
Seorang perempuan anggun dengan rambut hitam tergerai dan gaun putih mulus tampak menunduk. Bahunya bergetar, namun suaranya terdengar tegas saat memecah keheningan. "Jikalau memang dirimu harus pergi... maka biarlah aku mengingatmu sebagai keajaiban, bukan penyesalan."
Laki-laki di hadapannya, sosok tampan dalam balutan tuxedo hitam, hanya tersenyum samar. Matanya menyiratkan kepedihan yang dalam. "Maka tolong simpanlah keajaiban itu di hatimu. Akan kujaga duniamu dari tempat yang jauh. Selama kau mengingatku, disanalah diriku berada."
Jari-jemari mereka saling menggenggam erat untuk terakhir kalinya, sebelum perlahan terlepas. Sang laki-laki berbalik, melangkah perlahan menuju balik tirai putih hingga siluetnya menghilang ditelan kegelapan. Sang perempuan tetap mematung, berdiri sendirian menatap ruang kosong yang semakin kelam. Ia kemudian jatuh berlutut, menundukkan kepala dalam isak duka yang yang menyayat.
Lampu padam sepenuhnya. Sunyi.
Sesaat kemudian, tirai beludru jatuh perlahan. Keheningan itu pecah seketika oleh gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai meriah dari para hadirin. Lampu panggung kembali benderang, menampilkan belasan anggota teater dengan beragam kostum warna-warni yang berbaris rapi di atas panggung.
"Maka, berakhir sudah pertunjukan kita di Grand Cadenza malam ini," ujar seorang pria paruh baya berambut perak mulai memutih. Ia mengenakan setelan coklat tua lengkap dengan topi bundar koboi. Sambil membungkuk hormat ke arah penonton, ia melanjutkan, "Kami selaku pengelola mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Apabila ada hal yang kurang berkenan, silakan hubungi bagian penerima saran kami. Selamat malam, dan sampai bertemu hari esok."
Tepuk tangan kembali membara untuk terakhir kalinya sebelum lampu panggung meredup. Satu per satu, para hadirin mulai bangkit dan meninggalkan gedung teater, membawa pulang sisa-sisa emosi dari pertunjukan barusan.
"Terima kasih atas kunjungannya... Silakan datang kembali besok, ya," ujar Kenny sembari berdiri tegak di dekat pintu keluar, mengenakan kemeja putih dan celana hitam, sembari mengangguk sopan kepada setiap penonton yang lewat.
Sepasang Goblin mendekatinya dengan langkah gontai. Wajah mereka yang hijau tampak berkerut, mata mereka sembab karena tangis yang belum sepenuhnya reda.
"Astaga... pertunjukan yang luar biasa. Kami benar-benar tidak bisa menahan tangis," ujar si Goblin wanita dengan suara sengau karena terisak. "Namun... kalau boleh memberi saran, bagaimana jika kalian juga menjual cendera mata? Itu akan sangat bagus sebagai kenang-kenangan..." lanjutnya sembari sesenggukan.
Remaja pirang itu, Kenny, tersenyum tulus dan mengangguk. "Terima kasih atas saran dan pujiannya, Nyonya. Akan segera kusampaikan kepada ketua pengelola nanti."
"Sama-sama..." jawab sepasang Goblin itu pendek, kemudian mereka mendekati sebuah meja dengan tiga wadah kayu didekat pintu keluar, mengambil dua batu dari wadah kayu putih dan memindahkannya ke wadah kayu hijau, kemudian melangkah pergi sambil masih terisak.
Kenny terus memandangi punggung mereka hingga keduanya hilang di kejauhan. Tak lama kemudian, Kenny melangkah masuk. Gedung teater yang tadinya riuh itu berubah sunyi, digantikan oleh suara gesekan sapu di lantai dan derak properti yang sedang dibereskan oleh puluhan kru teater.
Kenny melayangkan pandangannya ke sudut teater, tempat para sepupunya sedang melepas lelah sembari meminum teh setelah penampilan yang emosional tadi. Ia mengacungkan jempol dengan senyum lebar.
"Mantap, Guys! Terutama Albert dan Rosie. Kalian dapat banyak sekali pujian positif dari penonton tadi," puji Kenny.
Albert, sang aktor yang mengenakan tuxedo, membalas dengan anggukan mantap. "Terima kasih, Ken! Hahaha!"
"Jelas dong. Latihan keras kita setiap hari tidak mungkin sia-sia," timpal Rosie, si pemeran wanita bergaun putih, yang kemudian disambut tawa renyah dari anggota keluarga yang lain.
Kenny ikut tertawa kecil merasakan kehangatan itu. "Oke, oke... lanjutkan istirahat kalian. Ngomong-ngomong, Ketua di mana?" tanya Kenny kemudian.
"Di ruangannya, baru saja masuk semenit yang lalu," jawab Rosie sambil mengelap sisa riasannya. "Kenapa, Ken?"
"Ada yang memberi saran tadi, aku harus bicara sebentar dengannya. Sampai nanti, ya!" ujar Kenny sembari berlalu.
Tak lama kemudian, Kenny sampai di depan sebuah pintu kayu cokelat dengan bingkai cat merah. Begitu masuk, ia disambut oleh aroma tembakau dan berbagai barang unik yang memenuhi ruangan, membuat ruangan ini lebih mirip museum dari pada kantor. Di balik meja besar, pria berambut perak yang tadi menutup pertunjukan tengah duduk bersantai di kursinya, menghisap pipa tembakau dengan topi koboi cokelat yang ia letakkan diatas meja.
"Ada apa, Ken?" tanya pria itu tanpa melepaskan pipa tembakaunya.
Kenny melangkah mendekat, lalu mengambil tempat duduk di kursi kayu tepat di hadapan pria itu. "Ada saran menarik dari penonton tadi, Ayah," ujar Kenny membuka pembicaraan.
Mendengar kata 'saran', pria berambut perak itu tampak tertarik. Ia menegakkan posisi duduknya dan menaruh pipanya di asbak batu. "Saran? Katakan."
"Iya... pertunjukan malam ini benar-benar luar biasa. Hasil polling kepuasan yang kuletakkan di dekat pintu keluar tadi menyentuh angka hampir seratus persen!" lapor Kenny dengan senyum lebar penuh semangat. "Lalu, ada sepasang penonton yang menyarankan soal penjualan merchandise. Menurutku, itu ide yang sangat bagus untuk dipertimbangkan ke depannya."
"Syukurlah, Nak... aku senang mendengarnya," ujar pria itu sembari tersenyum puas, guratan lelah di wajahnya memudar. "Soal merchandise, ya? Sebenarnya ide itu sudah sempat melintas di kepalaku sejak lama, tapi aku belum punya waktu untuk mewujudkannya. Baiklah, nanti akan kubicarakan lebih lanjut dengan paman-pamanmu, lalu, ada lagi?."
"Tidak, hanya itu, Yah. Dan juga... dalam sebulan ke depan, mungkin aku akan selalu pulang lebih malam," Kenny merapikan posisi duduknya, suaranya terdengar santai. "Luce memintaku untuk mengajarinya teknik summon dasar. Tapi tenang saja, aku jamin ini tidak akan mengganggu jam kerjaku di teater."
Pria berambut perak itu mengangkat alisnya, tampak sedikit terkejut. "Oh? Sungguh? Wah, tumben sekali dia memintamu hal seperti ini. Karena ujian kelulusan sudah dekat, ya?" ujarnya sembari terkekeh pelan, teringat pada sosok Luce yang biasanya lebih suka bermain-main meracik sesuatu.
"Iya, begitulah..." Kenny menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi yang empuk, matanya menatap langit-langit ruangan sejenak. "Ngomong-ngomong, Yah... boleh aku tanya sesuatu?"
"Tanya apa, Nak?"
"Kenapa Ayah menyekolahkanku di akademi?" Kenny menghela napas panjang, mencoba merangkai kata-kata yang selama ini, entah mengapa, baru terpikirkan. "Sejujurnya, aku hanya mengikuti arahan Ayah saja selama ini. Namun, aku sendiri belum paham apa tujuannya. Maksudku... bukannya sudah jelas? Bahkan dari seluruh anggota keluarga besar teater Grand Cadenza, hanya aku seorang yang bersekolah di sana."
Pria berambut perak itu tertawa hingga bahunya terguncang pelan. "Jujur saja ya, Ken... sebenarnya tidak ada alasannya." ia menghisap tembakaunya, kemudian mengeluarkan asapnya perlahan, "Ayah juga cuma iseng." Ujarnya sambil tersenyum ringan.
Kenny seketika membeku. Hanya mampu melongo.