Lima tahun Hana Ayunindya mengabdi sebagai istri sempurna bagi Arlan Mahendra. Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk mengisi rahim yang masih sunyi. Di bawah tekanan keluarga dan ego yang terluka, Arlan menjatuhkan vonis paling kejam. Ia akan menikah lagi.
Maura hadir bukan hanya untuk memberikan keturunan yang didambakan Arlan, tapi juga untuk perlahan menggeser posisi Hana di rumah yang ia bangun dengan air mata. Hana mencoba ikhlas, mencoba menelan pahitnya dipoligami, hingga ia menyadari bahwa keikhlasan tanpa batas hanya akan membuatnya hancur tak bersisa.
Di tengah puing-puing hatinya, Hana memutuskan untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Saat itulah, Adrian Gavriel hadir dan menunjukkan bahwa Hana layak dicintai tanpa syarat.
Ketika Hana mulai berpaling, mampukah Arlan merelakannya? Ataukah penyesalan datang saat pintu hati Hana sudah tertutup rapat?
Kita simak kisah selanjutnya yuk di Karya => Bukan Istri Cadangan.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Ruang rapat utama Gavriel Corp tampak begitu tegang, namun bukan karena materi presentasi yang sedang dibahas. Ketegangan itu bersumber dari dua sosok yang duduk di ujung meja panjang bermaterial kaca hitam tersebut.
Hana, dengan sisa-sisa kegelisahan yang masih menggelayuti benaknya, berdiri di depan layar besar. Tangannya yang memegang laser pointer sedikit gemetar, namun ia berusaha sekuat tenaga menjaga suaranya agar tetap stabil.
Di kursi kebesarannya, Adrian duduk dengan posisi tegak. Matanya tidak pernah sedetik pun bergeser dari wajah Hana.
Pandangan itu tidak lagi dingin seperti biasanya, melainkan tajam, intens, dan sarat akan emosi yang baru saja meledak di koridor tadi.
Adrian seolah sedang menelanjangi setiap ekspresi Hana, mencari sisa-sisa keberadaan Arlan di sana untuk kemudian ia hapus dengan otoritasnya.
"Dan... untuk proyeksi kuartal ketiga," Hana memulai, suaranya sedikit serak. Ia berdehem kecil, mencoba mengusir bayangan ciuman paksa Adrian yang masih terasa panas di bibirnya. "Kita akan fokus pada ekspansi vendor di area satelit..."
Hana merasakan tatapan Adrian membakar kulit wajahnya. Ia menjadi grogi. Saat harus menjelaskan grafik pertumbuhan, lidahnya tiba-tiba kelu. Ia sempat terbata-bata saat menyampaikan poin-poin krusial di materi terakhirnya.
"Maksud saya... m-mitigasi risiko akan... akan ditangani oleh tim legal," lanjut Hana dengan napas yang sedikit memburu.
Ia melirik Adrian sekilas, dan pria itu hanya mengangkat satu alisnya, memberikan tekanan psikologis yang membuat jantung Hana berdegup dua kali lebih cepat.
Beruntung, para jajaran direksi lainnya terlalu fokus pada angka-angka di layar sehingga tidak menyadari kegugupan sang manajer proyek. Bagi mereka, Hana tetaplah sosok yang perfeksionis.
Namun bagi Adrian, setiap kegagapan Hana adalah melodi cemburu yang memuaskan sekaligus menyakitkan.
"Rapat selesai," suara Adrian menginterupsi tepat setelah Hana menutup presentasinya. "Hana, tetap di sini. Ada detail yang perlu kita bicarakan berdua."
Hana terpaku. Ia melihat para petinggi perusahaan keluar satu per satu. Keheningan mulai merayap masuk ke dalam ruangan luas itu. Begitu pintu tertutup rapat, Adrian berdiri dan melangkah perlahan menuju Hana.
"Kau sedikit grogi, Hana," ucap Adrian dengan nada rendah yang berwibawa.
"Kau menatapku seolah ingin memakanku, Adrian. Bagaimana aku tidak grogi?" balas Hana sambil membereskan laptopnya dengan gerakan cepat. Ia tidak ingin terjebak lagi dalam konfrontasi fisik.
"Aku hanya memastikan bahwa kau masih ada di sini. Bahwa pikiranmu tidak melayang pada pria yang memberimu tanda di leher itu," Adrian berhenti tepat di depan Hana. Tangannya terangkat, hampir menyentuh pipi Hana, namun Hana menghindar.
"Aku harus pulang. Aku punya janji," ucap Hana dingin.
"Makan malam dengan Arlan?" Adrian tertawa sinis. "Kau benar-benar ingin bermain api dengan mengizinkannya masuk kembali ke hidupmu, Hana. Ingat pesanku, dia tidak mencintaimu. Dia hanya mencintai hak miliknya."
Hana tidak menjawab. Ia segera keluar dari ruangan itu dengan langkah seribu, meninggalkan Adrian yang menatap punggungnya dengan kepalan tangan yang semakin mengeras.
Malam harinya, apartemen Hana dipenuhi aroma tumis ayam jahe dan sup jamur. Hana bergerak lincah di dapur, mencoba menyibukkan diri agar tidak terus-menerus memikirkan kejadian di kantor tadi.
Sore tadi, Arlan menghubunginya dengan suara yang sangat manis, menyatakan keinginannya untuk makan malam bersama.
Hana tahu, Arlan sedang mencoba mengamankan posisinya setelah percintaan pagi tadi. Bagi Arlan, seks adalah alat negosiasi terbaik. Namun bagi Hana, itu adalah pengingat betapa rendahnya harga dirinya jika terus terbuai.
***Klik*** ...
Suara pintu terbuka. Arlan masuk tanpa mengetuk, ia merasa sudah mendapatkan kembali hak akses penuh atas apartemen itu.
Tanpa suara, Arlan berjalan menuju dapur. Begitu melihat punggung Hana, gairah yang ia bawa dari kantor meledak kembali.
Arlan langsung memeluk Hana dari belakang. Tangannya melingkar posesif di pinggang Hana, sementara wajahnya dibenamkan di ceruk leher istrinya.
"Wangi sekali istriku..." gumam Arlan parau. Ia tidak tahan untuk tidak mencium tengkuk leher Hana, tepat di atas bekas kemerahan yang ia tinggalkan pagi tadi.
Hana tersentak. Gerakan tangannya yang sedang mengaduk sup terhenti seketika. Rasa dingin menjalar ke punggungnya.
Jika pagi tadi ia sempat terbawa arus, malam ini hatinya terasa sekeras batu. Bayangan Adrian yang cemburu dan peringatannya tentang Arlan tiba-tiba terngiang jelas.
"Mas, lepaskan dulu. Aku sedang memegang panci panas," ucap Hana dengan nada datar.
Arlan tidak peduli. Ia justru mempererat pelukannya, menciumi bahu Hana dengan rakus. "Biarkan saja. Aku lebih lapar padamu daripada pada masakan ini, Han."
Tak ingin lagi terjebak dalam pusaran nafsu Arlan yang manipulatif, Hana melakukan gerakan mendadak.
Ia berbalik dengan cepat, menggunakan sendok sayur sebagai pembatas di antara mereka. Ia menatap Arlan dengan tatapan jernih, tanpa binar gairah sedikit pun.
"Masakan sudah matang. Duduklah," ucap Hana tegas.
Ia meletakkan mangkuk sup di atas meja makan dengan bunyi denting yang cukup keras, menolak kontak fisik Arlan secara halus namun nyata.
Arlan terpaku. Senyum di wajahnya memudar, digantikan oleh kerutan di dahi. Ia merasa ada yang berubah. Pagi tadi Hana begitu pasrah, begitu hangat di pelukannya. Kenapa sekarang wanita ini kembali menjadi kutub utara yang membeku?
"Kenapa kau berubah dingin, Han?" tanya Arlan sambil duduk di kursi makan dengan wajah kesal. "Pagi tadi kita begitu luar biasa. Aku bahkan membatalkan rapat miliaran rupiah hanya untuk membayangkan momen ini."
Hana duduk di hadapan Arlan, mulai menyendokkan nasi ke piring suaminya tanpa ekspresi. "Pagi tetaplah pagi, Mas. Dan sekarang adalah malam. Aku sedang lelah."
"Lelah karena apa? Karena bekerja di tempat pria itu?" Arlan melempar serbetnya ke meja. "Aku perhatikan sejak kau bekerja di Gavriel Corp, kau jadi sulit dikendalikan. Apa yang Adrian katakan padamu? Apa dia mencoba mencuci otakmu agar membenciku?"
Hana berhenti menyendok sup. Ia menatap Arlan dengan senyum sinis yang menyayat. "Bukan Adrian yang mencuci otakku, Mas. Tapi kelakuanmu sendiri. Kau ingin makan malam, kan? Makanlah. Jangan bahas hal lain yang hanya akan merusak selera makanmu."
Arlan mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia merasa otoritasnya sedang ditantang. Keheningan yang janggal menyelimuti meja makan itu.
Hanya suara denting sendok yang beradu dengan piring. Arlan menatap Hana yang makan dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Besok kau harus berhenti dari kantor itu," perintah Arlan tiba-tiba.
Hana mendongak. "Apa?"
"Kau dengar aku. Aku tidak suka kau berada di dekat Adrian. Besok, kembalilah ke Mahendra Group, atau diam saja di rumah mengurus persiapan bayi Maura. Aku akan memberimu uang lebih banyak dari yang Adrian berikan."
Tawa kecil lolos dari bibir Hana. Sebuah tawa yang penuh penghinaan. "Kau ingin aku berhenti bekerja hanya untuk menjadi pengasuh anak dari wanita yang kau jadikan selingkuhan? Mas, kau benar-benar sudah gila."
"Jaga bicaramu, Hana! Aku suamimu!" Arlan menggebrak meja hingga air di dalam gelas tumpah.
"Suami yang menghancurkan hatiku selama lima tahun? Suami yang baru ingat punya istri setelah istrinya sukses di tempat lain?" Hana berdiri, matanya berkilat penuh amarah. "Makan malam ini selesai. Silakan pergi, Mas. Aku butuh istirahat."
Arlan berdiri dengan napas memburu. Ia mendekati Hana, mencengkeram bahunya dengan keras.
"Kau pikir kau bisa mengusirku setelah apa yang kita lakukan pagi tadi? Kau milikku, Hana! Sampai kapan pun!"
Hana menatap Arlan tepat di matanya, tanpa rasa takut sedikit pun.
"Tubuhku mungkin bisa kau ambil secara paksa, Mas. Tapi jiwaku? Jiwaku sudah lama mati di tanganmu. Dan sekarang, jiwa itu sedang dihidupkan kembali oleh orang lain yang lebih menghargaiku daripada kau."
Mendengar kata orang lain, Arlan merasa harga dirinya diinjak-injak. Ia tahu Hana merujuk pada Adrian. Tanpa kata, Arlan menyambar kunci mobilnya dan keluar dari apartemen dengan membanting pintu sekeras mungkin.
Hana jatuh terduduk di kursi makan. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah. Ia merasa lelah dengan sandiwara ini. Di satu sisi ada Arlan yang obsesif, di sisi lain ada Adrian yang posesif.
Hana tidak menyadari bahwa di luar apartemen, sebuah mobil hitam terparkir di kegelapan. Di dalamnya, Adrian menyaksikan Arlan keluar dengan wajah merah padam. Adrian tersenyum tipis.
"Satu langkah lagi, Arlan," bisik Adrian pada kegelapan malam. "Dan kau akan kehilangan segalanya."
Sementara itu, di rumah utama Mahendra, Maura sedang menunggu Arlan dengan kegelisahan yang luar biasa. Ia merasa posisi Hana semakin menguat.
Ia harus melakukan sesuatu yang drastis agar Arlan tidak pernah kembali lagi ke apartemen itu. Sebuah rencana licik mulai tersusun di kepala Maura, melibatkan rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat tentang kandungannya.
...----------------...
**Next Episode** ....