NovelToon NovelToon
Noda Kopi Di Jaket Abu-abu

Noda Kopi Di Jaket Abu-abu

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Romansa
Popularitas:872
Nilai: 5
Nama Author: BOCCI

Selena Victoria, siswi SMA 16 tahun yang egois dan kadang menjengkelkan, tapi memiliki hati yang lembut. Hidupnya berubah drastis setelah insiden kopi tumpah ke jaket cowok paling ditakuti di sekolah. Dengan bantuan bestie-nya Rora, juara olimpiade sains dan matematika yang nyentrik, Selena harus menghadapi konsekuensi aksinya dan belajar tentang empati. 😐

baca yuk Novel aku "Noda Kopi di Jaket Abu"!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BOCCI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3 hari menuju bencana atau cinta?

Pengumuman di aula tadi benar-benar mengubah atmosfer sekolah. Selena yang biasanya cuma dianggap "babu lucu" milik Thunder, sekarang mendadak jadi pusat perhatian karena berada di antara dua predator paling berbahaya di sekolah dalam satu kelompok Camp.

Tapi Selena tetaplah Selena. Di otaknya, masalah keselamatan itu urusan nomor dua. Urusan nomor satu adalah: Persiapan Logistik.

"Tiga hari lagi, Sel! Tiga hari!" seru Rora sambil menggebrak meja kantin. "Lo sadar nggak sih, lo bakal tidur di hutan, satu area sama Zeus dan Lucas? Itu bukan Camp Sekolah namanya, itu acara survival nyawa!"

Selena sedang asyik mencoret-coret buku catatannya. "Tenang, Ror. Gue udah bagi jadwal. Hari pertama gue minta Zeus yang cari kayu bakar, hari kedua Lucas yang jaga tenda, hari ketiga Leon yang masak. Gue? Gue bagian pengawasan mutu alias tidur."

"Lo bener-bener nggak ada takutnya ya!" Rora menggeleng-gelengkan kepala.

Misi Belanja "Ibu Dirut"

Pulang sekolah, Selena tidak langsung pulang. Dia mengajak Rora (yang masih punya sisa uang dari Bibi Lastri) untuk mampir ke toko outdoor dan supermarket.

"Kita butuh senter yang bisa bikin buta mata ular, Ror," ucap Selena serius sambil memilih senter besar.

"Ular beneran apa 'Ular' yang ketuanya Lucas?" tanya Rora sangsi.

"Dua-duanya!" Selena kemudian memasukkan lima bungkus besar marshmallow, sepuluh cup ramen, dan—tentu saja—persediaan cokelat yang melimpah ke keranjang. "Ini buat nyogok mereka kalau mereka mulai berantem. Cowok sangar kalau dikasih cokelat biasanya jadi jinak."

Saat lagi asyik memilih sosis, sebuah tangan besar mengambil bungkus sosis yang dipegang Selena.

"Ambil yang merek ini. Dagingnya lebih banyak, buat tenaga di hutan," ucap suara berat itu.

Selena menoleh. Zeus. Cowok itu berdiri di sana dengan kaos hitam polos, tanpa jaket Thunder-nya, tapi auranya tetap saja bikin orang-orang di lorong supermarket minggir.

"Loh, Bos PLN? Ngapain di sini? Mau beli kabel?" goda Selena.

Zeus tidak menjawab. Dia malah mengambil keranjang belanjaan Selena yang sudah penuh dan membawakannya. "Gue liat daftar belanjaan lo. Kebanyakan micin. Di hutan nanti lo butuh protein, bukan cuma ramen."

"Dih, perhatian banget. Takut gue pingsan ya?"

Zeus berhenti melangkah, menatap Selena dalam. "Gue cuma nggak mau repot gendong lo di atas gunung nanti karena lo kurang gizi. Tiga hari lagi itu bakal berat, Sel. Red Snake bukan cuma ancaman omong kosong."

Saat mereka menuju kasir, Selena merasakan ponselnya bergetar. Sebuah DM masuk dari akun tanpa foto profil.

RedSnake_01: "Siapkan fisikmu, Kecil. Hutan itu gelap, dan Zeus nggak bisa liat di setiap sudut pohon. Sampai ketemu 3 hari lagi."

Selena terdiam sebentar, tapi kemudian dia membalasnya dengan santai:

Selena_BarBar: "Oke! Jangan lupa bawa lotion anti nyamuk ya, Lucas. Sayang kan kalau muka ganteng lo bentol-bentol!"

Zeus yang melihat Selena senyum-senyum sendiri ke HP langsung merampas ponsel itu. Begitu membaca pesannya, rahang Zeus mengeras. Dia menatap Selena dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Mulai sekarang, lo nggak boleh bales pesan apa pun dari dia," perintah Zeus tegas.

"Kenapa? Cemburu ya?" pancing Selena sambil nyengir.

Zeus tidak menjawab, dia malah menarik tangan Selena menuju kasir dan membayar semua belanjaan itu dengan kartu kreditnya. "Anggap aja ini investasi supaya 'Dirut' gue nggak hilang diculik ular."

Rora yang tadinya sibuk memilih rasa keripik kentang langsung meledak tawanya sampai jongkok di lantai supermarket. Suara tawanya yang melengking menarik perhatian ibu-ibu yang lagi pilih sayur.

"Hahahaha! Aduh... perut gue!" Rora memegangi perutnya sambil menunjuk-nunjuk Selena dan Zeus bergantian. "Investasi buat Dirut? Gila, Zeus! Lo beneran sudah kena brainwash sama Selena ya? Ketua geng motor paling sangar se-provinsi sekarang jadi asisten pribadi Ibu Direktur Utama PLN!"

Selena yang mukanya sudah merah padam (antara malu dan mau ketawa juga) langsung menyikut lengan Rora. "Rora! Diem nggak! Malu tau dilihatin orang!"

"Habisnya lucu, Sel!" Rora berdiri sambil mengusap air mata sisa ketawa. "Bayangin aja nanti di hutan, Zeus yang biasanya instruksiin strategi perang, malah laporan: 'Lapor Ibu Dirut, sosis sudah dibakar sesuai standar operasional prosedur'. Hahahaha!"

Zeus hanya menatap Rora dengan tatapan datar yang sangat dingin, tapi anehnya dia tidak marah. Dia malah tetap menggenggam keranjang belanjaan Selena dengan santai.

"Puas ketawanya?" tanya Zeus pendek.

Rora langsung bungkam, pura-pura sibuk ngecek tanggal kedaluwarsa kerupuk. "Eh, iya, ampun Bos... eh, Mas Asisten Dirut."

Pas sampai di depan kasir, Selena baru mau mengeluarkan dompet dari tas kecilnya (uang hasil pemberian Bibi Lastri kemarin), tapi tangan Zeus sudah lebih dulu menepisnya. Dia dengan santai menyodorkan kartu kredit berwarna hitam mengkilap ke mbak-mbak kasir.

"Loh, Zeus! Ini kan belanjaan gue sama Rora, kok lo yang bayar?" protes Selena.

"Gue nggak mau denger alasan lo kelaparan di sana nanti gara-gara uangnya lo pake buat beli barang nggak penting," ucap Zeus tanpa menoleh. "Dan buat lo," Zeus melirik Rora, "jagain dia selama tiga hari ini sebelum kita berangkat. Jangan biarkan dia ketemu siapa-siapa di luar rumah."

Rora langsung hormat grak. "Siap, Bos! Selena bakal gue karungin di kamar biar nggak terbang kemana-mana!"

Selena cuma bisa menghela napas pasrah sambil melihat total belanjaan yang tidak murah itu dibayar lunas oleh Zeus. Ada rasa hangat sedikit di hatinya, tapi gengsi tetap nomor satu.

"Makasih ya, Bos PLN. Nanti tagihannya saya ganti pake voucher token listrik gratis!" celetuk Selena yang langsung bikin mbak-mbak kasirnya nahan tawa.

Setelah keluar dari supermarket, Zeus mengantar mereka sampai ke mobil Rora. Sebelum Selena masuk ke mobil, Zeus menahan pintu sebentar.

"Sel," panggilnya.

"Ya?"

"Di dalem kantong belanjaan itu, ada satu kotak kecil warna perak. Jangan dibuka sampai lo bener-bener butuh bantuan di hutan nanti," bisik Zeus serius.

Selena mengernyit. "Isinya apa? Bom?"

"Isinya keselamatan lo," jawab Zeus singkat sebelum dia naik ke motor gede hitamnya dan melesat pergi meninggalkan deru mesin yang gahar.

Rora langsung menyenggol bahu Selena. "Cieee... kotak keselamatan. Isinya cincin tunangan kali, Sel?"

"Cincin palu gada! Udah ayo balik, gue mau packing!"

Tiba di hari keberangkatan...

Hari pemberangkatan Camp akhirnya tiba. Lapangan sekolah sudah dipenuhi bus-bus besar dan ratusan murid yang menenteng tas gunung. Tapi, pusat perhatian pagi itu tentu saja jatuh pada Selena.

Kalau orang lain bawa carrier standar, Selena datang dengan perlengkapan yang bikin orang mikir dia mau pindahan rumah, bukan mau kemping.

"Sel, lo mau kemping apa mau buka cabang minimarket?!" seru Rora sambil melotot melihat tas Selena yang menggembung, ditambah dua tas jinjing dan satu termos besar. "Itu isinya apa aja? Kasur lipat juga lo bawa?"

"Persiapan itu kunci keselamatan, Ror!" balas Selena sambil berusaha menggendong tasnya yang lebih besar dari badannya sendiri. "Ada selimut bulu, stok mi instan sebulan, sampai alat catok rambut bertenaga baterai. Siapa tahu di hutan gue ketemu peri, kan harus tetep cantik!"

Di tengah keributan itu, Zeus lagi sibuk koordinasi sama anak-anak Thunder lainnya di dekat bus. Sementara itu, Leon—si cowok paling misterius dan irit bicara di geng—melihat Selena yang kesulitan mengatur barang bawaannya yang overload.

Leon berjalan mendekat dengan langkah pelan. Tanpa suara, dia langsung mengambil alih tas jinjing Selena yang paling berat.

"Eh? Leon?" Selena mendongak, sedikit kaget.

Leon tidak langsung menjawab. Dia mengecek tali tas gunung Selena yang ternyata longgar, lalu mengencangkannya dengan cekatan. "Tali tas lo salah. Bisa bikin punggung lo cidera kalau dibawa jalan jauh," ucap Leon datar, tapi tangannya sangat telaten.

Selena tertegun. Biasanya Leon cuma diam atau sibuk dengan laptopnya, tapi sekarang dia sangat perhatian. Selena pun memberikan senyumnya yang paling manis, senyum tulus yang jarang dia tunjukkan kecuali kalau lagi senang banget.

"Makasih ya, Leon. Ternyata lo selain pinter IT, pinter urusan tas juga. Untung ada lo, kalau nggak gue udah terjungkal ke belakang nih," ucap Selena sambil nyengir lebar.

Leon yang biasanya punya wajah sedingin tembok, tiba-tiba memalingkan wajah. Ada semburat tipis di telinganya. Dia hanya berdehem pelan.

"Jangan senyum terus. Fokus sama jalanan nanti," gumam Leon pelan, tapi dia tetap berdiri di samping Selena, menjaga gadis itu agar tidak tersenggol murid lain yang berlarian.

Tiba-tiba, aura dingin yang mencekam mendekat. Zeus berdiri di belakang mereka dengan tangan bersedekap. Matanya bergantian menatap Leon dan Selena yang sedang asyik "berduaan".

"Udah selesai sesi fotonya?" tanya Zeus dengan suara yang sangat berat.

Selena menoleh. "Eh, Bos PLN! Lihat nih, Leon baik banget bantuin gue benerin tas. Nggak kayak lo, cuma bisa ngeliatin doang."

Zeus tidak membalas ucapan Selena. Dia malah menatap Leon dengan tatapan tajam. "Yon, urus motor-motor di truk pengangkut. Biar ini gue yang pegang."

Leon mengangguk pelan, lalu memberikan tas jinjing Selena ke Zeus. Sebelum pergi, Leon sempat menepuk bahu Selena sekilas—sebuah gerakan yang sangat tidak biasa dilakukan Leon—yang bikin Zeus makin meradang.

"Ayo masuk bus," tarik Zeus pada lengan jaket Selena. "Dan berhenti senyum-senyum nggak jelas ke semua orang. Gigi lo kering nanti."

"Dih, sirik aja si Bos Kulkas!" seru Selena sambil mengikuti langkah lebar Zeus.

Di kejauhan, Rora yang melihat adegan itu cuma bisa geleng-geleng kepala. "Satu berangkat, dua cemburu. Camp ini bakal lebih panas dari api unggun!"

Bersambung...

1
aytysz
Semangat yaa kak-- kalau kakaknya ada waktu luang, boleh dong berkunjung ke profil ku -- di sana ada cerita sederhana yang mungkin kakaknya suka ♡
bochi to the light: thanks suportnya ya 😊 btw cerita kamu bagus banget loh
total 1 replies
bochi to the light
minta dukungan nya ya biar aku lebih banyak up nya😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!