NovelToon NovelToon
Mahar Penebus Dosa Ayah

Mahar Penebus Dosa Ayah

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Perjodohan / Nikahmuda / Balas Dendam
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."

Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.

Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.

Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.

Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.

Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Prasasti di Dinding Gudang

Bab 15: Prasasti di Dinding Gudang

Gudang alat itu dingin, bau oli dan karat memenuhi udara yang sesak. Di sana, Anindya tidak lagi menangis. Air matanya seolah telah habis terbakar bersama buku biru dan boneka kainnya sore tadi.

Yang tersisa hanyalah sepasang mata yang redup namun menyimpan bara yang tidak akan padam. Ia meringkuk di atas tumpukan karung goni yang gatal, namun rasa sakit di kulitnya tidak sebanding dengan luka di dalam dadanya.

Senter kecil pemberian Satria masih menyala, memberikan lingkaran cahaya pucat di atas lantai semen yang berdebu. Anindya menatap goresan angka yang ia buat dengan batu tajam di dinding.

Baginya, goresan itu bukan sekadar angka; itu adalah prasasti perlawanan. Itu adalah bukti bahwa Nyonya Lastri bisa merampas apa pun yang berwujud, tapi tidak bisa menjangkau apa yang tersimpan di dalam jiwanya.

"Ayah... Nin ingin pulang," bisiknya pelan, namun ia segera menggelengkan kepala. Tidak. Jika ia pulang sekarang, ia hanyalah seorang pecundang yang kembali dengan tangan hampa. Ia harus bertahan. Ia harus menjadi "sesuatu" agar suatu saat ia bisa menjemput ayahnya dengan kepala tegak.

Pintu gudang berderit pelan di tengah malam yang sunyi. Anindya waspada, ia segera mematikan senternya. Bayangan seseorang masuk, membawa hawa dingin dari luar.

"Ini aku," bisik Satria. Suaranya terdengar gemetar, seolah ia baru saja melakukan dosa besar.

Satria mendekat, ia membawa sebuah tas kecil yang ia sembunyikan di balik jaketnya. "Ibu sudah tidur. Aku mengambil ini dari gudang makanan." Satria mengeluarkan bungkusan roti sisa dan sebotol susu. "Makanlah. Kau belum makan sejak siang."

Anindya duduk perlahan, menatap Satria dengan tatapan yang membuat anak laki-laki itu merasa semakin kecil. "Kenapa Tuan Muda melakukan ini? Bukankah Nin ini pembawa sial bagi keluarga Tuan?"

Satria terdiam. Ia duduk di atas peti kayu di depan Anindya. "Aku tidak tahu. Aku hanya merasa... apa yang dilakukan Ibu itu salah. Buku tidak seharusnya dibakar. Dan kau... kau lebih pintar dariku. Rasanya tidak adil jika kau harus tidur di sini hanya karena kau lebih pintar."

Anindya menerima roti itu dan mulai makan dalam diam. Setiap kunyahannya terasa berat. Satria kemudian mengeluarkan sesuatu dari tasnya—sebuah buku catatan baru dengan sampul kulit berwarna hitam yang tampak sangat mahal.

"Ini milikku. Masih kosong. Ibu tidak akan curiga jika buku ini hilang karena aku punya banyak koleksi seperti ini di kamar," Satria menyodorkan buku itu bersama sebuah pulpen bermerek. "Sembunyikan ini di bawah karung goni ini. Jangan biarkan siapa pun tahu, bahkan Mbok Sum sekalipun."

Anindya menyentuh sampul buku itu dengan ujung jarinya yang gemetar. "Terima kasih, Tuan Muda."

"Jangan panggil aku Tuan Muda saat kita hanya berdua," gumam Satria sambil menoleh ke arah pintu. "Panggil saja Satria. Di rumah ini, aku juga merasa seperti dipenjara oleh ekspektasi Ibu. Kita sama-sama punya penjara sendiri, Anindya."

Momen itu adalah pertama kalinya Anindya melihat Satria bukan sebagai musuh atau tuan yang angkuh, melainkan sebagai seorang anak laki-laki yang juga kesepian di balik dinding istananya sendiri.

Pagi harinya, sebuah berita mengejutkan datang dari desa. Mbok Sum berlari menuju gudang dengan wajah panik dan mata merah. Ia baru saja mendapatkan kabar dari salah satu kurir Tuan Wijaya.

"Anindya! Anindya, bangun Nak!" Mbok Sum membuka pintu gudang dengan tergesa.

Anindya yang baru saja memejamkan mata segera bangun. "Ada apa, Mbok? Apa Nyonya datang lagi?"

"Bukan, Nak... Ayahmu... Pak Rahardian," Mbok Sum tersedak oleh tangisnya sendiri. "Dia mengalami kecelakaan di sawah. Kakinya tertimpa traktor besar milik Tuan Tanah di sana. Sekarang dia dibawa ke puskesmas, tapi... tapi biayanya sangat besar."

Dunia Anindya seolah runtuh untuk kedua kalinya dalam dua puluh empat jam. "Ayah... Nin mau bertemu Ayah! Mbok, tolong Nin..."

Nyonya Lastri muncul di belakang Mbok Sum, mengenakan kacamata hitamnya, tampak sama sekali tidak tersentuh oleh berita duka itu. "Mau bertemu bapakmu? Untuk apa? Kau hanya akan menambah beban di sana. Hutang bapakmu sudah ditambah lagi oleh Tuan Wijaya untuk membiayai pengobatannya semalam. Sekarang, kau berhutang nyawa dua kali lipat pada kami, Anindya."

Anindya terjatuh lemas di lantai. Jadi, kecelakaan ayahnya justru menjadi rantai baru yang mengikatnya lebih erat di rumah ini.

"Dengar," Nyonya Lastri membungkuk, menatap Anindya dengan senyum kemenangan. "Jika kau ingin bapakmu selamat dan mendapatkan perawatan terbaik, kau harus bekerja lebih keras dari biasanya. Jangan pernah lagi aku melihatmu memegang buku. Waktumu sekarang sepenuhnya milik rumah ini. Kau mengerti?"

Anindya mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. "Mengerti, Bu."

Sejak hari itu, Anindya berubah. Ia tidak lagi menjadi anak kecil yang sering menangis atau melamun. Ia menjadi seperti mesin. Ia mengerjakan semua pekerjaan dengan sempurna, tanpa cela, sehingga Nyonya Lastri tidak punya alasan untuk menghukumnya lagi. Namun, di dalam hatinya, kebencian itu telah mengkristal menjadi sebuah rencana besar.

Setiap malam di gudang alat—yang kini menjadi kamar tetapnya—Anindya menulis di buku hitam pemberian Satria. Ia tidak hanya menulis pelajaran, ia mulai mencatat semua pengeluaran rumah, mendengarkan pembicaraan bisnis Tuan Wijaya dari balik pintu, dan mempelajari bagaimana uang bekerja di rumah itu.

Ia belajar bahwa pengetahuan bukan hanya tentang angka di sekolah, tapi tentang informasi. Informasi adalah kekuasaan.

Empat tahun berlalu dengan sangat cepat. Anindya yang dulunya bocah mungil berusia sepuluh tahun, kini telah tumbuh menjadi gadis remaja berusia empat belas tahun yang bermata tajam dan berpendirian teguh. Tubuhnya mungkin masih terlihat kurus karena kerja keras, namun sorot matanya mencerminkan kecerdasan yang tidak bisa lagi disembunyikan.

Satria pun tumbuh menjadi remaja yang tampan namun pendiam. Ia seringkali memberikan buku-buku pelajaran tingkat SMA kepada Anindya secara sembunyi-sembunyi. Hubungan mereka menjadi sebuah rahasia yang paling terjaga di rumah itu. Satria adalah penyedia "senjata", dan Anindya adalah prajurit yang sedang mengasah pedangnya.

Suatu malam, sebelum kita menutup lembaran masa kecil ini, Anindya menatap ke arah cermin buram di gudang. Ia melihat dirinya sendiri. Ia bukan lagi Anindya yang ketakutan.

"Waktunya hampir tiba, Ayah," bisiknya. "Sedikit lagi, Nin akan menjemput Ayah. Nin akan membayar semua hutang itu bukan dengan uang mereka, tapi dengan keberhasilan Nin sendiri."

Anindya mengambil buku hitamnya yang kini sudah hampir penuh. Di halaman terakhir, ia menuliskan satu kalimat yang akan menjadi kompas hidupnya di bab-bab selanjutnya: "Mereka membeli ragaku dengan mahar hutang, tapi aku akan membeli harga diri mereka dengan kecerdasanku."

Lampu senter kecil itu akhirnya meredup dan mati, namun di dalam kegelapan gudang, mata Anindya tetap menyala. Masa kecilnya telah mati bersama abu di halaman belakang, dan kini, seorang wanita yang akan mengguncang takdir telah lahir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!