Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.
Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.
"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.
"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.
Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?
Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Persiapan Penjemputan Dafa.
"Kau tidak perlu memikirkannya, kau juga tidak perlu membalasnya. Kau hanya perlu menerima semua rasa sukaku dan perlakukanku padamu."
Rania tertegun, dadanya semakin berdegup kencang saat mendengar ucapan Kenzo. "Jadi, maksudnya dia sama sekali tidak mengharapkan apapun dariku, dan hanya ingin agar aku menerima semua perlakukannya padaku?" Kedua tangannya yang saling bertautan tampak menggenggam dengan erat.
Kenzo kembali tersenyum saat melihat berbagai ekspresi memenuhi wajah Rania, dia tahu jika pengakuan cintanya ini pasti akan membebani wanita itu. Namun, dia bukan tipe orang yang suka berbasa-basi. Dia juga tidak pintar menyembunyikan sesuatu dan berpikir lebih baik langsung katakan saja yang sebenarnya.
"Aku... Aku tidak tau harus berkata apa," ucap Rania dengan lirih. Namun, satu hal yang pasti. Hatinya belum siap untuk menerima kehadiran laki-laki lain, lukanya masih sangat basah. Dia tidak ingin menjadikan orang lain sebagai pelarian saat dirinya sendiri belum siap.
"Sudah aku katakan kalau kau tidak perlu melakukan apapun."
Rania yang semula menunduk, seketika mengangkat pandangan dan menatap Kenzo. Laki-laki itu juga menatapnya dengan tajam, tapi entah kenapa ada kelembutan di sana.
"Aku hanya tidak ingin menyakitimu," ungkap Rania jujur, apalagi laki-laki itu telah banyak membantunya.
"Aku sudah terbiasa dengan rasa sakit, dan aku suka," balas Kenzo, inilah kali pertama laki-laki itu berbicara panjang lebar dengan Rania. "Sakiti aku sebanyak apapun yang kau mau, maka aku akan semakin menyukainya." tambahnya membuat dada Rania kembali berdegup kencang.
Rania kembali menunduk, merasakan hawa panas yang menjalar di wajahnya. Kedua telapak tangannya basah karena keringat, merasa gugup dan juga salah tingkah. Dia bahkan bisa mendengar suara degup jantungnya sendiri yang berdebar keras.
"Astaga, kenapa dia mengatakan hal seperti itu seringan dia bernapas?" Rania mendessah, merasa benar-benar tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Semua perkataan yang Kenzo lontarkan benar-benar menghunjam jantungnya, apalagi laki-laki itu mengatakannya dengan sangat santai, seolah semua perkataannya tidak mengandung makna yang dalam. Apa karena Kenzo masih sangat muda, sehingga dia mudah sekali mengucapkan kata-kata yang menyeramkan seperti itu?
"Aku harus pergi."
Rania tersentak, spontan dia melihat ke arah Kenzo dan ikut berdiri saat melihat laki-laki itu sudah berdiri. "Ka-kalau begitu hati-hati di jalan." ucapnya terbata, sungguh dia benar merasa gugup sekarang.
Kenzo mengangguk, kemudian dia berbalik dan berjalan cepat menunju pintu. Dia lalu menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah belakang.
"Bersiaplah, besok kau akan menjemput putramu."
Rania terkesiap, kedua matanya membulat sempurna. "Be-benarkah?" Kedua matanya langsung berbinar senang.
Kenzo mengangguk. "Tunggulah di sini, besok akan ada yang datang menjemputmu."
Wajah Rania langsung berubah cerah dan senyum lebar terbit dibibirnya. "Baik, aku akan menunggu." katanya penuh semangat. "Terima kasih, Kenzo. Terima kasih banyak." Dia menundukkan kepala sebagai ungkapan rasa terima kasihnya yang teramat dalam.
Kenzo tersenyum, lalu tangannya terangkat mengusap puncak kepala Rania membuat tubuh wanita itu menegang.
"Kau sangat cantik saat tersenyum," ucap Kenzo.
Blush.
Wajah Rania langsung bersemu merah mendengar pujian dari Kenzo. "Te-terima kasih." Dia tidak berani mengangkat pandangannya karena tidak ingin bersitatap mata dengan Kenzo.
Kenzo kemudian melanjutkan langkahnya dan berlalu keluar dari apartemen itu, meninggalkan Rania yang masih mematung di ambang pintu sembari berusaha untuk menenangkan diri.
"Lama-lama aku bisa kena serangan jantung," gumam Rania sembari memegangi dadanya yang masih saja berdebar-debar. Dia kemudian segera menutup pintu apartemennya dan berlalu masuk ke dalam kamar.
Rania merebahkan tubuhnya ke ranjang, menatap langit-langit kamar sembari tersenyum lebar karena akan segera bertemu dengan Dafa. Namun, dia kembali teringat dengan semua ucapan Kenzo membuat wajahnya kembali terasa panas.
"Kenapa omongannya gak pake rem gitu sih?" desis Rania dengan kesal sekaligus malu. Dia kira Kenzo adalah tipe laki-laki introvert yang menyembunyikan perasaannya sendiri, tapi tidak disangka jika Kenzo adalah laki-laki yang jujur dan sangat berterus terang.
"Terus apa katanya tadi? Sakiti aku sebanyak yang kau mau dan akan semakin menyukainya?" seru Rania, mengulang apa yang Kenzo ucapkan padanya. "Cih, memangnya dia seorang m*asokis?" tambahnya sembari menutup wajah dengan kedua tangan—merasa benar-benar kesal, tapi wajahnya semakin bersemu merah.
Tidak mau semakin kepikiran, Rania memilih untuk beranjak ke kamar mandi dan menyiram kepalanya dengan air dingin. Dia harus menenangkan diri dan fokus pada tujuannya tanpa memikirkan apapun, juga fokus untuk menata masa depannya bersama dengan Dafa.
"Setelah ini aku harus mencoba untuk buka usaha, aku tidak bisa bekerja dan meninggalkan Dafa sendirian," gumam Rania. Dia sudah memikirkan untuk buka usaha saja ketimbang kerja di tempat lain karena memikirkan Dafa, mungkin jika putranya sudah masuk sekolah nanti barulah dia akan memulai kariernya kembali.
***
Keesokan harinya, seperti apa yang Kenzo ucapkan, Rania tengah bersiap-siap untuk menjemput Dafa. Dia bahkan berniat membeli banyak mainan untuk putranya saat sudah bersama nanti.
"Dafa pasti sangat menyukainya," ucap Rania sembari menatap ponsel dan melihat-lihat gambar mainan yang tersedia di toko langganannya, sampai suara bel dipintu membuyarkan fokusnya dan bergegas untuk melihat siapa yang datang.
"Selamat pagi, Nona," sapa Andre saat melihat pintu apartemen terbuka.
Rania tersenyum. "Selamat pagi juga, Andre. Masuklah." balasnya seraya mempersilahkan laki-laki itu untuk masuk.
"Tidak perlu, Nona. Kita langsung berangkat ke rumah keluarga Sanjaya saja," ucap Andre. Dia sudah diancam oleh tuan mudanya untuk tidak masuk ke dalam apartemen Rania saat wanita itu hanya seorang diri, tentu saja dia tidak akan berani melawannya.
Rania mengangguk, kemudian dia meminta Andre untuk menunggu sebentar karena harus mengambil tas di dalam kamar.
"Ayo, kita pergi!" ajak Rania setelah mengambil tas dan kembali menghampiri Andre, matanya berkeliling melihat ke arah sekitar seolah tengah mencari seseorang.
Paham akan maksud tatapan Rania, Andre seketika tersenyum. "Tuan muda ada rapat penting, jadi tidak bisa ikut." katanya menjelaskan.
Rania terkesiap. "A-aku tidak mencarinya, kok." bantahnya.
Andre hanya tersenyum saja dan bergegas pergi dari tempat itu dengan diikuti oleh Rania. Sesampainya di parkiran, terlihat ada empat orang lelaki yang pernah datang menemui Rania sudah menunggu di sana.
"Anda semua juga ikut?" tanya Rania dengan senang, jika mereka semua ikut maka dia pasti akan bisa membawa Dafa pergi bersamanya.
"Tentu saja, Nona. Kami akan ikut bersama Anda sambil membawa surat pernyataan dan peringatan untuk keluarga Sanjaya."
*
*
*
Bersambung.
dah nurut aja kenapa sama tuan muda