NovelToon NovelToon
Akhir Dari Penghianatan

Akhir Dari Penghianatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Keluarga / Wanita perkasa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Penikmat_lara

Setelah dikhianati oleh orang orang terdekatnya, Indira pun berusaha untuk keluar dari zona yang membuatnya tertekan, namun orang orang itu sama sekali tidak membiarkan Indira untuk bebas. Dengan rasa trauma yang dia alami, ia di hantui kata kata menyakitkan yang selama ini ia dengar, lantas bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona tersebut? apakah dia akan menemukan cinta sejati yang selama ini ia nantikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penikmat_lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Acara pindah rumah

Indira langsung bergegas untuk duduk didekat Pita yang tengah menghadap kearah sebakul nasi, bisa dibilang bahwa Pita adalah saudara sepupunya dan sudah dianggap sebagai saudara sendiri oleh Indira. Oleh karena itu, hubungan keduanya sudah selayaknya Kakak Adik bagi keduanya, tidak sama seperti hubungan Indira dengan Riri.

Bagi Indira, Pita memiliki karakter yang baik sebagai pelindung, dan bisa sebagai contoh untuk seorang Kakak yang siap melindungi Adeknya. Berbeda jauh dengan Riri yang menganggap Adeknya sendiri adalah saingannya, padahal Indira sama sekali tidak pernah menganggap Riri sebagai saingannya.

"Hai jelek," Ucap Pita kepada Indira, karena sejak kecil itu adalah panggilan sayang yang diberikan Pita kepada Indira.

"Mesti jelek mesti jelek, padahal aku nggak jelek," Gerutu Indira mendengar panggilan itu.

"Halah cantik prettt aa?"

"Kata siapa? Bunda ku lo bilang kalo aku cantik, tanya saja kepada dia,"

Indira selalu tidak terima jika dibilang jelek oleh Pita, namun sama sekali tidak ada rasa dendam kepada Pita. Baginya ucapan penolakannya hanyalah sebagai kiasan, yang sebenarnya terjadi dirinya sama sekali tidak mempermasalahkan panggilan itu, dan ia hanya ingin bercanda gurau dengan Kakak sepupunya.

Begitu ramai dirumah baru milik Ana sekarang, saudara saudaranya semuanya berkumpul ditempat itu untuk mengikuti acara tasyakuran atas rumah barunya tersebut. Para tamu dari desa itu juga mulai berdatangan secara bergantian, sehingga begitu banyak pekerjaan yang harus Indira bantu untuk mengerjakannya.

Ditambah lagi dengan banyaknya suara anak anak kecil yang tengah bercanda gurau menambah suasana menyenangkan disana, Indira yang jiwanya masih anak anak pun ingin ikut bermain bersama mereka namun tubuhnya tidak mendukungnya. Rasanya ia ingin kembali ke masa anak anak yang dimana yang dipikirkannya hanyalah mainan saja, dan betapa menyenangkannya masa kanak kanak itu.

"Kayak masa kecilnya Dira, nangisan tapi kalo dikasih tau sukanya mbantah," Ucap Pita sambil mengejek kearah Indira, ketika melihat ada anak gadis kecil yang sok berkuasa namun mudah nangis bila diganggu yang lainnya.

"Mana ada, aku dulu nggak begitu ya. Aku dulu nggak pernah nangisan," Ucap Indira yang tidak terima dikatakan nangisan.

"Masak, Bunda nggak percaya," Ucap Yanti yang tiba tiba datang mendekat kearah keduanya sambil menyerahkan se baskom ayam goreng.

"Ih Bunda malah dukung Mbak Pita," Rengek Indira.

"Wekkk.... Wekkk... Emang kenyataannya begitu ya kan, Bi. Dira emang nangisa dulunya," Pita merasa senang ketika ada yang membelanya untuk membully Indira, bahkan Yanti juga menyetujui ucapannya.

"Tapi kan sekarang Dira nggak nangisan, Dira nggak pernah nangis lah,"

Indira masih membantah ucapan mereka, dan mengatakan bahwa dirinya tidak cengeng lagi seperti dulu. Mereka pun lalu membahas masa kecil Indira dahulu, banyak hal yang membuat mereka tidak bisa melupakan masa kecil Indira yang memang dikenal sangat nakal, bandel, dan bahkan cengeng kalo di ganggu yang lain.

Indira pun dibuat malu oleh mereka karena membicarakan masa kecilnya sendiri, ia pun tidak bisa membantah ucapan mereka karena memang itulah yang terjadi waktu dirinya kecil. Bisa dikatakan Indira tidak pernah mau kalah dengan siapapun, apalagi jika dirinya diganggu yang lainnya maka dia benar benar akan membalasnya tanpa ampun, namun seiring berjalannya waktu sifatnya sendiri langsung berubah seperti sekarang ini.

Indira yang dulunya adalah seorang gadis periang, anak gadis yang tidak mau kalah dalam berebut, anak gadis yang suka sekali ngoceh tanpa hentinya, dan anak gadis yang lincah. Kini anak gadis itu berubah menjadi sosok yang pendiam, jarang mengobrol kalau tidak diajak mengobrol, takut menyinggung orang lain lantaran dirinya hanya punya tubuhnya sendiri saja untuk bertahan, dan sekarang dirinya sangat jarang sekali bercanda kepada siapapun.

Sifat sifat itu pun didapatkannya setelah perceraian dari kedua orang tuanya, rasanya semenjak saat itu terjadi sama sekali tidak ada yang bisa melindunginya kalau dirinya berbuat salah, oleh karenanya ia sama sekali tidak mau disalahkan ataukah dipojokan. Jika dulunya Indira diperlukan seperti itu maka dia akan melawan, namun sekarang jika diperlakukan seperti itu dirinya hanya bisa diam dan pergi tanpa penjelasan apapun.

"Sekarang lo udah nggak cerewet lagi," Ucap Indira yang terus disindir karena dulunya dirinya sangat cerewet.

"Halah apanya nggak cerewet lagi, buktinya kalo ketemu cerewetnya nambah banyak, Indira nggak cerewet kaget aku. Mana ada Indira nggak cerewet,"

Beginilah suasana ketika seluruh keluarga berkumpul, entah kenapa Indira bisa crewet hanya bersama dengan Pita saja, dan bersama yang lainnya dirinya mendadak menjadi pendiam. Hanya dengan Pita dirinya bisa bercanda gurau, karena Pita selalu memulainya terlebih dahulu untuk mengajaknya bercanda.

Seandainya bisa memilih, Indira ingin menjadikan Pita adalah Kakak kandungnya sendiri, namun hal itu tidak akan pernah bisa karena kenyataannya adalah Riri lah Kakak kandungnya bukan Pita. Indira sendiri bahkan tidak pernah bercanda seperti itu dengan Kakak kandungnya, dan hubungan keduanya benar benar terasa dingin dan hambar.

Rasanya ketika berkumpul bersama membuat Indira lupa dengan masalah yang telah berhasil ia lewati itu, bahkan ia sama sekali tidak merindukan akan pulang kerumahnya sendiri. Dahulunya sebelum kejadian itu terjadi, kemana pun ia pergi pasti akan rindu dengan rumahnya, namun belakangan ini dirinya sama sekali tidak berminat untuk datang kerumah lamanya.

"Nggak ada bedanya sama sekali dari dulu sampek sekarang, tetep aja nangisan," Ucap Pita.

"Aku nggak nangis ya Tante, ini kelilipan," Ucap Indira, entah setiap kali ia tertawa terbahak bahak selalu akan ada air mata yang menyelip diantara kedua matanya.

"Masak sih? Halah tinggal bilang masih nangisan aja susah. Semua orang juga tau kali,"

"Nangis apanya? Orang nggak nangis dibilang nangis, kalo nangis beneran gimana?"

"Ya nanti tak kasih permen milkita dua,"

"Hemm..."

******

Acara tasyakuran atas rumah baru pun telah selesai dilaksanakan, seluruhnya merasa puas atas jamuan yang diadakan oleh tuan rumah kepada para tamu undangan. Tinggal capeknya saja yang dialami oleh kerabat yang bantu bantu dalam acara, termasuk juga dengan Indira sendiri.

"Kamu tidur dimana Dira? Dirumah ini atau rumah satunya di selatan," Tanya Pita ketika seluruh keluarga besar sudah berpamitan pulang sendiri sendiri juga termasuk Yanti.

"Disana saja Bude," Jawab Indira.

"Yaudah buruan istirahat,"

"Nggak bisa ngunci rumahnya Bude,"

"Nggak papa, habis ini biar dikunci sama Pakde mu. Besok kerja kan? Berangkat jam berapa?"

"Kerja, nanti jam 5 lebih dikit udah berangkat."

"Yaudah besok pagi biar Bude kesana buat bukain pintunya, soalnya agak susah buat ngunci rumahnya, kalo belom terbiasa ya susah."

"Iya Bude, kalo gitu Dira ke selatan dulu ya,"

"Iya, jangan lupa motornya juga dikunci,"

"Siap."

"Ingat ya, kalo ada apa apa kasih tau Bude, kalo ada yang manggil manggil jangan diladeni kalo nggak teriak namanya."

"Kenapa Bude?"

"Bude bukannya mau nakut nakutin kamu, kamu sendiri pasti sudah paham dengan itu. Tidak mudah buat bisa tinggal disana sendirian pasti nanti ada yang nakutin, kalo sampe mereka berani menampakkan diri langsung pukul saja,"

"Bude ih bikin takut aja,"

Alam ini tidak hanya dihuni oleh manusia saja, namun alam ini juga dihuni oleh mahluk mahluk yang tak kasat mata manusia. Mau percaya atau tidaknya, alam gaib itu benar benar ada, dan hanya berbatas setipis tisu dengan kehidupan manusia.

Hanya manusia manusia tertentu yang dapat melihat mereka, atau mereka yang memang memperlihatkan diri terhadap manusia, namun tidak semua orang bisa melakukan itu. Hanya orang orang yang indra keenamnya terbuka saja yang bisa melihat alam mereka, atau orang yang memang diizinkan untuk melihatnya.

"Jangan main main kebelakang rumah ya, tapi sesekali kesana buat lihat pohon rambutannya udah berbuah atau belum." Ucap Budenya.

"Lah maksudnya gimana? Jangan main kebelakang tapi suruh lihat pohon rambutan," Indira bingung dengan hal yang dikatakan oleh Budenya.

"Kalo nggak ada kepentingan jangan kebelakang, banyak ularnya. Tapi kalo musimnya rambutan ya kamu lihat rambutannya udah berbuah atau belum,"

"Siap Bude,"

"Pokoknya hati hati dirumah sendirian, sambil terus di cek jendela dan pintunya apakah sudah tertutup atau belum. Kalo ada apa apa langsung ke pertigaan depan rumah itu, soalnya disana banyak Bapak Bapak ronda."

"Iya."

"Sebelum tidur jangan lupa dikebasi dulu kasur kasurnya, terus di cek sekitarnya. Musim hujan begini biasanya ada ular masuk soalnya deket ladang kosong, hati hati juga. Kalo ada apa apa langsung beritahu Bude,"

"Ngeri juga ya dirumah sana, Bude."

"Lah mangkanya itu, atau kamu tinggal disini saja sama Bude? Tapi ya belum ada kamar kosongnya, nanti atau lusa bisa di renovasi lagi."

"Nggak deh Bude, aku tinggal disana saja, soalnya barang barangku juga ada disana,"

"Yaudah kalo begitu,"

Begitu banyak pesan yang disampaikan oleh Ana kepada Indira, bukan bermaksud untuk menakut nakuti Indira didalam rumah itu namun menyuruh Indira untuk berjaga jaga itu juga bertujuan untuk melindungi dirinya sendiri. Banyak yang tidak betah berada didalam rumah itu, karena seringkali yang tinggal disana akan diganggu penunggu yang ada didalamnya.

Banyak masyarakat sekitar yang meyakini bahwa rumah itu bisa dibilang bahwa rumahnya angker, apalagi ditambah dengan bangunan yang lama dan dulunya pernah tidak ditinggali lama. Oleh karenanya hawa disana agak suram, Indira sudah tinggal bersama Budenya ditempat itu dan mampu merasakan hal yang berbeda.

Fauzi adalah anak bontot dari Ana, bisa dibilang bahwa anak itu tidaklah sempurna dan tidak seperti anak anak pada umumnya. Anaknya memiliki kelainan, sehingga sulit untuk berkomunikasi layaknya manusia normal dan sangat sulit untuk diajari.

Fauzi sering kali didekati oleh mahluk mahluk seperti itu dan langsung mengatakannya kepada Ibunya, bahkan orang orang yang memiliki indra keenam yang terbuka pun juga mengatakan hal yang sama. Rumah itu terkenal dengan angker, banyak kejadian kejadian gaib yang sering terjadi ditempat itu.

Waktu pertama kali Indira datang disana juga dirinya merasa ada yang mengganggunya, apalagi dirinya sering kali mengalami tindihan dan sekilas melihat bayangan bayangan yang menakutkan melintas didepannya. Namun ia masih berani karena dia tidak sendirian ditempat itu, alias masih ada Budenya yang menemaninya.

Sekarang Budenya memiliki rumah baru dan meninggalkan rumah lamanya, namun Indira justru disuruhnya untuk tinggal dirumah lamanya karena rumah barunya hanya memiliki satu kamar saja. Oleh karenanya Indira masih tetap berada dirumah lama, dan dirinya juga tidak keberatan dengan keputusan itu.

Indira langsung bersiap siap untuk kembali kerumah tempat dirinya tinggal belakangan ini, dan disana dirinya akan tidur sendirian karena semuanya tidur ditempat Budenya saat ini. Sesampainya dirumah, Indira merasa kesepian dan rasanya sangat merinding ketika berada dirumah itu.

"Sepi juga kalo tanpa adanya Bude disini, jadi ada sensasi merinding merinding gimana gitu," Guman Indira sambil menatap kearah sekelilingnya.

1
JELINA,S.PD.K JELINA,S.PD.K
Ndak seru ceritanya ga bisa dilanjutkan
Riskejully: Nggak mau baca juga nggak papa kak, ini cerita hanya untuk mengenang kisahku dan seseorang yang aku cintai saja. terima kasih sudah baca sampai sini🙏
total 1 replies
Lee Mba Young
what 3 bln tp gk tau rumah RT nya. lah berarti waktu mau tinggal gk laporan dulu dong.
kayak nya orang desa lbih Pinter mau tinggal di suatu tempat ya laporan dulu, ibarat kata permisi. trus salam perkenalan ke tetangga.
kcuali rumah kaum elit lah biasa gk akn kenal dng tetangga. kl komplek hrse ya laporan dulu kan.
Riskejully: bukan komplek ya, awalnya dia tinggal sama budenya disatu tempat dan para tetangganya sudah tau, tapi budenya tiba tiba pindah ditempat lain namun masih tetanggaan + indira jarang bersosialisasi dengan siapapun. pulang kerja langsung masuk rumah di kunci rapat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!