Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Cara membuatnya menoleh
Hari itu Azmi memasuki perpustakaan sekolah seperti biasa. Tujuannya sederhana—mencari beberapa buku yang sering ia jadikan referensi untuk menulis lirik lagu.
Langkahnya pelan di antara rak-rak buku.
Hingga tanpa sengaja… pandangannya berhenti pada satu titik.
Rahmalia.
Ia duduk sendirian di meja dekat jendela.
Cahaya siang yang masuk dari luar jatuh lembut di sisi wajahnya, memantul tipis di pipinya.
Kepalanya sedikit menunduk, matanya bergerak mengikuti baris demi baris tulisan di buku yang sedang ia baca.
Bibirnya bergerak pelan, nyaris tak terdengar—seperti mengulang kata-kata dalam hati.
Kerudungnya terpasang rapi, membingkai wajahnya dengan sederhana. Tidak mencolok. Tidak berlebihan.
Azmi berhenti melangkah.
Bukan karena terkejut.
Bukan juga karena ragu.
Ia hanya berdiri beberapa langkah dari sana, bersandar ringan pada rak buku terdekat, memandanginya dengan tenang.
Tatapannya tidak tergesa. Tidak pula berusaha disembunyikan.
Ia memandang dengan tenang, seolah momen itu memang pantas dinikmati tanpa harus buru-buru berlalu.
Rahmalia duduk dalam dunianya sendiri—fokus, hening, tak terusik oleh Riuh yang mungkin ada di luar sana.
Dan entah mengapa, cara sederhana itu terasa indah.
Cara ia menunduk saat membaca.
Cara jemarinya menahan halaman.
Cara ia larut tanpa sadar pada kata-kata di hadapannya.
Ada ketenangan yang tidak dibuat-buat di sana.
Ketenangan yang membuat Azmi memilih tetap diam… hanya untuk melihatnya sedikit lebih lama.
Bukan karena ia cantik semata.
Tapi karena ia terlihat berbeda.
Namun justru itu yang membuatnya sulit diabaikan.
Azmi tersenyum tipis.
Seperti seseorang yang sudah tahu apa yang ia rasakan— dan tidak takut untuk mengakuinya, bahkan pada dirinya sendiri.
Tak lama, Rahmalia menutup buku yang tadi ia baca lalu bangkit dari kursinya. Langkahnya pelan menuju rak terdekat, matanya menyusuri deretan buku, mencari bacaan lain yang menarik.
Di sisi lain, Azmi ikut bergerak.
Ia berjalan tenang beberapa langkah di belakang Rahmalia, memperhatikan setiap geraknya tanpa berniat mengganggu.
Rahmalia berdiri di depan rak tinggi. Tangannya terangkat, berusaha meraih buku di bagian paling atas. Ujung jarinya hampir menyentuh punggung buku itu… namun posisinya terlalu tinggi.
Saat ia menariknya, beberapa buku lain ikut bergeser.
Satu… dua… lalu beberapa di antaranya mulai jatuh.
Refleks.
Azmi langsung mendekat, tangannya sigap menahan tumpukan buku sebelum sempat menimpa Rahmalia.
Rahmalia spontan menutup mata, tubuhnya sedikit menegang, menunggu benturan yang tak kunjung datang.
Hening.
Perlahan ia membuka mata.
Dan yang ia lihat… wajah Azmi.
Dekat.
Terlalu dekat.
Jarak mereka hanya beberapa inci, cukup untuk membuat napas Rahmalia tertahan sejenak.
Tatapan mereka bertemu—tanpa sengaja, tanpa kata—dan tertahan lebih lama dari yang seharusnya.
Azmi menunduk lebih dulu, memecah momen itu. Ia membungkuk, mengambil buku yang tadi hendak diambil Rahmalia dari lantai. Debu tipis menempel di sampulnya.
Tangannya menepuk pelan buku itu, membersihkannya.
Lalu ia menyerahkannya.
“Lain kali minta tolong,” ucapnya pelan.
Nada suaranya lembut. Tenang.
“Aku ada… daripada kamu ketimpa begini.”
Rahmalia sempat terdiam beberapa detik.
Bengong.
Seolah otaknya butuh waktu untuk mengejar apa yang baru saja terjadi.
Lalu ia menunduk cepat, jemarinya menggenggam buku yang baru diberikan Azmi.
“Terima kasih…” ucapnya pelan, suaranya nyaris berbisik.
Pipinya terasa hangat. Ia bahkan tidak berani menatap lama.
Tanpa menunggu balasan, Rahmalia berbalik dan melangkah pergi. Langkahnya sedikit tergesa—bukan karena terburu waktu, tapi karena jantungnya sendiri berdetak terlalu cepat.
Azmi hanya memperhatikannya.
Sudut bibirnya terangkat tipis melihat Rahmalia yang pergi dengan salah tingkah seperti itu.
Lalu ia kembali ke meja semula, duduk tenang seperti tidak terjadi apa-apa.
Namun rupanya momen itu tidak luput dari perhatian.
Beberapa temannya yang tadi melihat dari jauh langsung menghampiri.
“Ada apa tadi?” tanya salah satu dari mereka penasaran.
Azmi mengangkat bahu ringan.
“Enggak. Dia cuma mau ngambil buku… terus jatuh semua,” jawabnya santai.
“Terus cewek tadi nggak kenapa-kenapa kan?” sahut yang lain.
“Enggak,” balas Azmi.
“Aku masih sempat nahan bukunya sebelum kena kepala dia.”
Temannya mengangguk lega.
“Syukur deh. Tapi… aku lihat kamu kenal sama dia?”
Azmi tidak langsung menjawab.
Ia terdiam sebentar, lalu tersenyum kecil.
“Iya. Aku kenal,” katanya pelan.
Lalu, tanpa ragu, ia menambahkan—
“Dan… kebetulan aku suka dia.”
Teman-temannya langsung saling melirik, lalu menoleh ke arah Rahmalia yang sudah duduk kembali di meja baca.
“Wajar sih,” celetuk salah satu dari mereka.
“Aku lihat dia emang cantik. Cocok sama kamu.”
Yang lain ikut menimpali.
“Deketin pelan-pelan aja. Cari celah.”
“Jangan langsung ngebut… bikin nyaman dulu.”
“Ato sekalian aja duet bareng di tantangan bulanan itu. Siapa tahu makin deket.”
Azmi tidak langsung menanggapi.
Tatapannya kembali mengarah ke Rahmalia di kejauhan—yang sudah kembali tenggelam dalam bukunya, seolah kejadian barusan tidak pernah terjadi.
Senyumnya tipis.
Tenang.
Di dalam kepalanya hanya ada satu pikiran—
dan mungkin… ucapan temannya tadi bukan sekadar gurauan yang lewat begitu saja.
Mengajak Rahmalia duet.
Azmi terdiam, membiarkan gagasan itu tumbuh perlahan di benaknya.
Duet bukan hanya tentang nada yang disatukan.
Bukan sekadar tugas yang harus diselesaikan.
Itu ruang.
Ruang untuk berdiri di sisinya tanpa terlihat memaksa.
Ruang untuk berbagi waktu tanpa harus mencari alasan.
Ruang untuk membuat jarak perlahan mengecil dengan sendirinya.
Alasan yang wajar.
Langkah yang tak mencolok.
Pendekatan yang tidak terburu-buru.
Azmi menoleh sekali lagi ke arah Rahmalia.
Ia masih duduk di sana, tenggelam dalam bukunya, tak menyadari bahwa seseorang sedang memikirkan cara untuk masuk ke dalam dunianya.
Senyum tipis terukir di wajah Azmi.
Jika ia ingin membuat Rahmalia menoleh—
ia tak perlu berlari.
Cukup berjalan pelan, menyamai langkahnya.
Dan suatu saat nanti…
Rahmalia akan menoleh bukan karena terkejut—
tapi karena memilih untuk melihat.
proud of you.. keep smilee nanti kamu jadi panutanmu..
maaf yaa nangis sedikittt
keknya lebih cocok gitu sih, kak. 🙏
di sini alur belum maju lagi 🤔
jadi awal chapter gak terkesan slow Pace karena ceritamu susah bertipe slow burn
perhatikan dinamis Pace
baby shark doo dooo doo
chapter ini cukup menarik
slow burn yang cukup oke antara Gina dan Azmi 👍
azmi sama siapa sih mau mu.. gina apa rahmalian 😏
kayak mau deketin Azmi sama gina
kek nyaman bener
ga mau kasih dia temen Deket cowok atau dia harusnya ada geng cowok
aneh aja kalau dari perspektif cowok 😏
ada sih yang nempel sama geng cewek cuma ehem biasanya rada gemulai (maaaap)
main sama anak cewek itu ga bebas ga bisa gaplok2an yang biasa jadi 'bahasa' persahabatan antar cowok..
ini Dio beda sendiri dan baru kuliat di cerita
penasaran aja apa dia itu punya temen lain selain ngekorin cewek cewek???