NovelToon NovelToon
Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Teen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: bg.Hunk

Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Cara membuatnya menoleh

Hari itu Azmi memasuki perpustakaan sekolah seperti biasa. Tujuannya sederhana—mencari beberapa buku yang sering ia jadikan referensi untuk menulis lirik lagu.

Langkahnya pelan di antara rak-rak buku.

Hingga tanpa sengaja… pandangannya berhenti pada satu titik.

Rahmalia.

Ia duduk sendirian di meja dekat jendela.

Cahaya siang yang masuk dari luar jatuh lembut di sisi wajahnya, memantul tipis di pipinya.

Kepalanya sedikit menunduk, matanya bergerak mengikuti baris demi baris tulisan di buku yang sedang ia baca.

Bibirnya bergerak pelan, nyaris tak terdengar—seperti mengulang kata-kata dalam hati.

Kerudungnya terpasang rapi, membingkai wajahnya dengan sederhana. Tidak mencolok. Tidak berlebihan.

Azmi berhenti melangkah.

Bukan karena terkejut.

Bukan juga karena ragu.

Ia hanya berdiri beberapa langkah dari sana, bersandar ringan pada rak buku terdekat, memandanginya dengan tenang.

Tatapannya tidak tergesa. Tidak pula berusaha disembunyikan.

Ia memandang dengan tenang, seolah momen itu memang pantas dinikmati tanpa harus buru-buru berlalu.

Rahmalia duduk dalam dunianya sendiri—fokus, hening, tak terusik oleh Riuh yang mungkin ada di luar sana.

Dan entah mengapa, cara sederhana itu terasa indah.

Cara ia menunduk saat membaca.

Cara jemarinya menahan halaman.

Cara ia larut tanpa sadar pada kata-kata di hadapannya.

Ada ketenangan yang tidak dibuat-buat di sana.

Ketenangan yang membuat Azmi memilih tetap diam… hanya untuk melihatnya sedikit lebih lama.

Bukan karena ia cantik semata.

Tapi karena ia terlihat berbeda.

Namun justru itu yang membuatnya sulit diabaikan.

Azmi tersenyum tipis.

Seperti seseorang yang sudah tahu apa yang ia rasakan— dan tidak takut untuk mengakuinya, bahkan pada dirinya sendiri.

Tak lama, Rahmalia menutup buku yang tadi ia baca lalu bangkit dari kursinya. Langkahnya pelan menuju rak terdekat, matanya menyusuri deretan buku, mencari bacaan lain yang menarik.

Di sisi lain, Azmi ikut bergerak.

Ia berjalan tenang beberapa langkah di belakang Rahmalia, memperhatikan setiap geraknya tanpa berniat mengganggu.

Rahmalia berdiri di depan rak tinggi. Tangannya terangkat, berusaha meraih buku di bagian paling atas. Ujung jarinya hampir menyentuh punggung buku itu… namun posisinya terlalu tinggi.

Saat ia menariknya, beberapa buku lain ikut bergeser.

Satu… dua… lalu beberapa di antaranya mulai jatuh.

Refleks.

Azmi langsung mendekat, tangannya sigap menahan tumpukan buku sebelum sempat menimpa Rahmalia.

Rahmalia spontan menutup mata, tubuhnya sedikit menegang, menunggu benturan yang tak kunjung datang.

Hening.

Perlahan ia membuka mata.

Dan yang ia lihat… wajah Azmi.

Dekat.

Terlalu dekat.

Jarak mereka hanya beberapa inci, cukup untuk membuat napas Rahmalia tertahan sejenak.

Tatapan mereka bertemu—tanpa sengaja, tanpa kata—dan tertahan lebih lama dari yang seharusnya.

Azmi menunduk lebih dulu, memecah momen itu. Ia membungkuk, mengambil buku yang tadi hendak diambil Rahmalia dari lantai. Debu tipis menempel di sampulnya.

Tangannya menepuk pelan buku itu, membersihkannya.

Lalu ia menyerahkannya.

“Lain kali minta tolong,” ucapnya pelan.

Nada suaranya lembut. Tenang.

“Aku ada… daripada kamu ketimpa begini.”

Rahmalia sempat terdiam beberapa detik.

Bengong.

Seolah otaknya butuh waktu untuk mengejar apa yang baru saja terjadi.

Lalu ia menunduk cepat, jemarinya menggenggam buku yang baru diberikan Azmi.

“Terima kasih…” ucapnya pelan, suaranya nyaris berbisik.

Pipinya terasa hangat. Ia bahkan tidak berani menatap lama.

Tanpa menunggu balasan, Rahmalia berbalik dan melangkah pergi. Langkahnya sedikit tergesa—bukan karena terburu waktu, tapi karena jantungnya sendiri berdetak terlalu cepat.

Azmi hanya memperhatikannya.

Sudut bibirnya terangkat tipis melihat Rahmalia yang pergi dengan salah tingkah seperti itu.

Lalu ia kembali ke meja semula, duduk tenang seperti tidak terjadi apa-apa.

Namun rupanya momen itu tidak luput dari perhatian.

Beberapa temannya yang tadi melihat dari jauh langsung menghampiri.

“Ada apa tadi?” tanya salah satu dari mereka penasaran.

Azmi mengangkat bahu ringan.

“Enggak. Dia cuma mau ngambil buku… terus jatuh semua,” jawabnya santai.

“Terus cewek tadi nggak kenapa-kenapa kan?” sahut yang lain.

“Enggak,” balas Azmi.

“Aku masih sempat nahan bukunya sebelum kena kepala dia.”

Temannya mengangguk lega.

“Syukur deh. Tapi… aku lihat kamu kenal sama dia?”

Azmi tidak langsung menjawab.

Ia terdiam sebentar, lalu tersenyum kecil.

“Iya. Aku kenal,” katanya pelan.

Lalu, tanpa ragu, ia menambahkan—

“Dan… kebetulan aku suka dia.”

Teman-temannya langsung saling melirik, lalu menoleh ke arah Rahmalia yang sudah duduk kembali di meja baca.

“Wajar sih,” celetuk salah satu dari mereka.

“Aku lihat dia emang cantik. Cocok sama kamu.”

Yang lain ikut menimpali.

“Deketin pelan-pelan aja. Cari celah.”

“Jangan langsung ngebut… bikin nyaman dulu.”

“Ato sekalian aja duet bareng di tantangan bulanan itu. Siapa tahu makin deket.”

Azmi tidak langsung menanggapi.

Tatapannya kembali mengarah ke Rahmalia di kejauhan—yang sudah kembali tenggelam dalam bukunya, seolah kejadian barusan tidak pernah terjadi.

Senyumnya tipis.

Tenang.

Di dalam kepalanya hanya ada satu pikiran—

dan mungkin… ucapan temannya tadi bukan sekadar gurauan yang lewat begitu saja.

Mengajak Rahmalia duet.

Azmi terdiam, membiarkan gagasan itu tumbuh perlahan di benaknya.

Duet bukan hanya tentang nada yang disatukan.

Bukan sekadar tugas yang harus diselesaikan.

Itu ruang.

Ruang untuk berdiri di sisinya tanpa terlihat memaksa.

Ruang untuk berbagi waktu tanpa harus mencari alasan.

Ruang untuk membuat jarak perlahan mengecil dengan sendirinya.

Alasan yang wajar.

Langkah yang tak mencolok.

Pendekatan yang tidak terburu-buru.

Azmi menoleh sekali lagi ke arah Rahmalia.

Ia masih duduk di sana, tenggelam dalam bukunya, tak menyadari bahwa seseorang sedang memikirkan cara untuk masuk ke dalam dunianya.

Senyum tipis terukir di wajah Azmi.

Jika ia ingin membuat Rahmalia menoleh—

ia tak perlu berlari.

Cukup berjalan pelan, menyamai langkahnya.

Dan suatu saat nanti…

Rahmalia akan menoleh bukan karena terkejut—

tapi karena memilih untuk melihat.

1
Choco Syam
good girl... kmu punya sahabat yg tepat ginaaa..😊
proud of you.. keep smilee nanti kamu jadi panutanmu..
Choco Syam
maaf bang, tpi aku klo di posisi gina jg bkal mikir sperti itu sihh hehe... kliatan dangkal namun, menyakitkann.. proud of you gina..
maaf yaa nangis sedikittt
Choco Syam: yahh.. berusaha tegarr itu kita harus benar" kuatt..
total 2 replies
Choco Syam
Aku adalah gina di cerita ini. entah kapan kbruntungan itu datang. bukan anak sukung namun, anak harapan yg bahkan kerja kerasnya tidak pernah di lirik sma sekali. bhkan ketika jatuh hanya cemoohan yg di dpat. Gin prgi tenangin diri lo. semakin kamu bersandiwara semakin sakit. dan kamu bisa menghancurkan dirimu sendiri.
Hunk: Karakter Gina mungkin merasa sendirian disini, tapi percayalah… anak harapan yang tak pernah dilirik bukan berarti tak berharga. Kadang semesta memang menunda keberuntungan, bukan menolaknya. Jangan berhenti ya, karena kerja keras yang hari ini tak terlihat, suatu saat akan jadi alasan orang lain menoleh. Tetap kuat, kak. Kamu lebih hebat dari yang kamu kira 🤍✨
total 1 replies
APRILAH
"Tunggu bentar, ca." kata Dio, membuat Gina pun menghentikan langkah kakinya, "res sleting mu terbuka, aku bantu benerin, ya." sambung Dio, menawarkan bantuan.

keknya lebih cocok gitu sih, kak. 🙏
APRILAH: tapi gak tau sih, aku biasa gitu kalo dialog aksi.
tapi gak tau kalo di genre lain
total 2 replies
Panda
cuma mau bilang deskripsi sama percakapan bisa lebih padet

di sini alur belum maju lagi 🤔
Panda
dari kalimat ini sampai beberapa paragraf ke bawah sebelum percakapan itu bisa dipadatkan sebenarnya

jadi awal chapter gak terkesan slow Pace karena ceritamu susah bertipe slow burn

perhatikan dinamis Pace
Hunk: Makasih banget masukannya, Kak panda. Aku paham maksudnya, bagian awal memang masih agak kepanjangan. Ke depannya bakal aku evaluasi biar pacing-nya lebih enak.

Maaf kan diriku yang masih banyak ke kurangan🙏/Cry/
total 1 replies
Serena Khanza
payungnya kek punya ponakan aku 😂😂😂
baby shark doo dooo doo
Kaka's
telat mulu.. 🤣🤣
Kaka's
jadi tukang servis nih 🤭
Kaka's
enak gak.. 🤭
Sean Sensei
/CoolGuy/ : ada yang punya nomor teleponnya?
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ Ⓥⓘⓥⓘⓐⓝ𓆪
Gina sama Azmi pagi" udah bikin sekolah heboh aja /Facepalm/
Panda
bagian akhirnya rada mellow ye e

chapter ini cukup menarik

slow burn yang cukup oke antara Gina dan Azmi 👍
Hunk: Makasih banyak kak🤭 Aku harap bisa bawain chapter yang lebih mellow nanti.
total 1 replies
APRILAH
songong emang kalo banyak duit mah
Hunk: Hahaha kapan ya aku bisa sombong kaya gitu pamer uang🤣. Makasih kak sudah membaca🙏
total 1 replies
Kaka's
coba baca dengan gaya.. menirukan adegan film film, 🤭🤭
Serena Khanza
apa ini apa ini🤔
azmi sama siapa sih mau mu.. gina apa rahmalian 😏
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ Ⓥⓘⓥⓘⓐⓝ𓆪
Apa sebenarnya rencana kedua orang tua mereka ya 🤔
kayak mau deketin Azmi sama gina
Val07
busyet tangannya ringan bener, main tarik rambut anak orang 🤣
Hunk: gpp dio emang pingin botak katanya.
makasih kak sudah membaca🤭🤭/Heart/🙏
total 1 replies
Serena Khanza
duuh kata kata nya jleb banget lagi 🥹
Serena Khanza: sama sama kak 🤭
total 2 replies
Panda
serius ini Dio nempel banget sama cewek cewek

kek nyaman bener

ga mau kasih dia temen Deket cowok atau dia harusnya ada geng cowok

aneh aja kalau dari perspektif cowok 😏

ada sih yang nempel sama geng cewek cuma ehem biasanya rada gemulai (maaaap)

main sama anak cewek itu ga bebas ga bisa gaplok2an yang biasa jadi 'bahasa' persahabatan antar cowok..

ini Dio beda sendiri dan baru kuliat di cerita

penasaran aja apa dia itu punya temen lain selain ngekorin cewek cewek???
Panda: nahhh kannn beneran ini harusnya Uda ada di lebih awal chapterrr biar Dio gak jadi sus 😏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!