Terjerat utang ratusan juta dan ancaman pernikahan paksa, Alisha kehilangan segalanya termasuk kenangan dari kekasihnya. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Aruna, wanita kaya berwajah identik yang menawarkan kontrak gila: Bertukar hidup demi pelunasan utang.
Alisha terjun ke dunia mewah yang palsu, namun tantangan sesungguhnya adalah kakak laki-laki Aruna. Pria dingin namun sangat penyayang itu mulai mencurigai perubahan pada "adiknya" sosok yang kini tampak lebih lembut dan tulus. Di balik kemegahan yang dingin, Alisha menyadari bahwa menjadi orang lain jauh lebih berbahaya daripada menjadi miskin saat ia mulai mempertaruhkan hatinya pada pria yang kini menjadi pelindungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Cermin yang Berbicara
Pintu lift berdenting pelan, terbuka langsung menuju area rooftop yang luas. Begitu melangkah keluar, angin kencang segera menyapu permukaan gedung, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.
Alisha berdiri mematung di depan pintu baja yang berat, jari-jarinya masih gemetar meremas tali tas yang kini hanya berisi amplop sepuluh juta rupiah.
Pikirannya berperang hebat. Logikanya berteriak bahwa ini adalah jebakan, namun kenyataan jauh lebih kejam. Motor Aliando belum tentu laku hari ini, dan uang sepuluh juta itu hanyalah tameng kertas yang tak akan mampu membendung niat busuk Mandor Darwis. Jika ia lari sekarang, ia tahu esok pagi ia akan berakhir sebagai pemuas nafsu pria tua itu.
Ia tidak punya pilihan selain menjadi nekat. Wanita asing itu tahu terlalu banyak tentang rahasia keluarganya, dan rasa penasaran yang bercampur ketakutan itulah yang mendorong Alisha untuk melangkah maju mendekati bayangan di ujung sana.
Di sudut rooftop, wanita misterius itu berdiri membelakanginya. Ia tengah menatap hamparan gedung pencakar langit Jakarta yang mulai menyala, seolah dunia di bawah sana berada dalam genggamannya.
Mendengar derit pintu dan langkah ragu Alisha, ia berbalik perlahan.
"Anda tahu apa yang terjadi pada keluarga saya," suara Alisha sedikit parau, beradu dengan deru angin. Ia tidak mau membuang waktu dengan basa-basi.
"Katakan, apa yang Anda inginkan? Jasa apa yang harus saya berikan agar Anda melunasi utang itu? Saya tahu uang sebanyak itu tidak akan pernah diberikan secara cuma-cuma."
Wanita itu terkekeh pelan suara yang terdengar elegan, namun sedingin es.
"Kamu pintar. Aku suka wanita yang langsung pada intinya."
Wanita itu melangkah mendekat, memangkas jarak hingga mereka hanya terpaut dua meter. Perlahan, ia melepas kacamata hitamnya, lalu dengan gerakan anggun, jemarinya yang lentik membuka kaitan masker sutra yang menutupi wajahnya.
Detik itu, waktu seolah berhenti berputar bagi Alisha.
Jantungnya seakan melompat keluar dari rongga dada. Alisha mundur satu langkah, hampir tersandung kakinya sendiri. Di hadapannya, berdiri seorang wanita yang memiliki setiap detail wajah yang sama persis dengannya. Bentuk mata, lekuk hidung, hingga garis bibir semuanya identik.
Alisha merasa seperti sedang menatap cermin yang hidup. Perbedaannya hanya satu, wanita di depannya mengenakan riasan tajam yang memancarkan aura otoritas tinggi. Sementara dirinya hanyalah gadis dengan polesan tipis yang tampak layu oleh beban hidup.
"Si... siapa kamu?" bisik Alisha dengan suara yang hampir hilang.
Wanita itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak menyentuh matanya yang kelam.
"Namaku Aruna. Dan seperti yang kamu lihat, kita memiliki aset yang sama."
Aruna menatap Alisha dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menilai yang dingin.
"Bertukar hiduplah denganku untuk sementara. Jadilah 'Aruna' di rumahku, dan aku akan melunasi seluruh utang keluargamu hari ini juga. Tidak ada lagi ancaman, tidak ada lagi Mandor Darwis."
Dunia Alisha terasa berputar. Tawaran itu lebih terdengar seperti vonis daripada solusi. Ia ingin berteriak, ingin bertanya bagaimana mungkin ada orang yang begitu mirip dengannya, namun lidahnya kelu. Ia hanya bisa menatap mata Aruna, mata yang identik dengan miliknya sambil merasakan kengerian yang perlahan merayap di punggungnya.
Aruna kembali mengenakan masker sutranya, namun tatapan matanya yang tajam tetap mengunci Alisha dengan intensitas yang mengintimidasi.
"Waktumu sepuluh menit untuk berpikir, Alisha. Sebelum Mandor Darwis sampai ke rumahmu dan mengambil sesuatu yang tidak akan pernah bisa dibayar dengan uang," ucap Aruna dingin.
Ia kemudian berbalik pelan, membiarkan Alisha berdiri sendirian di tepi jurang keputusan yang akan mengubah hidupnya selamanya atau justru menghancurkannya hingga tak bersisa.
semoga bisa bertahan sampai akhir ceritanya y thor..
semangat ✊✊