Enam belas tahun lalu, ia menyimpan rasa pada seorang perempuan yang tak pernah ia temui secara nyata.
Waktu berlalu, hidup menuntutnya dewasa,
namun perasaan itu tak pernah benar-benar pergi.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali,
perempuan itu telah menjadi ibu dari tiga anak,
dan ia dihadapkan pada cinta yang tak lagi sederhana.
Di antara keyakinan, tanggung jawab, dan logika,
ia harus menjawab satu pertanyaan paling berat dalam hidupnya:
apakah cinta cukup untuk memulai segalanya dari awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilacPink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama Yang Ku Cari
...****************...
Aku tidak pernah benar-benar mencarinya. Hidup berjalan seperti seharusnya bekerja, pulang, tidur, lalu mengulanginya lagi. Tapi entah sejak kapan, ada satu nama yang selalu muncul di sela-sela hal paling biasa.
Nama yang dulu hanya kutahu dari layar komputer dan pesan-pesan panjang larut malam, yang berisi curhat, tawa, dan hal-hal kecil yang tak pernah sempat menjadi apa-apa. Namun entah bagaimana, nama itu menetap paling lama di kepalaku.
Aku tak tahu sejak kapan aku mulai mengingatnya
lebih sering dari masa depanku sendiri.
Nama itu muncul lagi malam ini, saat aku membuka media sosial tanpa tujuan. Aku pikir aku salah orang. Aku pikir namanya terlalu pasaran.
Namun ternyata, perempuan itu yang namanya tertinggal lama di kepalaku kini mengikuti akun milikku.
Perlahan, ingatan itu kembali muncul. Ingatan tentang bagaimana dulu aku mengenalnya. Dari sebuah media sosial yang saat itu sedang booming: Friendster.
Tidak ada foto wajah sama sekali hanya gambar anime atau kartun-kartun lucu. Dari sana, percakapan kami berlanjut ke SMS. Kami tidak pernah bertemu. Saat itu ia masih berseragam SMA, sementara aku sudah duduk di bangku kuliah.
Kami sering bertukar SMS kala itu. Jika ingatanku tidak keliru, hampir satu tahun aku mengenalnya.
Pelan-pelan, itu menjadi kebiasaan. Dari sekadar saling mengingatkan shalat, menanyakan apakah sudah makan, hingga ribut-ribut kecil yang tak pernah benar-benar serius.
Waktu berjalan tanpa terasa.
Satu tahun berlalu begitu saja, seolah tidak pernah dihitung. Aku pernah meneleponnya beberapa kali sebelumnya. Tak ada yang aneh. Tak ada yang mencurigakan.
Hingga suatu hari, panggilan itu dijawab oleh suara yang bukan miliknya.
“Kamu lagi ngapain?” tanyaku, seperti biasa.
Suara di seberang sana terdengar tegas.
“Aku suaminya,” katanya singkat.
“Tolong jangan telepon lagi. Hana sudah menikah.”
Setelah panggilan itu terputus, aku tidak langsung percaya. Pada hari yang lain, aku mencoba menelepon lagi. Namun kali ini, nomor itu sudah tidak aktif.
Aku merasa aneh mengapa selama ini Hana tidak pernah bercerita apa pun. Banyak pertanyaan berputar di kepalaku. Mungkin baginya, aku tidak lebih dari sekadar teman dunia maya. Seseorang yang hadir di layar, tapi tidak pernah benar-benar dianggap ada. Atau mungkin, sejak awal aku sendirilah yang memberi makna berlebihan pada sesuatu yang baginya tak pernah sedalam itu.
Malam itu aku duduk lama menatap layar ponsel.
Tidak ada yang bisa ku ketik. Tidak ada yang bisa kukirim. Untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar sendirian, tanpa tahu apa yang sebenarnya hilang. Rasanya sepi.
Sejak hari itu, aku tidak pernah mencoba menghubunginya lagi. Bukan karena aku mengerti,
tapi karena aku tidak tahu harus bertanya kepada siapa. Dan entah bagaimana, hidupku terus berjalan tanpa pernah benar-benar bergerak ke mana pun.
Ada satu hal yang tidak pernah ku ceritakan kepada siapa pun. Sebuah kenangan kecil yang kusimpan diam-diam, seolah jika diketahui orang lain, perasaanku akan terlihat terlalu berlebihan.
Dulu, saat ponsel belum bisa menyimpan percakapan dengan mudah, aku pernah melakukan sesuatu yang bahkan sekarang terasa konyol. Aku membawa ponselku ke sebuah tukang foto kecil di pinggir jalan. Dengan kamera seadanya, aku meminta mereka memotret layar ponselku pesan-pesan panjang yang pernah kami kirimkan satu sama lain.
Aku menahan rasa malu sepanjang proses itu berpura-pura tenang, seolah ini hanya urusan biasa, padahal dadaku berdebar karena takut dianggap aneh. Tapi aku nekat. Karena saat itu, aku takut kehilangan satu-satunya bukti bahwa kami pernah saling berbagi cerita.
Foto-foto itu kemudian ku cetak. Tidak banyak. Tidak pula ku pamerkan. Aku menyimpannya rapi di kamarku, diselipkan di antara buku-buku lama. Sebagai pengingat, bahwa pernah ada seseorang yang hadir dalam hidupku meski hanya lewat kata-kata.
Namun malam ini, dari sekian banyak nama yang muncul di layar, satu di antaranya terasa berbeda.
Entah mengapa, dadaku terasa lebih hening saat membacanya. Seperti sebuah nama yang pernah kucari, lalu ku pendam terlalu lama. Aku tidak berani memastikan apa pun. Tapi ketika akun itu mulai mengikuti ku, aku tahu ada sesuatu yang kembali mengetuk, dengan cara yang tak pernah ku persiapkan.
Aku tidak langsung membuka profil itu.
Aku membiarkannya ada di sana, seperti sebuah pertanyaan yang sengaja ku tunda jawabannya.
Karena aku tahu, begitu aku menekannya, sesuatu dalam diriku akan berubah. Dan untuk kedua kalinya dalam hidupku, aku takut bukan kehilangan seseorang, tapi menemukan kembali sesuatu yang seharusnya sudah selesai.