“Pokoknya kakak harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.” “Iya, iya. Bawel banget jadi anak. Lagian masih sd udah ngerti nikah nikahan dari mana sih? Nonton tuh Doraemon, jangan nonton sinetron.” “Janji dulu,” Ayunda mengulurkan jari kelingking. “Janji.” Ikrar mereka saat masih kecil, menjadi pegangan untuk ayunda sampai dia remaja. Hanya saja, saat ayunda remaja, Zayan sudah bukan lagi anak kecil seperti dulu. Perjalanan hidupnya mengantarkan Zayan pada banyak kisah. Akankah kisah tentang janji pernikahan itu masih dipegang oleh Zayan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CMK#2
“Tanteeee ….”
Ayunda memang sudah seperti anak bagi Ratna dan Herman. Dia sudah tidak segan-segan lagi jika berkunjung ke rumah Zayan.
“Si bungsu udah pulang. Kamu pasti laper kan? Nih, tante udah masak makanan kesukaan kamu. Pepes ikan mas yang banyak telornya.” Ratna begitu antusias menjelaskan menu yang baru saja dia masak.
“Ma, anak mama itu aku. Bukan dia. Aku yang harusnya mama sambut karena baru pulang.”
“Sama aja, kak. Kita itu satu. Tante masak ikan mas juga kan emang kesukaan kakak juga. Ya kan, tante?”
“Pinter banget kamu.”
Ayunda mengedipkan satu mata pada Zayan. Pria itu langsung memalingkan wajah.
Makanan siap, Zayan, Ratna dan Ayunda duduk di meja makan. Ayunda dan Zayan duduk bersebelahan. Sementara Ratna berada di seberang ayunda. Ada tiga kursi kosong lagi karena pemiliknya belum datang.
Ada yang mengucapkan salam dari luar. Suaranya sudah terdengar jelas menunjukkan siapa yang datang.
“Baunya enak banget. Udah kecium dari luar. Waaaah, ada yunda rupanya. Baru ke sini lagi kamu, Nak?”
“Hehe, iya om. Sibuk soalnya. Om apa kabar?”
“Om baik, alhamdulillah sangat baik.”
“Hmmm! Padahal yang udah lama gak pulang tuh aku loh? Kalian sadar gak?”
Mereka hanya tersenyum sambil meneruskan kegiatan makan siangnya tanpa menanggapi ucapan Zayan.
“Itu jidat kamu kenapa lagi, Yunda?” Tanya Herman.
“Apa lagi kalau bukan habis maling.” Ucap Zayan ketus.
“Ih, nggak kok. Kakak mah ngarang. Tadi aku habis jatuh di kelas karena lari.”
“Yakin?” Tanya Zayan sambil melotot pada Ayunda.
Gadis itu menendang kaki Zayan agar laki-laki itu diam.
“Bang Arkan belum pulang, Tan?”
“Katanya sih nanti malem baru bisa pulang. Soalnya habis ke kota dulu meriksa persediaan pupuk.”
“Owh, terus rencananya kapan Bang Arkan mau nikah? Ceweknya yang waktu itu ke sini kan?”
“Gak taulah dia gak jelas. Bawa cewek ke sini tapi belum pasti mau kapan nikahnya. Padahal umur udah gak muda lagi. Tante tuh pengen banget nimbang cucu, biar rumah ini rame. Ramenya kalau ada Yunda aja, itupun kalau Zayan pulang. Kalau Zayan gak di rumah mana mau kamu main ke sini.”
“Hehehe, gak ada yang jemput tante. Aku kan malu kalau tiba-tiba datang ke sini tanpa alasan.”
“Ohhhh, jadi kamu punya rasa malu juga?”
“Adalah. Meski sedikit,” jawab Ayunda.
Zayan menggelengkan kepala. Ayunda memang anak yang sangat ceria dan aktif. Tidak heran Ratna yang memiliki tiga putra sangat menyukainya. Meski ceria dan aktif, ayunda juga sopan dan baik hati.
“Ngomong aja, itu ikan nya perhatiin banyak durinya itu. Pegel dari tadi misahin duri ikan.”
“Hehehe, makasih kakak.”
Zayan memang terlihat galak dan selalu ketus pada ayunda, tapi dia juga sangat perhatian pada hal-hal kecil yang berkaitan dengan gadis itu.
Setelah makan siang usai, Ayunda membantu Ratna mencuci piring. Dia juga merapikan meja dan membersihkan nya.
“Kita bikin pisang goreng dulu buat om minum kopi.”
“Oke. Aku kupasin pisang nya ya. Kalau bikin adonan takut salah kayak dulu.”
Ratna tertawa. Bagaimana tidak, dulu Ayunda membuat adonan dan yang dia tuangkan bukan gula melainkan garam.
Selagi Ayunda dan Ratna membuat pisang goreng, Zayan dan Herman ngobrol di gazebo belakang rumah sambil melihat ikan yang berenang kesana kemari.
“Gimana kerjaan kamu? Apa sudah ada niatan buat pindah ke sini? Nanti papa bikin klinik agar orang-orang sekitar bisa berobat. Kasian kalau harus jauh ke kecamatan sana. Ojeknya aja berapa?”
“Belum siap, Pa. Zayan masih harus banyak belajar tentang beberapa penyakit. Takutnya nanti malah salah ngasih penanganan kan bahaya.”
“Iya juga, sih. Terus, terus, kamu di sana gak macam-macam kan? Maksud papa sama perempuan.”
Zayan terdiam.
“Papa tau, kamu merasa keberatan kan dengan perjodohan ini? Tapi Zayan, kami pun penuh perhitungan dan tidak sembarangan mengambil keputusan.”
“Papa tenang aja, aku gak punya pacar kok di kota. Aku juga gak keberatan dengan perjodohan ini.”
Herman mengangguk.
“Nanti setelah Yunda lulus sekolah, kita akan melamar dia. Kamu bertunanganlah dulu dengannya. Simbolis bahwa kalian sudah saling memiliki.”
“Loh, dia gak kuliah dulu?”
“Ck, perempuan itu gak harus kuliah lah. Toh ujungnya pasti ngurus rumah sama anak juga.”
Zayan menghela nafas dalam. Mindset orang-orang di desanya tidak ada perubahan sama sekali. Sangat disayangkan mengingat Ayunda adalah anak yang cerdas dan pintar. Meski sikapnya memang petakilan dan sedikit liar.
“Pisang goreeeeng.”
Zayan kembali menghembuskan nafas berat saat mendengar suara calon istrinya itu.
“Yakin ini gak asin lagi?”
“Tenang, Kak. Tante yang bikin, aku cuma motong pisang nya aja kok. Jadi, aman. Rasanya pasti enak.”
Zayan tersenyum kecil.
“Kakak makan pisangnya satu aja ya. Soalnya aku harus cepet pulang.”
“Kenapa memangnya?” Tanya Herman. “Biar nanti om telpon orang tua kamu aja.”
“Mereka mah gak akan marah om kalau tau aku di sini. Cuma aku nya udah ada janji sama temen.”
“Mau maling buah apa lagi?”
“Ih, kakak mah gitu. Orang aku mau ngaji ke mesjid. Mau ada rapat remaja mesjid. Sebentar lagi maulid nabi. Mau ngomongin acara maulidan nanti. Ya gitu lah pokonya.”
“Oh, begitu. Ya sudah, kamu cepet anterin ayunda dulu. Pisang nya nanti papa sisain.”
“Iya, Pa.”
Saat ayunda dan Zayan keluar rumah, di saat yang bersamaan mobil milik Arkan datang. Ayunda sengaja diam menunggu agar bisa menyapa kakak kedua Zayan.
“Eh, Yunda. Tumben maen. Oh iya, Zayan nya datang.”
“Abang udah pulang? Kata tante nanti malem.”
“Abang gak jadi ke kota. Eh, kebetulan. Kemarin abang lihat sesuatu terus keinget sama kamu.”
“Apa?” Tanya Ayunda antusias.
Arkan kembali membuka pintu mobil, lalu mengambil sesuatu dari sana.
“Ini.”
“Iihhhhh lucu banget.”
“Mirip kamu,” ujar Zayan.
“Lucu?”
“Berisik kayak bebek,” timpal Arkan.
“Ihhhh abang!”
Zayan dan Arkan melakukan tos. Mereka berdua berhasil menjahili Ayunda.
“Aku marah sama abang. Kenapa gak mihak aku sekarang?”
“Nah, nah. Mirip kan bibirnya kalau lagi marah.”
“Abang mahhhhhh.”
Arkan tertawa sambil mengacak rambut Ayunda. Dia berlalu meninggalkan mereka berdua dan masuk ke rumah.
Arkan mengambil air yang ada di dalam lemari es. Dia melihat ayunda dan Zayan masih berdebat di luar sana. Dia menghembuskan nafas berat, lalu menggaruk pelipisnya saat melihat Zayan dan Ayunda seperti dua ekor anak kucing yang sedang bermain. Saling mencakar tapi sebenarnya perasaan sayang.
Dengan langkah yang lebar, Arkan pergi menaiki anak tangga menuju kamarnya. Pintu ditutup dengan kasar hingga Ratna yang sedang di kamar pun mendengar suara itu.
“Marah kenapa lagi itu Arkan. Berantem sama pacarnya apa gimana,” gumamnya.