Apa yang sebenarnya di maksud dengan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karang Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Plan and Permission
Enjoy your time gaya.....
Baru juga turun dari mobilnya dan mobil itu pergi meninggalkan tempatnya, Aurora langsung di sambut dengan kedatangan Audrey yang tiba-tiba merangkulnya dari arah belakang sekaligus mengejutkan.
"Cie-cie yang tadi malem ngedate.....Pergi kemana aja sama mas suami?" Ledek Audrey dengan senyum menyebslkan.
Audrey dan ketiga temannya yang lain baru melihat postingan instagram Aurora pagi tadi, jadi mereka tak sempat untuk membahas hal itu di obrolan Grup chat mereka.
Itu sebabnya dia begitu bersemangat untuk berangkat kuliah pagi ini karena ingin menggoda Aurora secara langsung tentang apa yang di postingnya semalam.
"Nonton festival musik sambil makan jajan pinggir jalan."
"Seru tuh. Habis itu ngapain aja?"
"Cuma itu doang terus pulang."
"Ohh..... Kayaknya ada yang mulai ngerasa nyaman nih sekarang?"
Tak menggubris ucapan sang teman yang mulai mengarah masalah percintaan, Aurora pun membawa kakinya melangkah untuk memasuki gedung kampus tempat kelasnya berada. Tentu di ikuti Audrey yang berjalan di sampingnya seraya masih merangkul pundaknya karena mereka memang ada di kelas yang sama.
Dari mereka berlima, Aurora adalah orang yang paling jarang atau bahkan tidak pernah memposting kegiatannya di berbagai media sosial miliknya. Kecuali, jika moment itu memang benar-benar penting atau berharga untuknya, baru Aurora akan melakukannya.
Bahkan dulu, saat hubungannya dengan Kenzo masih baik-baik saja, Aurora tak pernah memposting kebersamaan mereka. Audrey dan teman-temannya tahu keduanya pergi kemana pun dari postingan Kenzo atau Kenzo sendiri yang memberitahu mereka.
Saat mereka pertama kali berteman dulu, Audrey dan teman-temannya sempat melayangkan protes karena Aurora yang tak pernah membagikan momen kebersamaan mereka dan menganggap Aurora malu berteman dengan mereka.
Tapi, seiring berjalannya waktu, Audrey dan teman-temannya mulai mengerti dan memahami tentang kebiasaan Aurora. Dia, hanya akan melakukan itu jika dirinya sudah mulai merasa nyaman dengan orang itu.
"Udah mulai jatuh cinta belum?" Seakan belum mau menyerah, Audrey justru dengan berani menanyakannya secara langsung.
Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini sampai dia begitu penasaran dengan perasaan yang dimiliki Aurora sekarang pada Luca.
"Gak tau." Sahut Aurora acuh seraya menghentikan langkahnya di depan pintu lift dan menekan tombol yang ada di sana.
"Kalo gak tau itu artinya udah."
Lagi-lagi tak menanggapi, Aurora hanya melirik Audrey sekilas lalu masuk ke dalam lift karena pintu yang sudah terbuka.
Ikut masuk ke dalam, Audrey pun menekan tombol nomer lantai tempat dimana kelas mereka berada untuk kembali menutup pintu liftnya.
"Lo udah pernah bilang sama Luca kalo lo jatuh cinta sama dia?" Tanya Audrey kembali mengiringi naiknya lift yang mereka tumpangi.
"Enggak. Buat apa?"
Keraguan tentang perasaannya sendiri adalah alasan Aurora untuk tidak mengungkapkan hal itu pada Luca. Dia masih belum yakin apakah perasaannya saat bersama Luca adalah rasa cinta seperti yang teman-temannya katakan atau hanya sekedar rasa nyaman dan kagum yang selalu Luca berikan.
"Yeee........ Dasar aneh lo. Cowok juga perlu kepastian kali Ra...... Setidaknya dengan lo ngomong ke dia tentang perasaan lo, dia jadi gak bingung lagi nantinya."
"Emang harus?" Tanya Aurora menatap Audrey dengan tatapan polosnya.
"Astaga. Capek deh gue. Lo tuh polos atau emang bego sih masalah cinta?" Menghembuskan nafas panjang, Audrey menepuk jidatnya sendiri dengan perasaan kesal. Membahas masalah cinta dengan Aurora memang perlu ekstra sabar.
"Gini ya, sedari awal kan lo tau sendiri kalo Luca selalu nunjukin rasa cintanya sama lo, masak iya lo gak ada feedback sama sekali ke dia?"
"Kata siapa gak ada? Dengan gue ngelakuin setiap tanggungjawab gue sebagai seorang istri, emang itu gak bisa di sebut feedback?" Tak mau disalahkan, Aurora mencoba melakukan pembelaan.
"Beda dong Grizelle Aurora..... Itu kan kewajiban.... Kalo cinta itu kasih sayang sama perhatian...."
Ting....
Terbukanya pintu lift sejenak menghentikan obrolan diantara mereka.
Keluar dari sana bersama, keduanya melangkah beriringan menuju kelas mereka yang ada di lorong dua ruang paling ujung sebelah kiri.
"Cowok itu juga punya rasa sabar. Ya emang sih kalian udah nikah dan Luca juga udah janji buat ngejagain lo dan jadiin lo satu-satunya cewek di hidup dia. Tapi.... Bukan berarti dia juga gak punya rasa jengah."
"Maksud lo?" Seketika menghentikan langkahnya, Aurora langsung berbalik menatap Audrey di sebelahnya dengan tajam. Entah kenapa pernyataan Audrey barusan membuatnya sedikit kesal dan tak suka.
"Sorry kalo ini kedengerannya lancang atau nyakitin perasaan lo. Tapi gini deh, misalkan tiba-tiba ada cewek yang suka sama Luca.... Terus, cewek itu terang-terangan nunjukin perhatian sama kasih sayangnya buat Luca yang mana lo sama sekali gak pernah lakuin itu ke dia. Habis itu, Luca kepengaruh, emang lo mau?"
Jujur, tak sepantasnya Audrey mengatakan hal itu di depan Aurora. Karena bisa saja Aurora menjadi tersinggung serta salah paham dan hubungan pertemanan mereka yang menjadi taruhan. Apalagi, pembahasan ini di area kampus dan menyangkut tentang rumah tangga Aurora yang Audrey sendiri sebenarnya tak perlu untuk ikut campur di dalamnya.
Tapi, sebagai seorang teman yang begitu peduli, Audrey tak pernah mau melihat teman-temannya terluka atau kecewa. Meski terkadang, hal itu dianggap berlebihan atau mengganggu oleh teman-temannya sendiri.
"Kok lo tiba-tiba bisa kayak gitu ngomongnya?" Mencoba untuk tak menyalahkan artikan omongan Audrey barusan, Aurora memancingnya dengan sebuah pertanyaan agar dia bisa tahu lebih jelas apa maksud dan tujuan sang teman yang tiba-tiba mengangkat obrolan itu sekarang.
"Ya gue kasian aja sama hubungan rumah tangga kalian....... Semakin kesini kayak gak ada perkembangan apapun. Terlalu datar."
"Kan setiap hubungan itu gak bisa selalu di samain atau di bandingin sama hubungan orang lain Audrey....."
"Iya..... Gue tau. Gue juga gak mau ikut campur terlalu dalem sama hubungan kalian. Toh, kalian juga yang ngejalanin dan kalian juga yang lebih tau tentang hubungan kalian. Tapi....."
"Tapi apa?"
"Emang sih sampe sekarang keliatannya fine-fine aja, tapi gue justru gak mau kalo itu jadi bom waktu buat kalian berdua nantinya. Jangan sampe nantinya lo nyesel karena lo terlambat ngambil keputusan."
Memiliki seorang sahabat sejati adalah impian bagi semua orang, tanpa terkecuali Aurora.
Dipertemukan dengan Audrey dan teman-temannya di masa SMA membuat Aurora tak pernah henti mengucap rasa syukur dan bahagia karena mereka yang selalu mendukung, menjaga, dan ada di setiap momen dalam hidupnya entah itu sedih atau suka cita.
Semua memiliki porsi dan keunikannya masing-masing. Tak bisa dibanding-bandingkan satu sama lain karena mereka di satukan memang untuk saling melengkapi. Bukan menjadi yang paling hebat atau yang paling berjasa di atas yang lainnya.
Seperti Audrey, diantara mereka bersama, dia adalah sosok yang paling peduli, perhatian dan penyayang. Rela menjadi garda terdepan untuk teman-temannya saat ada kesulitan atau membutuhkan bantuan. Tak pernah mengeluh yang penting teman-temannya bahagia. Walau tak jarang, itu merugikan dirinya sendiri dan membuatnya ada dalam bahaya.
"Woi! Ara?!" Tegur Audrey sedikit berteriak seraya mengibas-ngibaskan tangannya di depan Aurora. Mengejutkan Aurora yang beberapa saat lalu sempat terdiam karena tak menyangka dengan ucapan kepedulian Audrey terhadapnya.
"Kenapa lo? Kok tiba-tiba bengong gitu ngeliatin gue? Ada yang salah sama wajah gue?" Tanya Audrey dengan wajah kebingungannya. Tapi sedikit takut kalau-kalau Aurora tiba-tiba kesurupan setan karena sang teman yang kini justru menatapnya dengan lekat dan dalam.
"Audrey?" Panggil Aurora masih belum mengalihkan pandangannya sedikitpun dari wajah Audrey.
"Hm?"
"Lo sehat kan?" Sambil bertanya, Aurora menempelkan punggung tangannya di kening Audrey.
"Sehat. Emang gue kanapa? Keliatan sakit?" Menurunkan tangan Aurora dari keningnya, Audrey dengan sendiri mengecek suhu tubuhnya. Rasanya, tak ada yang salah dengan tubuhnya saat ini.
"Iya, gak panas." Ucap Aurora terdengar aneh.
"Terus?"
"Lo kayak bukan Audrey yang biasa gue kenal."
"Huh?"
"Lo nyadar gak sih kalo lo dari tadi itu banyak ngomong? Atau jangan-jangan...... Lo bukan temen gue Audrey, lagi?"
"Sialan! Gue serius Aurora. Malah becanda." Terlanjur menanggapinya dengan serius, Audrey spontan memukul kepala Aurora pelan karena kesal.
"Hahahaha......habisnya lo aneh." Tawa Aurora puas karena berhasil mengerjai sang teman.
Tanpa mengucapkan maaf, Aurora merangkul lengan Audrey untuk kembali melanjutkan langkah menuju kelas mereka yang sebenar lagi di mulai.
"Tapi btw, thanks ya Rey buat saran sama masukannya. Nanti coba gue pikiran lagi deh buat kedepannya harus gimana." Ucap Aurora tersenyum tulus menatap Audrey di tengah langkah mereka.
"Sama-sama. Pokoknya, kapanpun itu lo butuh gue sama anak-anak, kita pasti bakalan stay buat lo."
***
Tugas akhir semester memang selalu merepotkan. Jika tidak diselesaikan dengan cepat, maka waktu libur yang harusnya bisa di manfaatkan untuk bersenang-senang akan terbuang percuma karena sibuk mengerjakan tugas.
Itu sebabnya Aurora dan teman-temannya selalu berusaha menyelesaikan semuanya sebelum batas akhir waktu yang diberikan agar mereka bisa menikmati hari libur dengan bersenang-senang seperti tahun-tahun sebelumnya.
Seperti sekarang. Berkumpul di tempat biasa, mereka fokus dengan tugas masing-masing tanpa adanya gangguan dari satu sama lain.
Menjadi yang pertama selesai, Audrey langsung menutup laptopnya dan merapikan buku-bukunya lalu memasukkannya ke dalam tas. Setelah itu, dia baru mengambil handphonenya untuk bersantai sembari menikmati berbagai cemilan dan minuman yang sejak tadi sudah tersedia di hadapan mereka.
"Gays? Btw kita mau liburan kemana nih tahun ini?" Tanya Aurora memulai obrolan diantara mereka. Dia juga sudah selesai dengan tugas kuliahnya lalu di susul Alexa, Alice dan juga Aline.
"Kemana aja mah ngikut gue, yang penting masih ada pantainya." Jawab Alexa seraya menutup laptopnya.
"Lo mah emang gak suka mikir. Kali-kali kasih rekomendasi kek...... Jangan ngikut doang." Sahut Audrey dengan nada sedikit sinis.
"Males gue. Nanti kalo gak sesuai sama ekspektasi kalian, ujung-ujungnya gue juga yang di salahin."
"Itu mulu lo alesannya."
"Hmmmm....... Gimana kalo ke karimun Jawa? Tempatnya asyik, pantainya bersih, gak terlalu rame orang juga, pokoknya cocok deh buat healing kita." Ucap Aurora memberi usulan.
"Boleh tuh. Kayaknya seru. Gue setuju." Balas Alice antusias.
"Kalian bertiga gimana?" Menatap ketiga temannya yang lain, Aurora meminta pendapat.
"Gue sih setuju aja. Tapi, ada kegiatan yang bisa kita lakuin selama di sana gak? Kalo cuma liat pantai sama nikmatiin pemandangan doang, gak asyik dong?" Ucap Audrey karena diantara mereka dirinya yang paling gampang bosan jika tak ada kegiatan.
"Ada kok. Tenang aja...... Liburan kita kali ini pasti bakalan lebih seru daripada sebelum-sebelumnya."
"Tapi Ra, sekarang kan lo udah nikah. Lo pastinya gak bisa pergi gitu aja kayak dulu. Kalo Luca gak ngijinin gimana?" Tanya Aline yang akhirnya buka suara.
"Bener juga tuh. Kenapa gue gak kepikiran soal itu tadi ya?" Sahut Alice.
"Nanti gue coba bilang sama Luca. Semoga aja dia ngizinin gue buat pergi bareng kalian."
"Semoga aja. Gak seru kalo liburan gak ada lo soalnya." Ucap Alexa.
"Ya udah, balik yuk?" Ajak Audrey lebih dulu berdiri dan memakai tasnya.
Menerima ajakan yang diberikan, Aurora dan teman-temannya pun membereskan barang-barang mereka lalu pergi dari sana bersama-sama.
***
Menikmati secangkir kopi di tengah malam memang sudah menjadi kebiasaan Aline sebelum tidur sejak lama.
Membawa kakinya melangkah menuju teras samping rumah di dekat kolam renang, Aline meletakkan gelasnya di atas meja lalu duduk di sana.
Dinginnya udara malam seperti tak ada pengaruh apa-apa untuk Aline karena kembaran Alice itu terlihat begitu menikmati waktu sendirinya.
Sampai tiba-tiba......
Ting..
Sebuah bunyi notifikasi pesan dari handphonenya terdengar.
Mengambil beda pintar itu dari dalam saku celananya, Aline membuka notifikasi yang tertera di layar.
...Grup Chat...
Alexa
Cek cek. Ada orang gak nih?
Alice
Kenapa Alexa Hartawan? Gak bisa tidur ya lo tengah malem gini ngechat?
Alexa
Hehehe..... Tau aja lo Lice. 😁😁😁
^^^Orang tua lo belum balik? ^^^
Alexa
Udah. Emang lagi gak bisa tidur aja.
Aurora
Kenapa? Kepikiran apa lo?
Alexa
Gak kepikiran apa-apa Aurora.... Emang lagi gak bisa tidur aja.😇😇😇
Oh ya Ra. Lo udah bilang sama Luca tentang rencana liburan kita?
Aurora
Belum. Tadi selesai makan malem dia langsung masuk ruang kerjanya. Kayaknya dia lagi sibuk banget, jadi gue takut ganggu.
^^^Lo juga, kenapa belum tidur Aurora?^^^
Aurora
Gue baru selesai ngerjain tugas. Niatnya sih mau tidur, tapi tiba-tiba ada chat masuk.
Audrey
Kapan rencananya lo mau bilang sama Luca soal rencana kita?
Aurora
Secepatnya.
Alice
Kenapa gak sekarang aja Ra? Mungkin Luca udah selesai sama kerjaannya. Lebih cepat lebih baik kan?
Alexa
Setuju. Kalo misalkan Luca gak ngasih izin, kita bisa bikin rencana baru buat liburan kita.
Aurora
Oke. Gue coba.
Sadar jika tidak akan ada lagi obrolan yang tercipta, Aline pun meletakkan handphonenya di atas meja lalu kembali menikmati secangkir kopi miliknya seraya memandang ke arah depan entah memikirkan apa.
Di tempat berbeda, Aurora yang masih duduk di atas tempat tidurnya terlihat memikirkan saran dari sang teman tentang rencana mereka.
Melihat jam di dinding kamarnya yang sudah menunjukkan hampir pukul 12 malam, membuat Aurora sedikit ragu untuk melaksanakan saran itu. Iya kalau Luca masih ada di ruang kerjanya, tapi kalau sudah tidur bagaimana? Dia pasti akan mengganggu nanti.
Berpikir sejenak dan memantapkan hati, Aurora akhirnya membawa kakinya untuk turun dari tempat tidur dan keluar kamar. Semoga saja Luca masih ada di ruang kerjanya dan belum tidur.
Menuruni anak tangga perlahan, Aurora menuju sebuah ruangan yang ada di sebelah kamar Luca.
Tok tok tok....
"Luca? Gue boleh masuk gak?" Tanya Aurora meminta izin setelah mengetuk pintu.
"Masuk aja Ra, gak di kunci." Sahut Luca dari dalam mengizinkan.
Membuka pintu kayu itu perlahan, hal pertama yang Aurora lihat adalah dinding kaca besar. Setelah masuk lebih dalam dan menutup pintu itu kembali, Aurora baru di suguhkan dengan satu rak buku berukuran besar, satu set sofa yang ada di tengah ruangan, meja kerja Luca, serta akuarium besar berisikan ikan arwana yang sangat cantik dan menawan. Maklum, ini pertama kalinya Aurora masuk ke ruang kerja Luca selama mereka menikah.
"Lo... Lagi sibuk ya? Gue ganggu gak?" Tanya Aurora saat melihat Luca begitu fokus dengan layar komputer di depannya serta ada beberapa map yang berserakan di atas meja.
"Gak kok, kenapa?" Mengalihkan pandangannya dari layar komputer, Luca menggeser kursi yang di duduknya untuk menghadap Aurora yang duduk di sofa tak jauh dari meja kerjanya.
"Gak papa. Lo lanjutin aja kerjaannya kalo gitu."
Sebenarnya, Luca tahu kalau ada sesuatu yang ingin Aurora sampaikan padanya. Tapi, Luca juga tak ingin lebih dulu bertanya apalagi memaksa. membiarkan sang istri dengan sendiri menceritakannya.
Kembali melanjutkan pekerjaannya dengan tenang, Luca sama sekali tak penasaran tentang apa yang ingin Aurora katakan. Dia juga membiarkan sang istri untuk tetap berada di ruang kerjanya dan menikmati waktunya.
15 menit berlalu dan hanya diam, Aurora akhirnya bangkit dari tempat duduknya untuk membawa kakinya melangkah menuju akuarium besar yang ada di sana. Memperhatikan ikan arwana itu dengan seksama seolah-olah tengah mengamati sesuatu yang ada di dalam sana.
"Ikan ini dari kapan ada disini?" Tanya Aurora basa-basi seraya mengalihkan pandangannya ke arah Luca yang tengah sibuk dengan berkas-berkas di tangannya.
"Dari seminggu sebelum kita pindah." Sahut Luca tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.
Tak lagi tertarik dengan ikan yang ada di dalam akuarium, Aurora membawa kakinya melangkah menuju rak buku yang ada di belakang meja kerja Luca.
Hanya dari melihatnya saja, Aurora tahu jika semua buku yang tertata di sana berbau tentang bisnis. Tapi, ada satu buku yang menarik perhatian Aurora dan membuatnya menarik buku itu dari deretan buku yang menghimpit di sebelahnya.
Tanpa beranjak dari tempat berdirinya, Aurora membaca buku itu dari halaman pertama. Sementara Luca yang sejak tadi begitu sibuk dengan pekerjaannya akhirnya merapikan semua berkas yang ada di atas meja dan meletakkannya ke dalam laci meja.
Melihat hal itu dari ekor matanya, Aurora pun meletakkan buku itu kembali ke tempatnya.
"Luca?" Panggil Aurora berharap kini Luca memberikan perhatian lebih padanya.
"Hm?" Sahut Luca bergumam karena ada sesuatu yang masih dia selesaikan di dalam komputernya.
"Libur semester bulan depan gue sama temen-temen ada rencana buat liburan ke Karimun Jawa. Gue boleh pergi gak?" Tanya Aurora akhirnya memberanikan diri.
"Boleh."
"Beneran boleh?" Tanya Aurora lagi karena terkejut dan tak percaya. Luca sama sekali tak berpikir saat memberikan izinnya.
"Iya......Gue tau kok kalo itu emang udah jadi kebiasaan rutin kalian setiap libur semester." Memutar kursinya menghadap Aurora yang berdiri tak jauh di sebelahnya, Luca tersenyum lembut memberi Aurora keyakinan jika dia memang benar memberikan izinnya tanpa syarat.
"Kok lo bisa tau?" Tanya Aurora lagi penuh selidik. Dia tak pernah menceritakan hal itu pada Luca, jadi bagaimana mungkin dia bisa mengetahuinya?
"Apa sih yang gak gue tau tentang lo? Semuanya gue tau." Alih-alih menjawabnya dengan cara yang serius, Luca justru tersenyum penuh arti seraya menaik turunkan alisnya seolah sedang meledek Aurora.
"Luca ih, resek banget. Gue serius." Kesal Aurora karena Luca malah bercanda.
"Ya gue juga serius. Semua tentang lo, gue tau." Masih dengan senyum yang sama, Luca kembali memutar kursinya menghadap komputer dan menyelesaikan pekerjaannya.
"Lo......beneran ngizinin gue buat pergi?" Tanya Aurora sekali lagi untuk memastikan.
"Iya....."
"Lo gak keberatan kalo gue tinggal?" Luca yang begitu mudah mengizinkannya entah kenapa membuat Aurora justru merasa aneh dan sedikit curiga.
"Enggak. Kan gue bisa pergi nongkrong sama temen-temen gue kalo gue bosen. Lagian, gue juga ada kerjaan di kantor. Jadi santai aja. Gak perlu khawatir."
"Kok lo gak pernah ngomong enggak sih sama setiap permintaan gue? Selalu bilang iya."
"Kenapa? Lo pengen gue jadi suami yang posesif dan ngelarang istrinya buat lakuin ini itu?"
"Ya gak juga sih.... Tapi aneh aja karena lo gak pernah nolak permintaan gue."
"Pernah. Pas lo sakit kemaren, gue nolak permintaan lo buat berangkat kuliah. Jadi gak selalu bilang iya mulu...."
Selesai dengan pekerjaannya, Luca tak lupa menyimpan file itu terlebih dahulu sebelum akhirnya mematikan komputernya.
Memutar kembali kursinya untuk menghadap Aurora yang masih setia di tempatnya, Luca tersenyum lembut membalas tatapan Aurora yang masih menuntut penjelasannya.
"Dari awal kita nikah, gue udah bilang ke diri gue sendiri buat gak ngelarang-ngelarang lo lakuin apapun kesukaan lo. Asalkan itu bisa bikin lo happy dan gak ngebahayain diri lo, gue pasti izinin kok." Ucap Luca di akhiri dengan senyuman.
"Thanks ya Luca."
"Sama-sama."
"Emang rencananya mau berapa lama liburan di sana?" Pekerjaannya memang sudah selesai, tapi Luca masih belum ingin menyudahi obrolannya dengan Aurora. Jadilah ia mencari pertanyaan lain agar kebersamaan mereka bisa sedikit lebih lama.
"Sampe waktu liburan selesai."
"Huh? Lama dong?" Kali ini giliran Luca yang di buat kaget. Itu artinya, Aurora akan pergi selama hampir 2 bulan lamanya.
"Biasanya emang gitu. Kita bakalan balik kalo udah waktunya masuk kuliah lagi. Lo..... Keberatan?" Melihat perubahan ekspresi Luca yang tak seperti tadi membuat Aurora jelas menangkap ada sesuatu yang tak bisa Luca setujui.
"Kalo dua minggu aja gimana?" Tanya Luca memberi tawaran. Dia memang mengizinkan sang istri untuk pergi, tapi jika harus selama itu, rasanya Luca terlalu berat untuk memberikan izin sepenuhnya.
"Dua minggu?" Luca mengangguk mengiyakan.
"Oke. Nanti gue omongin lagi sama anak-anak." Waktu dua minggu bukanlah waktu yang singkat untuk menghabiskan masa liburan, jadi apa salahnya Aurora menyetujuinya? Toh, dengan Luca memberikan izin saja itu sudah cukup untuk Aurora.
"Thank you Ara."
"Sama-sama."
"Ya udah, tidur gih, udah malem."
"Lo kelupaan sesuatu."
"Apa?"
Bukannya menjawab apa yang dia inginkan, Aurora justru diam dan tertunduk tak berani menatap Luca.
Tapi, dari gelagat yang diperlihatkan Aurora tampak malu untuk meminta.
"Ohh....." Tersenyum tak percaya, Luca yang akhirnya menyadari pun langsung bangkit dari tempat duduknya lalu memberikan ciuman di kening seperti biasanya.
"Good night Aurora." Ucap Luca seraya tersenyum.
"Good night juga Luca." Mendapat apa yang diinginkan, Aurora tersenyum lebar sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruang kerja Luca.