Elaine seorang mahasiswi kedokteran memiliki perasaan yang mendalam pada seorang pria adi kuasa, Killian. Salah satu pria dari kaum elite global. Yang bekerja sama dengan para mafia untuk menjalankan bisnis kotornya.
Damian. Kakaknya bekerja di interpol untuk menyelidiki masa lalu kematian orang tua mereka. Saat ia mengetahui adiknya memiliki hubungan khusus dengan anggota elite global dan mafia. Elaine harus memutuskan akan berdiri melindungi kekasihnya atau kakaknya, keluarga satu-satunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 : Mengenal mu lebih dalam
“Kau tahu pria mu itu, tidak menaruh curiga sedikitpun. Saat tuan Hansen terbangun dan mengadukan mu. Dia justru membela mu. Katanya temannya itu mungkin sudah lelah bekerja hingga tertidur.” Jelas bibi Lily, “Jadi kau menemukan yang kau cari disana? Apa kau yakin kau baik-baik saja?”
“Ya bi… aku baik-baik saja.” El menarik lembut tangan bibi Lily yang sedang mengeringkan rambutnya.
“Kakakmu tahu tentangnya?”
El menggeleng pelan, “Belum saatnya. Jadi bibi jangan mengatakannya sebelum aku. Apa bisa?”
“Ya… tentu nak.”
Meski begitu, El terkadang tak percaya dengan bibi Lily. Wanita tua itu bisa saja termakan taktik sang kakak. Oleh karena itu untuk menjaga Killian, ia tadi sengaja mengakui sebagai kekasihnya.
“Bi… apa aku bisa bermalam disini?”
“Tentu. Aku sudah menyiapkan kamar. Bahkan aku sudah masak makan malam. Kesukaan mu.”
“Sup labu?”
Bibi Lily mengangguk. Ia mengajak El untuk turun kebawah menemui Killian dan mengajak makan malam bersama. Bahkan pria itu sepanjang makan malam tak banyak bicara. Hanya menatap senyum bahagia saat El bercengkrama dengan bibi Lily.
“Aku ingin bicara.” Ujar El yang mulai serius menghampiri Lian di teras atas rumah itu. Bibi Lily sudah terlelap malam itu.
Lian berbalik badan dan menatap wanita itu secara utuh.
“Jawab pertanyaan ku, jangan dialihkan.”
Lian menarik sebuah kursi dan duduk tepat di hadapan wanita itu. Seakan ia akan menerima sebuah sanksi.
“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya El.
“Hansen menghubungiku, kau pergi tanpa memberitahunya terlebih kau membiusnya.”
“Memberitahunya? Untuk apa aku? Kenapa kau menyuruhnya mengikuti ku?”
“Kau wanita ku. Kemana kau pergi dengan siapa dan apa yang akan kau lakukan. Aku harus mengetahuinya.”
“Berhenti mengatakan hal itu. Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan mu.”
“Seingatku tadi kau mengatakan bahwa aku adalah kekasih mu.”
El terdiam menatap pria yang duduk di hadapannya. Dia memang menginginkan pria itu, dia menyukainya.
“Kenapa harus aku?”
“Tidak ada alasan. Asalkan itu kau. Aku tidak ingin yang lain.”
El tertawa mendengarnya. Alasan yang tidak logis. Obsesi. Entahlah.
“Apa ada pertanyaan lain?” Tanya Lian yang kini berdiri dihadapan El.
El mundur beberapa langkah sebelum tangan pria itu menarik pinggangnya.
“Sekarang giliran ku. Katakan tanpa memikirkan alasan yang tak jelas. Aku bisa tahu kau menipuku atau tidak.”
El terdiam. Kedua tangan kecilnya menahan dada bidang itu. Aroma tubuh pria itu selalu sama tidak berubah. Ia menyukai aroma itu.
“Jelaskan pada ku. Apa saja yang kau lakukan? Kemana? Dengan siapa? Dan kenapa kau membius Hansen? Aku ingin kau jelaskan secara detail pada ku.”
“Aku tidak punya kewajiban memberitahukan semua apa yang kulakukan.”
Lian tertawa mendengar jawaban wanita itu, “Baiklah. Aku akan bangunkan wanita tua itu dan memaksanya untuk…”
“Liaann…” Kesal El.
“Maka jawab Laine.” Senyum Lian licik memanggil nama kecilnya.
“Aku tidak bertemu siapa-siapa. Aku hanya ingin pergi sendiri tanpa siapapun, oleh karena itu aku terpaksa membius Hansen.”
“Kemana dan apa saja yang kau lakukan saat itu?”
El menatap kedua mata pria itu. Ia tak ingin menipunya. Tapi tak mungkin ia menceritakan semuanya.
“Jangan menipuku?” Suara dingin Lian mempertegas.
“Kesuatu tempat. Ada yang sedang kucari.”
Lian menekuk dahinya, ia kurang puas akan jawaban Elaine, “Tempat apa? Apa yang kau cari?”
“Aku juga tidak tahu apa yang ku cari. Tapi mungkin setelah melihatnya aku akan mengetahuinya.”
Lian semakin bingung.
“Dimana itu?”
“Lian… dengar…” El memberi jarak diantara mereka, “Jangan terburu-buru dalam suatu hubungan. Kita baru saling mengenal, terkadang ada suatu hal yang kita perlu jelaskan dalam waktu lama. Tidak sekarang.” Jelas El.
“Aku bahkan tidak mempertanyakan asal usul mu, siapa keluargamu dan bagaimana…”
“Aku bisa memberitahumu semua itu jika kau ingin.”
“Kau yakin? Apa tidak ada masa lalumu yang ingin kau tutupi dari ku, bahkan yang akan datang?
“Apa yang kau tutupi dari ku Elaine?” Geram Lian menarik dagu wanita itu.
“Kau sendiri apa ada hal yang tak ingin kau sampaikan pada ku? Sesuatu yang ingin kau sembunyikan dariku?”
“Aku tidak berniat menutupi hal apapun dari mu. Jika kau bertanya akan ku jelaskan, mungkin butuh satu malam untuk ku menceritakan masa lalu ku secara terbuka untuk mu.”
El tersenyum mendengarnya. Ia semakin menyukai pria itu. Pria yang tak akan membohonginya. Perlahan El mendekap Lian dengan lembut. Ini kali kedua Lian terperanjat dengan sikap wanita itu. Memeluknya secara tiba-tiba.
“Maka luangkan waktu untuk ku. Aku ingin tahu tentang mu. Semuanya Lian.” Ujarnya lembut.
Ya, sebelum El menceritakan masa lalunya. Ia perlu tahu tentang pria yang bersamanya. Teringat akan berkas kakaknya yang tercantum nama Killian Vane, apa tujuan Damian pada Lian ia perlu mengetahuinya. Apakah El akan melindungi pria itu atau justru melepasnya.
...****************...
“Seringlah berkunjung Laine jika kau ke Asgard lagi.”
“Ya bi… Jaga kesehatanmu.”
El dan Lian pergi meninggalkan rumah sederhana itu tepat setelah sarapan bersama.
“Kau tidak pergi bekerja?” Tanya El saat didalam mobil menuju rumah sakit.
“Hansen sudah mengurusnya. Kenapa? Kau ingin mengajakku ke suatu tempat?”
“Kemana? Jadwal shift ku siang ini.”
“Entahlah. Sepertinya kau yang paling tau wilayah ini. Aku dapat meminta izin untuk mu hari ini kalau kau mau.”
“Jangan salah gunakan kewenangan mu Lian. Kalau kau mau, segera rekrut tenaga medis lain agar aku dan tim ku bisa kembali ke Malice.”
“Sudah kulakukan. Paling tidak minggu depan kau dan lainnya akan kembali.”
“Sungguh?” Terlihat wajah senang El.
“Bahkan kalian akan mendapatkan cuti selama 3 hari.”
“Benarkah?” Mata El semakin berbinar.
“Ya… selama 3 hari itu kau dan aku akan pergi bersama.”
“A-apa?” Mendadak aura wanita itu berubah shock mendengarnya, “Kemana?”
“Bukankah semalam kau ingin tahu semua tentang ku.”
El terdiam. Ia memang mengatakan hal itu, tapi bukan berarti semua diceritakan langsung diwaktu yang sama. Ia ingin hubungan ini mengalir begitu saja apa adanya. Tanpa terburu-buru.
“Artinya aku tidak libur.” El bergumam yang hampir samar terdengar oleh Lian.
“Apa maksudmu?”
“Kau atasan ku. Bersama mu kemana saja, sama saja seperti bekerja rasanya.”
SKIIITT
Suara rem mobil itu berdecit saat El mengatakan liburan itu sama saja dengan bekerja dan menganggap Lian sebagai bos nya.
SRRKK
“Lian… mmpphh…”
Dengan tiba-tiba pria itu mencium bibir Elaine dengan paksaan.
“Apa seorang atasan akan melakukan hal seperti ini.” Ucap Lian dan kembali melumat bibir wanita itu.
“Tidak.” Ucap El mendorong bahu pria itu, “Aku salah bicara.”
“Jika lain kali kau masih tidak paham hubungan ini. Kau akan menerima sanksi dari ku Laine.”
Kembali Lian mengemudikan mobilnya.
Entah sejak kapan pria itu mulai memanggil nama kecil El. Terlihat wanita itu menahan senyumannya. Ia ingin memperlambat waktu saat itu.