NovelToon NovelToon
Cinta Di Tengah Perang Abadi

Cinta Di Tengah Perang Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Kultivasi Modern / Perperangan / Sci-Fi / Action / Cinta Murni
Popularitas:773
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.

Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Nadir Hutan

Li Wei menarik Bailong-Jian dari sarungnya saat sepasang mata merah menyala muncul dari balik semak-semak yang rimbun. Pedang perak itu merintih, mengeluarkan desis listrik statis yang tidak stabil, selaras dengan denyut nadi Li Wei yang berpacu liar. Retakan keunguan di sepanjang bilahnya berpijar redup, menandakan bahwa sirkuit Neuro-Sync di dalamnya berada di ambang kerusakan total setelah menyerap petir raksasa di angkasa tadi.

"Xiao Hu, berdiri di belakangku," desis Li Wei, suaranya parau oleh asap yang masih memenuhi paru-parunya.

"K-kak... apa itu?" Xiao Hu berbisik, jemari kecilnya mencengkeram erat zirah bahu Li Wei yang sudah retak dan menghitam.

"Predator hutan. Mereka mencium bau darah dan logam panas," jawab Li Wei tanpa mengalihkan pandangan.

Sosok itu muncul perlahan dari kegelapan. Seekor serigala mutasi dengan ukuran sebesar lembu, kulitnya tidak lagi berbulu melainkan ditumbuhi lempengan keratin hitam yang menyerupai pelat zirah. Cairan air liur yang bersifat asam menetes dari taringnya, membakar dedaunan lumut di bawahnya dengan desis kecil yang mengerikan.

"Mundur perlahan ke arah reruntuhan sayap," perintah Li Wei. Ia merasakan tangan kirinya gemetar hebat. Kerusakan pada sistem saraf pusat akibat overload energi di kabin pesawat Naga Laut sebelumnya membuat koordinasi motoriknya kacau. Dunia di matanya seakan bergoyang, bergeser antara realitas dan halusinasi auditif yang mendengung.

"Tapi Kak Chen Xi... dia masih belum sadar," tangis Xiao Hu tertahan.

"Aku tahu. Masuk ke celah kargo, sekarang!"

Serigala mutasi itu menggeram, otot-otot di kaki belakangnya menegang. Sebelum makhluk itu sempat melompat, Li Wei menghentakkan kakinya ke tanah, memicu sisa energi dari Dragon Heart untuk melakukan Neural Overclock singkat. Namun, yang ia dapatkan hanyalah rasa sakit yang menusuk di belakang kepalanya. Pandangannya memutih sesaat.

"Sial," umpat Li Wei. Ia tidak bisa menggunakan kekuatan Level 4-nya dengan stabil.

Makhluk itu menerjang. Li Wei tidak menghindar dengan kecepatan cahaya seperti biasanya. Ia hanya sempat memiringkan tubuhnya, membiarkan cakar predator itu menghantam lempengan zirah dadanya. Benturan itu melemparkannya ke batang pohon raksasa yang hangus.

"Kak Li Wei!" Xiao Hu menjerit.

Li Wei terbatuk, memuntahkan cairan kental berwarna merah gelap. Ia melihat serigala itu bersiap untuk serangan kedua, namun kali ini moncongnya mengarah ke tubuh Chen Xi yang terbaring tak berdaya di atas lumut.

"Jangan... berani... menyentuhnya!"

Li Wei merangkak bangun. Ia tidak lagi mengandalkan sirkuit pedangnya. Ia menggenggam hulu Bailong-Jian dengan kedua tangan, mengabaikan peringatan panas yang membakar telapak tangannya. Alih-alih melakukan tebasan teknis, ia menggunakan berat tubuhnya untuk menghantamkan pedang itu ke tanah, memicu pelepasan magnetik dari inti baterai pesawat yang hancur di dekatnya.

Gelombang elektromagnetik mentah meledak dari titik benturan. Serigala mutasi itu melolong kesakitan saat lempengan logam organik di tubuhnya bereaksi terhadap tarikan magnet masif. Makhluk itu terlempar mundur, bingung dan buta sesaat oleh gangguan sensorik yang menyerang insting berburunya.

"Xiao Hu! Ambil pemantik di tas medis! Bakar tumpahan bahan bakar di sisi kanan!" perintah Li Wei sambil terengah.

"Tapi nanti pesawatnya meledak, Kak!"

"Lakukan saja! Predator ini takut pada api murni, bukan laser!"

Xiao Hu bergerak cepat. Dengan tangan gemetar, ia menyalakan pemantik dan melemparkannya ke aliran cairan biru yang keluar dari tangki sayap pesawat. Api membubung tinggi, menciptakan dinding panas yang menyilaukan di tengah kegelapan Hutan Nadir. Serigala mutasi itu mundur, mengeluarkan geraman frustrasi sebelum akhirnya menghilang kembali ke dalam lebatnya hutan yang memakan teknologi.

Li Wei jatuh berlutut, pedangnya tertancap di tanah sebagai penyangga. Napasnya tersengal-sengal, setiap tarikan udara terasa seperti menelan duri. Ia menoleh ke arah Chen Xi. Wanita itu merintih, wajahnya sepucat salju, dan kakinya berada pada posisi yang tidak wajar.

"Kita harus mengobatinya sekarang," gumam Li Wei pada Xiao Hu yang mendekat dengan wajah pucat.

"Kakinya... Kak Li Wei, tulang kakinya keluar," Xiao Hu menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak ketakutan melihat luka di kaki kanan Chen Xi.

Li Wei mendekat, jemarinya yang masih bergetar mencoba menyentuh luka itu. "Dia terkena hantaman kargo saat pesawat terbalik. Xiao Hu, ambilkan kain bersih dan air dari botol darurat. Aku harus menyambungkan kembali tulangnya sebelum infeksi hutan ini menyebar."

"Apa Kakak bisa? Tangan Kakak gemetar terus," tanya Xiao Hu cemas.

"Aku harus bisa," jawab Li Wei tegas, meski di dalam batinnya ia merasa hancur. Ia yang selama ini dikenal sebagai algojo yang hanya tahu cara mematahkan tulang, kini dipaksa untuk menyambungkannya kembali.

Chen Xi perlahan membuka matanya. Kesadarannya hanya tipis, terdistorsi oleh rasa sakit yang luar biasa. Ia menatap Li Wei, lalu menatap kakinya yang hancur. Sebuah rintihan pendek lolos dari bibirnya yang pecah.

"Jangan bergerak, Chen Xi. Aku di sini," bisik Li Wei, mencoba memberikan ketenangan yang ia sendiri tidak miliki.

"K-kau... bodoh," rintih Chen Xi, keringat dingin membasahi dahinya. "Tinggalkan aku... drone Kekaisaran... akan melacak sinyal panas api ini."

"Biar mereka datang. Aku tidak akan membiarkanmu mati di hutan sampah ini hanya karena kaki yang patah," balas Li Wei sambil merobek lengan bajunya untuk dijadikan pengikat.

"Li Wei... ini logis. Aku beban," Chen Xi mencoba mendorong tangan Li Wei dengan tenaga yang nyaris tidak ada. "Ambil chip dataku... selamatkan Xiao Hu."

"Diamlah, Strategis," Li Wei menatap mata Chen Xi dengan tajam, sebuah tatapan yang membuat Chen Xi terdiam. "Untuk sekali ini dalam hidupmu, berhentilah berhitung tentang untung rugi. Kau bukan aset yang kedaluwarsa bagi kami."

Li Wei menoleh pada Xiao Hu. "Xiao Hu, pegang bahunya. Jangan biarkan dia bergerak saat aku menarik tulangnya."

"Baik, Kak," Xiao Hu memeluk bahu Chen Xi dari belakang, memejamkan mata erat-erat.

Li Wei menarik napas dalam-dalam. Ia memegang pergelangan kaki Chen Xi. Di bawah telapak tangannya, ia bisa merasakan panas peradangan dan retakan tulang yang tajam. Ia harus melakukan ini dengan satu gerakan pasti, atau Chen Xi akan pingsan karena syok traumatik.

"Satu... dua..."

Suara gemeretak tulang yang bertemu terdengar jelas di tengah kesunyian hutan, diikuti oleh jeritan tertahan Chen Xi yang menyayat hati.

Chen Xi merosot dalam pelukan Xiao Hu, napasnya tersengal pendek dengan mata yang memutar ke atas sebelum akhirnya jatuh dalam ketidaksadaran yang lebih dalam. Li Wei segera membalut luka itu dengan kain bersih, mengikatnya kuat-kuat menggunakan potongan kabel serat optik dari bangkai pesawat untuk memastikan posisi tulang tetap stabil. Tangannya kini berlumuran darah merah pekat yang terasa panas di tengah udara hutan yang mulai mendingin.

"Dia pingsan lagi, Kak," bisik Xiao Hu dengan suara bergetar. Ia menyeka keringat dingin di dahi Chen Xi menggunakan sisa kain yang bersih.

"Itu lebih baik bagi tubuhnya daripada menahan rasa sakit," Li Wei menjawab sambil berusaha mengatur napasnya sendiri. Ia meraba dadanya, merasakan Dragon Heart yang kini berdenyut pelan, seolah sedang melakukan penghematan energi besar-besaran untuk memperbaiki kerusakan saraf di tulang belakangnya.

Malam mulai turun menyelimuti Hutan Nadir. Kegelapan di sini tidaklah hitam pekat, melainkan berpendar biru pucat dari lumut-lumut bio-luminesensi yang mulai menyerap radiasi energi sisa pesawat. Bau logam berkarat semakin menyengat; seolah-olah hutan ini adalah perut raksasa yang sedang mencerna bangkai teknologi Naga Laut dengan asam organik yang tak terlihat.

"Kita tidak bisa tinggal di sini," Li Wei berdiri dengan susah payah, tulang-tulangnya mengeluarkan bunyi gemeretak. "Api ini akan padam dalam satu jam, dan predator lain akan datang untuk mengambil sisa-sisanya."

"Tapi Kak Chen Xi tidak bisa berjalan," Xiao Hu menunjuk kaki yang baru saja dibalut itu. "Dan tas perlengkapan kita berat sekali."

Li Wei menatap bangkai pesawat yang mulai tertutup tanaman merambat kabel. Ia melihat magnet sisa pendorong utama yang masih mengeluarkan pendaran biru kecil. Sebuah ide muncul di kepalanya. Ia membongkar pintu paking kargo yang terlepas, mengikatkan beberapa kabel kuat pada tepiannya, menciptakan tandu improvisasi yang bisa ditarik.

"Letakkan dia di atas ini, Xiao Hu. Bantu aku."

Bersama-sama, mereka memindahkan tubuh Chen Xi yang lunglai ke atas lempengan logam tersebut. Li Wei mengaitkan kabel tandu itu ke sabuk zirahnya. Setiap tarikan membuat zirah bahunya berderit, namun ia mengabaikan rasa perih yang menjalar ke saraf pusatnya.

"Kita ke mana, Kak? Aku takut tersesat di kegelapan ini," Xiao Hu menggenggam tangan kiri Li Wei yang dingin.

"Aku merasakan tarikan magnetik di arah utara. Ada sesuatu yang stabil di sana, jauh dari jangkauan akar-akar pemakan besi ini," Li Wei menunjuk ke arah lembah yang tertutup kabut tipis. "Gunakan insting mekanikmu, Xiao Hu. Apakah kau merasakan getaran frekuensi di tanah?"

Xiao Hu terdiam, memejamkan mata, dan meletakkan telapak tangannya di permukaan tanah yang basah. "Ada... detak jantung, Kak. Tapi bukan seperti binatang. Seperti mesin tua yang bernapas sangat pelan."

"Itu tujuan kita. Ikuti aku, dan jangan lepaskan kabel ini."

Perjalanan itu terasa seperti siksaan abadi. Li Wei menyeret tandu logam itu menembus semak belukar yang berduri baja. Beberapa kali predator kecil berlari melintasi bayang-bayang, namun mereka tampaknya ragu untuk menyerang sosok pria yang memancarkan aura membunuh sedingin es, meski tubuhnya penuh luka.

Setelah menempuh jarak yang tidak seberapa jauh namun memakan waktu berjam-jam, rimbunnya hutan mulai menipis, berganti dengan dinding batu cadas yang menjulang tinggi. Di depan mereka, sebuah celah gua terlihat memancarkan cahaya biru yang berbeda dari pendaran lumut hutan—cahaya yang lebih tenang, seperti pantulan bintang di air yang jernih.

"Gua itu... terasa hangat," Xiao Hu berbisik dengan nada lega yang luar biasa.

Li Wei menarik tandu itu masuk ke dalam mulut gua. Di dalamnya, suhu udara mendadak naik beberapa derajat, mengusir rasa gigil yang sejak tadi menyiksa mereka. Di langit-langit gua, kristal-kristal kuarsa memantulkan cahaya dari luar, menciptakan ilusi seperti langit malam yang penuh bintang di bawah tanah.

Li Wei melepaskan kaitan tandu dan jatuh terduduk di samping Chen Xi. Ia menyentuh dahi wanita itu. Panasnya belum turun; Chen Xi mulai mengigau dalam demamnya, menggumamkan istilah-istilah taktis yang tidak koheren tentang garis depan sektor tujuh dan koordinat yang hilang.

"Kenapa kita hidup... jika hanya untuk melihat kehancuran?" gumam Chen Xi dalam igauannya, air mata mengalir perlahan dari sudut matanya yang terpejam.

Li Wei tertegun. Kalimat itu bukan sekadar igauan, melainkan pertanyaan yang selama ini ia kunci rapat di dasar sanubarinya. Ia menatap tangannya yang kotor oleh darah sahabat dan musuhnya sendiri.

"Agar kita bisa membangun sesuatu yang lebih baik dari kehancuran itu," jawab Li Wei pelan, meskipun ia tahu Chen Xi tidak bisa mendengarnya.

Di kejauhan, dari arah luar gua, terdengar lolongan serigala mutasi yang menyahut satu sama lain, menggema di antara pepohonan Hutan Nadir yang angker. Li Wei mengambil beberapa baterai sisa yang ia bawa dan menyusunnya melingkar di depan mulut gua, menciptakan jebakan listrik sederhana jika makhluk itu berani mendekat.

"Tidurlah, Xiao Hu. Aku yang akan berjaga," kata Li Wei sambil mengasah Bailong-Jian yang retak menggunakan batu asahan kasar.

"Kak Li Wei juga harus istirahat," Xiao Hu meringkuk di samping tandu Chen Xi, menyelimuti wanita itu dengan sisa kain parasut.

"Algojo tidak butuh banyak tidur," sahut Li Wei dengan senyum getir yang tersembunyi di balik kegelapan. Ia menatap ke luar gua, ke arah hutan yang tampak seperti lautan bayangan hitam, bersiap untuk konfrontasi apa pun yang akan datang saat fajar tiba.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!