"Bara, sebaiknya kamu ceraikan saja Aira. Kita bukan orang kaya, dari mana uang sebanyak itu untuk membiayai pengobatannya? " bujuk Norma.
"Bu, uang bisa di usahakan. Bara tak mungkin meninggalkan Aira begitu saja. Aira anak yatim Bu, Bara sudah janji pada kepala panti akan menjaganya."
Bara memohon dengan mata memelas.
Dari dalam kamar, Aira tertunduk mendengar keributan suami dan ibu mertuanya.
Ia menghela nafas dalam. Antara pasrah dan juga berharap.
Aira menatap lekat kertas hasil diagnosa dokter yang masih ada di tangannya. Bulir air mata, menetes satu-satu membasahi kertas itu.
"Apa aku bercerai saja ya dari Mas Bara?" gumam Aira lirih.
Mungkinkah kehidupan rumah tangga yang baru hitungan hari itu mampu bertahan dari ujian itu?
Ikuti kisahnya dalam "WANITA AMNESIA ITU ISTRIKU"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEPUTUSAN
Langit masih gelap. Lantunan dzikir masih tersenyum dari pengeras suara masjid. Bara membuka alquran duduk santai di sandaran kasur. Suaranya merdu, bacaannya fasih, tajwidnya benar. Aira ikut mendengarkan bacaannya sambil duduk selonjoran di lantai.
Semalam ia mengendap turun dari kasur, tidur beralas selimut di lantai. Bara hanya menghela nafas, enggan menegurnya.
Mata Aira terpejam menghayati kalam Illahi yang dilantunkan suaminya. Air matanya menetes tak terasa, rasa syukur atas nikmat kehidupan yang ia rasakan sampai hari ini.
Salah satunya mendapat suami seperti Bara, yang begitu mencintainya tanpa syarat, meski dia sendiri masih ragu. Apakah dia juga mencintai Bara? Dia tak ingat sama sekali.
Tapi ada satu kegundahan hatinya kala mengingat mata merah dan gurat kesedihan dari wajah suaminya semalam, saat ia meminta ijin untuk tinggal di panti. Ada rasa bersalah, tapi juga rasa kesal karena tak bisa berbuat apa-apa dengan kondisinya saat ini.
'Aku harus berbuat sesuatu supaya ibu tak berpikir kalau aku hanya beban di rumah ini. Mungkin ibu akan berubah pikiran nantinya, ' batin Aira penuh harap.
Aira beranjak. Bara menatapnya bingung.
"Kemana, Aira? " tanyanya Bara.
"Mau bikin sarapan, Mas. Lanjutkan saja, " sahut Aira. Aira menghampiri pintu.
CEKLEK
Aira keluar dari kamar. Ibu kembali tidur setelah sholat subuh, Puspa sedang haid jadi masih tidur. Tak ada siapapun di dapur saat ini.
Jam dinding ruang TV menunjuk angka enam. Aira memeriksa bahan yang ada di kulkas. Membuka rice cooker memastikan masih ada stock nasi.
TAKTAKTAKTAK
Tangan Aira bergerak cepat merajang bawang di atas talenan.
Kecap, saos tomat, saos tiram, garam, penyedap, telur yang sudah di pecah dalam mangkuk, rajangan kubis, dan daun bawang sudah siap di depannya.
CTEK
Kompor dinyalakan, wajan di panaskan. Tak butuh waktu lama, menu pertama selesai dan sudah tersaji diatas meja makan. Nasi goreng kampung dengan suwiran daging ayam sebagai pelengkap.
Aira mengocok telur yang sudah berisi rajangan kubis, daun bawang, penyedap dan garam dengan gerakan cepat. Teflon sudah panas, Aira menuang kocokan telur itu perlahan.
Aroma Omlet Telur menguar hingga ke kamar.
CEKLEK
Bara keluar dari kamar, melihat semangkuk besar nasi goreng di atas meja.
Ia menghampiri Aira yang sedang menyiapkan kuah siraman untuk Omlet.
"Nggak capek sayang? "
Aira menggeleng. "Aku harus membantu Ibu, Mas. Supaya ibu tak berpikir aku beban lagi. "
Bara mengangguk senang, ada binar harapan dari matanya.
"Yang penting jangan di paksakan ya! "
Aira mengangguk.
"Aku mandi dulu, " pamitnya.
Aira mengangguk lagi, matanya masih fokus pada wajan di depannya.
Aira menuang saos asam manis ke atas Omlet. Tersajilah fuyung hai, menu masakan cina yang sangat familiar di lidah orang Indonesia.
Ia menatap puas dengan hasil masakannya. Saat menuju ke wastafel sambil membawa teflon, tubuh Aira sempat oleng karena pusing mendadak. Aira buru-buru berpegangan pada kursi.
"Subhanallah.. "
Aira memejam mata sebentar sambil berdzikir, mengatur nafasnya perlahan. Reaksi mendadak seperti ini sering ia rasakan, tapi ia berusaha menahannya.
Aira berjalan perlahan menuju wastafel lalu mencuci alat masak yang baru ia pakai.
Bara sudah keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian untuk bersiap bekerja.
CEKLEK
"Mas, cobain sarapannya ya. Semoga cocok, " ujar Aira.
Bara tersenyum---mengangguk.
CEKLEK
Norma keluar dari kamar, sempat tertegun melihat Bara sudah duduk di ruang makan menikmati sarapan, Aira duduk di kursi sebelahnya.
"Sarapan, Bu. Aira yang siapin, " ujar Bara sambil tersenyum.
Norma melengos dan kembali masuk ke kamarnya tanpa merespon tawaran itu.
Bara menghela nafas, lalu menggenggam tangan Aira lembut. Aira tertegun, tapi akhirnya kembali tersenyum pada Bara menunjukkan kalau dia baik- baik saja.
"Sayang, Mas hari ini pulang larut ya. Banyak kerjaan tertunda."
"Iya, Mas. Tenang saja aku pastikan minum obatnya."
Aira mencium punggung tangan suaminya. Bara mengecup kening Aira. Saat Bara spontan ingin mengecup bibirnya, Aira refleks menghindar sambil menutup mulutnya dengan tangan kanan.
Saat keningnya di kecup saja dia sebenarnya terkejut tapi berusaha tenang meski jantungnya berdebar-debar. Aira tersenyum sungkan khawatir Bara marah.
Bara tersenyum, lalu menepuk kepala Aira lembut. Ia tak tersinggung dengan penolakan Aira karena ia baru ingat Aira amnesia. Aira bernafas lega.
"Mas pergi ya, Assalamu'alaikum, " pamitnya sambil melambai.
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati ya mas. " Aira balas melambai.
Pintu depan di tutup. Aira mengambil sapu, lalu menyapu semua ruang perlahan. Lanjut mengepel, melipat jemuran, melap debu-debu di meja, foto-foto yang tertata rapi diatas lemari bufet ruang tamu, Guci dari kecil sampai yang besar. Ia lakukan perlahan dan telaten.
Naas saat berbalik.
PRAAAANNNGG!!
Guci berukuran sedang dengan ukiran indah berwarna putih dengan gradasi hijau stabilo jatuh menghantam lantai tersenggol siku lengannya.
"Astaghfirullah, " pekik Aira.
CEKLEK
Norma dan Puspa serentak keluar dari kamar bergegas ke ruang tamu. Mata Norma membelalak melihat Guci kesayangan suaminya pecah bertebaran di lantai. Aira berdiri terpaku menggenggam lap ditangannya---gemetar.
Wajah Aira ketakutan, apalagi setelah melihat wajah Norma yang memerah marah.
"Aira, apa yang kamu lakukan, bodoh? " teriak Norma sambil berkacak pinggang.
"Maaf bu, Aira nggak sengaja kesenggol siku," sahutnya menunduk.
Puspa berbalik ke dapur mengambil sapu, serok dan kantong plastik.
"Kak Aira di situ dulu ya, nanti kena pecahan kaca, " minta Puspa sambil memasukkan pecahan guci ke dalam kantong plastik.
"Sudah Puspa, biar dia yang bersihkan, " titah Norma dan berlalu pergi.
Aira berjongkok perlahan, membantu memungut pecahan di sekitarnya dan meletakkannya ke sudut.
"Maaf ya, Dek. Kepala kak Aira tiba-tiba pusing waktu berbalik badan tadi, tak sengaja tersenggol. "
"Nggak apa kak, namanya nggak sengaja. Maaf ya kak, ibu ngomong kasar tadi. Ini memang Guci kesayangan almarhum Bapak, makanya Ibu begitu."
Aira mengangguk mengerti, perasaannya makin tak karuan.
Setelah beberapa menit, ruang tamu sudah rapi kembali menyisakan ruang kosong tempat Guci yang pecah tadi.
Aira ke dapur membuka kulkas, menyiapkan bahan untuk memasak menu makan siang dan malam.
" Kak, biar ibu saja yang masak. Kakak istirahat saja. "
Aira menatap Puspa yang sudah bersiap.
" Nggak apa, Dek. Kakak pelan-pelan aja. Mau ke kampus ya? Sarapan dulu."
"Iya Kak, mau mengurus surat pengantar untuk persiapan magang."
Aira mengangguk, lalu kembali membersihkan sayuran yang akan di masak.
Puspa duduk di ruang makan menikmati sarapannya. Tak lama, ia berpamitan.
Dapur kembali sepi. Norma masih berdiam diri di kamarnya. Enggan untuk keluar.
Aira selesai menggoreng lauk dan menatanya di meja. Mengambil mangkok kaca besar memindahkan sayur sop ke dalamnya dan membawa perlahan ke atas meja.
Tinggal beberapa langkah lagi sampai di meja, penglihatan Aira tiba-tiba buram. Langkahnya goyah, hingga tak menapak dengan tepat.
PRAAAANNNGG
Mangkuk sup jatuh ke lantai. Sayuran dan pecahan mangkuk kristal itu berceceran di lantai. Aira bergegas berpegangan di kursi, menarik nafas dan mencoba berjongkok tapi tubuh nya oleng dan tak sengaja tangannya berpegangan pada lantai yang penuh dengan pecahan kaca.
CEKLEK
Norma keluar melihat, kembali tersentak melihat kekacauan di ruang makan.
"Aduh, " pekik Aira. Darah menguar dari kulit tangannya yang terbelah.
"Aira, apalagi yang kamu pecahkan, HAH??! "
"Maaf Bu, tiba-tiba penglihatan Aira buram tadi, jadi nggak mantap berpijak. Maaf, Bu."
"Kamu kalau memang tak sanggup jangan memaksakan diri. Yang ada semua barang ibu habis kamu pecahkan. Memang perempuan nggak berguna kamu itu. "
"Coba pakai otakmu sekali saja, apa susahnya kamu membujuk Bara menceraikan mu, Hah?? Kamu sok kuat mengerjakan semua padahal nyatanya lihat!! Semua jadi berantakan. Ini nggak membantu sama sekali, Aira. Lebih baik kamu pergi saja dari sini, biar nggak bikin ibu tambah muak lihat mukamu yang sok memelas itu."
" Pikirkan sekali saja kondisi Bara. Kamu tega membiarkannya kelelahan bekerja dan harus merawatmu? mana hati nurani mu Aira. Percuma jilbab yang kamu pakai itu, tapi nggak ada kepekaan sama sekali."
Aira tertunduk menahan sedih, ia tetap memungut pecahan itu sambil menahan perih di hati dan tangannya.
"Dasar kamu ini, sudah bikin ibu gila pagi-pgi begini."
BLAAM!!
Norma kembali ke kamar, dan membanting pintunya.
Aira akhirnya terisak, air mata berderai. Ia segera bersihkan sayur sop yang berantakan di lantai.
Mengambil mangkok plastik di lemari dan menuang sayur sop yang hanya tersisa sedikit. Setidaknya cukup untuk makan tiga orang.
Aira kembali ke kamarnya setelah menyelesaikan semua pekerjaan di dapur. Ia termenung lama di sisi ranjang mencerna semua perkataan Norma tadi.
"Apa sebelumnya, aku juga mengalami kejadian ini ya? rasanya kepalaku sakit sekali," gumamnya lirih.
Aira menghela nafas, ia benar-benar merasa sesak tinggal di sini. Rencananya menyentuh hati ibu mertuanya gagal total karena kecerobohannya sendiri. Ia bekerja terlalu keras.
Ide semalam terlintas di kepalanya. Apalagi ibu mertuanya mengatakan sendiri menyuruhnya pergi dari rumah itu.
"Sepertinya itu memang yang terbaik, " gumamnya lagi.
Aira mengambil ponsel dan mencari kontak Siska di layar.
Panggilan tersambung.
"Assalamu'alaikum, Bu Siska."
"Wa'alaikumsalam, Aira. Ada apa, Nak? "
"Bu, boleh minta alamat panti?
"Loh, Aira ada di mana ini? "
"Aira di rumah, Bu. Alhamdulillah sudah pulang kemarin."
"Alhamdulillah, Aira. Terus kenapa tanya alamat panti? "
"Aira mau silaturahmi, Bu. Biar nggak terlalu sumpek di rumah terus, biar lebih segar."
"Oh ke sini aja sama Bara ya. Bara kan tahu alamatnya."
Aira tertegun, "Mas Bara sibuk, Bu. Harus lembur juga sabtu minggu nanti."
Siska terdiam---menimbang.
"Ya sudah, nanti Ibu kirim lokasinya lewat pesan ya. "
"Baik, Bu. Terima kasih. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Dengan hati mantap, Aira mengambil tas baju di atas lemari. Memindahkan pakaiannya di lemari ke dalam tas. Mengambil peralatannya di kamar mandi dan alat make upnya.
Suara notifikasi masuk ke ponselnya. Siska sudah mengirim lokasi panti asuhan. Aira menekan tombol buka dan tersambung ke aplikasi ojek online.
Perlahan ia mengikuti instruksi pemesanan dan menekan tombol Pesan.
Aira berjalan perlahan keluar dari kamarnya, mengambil sendal dan membuka pintu utama.
CEKLEK
Aira menengok ke belakang, menatap sebentar pintu kamar Norma, lalu berbalik melangkah keluar.
"Bismillahirrahmanirrahim."