NovelToon NovelToon
TAHANAN DI PELUKAN SANG PSIKOPAT

TAHANAN DI PELUKAN SANG PSIKOPAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Psikopat
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: KUNCI YANG TERSEMBUNYI

​Pagi itu, suara deru mesin mobil sport milik Adrian terdengar menjauh, meninggalkan keheningan yang mencekam di dalam villa. Adrian harus pergi ke kota untuk "membereskan" beberapa masalah logistik terkait harta Tuan Haryo yang baru saja mereka rampas.

​"Aku hanya pergi beberapa jam, Sayang. Bi Inah akan menjagamu. Pakailah kalungmu, dan jangan nakal," bisik Adrian sebelum pergi, memberikan kecupan singkat yang membuat Ghea ingin meludah.

​Begitu mobil itu benar-benar hilang dari pandangan, wajah manis Ghea langsung luruh. Ia tidak membuang waktu. Ia tahu Bi Inah sedang sibuk di dapur belakang dan para penjaga hanya berpatroli di pagar luar. Ini adalah kesempatannya.

​Ghea melangkah menuju ruang kerja pribadi Adrian—ruangan yang paling terlarang di seluruh villa. Dengan kalung GPS yang masih melingkar di lehernya, ia harus bergerak dengan sangat alami agar tidak memicu kecurigaan jika Adrian melihat lewat CCTV.

​Di dalam ruang kerja itu, aroma maskulin yang kaku dan bau kertas tua menyambutnya. Ghea berjalan menuju sebuah lukisan besar yang tergantung tepat di belakang meja kerja Adrian. Lukisan itu adalah potret Ghea sendiri, digambarkan dengan sangat indah namun nampak seperti burung dalam sangkar emas.

​"Narsis sekali monster ini," desis Ghea.

​Ia meraba bingkai emas lukisan itu. Insting detektifnya mengatakan ada sesuatu di baliknya. Dan benar saja, saat ia menekan sudut kanan bawah bingkai, terdengar suara klik halus. Lukisan itu bergeser, menampakkan sebuah brankas kecil berbahan baja hitam yang tertanam di dinding.

​Ghea menatap lubang kunci brankas itu. Bentuknya sangat aneh, tidak seperti lubang kunci brankas digital pada umumnya. Bentuknya silinder dengan gerigi yang tidak beraturan di bagian dalam.

​Jantung Ghea berdegup kencang hingga ia bisa mendengar detaknya di telinganya sendiri. Ia meraba lipatan rahasia di pinggang gaunnya, tempat ia menyimpan Kunci Titanium yang ia bawa sejak hari pertama. Kunci yang ia temukan di dalam laci rahasia meja kerja almarhum ayahnya sebelum kecelakaan maut itu terjadi.

​"Kenapa... kenapa bentuknya mirip sekali?" gumam Ghea dengan tangan gemetar.

​Ia memasukkan kunci titanium itu ke dalam lubang brankas. Logam bertemu logam dengan bunyi yang sangat pas. Ghea memutar kunci itu perlahan.

​Klek. Sret.

​Pintu brankas terbuka. Ghea menahan napas. Ia setengah berharap menemukan tumpukan uang atau dokumen kejahatan Adrian, namun isinya jauh lebih mengejutkan.

​Hanya ada satu map cokelat tua yang sudah agak menguning dan sebuah kotak kayu kecil. Ghea mengambil map itu dengan tangan gemetar. Di sampulnya, tertulis sebuah kode unit kepolisian yang sangat ia kenal: UNIT-09. Itu adalah unit khusus tempat ayahnya bekerja dulu sebelum dinyatakan tewas dalam tugas.

​Ghea membuka map itu. Lembar pertama adalah sebuah foto. Foto itu diambil di sebuah gudang tua yang remang-remang. Di sana, seorang pria paruh baya yang sangat familiar—Ayah Ghea—sedang berdiri sambil berjabat tangan dengan seorang pemuda yang wajahnya sangat ia kenali meski nampak lebih muda sepuluh tahun.

​Adrian.

​"Ayah... dan Adrian?" Ghea merasa dunianya seolah terbalik.

​Di foto itu, Ayahnya tersenyum bangga, sementara Adrian menatap kamera dengan pandangan yang tajam namun penuh rasa hormat. Ghea membalik foto itu. Ada tulisan tangan ayahnya di sana: "Informan terbaikku. Masa depan Unit-09 ada di pundak pemuda ini."

​Ghea merasakan air mata mulai menggenang. Jadi, Adrian bukan sekadar psikopat yang terobsesi padanya? Ada hubungan masa lalu antara Adrian dan ayahnya yang tidak pernah ia ketahui.

​Ia lanjut membaca dokumen di bawah foto tersebut. Itu adalah laporan intelijen rahasia yang tidak pernah masuk ke arsip resmi kepolisian. Dokumen itu menyatakan bahwa Adrian adalah agen undercover (penyamar) yang direkrut langsung oleh Ayah Ghea untuk menyusup ke dalam kartel pencucian uang yang melibatkan petinggi Polri.

​Ghea terus membalik halaman demi halaman. Tangisnya pecah saat ia sampai pada lembar terakhir—sebuah surat tulisan tangan yang belum sempat terkirim.

​"Ghea, anakku... Jika kau membaca ini, mungkin Ayah sudah tidak ada. Jangan percaya pada siapa pun di kesatuan. Mereka bukan penegak hukum, mereka adalah serigala berbaju seragam. Ayah sudah menitipkan semua bukti pada 'dia'. Dia adalah satu-satunya orang yang bisa kau percayai untuk melindungimu saat badai itu datang."

​Ghea tersungkur ke lantai, memeluk map itu erat-erat. Segala kebencian yang ia bangun selama berminggu-minggu terhadap Adrian tiba-tiba dihantam oleh kenyataan yang sangat membingungkan.

​Adrian menculiknya... apakah benar-benar untuk melindunginya? Apakah Adrian membunuh polisi-polisi itu karena mereka adalah orang yang sama yang mengkhianati ayahnya?

​"Jadi selama ini... aku membenci orang yang mencoba memenuhi janji terakhir Ayah?" bisik Ghea di sela tangisnya.

​Namun, di tengah kesedihannya, insting detektif Ghea kembali berteriak. Jika Adrian memang "orang kepercayaan" ayahnya, kenapa dia harus menggunakan cara yang begitu ekstrem? Kenapa dia harus merantainya? Kenapa dia harus membunuh di depan matanya?

​Ghea menatap kotak kayu kecil yang tersisa di dalam brankas. Ia membukanya, dan di dalamnya terdapat sebuah liontin tua dengan foto ayahnya dan Ghea kecil. Di balik foto itu, terdapat ukiran nama: ADRIAN Z. & GHEA Z.

​Ghea tertegun. Nama belakang Adrian... dia sengaja menghilangkannya selama ini.

​Tiba-tiba, suara deru mobil terdengar kembali di halaman depan. Adrian sudah pulang lebih cepat dari perkiraan!

​"Sial!" Ghea dengan panik memasukkan kembali map dan kotak itu ke dalam brankas. Ia menutup pintunya, memutar kunci titaniumnya, dan menggeser kembali lukisan potretnya ke posisi semula.

​Ia menghapus air matanya dengan kasar, merapikan rambutnya di depan cermin, dan mencoba mengatur napasnya agar tidak terdengar sesak. Ia harus bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Ia harus menyimpan rahasia ini sampai ia bisa mengonfrontasi Adrian secara langsung.

​Pintu ruang kerja terbuka. Adrian melangkah masuk, wajahnya tampak lelah namun langsung cerah saat melihat Ghea ada di sana.

​"Ghea? Sedang apa kau di sini?" tanya Adrian, matanya melirik ke arah lukisan potret itu sebentar sebelum beralih kembali ke wajah Ghea.

​Ghea memaksakan sebuah senyum tipis, senyum yang kini terasa lebih nyata namun penuh dengan beban baru. Ia berjalan mendekati Adrian dan melingkarkan lengannya di leher pria itu—bukan karena perintah, tapi karena rasa ingin tahu yang amat sangat.

​"Aku merindukanmu," bisik Ghea, membenamkan wajahnya di dada Adrian. "Tiba-tiba aku merasa sangat kesepian di rumah besar ini."

​Adrian tampak terkejut, namun kemudian ia memeluk Ghea dengan sangat erat, seolah takut wanita itu akan menghilang jika ia melonggarkan cengkeramannya sedikit saja. "Aku di sini, Sayang. Aku selalu di sini untukmu."

​Ghea mendengarkan detak jantung Adrian. Jantung yang dulu ia kira milik seorang monster, kini terasa seperti satu-satunya sisa kenangan dari ayahnya. Namun, sebuah pertanyaan besar masih menggantung di benaknya: Siapa kau sebenarnya, Adrian? Dan berapa banyak darah yang sudah kau tumpahkan atas nama perlindungan untukku?

​Minggu ke-7 baru saja dimulai, dan Ghea menyadari bahwa kebenaran terkadang jauh lebih mengerikan daripada kebohongan yang ia jalani selama ini.

1
sun
sinopsisnya bagus thor,tapi kalau untuk penulisannya kurang bagus,karena banyak kata yang hilang dan tidak nyambung.
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....
Leebit: makasih ya atas komentarnya. sya usahakan bab 2 lebih baik lagi😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!