NovelToon NovelToon
SLEEP WITH MY UNCLE

SLEEP WITH MY UNCLE

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cinta Terlarang / Dark Romance / Romansa
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.

Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 SWMU

Malam Gala Dinner itu berakhir dengan kesunyian yang lebih menyesakkan daripada kemeriahan yang baru saja usai. Di dalam mobil limousine yang membawa mereka kembali ke kediaman Mahendra, Nadia menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu Jakarta yang kabur karena kecepatan. Di sampingnya, Bramantya duduk dengan keanggunan yang dingin, matanya tertutup seolah sedang beristirahat, namun Nadia tahu pria itu sedang memproses setiap interaksi yang terjadi malam tadi.

Keheningan di dalam kabin mobil hanya dipecah oleh suara napas mereka yang teratur. Nadia bisa merasakan getaran dari kertas yang ia remas di saku gaunnya—sebuah pengingat bahwa ia sedang menggenggam bom waktu.

"Kau sangat tenang malam ini, Nadia," suara Bramantya memecah keheningan tanpa ia membuka mata. "Biasanya setelah acara besar, kau akan bertanya tentang siapa saja yang kita temui atau mengeluh tentang betapa membosankannya pidato para komisaris."

Nadia tidak menoleh. "Aku hanya sedang berpikir tentang kata 'transparansi' yang kita bahas tadi. Mungkin aku terlalu ambisius untuk hari pertama sebagai 'Direktur Konsultan'."

Bramantya membuka matanya, menoleh ke arah Nadia dengan senyum yang tidak mencapai matanya. "Ambisi adalah bumbu yang menarik dalam sebuah pernikahan, selama ia tidak merusak hidangan utamanya. Tidurlah, besok akan menjadi hari yang panjang."

Di Ambang Kegelapan

Sesampainya di mansion, Nadia tidak langsung menuju kamarnya. Ia beralasan ingin mengambil segelas air di dapur. Ia membutuhkan waktu untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Di dapur yang luas dan gelap, hanya diterangi oleh lampu sensor yang redup, ia bertemu dengan Bi Inah yang sedang merapikan beberapa perlengkapan makan.

"Non, belum tidur?" bisik Bi Inah khawatir.

Nadia menggeleng, ia mendekat dan memegang tangan Bi Inah yang kasar. "Bi, aku harus kembali ke ruang kerja itu malam ini. Ada sesuatu yang tertinggal."

Wajah Bi Inah memucat. "Non, itu sangat berisiko. Tuan Bramantya biasanya tidak langsung tidur. Beliau sering memeriksa CCTV dari tablet di kamarnya."

"Aku tahu sistem keamanannya memiliki dead zone selama lima menit setiap kali pergantian shift petugas keamanan di ruang monitor, tepat pukul dua pagi," ucap Nadia. Ia telah mempelajari pola itu dari kartu akses yang diberikan Bramantya. "Aku hanya butuh lima menit, Bi."

Bi Inah tampak ragu, namun rasa sayangnya pada mendiang Maya seolah memberinya keberanian. "Saya akan berjaga di koridor bawah. Jika Tuan keluar, saya akan menjatuhkan nampan sebagai kode."

Tepat pukul 01.55 pagi, Nadia menyelinap keluar kamar dengan pakaian hitam yang menyatu dengan bayangan. Ia bergerak tanpa alas kaki, merasakan dinginnya lantai marmer di telapak kakinya. Setiap detak jam dinding terdengar seperti dentum genderang perang baginya.

Ia sampai di depan pintu ruang kerja. Dengan tangan gemetar, ia menempelkan kartu akses hitam itu. Pintu terbuka dengan desisan pelan. Nadia segera masuk dan mengunci pintu. Ia tidak menyalakan lampu utama, hanya menggunakan senter kecil dari ponselnya yang ia tutupi dengan telapak tangan agar cahayanya tidak bocor ke luar.

Ia kembali ke lukisan mendiang ibu Bramantya. Panel baja itu terbuka lagi dengan kode yang sama. Kali ini, ia langsung mencari deretan flashdisk di dalam brankas. Jari-jarinya meraba satu per satu hingga ia menemukan label "2022".

"Dapat," bisiknya.

Namun, saat ia hendak menutup kembali lukisan itu, matanya tertumpu pada sebuah amplop cokelat kecil yang terselip di balik buku harian Maya. Di atasnya tertulis nama: Nadia.

Jantungnya seolah berhenti berdetak. Apakah Bramantya sudah tahu ia akan sampai di sini? Dengan tangan gemetar, ia membuka amplop itu. Di dalamnya ada sebuah foto lama—foto Nadia saat masih di panti asuhan, jauh sebelum ia bertemu Bramantya. Di balik foto itu tertulis: "Aku selalu tahu siapa kau, Nadia. Jangan mengecewakanku."

Nadia merasa dunianya berputar. Jadi, selama ini pernikahan ini, posisi ini, bahkan kartu akses ini... apakah semuanya adalah bagian dari skenario Bramantya untuk melihat sejauh mana ia akan mengkhianatinya?

Tiba-tiba, suara dentingan keras terdengar dari lantai bawah. Prang!

Kode dari Bi Inah. Bramantya bangun.

Nadia segera mengembalikan semuanya ke posisi semula. Ia menutup brankas, menggeser lukisan, dan mematikan senter ponselnya. Ia berdiri mematung di tengah ruangan yang gelap, berusaha mengatur napasnya yang memburu.

Langkah kaki terdengar mendekat di koridor. Berat dan berirama. Itu pasti Bramantya.

Pintu ruang kerja berderit saat gagangnya mencoba diputar dari luar. Nadia bersembunyi di balik lemari buku besar yang menempel di dinding. Beruntung, ia tadi mengunci pintu dari dalam.

"Nadia? Aku tahu kau di dalam," suara Bramantya terdengar tenang melalui daun pintu, namun nada tenangnya justru lebih menakutkan daripada teriakan kemarahan. "Kau lupa bahwa kunci fisik selalu bisa mengalahkan sistem elektronik."

Suara kunci yang diputar secara manual terdengar. Klik.

Pintu terbuka lebar. Cahaya dari koridor masuk ke dalam ruangan, menciptakan bayangan panjang Bramantya yang berdiri di ambang pintu. Pria itu masuk, tidak menyalakan lampu, seolah ia sudah hafal setiap inci ruangan itu dalam kegelapan.

Ia berjalan menuju meja kerjanya, duduk di kursi kebesarannya, dan menyalakan lampu meja yang redup.

"Keluar, Nadia. Jangan membuat ini menjadi drama yang melelahkan," ucap Bramantya sambil menuangkan wiski ke dalam gelas kristal.

Nadia keluar dari balik lemari buku dengan perlahan. Ia berdiri di depan meja, mencoba mempertahankan sisa keberaniannya. Flashdisk 2022 itu tersimpan aman di dalam kepalan tangannya yang tersembunyi di balik saku celananya.

"Aku hanya... aku tidak bisa tidur. Aku ingin membaca buku harian ibumu lagi," Nadia mencoba berbohong, sebuah kebohongan yang ia tahu sangat tipis.

Bramantya menyesap wiskinya, menatap Nadia dengan pandangan yang dalam. "Buku harian ibuku adalah kumpulan kesedihan, Nadia. Mengapa kau sangat tertarik pada rasa sakit orang lain? Apakah karena kau juga memiliki lubang yang sama di hatimu?"

"Aku hanya ingin mengenalmu lebih baik, Bram. Bukankah itu tujuan dari pernikahan ini?"

Bramantya tertawa kecil, suara tawa yang kering. "Tujuan pernikahan ini adalah untuk menciptakan ilusi tentang kesempurnaan. Dan kau hampir merusaknya malam ini. Berikan padaku apa yang kau ambil dari brankas itu."

Nadia terpaku. "Aku tidak mengambil apa-apa."

Bramantya berdiri, berjalan mengitari meja hingga ia berada tepat di depan Nadia. Ia meraih tangan Nadia, membukanya secara paksa, dan flashdisk itu jatuh ke lantai dengan suara denting yang nyaring.

Bramantya memungut benda kecil itu. "2022. Tahun yang sangat sibuk bagi keluarga Mahendra. Tahun di mana Maya memutuskan untuk menjadi pahlawan yang salah arah."

Ia menatap flashdisk itu, lalu menatap Nadia. "Kau ingin tahu isinya? Ayo, kita tonton bersama. Aku benci orang yang memiliki rasa penasaran setengah-setengah."

Bramantya memasukkan flashdisk itu ke laptopnya. Layar menyala, menampilkan rekaman kamera keamanan yang kasar dan sedikit kabur. Lokasinya tampak seperti sebuah basement tua yang Nadia kenali sebagai gudang di kediaman lama mereka.

Di dalam video, terlihat seorang wanita—Maya—sedang berteriak pada seorang pria. Pria itu adalah Adrian, adik Bramantya. Wajah Adrian tampak kacau, dipenuhi amarah dan pengaruh sesuatu yang tampak seperti obat-obatan.

"Kau tidak bisa terus menyembunyikan ini, Adrian! Bramantya akan tahu kau menggunakan dana yayasan untuk bisnis harammu!" teriak Maya di video itu.

Adrian tertawa gila, ia memegang sebilah pisau. "Bramantya sudah tahu, Maya! Dia yang menyuruhku! Dia ingin aku menjadi pihak yang kotor agar dia tetap terlihat suci!"

Terjadi pergulatan. Adrian mendorong Maya hingga kepalanya membentur sudut meja besi. Maya terjatuh, tidak bergerak. Darah mulai mengalir. Adrian tampak panik, namun tiba-tiba, sosok lain muncul di ambang pintu basement dalam video tersebut.

Itu Bramantya.

Di dalam rekaman, Bramantya tidak tampak terkejut. Ia berjalan mendekati tubuh Maya yang tak bernyawa dengan ketenangan yang mengerikan. Ia tidak memanggil ambulans. Ia justru menoleh ke arah kamera, seolah ia tahu sedang direkam, dan tersenyum tipis.

"Bersihkan ini, Adrian. Sekarang kau berhutang nyawa padaku selamanya," suara Bramantya di rekaman itu terdengar sangat jernih.

Video berakhir. Ruang kerja kembali sunyi, hanya suara detak jam yang kini terasa seperti vonis mati. Nadia menutup mulutnya dengan tangan, air mata mengalir tanpa suara. Pria yang berdiri di hadapannya bukan sekadar pengusaha ambisius, dia adalah arsitek dari sebuah tragedi keluarga.

"Sekarang kau sudah tahu, Nadia," ucap Bramantya sambil menutup laptopnya. "Maya bukan dibunuh karena dendam, tapi karena ia tidak mengerti bahwa di dunia ini, kebenaran adalah kemewahan yang tidak bisa dibeli oleh orang-orang lemah."

Ia mendekati Nadia, membelai pipinya dengan lembut, namun sentuhannya terasa seperti bisa ular. "Sekarang kau punya dua pilihan. Kau bisa mencoba lari dan berakhir seperti Maya, atau kau bisa tetap di sampingku, menjadi permaisuri di kerajaan yang dibangun di atas rahasia ini. Pilihanmu akan menentukan apakah Bi Inah akan tetap bekerja di sini besok pagi, atau ia akan mengalami 'kecelakaan' yang sama."

Nadia menatap mata Bramantya. Di sana tidak ada penyesalan, hanya ada kegelapan yang tak berujung. Ia menyadari bahwa Yudhistira benar—rumah ini adalah sebuah kuburan.

"Apa yang kau inginkan dariku, Bram?" tanya Nadia dengan suara yang hancur.

Bramantya tersenyum puas. "Besok pagi, kita akan mengumumkan ekspansi yayasan ke Singapura. Kau yang akan menjadi wajah utamanya. Kau akan menunjukkan pada dunia betapa transparannya keluarga Mahendra. Dan flashdisk ini? Ini akan menjadi pengingat kecil bagi kita berdua tentang betapa eratnya ikatan pernikahan kita."

Nadia mengangguk pelan, kepalanya tertunduk. Di dalam hatinya, ia bersumpah. Jika ia harus menjadi bagian dari kegelapan ini untuk menghancurkannya dari dalam, maka ia akan melakukannya. Ia akan menjadi racun yang paling manis yang pernah ditelan oleh Bramantya Mahendra.

"Bagus," ucap Bramantya. "Sekarang, kembalilah ke kamar. Kita punya banyak rencana untuk masa depan."

Saat Nadia berjalan keluar, ia sempat melirik ke arah lukisan ibu Bramantya. Wanita di lukisan itu tampak sedang menatapnya dengan pandangan sedih, seolah-olah ia sedang menyambut Nadia ke dalam barisan jiwa-jiwa yang terperangkap di dalam labirin Mahendra.

Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dan Nadia tahu, ia tidak boleh membuat kesalahan lagi.

1
Nisa Fatimah
penuh teka teki...🧐🤨💪💪
MomSaa: 🤭Biar greget
total 1 replies
Nisa Fatimah
ngeri2 sedap kak 👍🥲
MomSaa: Hihi iya🤭
total 1 replies
Nisa Fatimah
semangat kk 💪💪💪
MomSaa: Siap kak😍
total 1 replies
Nisa Fatimah
baru hadir ni kak...💪💪💪
itsmeiblova
good
Midah Zaenudien
aku binggung blum ketemu alur x
Han*_sal
seru uuuuu ini
Han*_sal
lanjut
MomSaa: Siap kak
total 1 replies
Han*_sal
wawwwww 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!