罪から生まれ、 遺産を求める血に追われる。 Tsumi kara umare, isan o motomeru chi ni owareru. (Born from sin. Hunted by blood that demands legacy) Nakamura Noa, gadis miskin yang bekerja serabutan sekaligus merawat ibunya yang sakit parah. Noa dan ibunya yang sedang dalam persembunyian, tidak sadar bahwa klan besar Yamaguchi-gumi telah mengawasi mereka sejak lama. Mereka beranggapan bahwa Noa adalah pewaris roh leluhur Yamaguchi: 'Kuraokami' yang bangkit saat berada diambang batas. Sampai akhirnya Noa dijemput paksa dan dibawa kembali ke dunia kelam para algojo. Ia harus memilih: tunduk pada mereka atau hancurkan warisan yang telah merenggut hidupnya. ⛔️"DILARANG KERAS menyalin atau mengambil ide, alur, plot twist, tokoh, dialog, maupun bagian cerita, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa izin penulis."⛔️ Copyright© 12/07/2025 - SAMSARA. Technical Advisor : Aimarstories Cover : pinterest Dark psychological thriller Dengan gaya sinematic noir - slow burn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samSara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14 - Sakazukigoto part II
...**...
...柔らかな檻...
...-Yawarakana Ori-...
...'Sangkar yang Lebih Halus'...
...⛩️🏮⛩️...
Sore itu terang, tapi dinginnya menggigit. Udara membawa aroma samar tembakau basi dan logam tua—menyusup ke batu, seolah waktu ikut membusuk di dalamnya.
Noa membuka jendela kamarnya.
Di luar, taman dalam terhampar seperti lukisan tinta: kerikil putih, ilalang pendek, kolam koi yang gelap, dan satu pohon plum yang masih belum berbunga.
Penjaga berdiri diam di bawah, tak pernah melihat ke atas, tapi selalu terasa mengawasi.
Tapi yang menarik perhatian Noa malam itu adalah pria yang duduk di bangku kayu panjang, tak jauh dari lentera batu.
Reiji.
Ia tampak nyaman seperti pemilik tempat, satu tangan memainkan korek api logam, kaki bersilang malas.
Saat jendela terbuka, ia mengangkat kepala.
"Akhirnya," katanya, seolah mereka sudah punya janji. "Kupikir kau akan bertapa seminggu sebelum memutuskan menengok keluar."
Noa bersandar di bingkai jendela. "Masih mencoba membedakan ini... rumah, atau penjara."
Reiji tersenyum, mata setengah terpejam.
"Jawabannya berubah tergantung siapa yang memegang pintu keluar."
Ia bangkit dan berjalan mendekat sedikit, berhenti di batas bayangan. Tak terlalu dekat, tak terlalu jauh.
"Apa kau suka kamar barumu? Dindingnya tebal. Tapi kalau kau menajamkan pendengaranmu... kau pasti bisa mendengar sesuatu."
Noa diam. Pandangannya mengarah ke pohon plum.
Reiji menyandarkan punggung pada tiang batu, kemudian berkata dengan suara ringan:
"Selamat datang, Noa-chan. Sekarang kau bagian dari keluarga. Meskipun... kadang yang paling berbahaya adalah yang tinggal serumah."
Hening.
Lalu senyuman kembali menghiasi wajahnya, nyaris ramah, nyaris menusuk.
"Aku pribadi tidak suka bermain kotor. Tapi aku suka menonton."
Ia membungkuk pelan, gerakan setengah formal, setengah main-main.
Lalu berjalan pergi, menghilang ke dalam kegelapan koridor samping.
...⛩️🏮⛩️...
Beberapa menit setelah Reiji menghilang, ketukan terdengar di pintu.
Satu ketukan pelan, dua cepat. Tanpa suara dari dalam, pintu terbuka sendiri.
Kuroda muncul dengan dua botol sake kecil di tangan dan senyum yang terlalu nyaman untuk situasi ini.
"Aku dengar kau sudah punya jendela sekarang," katanya ringan. "Kemajuan besar untuk seseorang yang dulunya dikurung di 'bawah tanah'."
Ia masuk tanpa diundang dan duduk di sisi meja. Tatapannya menyapu ruangan, lalu berakhir di wajah Noa.
"Aku tidak datang karena diperintah. Hanya ingin memastikan kau... mulai merasa bagian dari tempat ini."
Ia membuka botol dan menuang ke dalam dua cangkir.
"Kau tidak harus bicara," katanya, menyerahkan salah satunya pada Noa. "Hanya perlu mendengar. Orang-orang di sini akan menunjukkan siapa mereka... cepat atau lambat."
Noa menerima cangkir itu, sedikit heran karena tidak ada yang peduli usianya. Asap tipis mengepul dari cairan hangat, aromanya seperti sesuatu yang tidak ia kenal... tapi tahu akan jadi bagian dari dunia ini, cepat atau lambat.
"Dulu kau tidak banyak bicara," gumam Noa, tanpa menatap langsung.
"Sekarang terdengar seperti orang yang suka memberi petuah."
Kuroda hanya tersenyum tipis, seperti angin dingin yang lewat tanpa maksud tinggal lama. Ia menyandarkan tubuh, sorot matanya berubah sedikit lebih dalam.
"Mulai sekarang, kalau kau mau... kau bisa memanggilku Ojii-san." Suaranya ringan, seolah gurauan, tapi nadanya membawa beban yang tak bisa diabaikan.
Ia menarik napas pendek, lalu menambahkan dengan nada lebih rendah, "Aku tahu ini sulit untuk kau terima. Kenyataan bahwa kita sekarang adalah keluarga... meski memang tidak seperti keluarga lain. Setidaknya kau punya tempat untuk berpulang."
Noa mengangkat wajahnya, matanya menatap datar, hampir dingin. "Pulang ke penjara maksudmu?"
Kuroda tidak tersinggung. Justru ada gurat puas tipis di ujung bibirnya, seperti seseorang yang akhirnya mendapat jawaban yang ia tunggu.
"Semua yang kami lakukan... " ucapnya tenang, "... adalah konsekuensi dari apa yang sudah kau miliki. Suka atau tidak. Terima atau tidak."
Ia berhenti sejenak, pandangannya melunak namun tetap sulit ditebak. "Aku tidak memihak siapa pun. Aku tidak munafik. Tapi aku bisa menjadi perantaramu ... atau sekadar teman untuk mengobrol, kalau itu yang kau butuhkan."
Noa tidak segera menjawab. Hanya helaan napas panjang yang lolos dari bibirnya, samar antara pasrah dan enggan. Ia tidak menolak, tapi juga tidak menerima—membiarkan kata-kata Kuroda menggantung di udara, nyaris seperti sebuah persetujuan yang tak pernah diucapkan.
Pandangan Noa terarah ke lantai kayu, pikirannya sempat berkelana—menyelam ke sesuatu yang masih melekat pagi itu.
Sakazukigoto.
Upacara minum sake yang mengikat seseorang pada klan. Ia ingat jelas: mangkuk kecil, suara pria tua yang mengumumkan penerimaannya. Tapi ada satu hal lain—satu kalimat yang mengganggunya sampai sekarang.
'Klan Yamaguchi tidak bertambah satu anggota hari ini, tapi darah yang hilang telah kembali.'
Saat itu Noa mengira itu hanya simbolik. Hanya tradisi. Tapi setelah ritual upacara dilakukan—kata-kata itu masih bercongkol dipikirannya.
"Apa itu maksudnya..." gumam Noa pelan, nyaris hanya untuk dirinya sendiri.
Kuroda menoleh sedikit. "Hm?"
Noa mengangkat wajah, tidak sepenuhnya menyadari ia telah berbicara. "Saat upacara itu... pria tua itu berkata kalau klan tidak bertambah satu orang, tapi darah yang hilang kembali. Apa kau tahu maksudnya?"
Kuroda tidak menjawab segera. Matanya redup, tapi bukan karena iba—lebih seperti seseorang yang menilai dan memastikan lawan bicaranya benar-benar siap mendengar ini.
"Aku tidak bermaksud mengusikmu dengan masa lalu," katanya pelan. "Tapi kau harus tahu... sebenarnya kau bukan orang luar bagi klan ini."
Noa menyipitkan mata. "Maksudmu karena roh naga itu? Yang tiba-tiba memilihku?"
"Bukan hanya itu," sahut Kuroda, tanpa tergesa. "Roh bisa diwariskan... tapi tidak kepada sembarang orang. Kau yang terpilih karena darahmu. Darah yang tidak pernah benar-benar hilang dari klan ini."
Noa terdiam. Lalu—suara itu keluar, pelan tapi tegas.
"Jadi... memang benar kalau aku anak dari wanita simpanan Oyabun?"
Kuroda tidak langsung menjawab. Ia menunduk sebentar, seolah menghormati seseorang yang tak hadir di ruangan itu.
"Jangan berkata seperti itu," katanya akhirnya. "Ibumu dipaksa masuk ke urusan yang lebih besar dari hidupnya. Ia tidak pernah mengkhianati siapa pun—hanya berusaha menyelamatkanmu."
Noa tak pernah melepaskan tatapannya pada Kuroda. "Jadi kau kenal baik ibuku?"
"Aku mengenalnya cukup untuk berkata... ia mencintaimu lebih dari yang bisa ia tunjukkan. Dan kau tahu itu, Noa."
Hening beberapa detik—bukan hening kosong, tapi yang terasa seperti kebenaran sedang mengambil bentuk.
"Noa," lanjut Kuroda dengan suara lebih rendah, "kau bukan anak yang ditemukan. Kau adalah anak yang kembali. Abaikan saja orang-orang yang berkata buruk padamu dan ibumu, mereka hanya... iri dan tak terima."
Noa menatap cangkir. Lalu beralih pada pria di hadapannya. Matanya terfokus dengan jari tangan Kuroda yang tengah menyentuh leher botol sake. Jari manisnya dibalut kasa putih, bersih, tapi ada noda halus yang menunjukkan luka itu belum sepenuhnya sembuh atau belum ingin sembuh.
"Apa itu sakit?" tanya Noa pelan. "Atau kau sudah terlalu terbiasa untuk merasakannya?"
Kuroda tak langsung menjawab. Ia memutar botol pelan di telapak tangannya, seolah tengah mengingat sesuatu dari masa lalu yang terlalu berat untuk diucapkan.
"Lucunya, rasa sakit hanya muncul ketika teringat hal yang sia sia dilakukan."
Di luar, angin malam berdesir, menyentuh daun ilalang dan membawa suara samar dari kejauhan—langkah, bisik, dan sesuatu yang tak bisa dinamai.
Dan Noa tahu: malam ini hanya awal dari sebuah ujian panjang.
...—つづく—...
disisi lain, noa bener² berjuang bertahan hidup bersama bibi yang memang sebenarnya ibu kandungnya. kondisi yang cukup memprihatinkan untuk mereka berdua yang sebatang kara
sungguh alur cerita ini membuat penasaran untuk terus membacanya
kuat banget udahan, pengambilan konfliknya juga menarik. Geisha, si penghibur yang dihargai di Jepang. pasti si Rin ini cantik banget sampai kayaknya jadi pusat. Btw kakak Author kamu risetnya jalur film apa pernah kesana, bisa buat setting yang jepang banget 👍