"Hanya anak yang lahir dari Tulang wangi satu suro yang akan selamat! Istrimu, adalah keturunan ke tujuh dari penganut iblis. Dia tidak akan memberimu anak, setiap kali dia hamil, maka anaknya akan di berikan kepada sesembahannya. Sebagai pengganti nyawanya, keturunan ke tujuh yang seharusnya mati."
Pria bernama Sagara itu terdiam kecewa, istri yang telah ia nikahi sepuluh tahun ternyata sudah menipunya.
"Pantas saja, dia selalu keguguran."
Harapan untuk menimang buah hati pupus sudah. Sagara pulang dengan kecewa.
"Lang, kamu tahu tidak, ciri-ciri perempuan yang memiliki tulang wangi?" tanya Sagara.
"Tahu Mas, kebetulan kekasihku di kampung memiliki tulang wangi." jawab Alang, membuat Sagara tertarik.
"Dia cantik, tapi lemah. Hari-hari tertentu dia akan merasa seluruh tulangnya nyeri, kadang tiduran berhari-hari." jelas Alang lagi.
"Lang, kamu mau nggak?" sagara meraih bahu Alang.
"Mau apa Mas?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan keluar?
Gendis menjentikkan ujung jarinya. Lalu terdengar suara anak-anak yang sedang bermain.
Kata Nina, dia juga bisa melihat Arya. Gendis begitu penasaran.
"Bibi."
"Bibi!"
"Bibi!"
Telinga Niken berdenging, suara riuh anak-anak itu kembali terdengar sedang bermain dan berlarian.
"Kalian?" Niken bergumam bingung, di sekelilingnya ramai sekali anak-anak kecil, tapi wajah dan tubuh mereka semuanya luka, menyedihkan.
Niken tersadar, menatap wajah Gendis yang ayu kini telah berubah menjadi sosok menyeramkan. Matanya besar seakan ingin keluar, wajahnya hitam mengelupas, rambutnya gimbal. Niken menggeleng tak percaya, sosok itu pernah mengejar, ingin membunuhnya. Apakah sebenarnya Gendis?
"Tolong! Mbak Dewi!" Niken berteriak, tapi Dewi sendiri kini menyandar tak berdaya di dinding terkulai tak sadarkan diri.
"Hikhikhikhik" dia terkikik.
Matanya memerah, lalu mengulurkan tangan mencekik Niken.
"Agh!" Niken merasa sesak.
Sedangkan Nina tak peduli akan perubahan Gendis, ia membuka mulut Saga, menuang air pekat yang menjijikan.
"Bhuh!" Saga membuangnya.
"Paksa dia!" pekik Gendis dengan suara menyeramkan.
"Hentikan!"
Mak Puah melempar air ke arah Gendis.
"Kau! Aaaggh!"
Punggung gendis mengeluarkan asap, ia berteriak melepaskan cengkeramannya di leher Niken.
"Nyonya!" Nina berteriak, tubuh Gendis tersungkur di ranjang.
"Ayo! Bantu aku membawa Saga!" Pinta Mak Puah, Niken segera membantu Mak Puah membawa Saga keluar.
"Niken, ada apa?" tanya Alang, mungkin keributan di kamar Saga terdengar hingga ke bawah, sehingga membuatnya ikut naik.
"Tolong Mbak Dewi!" titah Niken.
Mak Puah membawa Saga ke kamar paling belakang, lalu mengunci pintunya.
"Mak! Sebenarnya ada apa?" tanya Niken.
"Berikan dulu air ini kepadanya." titah Mak Puah, menuangkan air yang di dapatnya entah darimana.
Buru-buru Niken menyodorkan kepada Saga.
"Habiskan, agar kau cepat pulih." kata Mak Puah.
"Terimakasih Mak. Terimakasih." ucap Saga, kini menyandar di ranjang.
Mak Puah sendiri kini menyandar lemas di kursi empuk, wanita tua seperti dia benar-benar harus menguras tenaga demi mengobati Saga.
"Aku sudah tidak tahan lagi Mak. Apakah, aku harus mengakhirinya?" tanya Saga.
"Kau bunuh diri pun, dia tak kan melepaskan mu." jawab Mak Puah. Membuat Saga putus asa.
Niken mengamati kedua orang di hadapannya, sepertinya ia menangkap suatu hal yang rumit, tuan Saga ini berusaha melepaskan diri dari istrinya.
katanya, setiap kali bulan purnama yang bertepatan dengan Selasa Kliwon, gendis akan memaksa Saga memakan makanan tak biasa, yaitu anak manusia yang di gugurkan.
Selama ini selalu gagal, tapi bukan berarti dia akan kehabisan akal.
"Gendis tak punya pilihan, menyerahkan nyawa, atau menjadi seperti mereka. Sepertinya, gendis memilih yang kedua. Perlahan dia akan berubah, di mulai dari makanannya yang tak wajar. Kau semakin dalam bahaya." ucap Mak Puah kepada Saga.
"Apakah ada jalan keluarnya Mak?" tanya Niken penasaran, kalau tahu rumit begini, Niken tak mau ikut campur.
"Punya anak dari tulang wangi satu suro, memiliki tanda lahir di bahu, yang artinya memikul beban pembebasan."
Penjelasan Mak Puah membuat keduanya terkejut, Saga menatap Niken, Niken pun menatap Saga.
"Kemana ku cari perempuan seperti itu?" tanya Saga, pelan.
"Ada. Aku pernah melihatnya delapan belas tahun yang lalu. Tapi, yang kudengar, bayi itu sudah meninggal. Tapi kabar lain mengatakan kalau sebenarnya dia tidak meninggal, melainkan di sembunyikan."
"Bayi perempuan itu, anak siapa?" tanya Saga.
Mak Puah berdiri, menghadap Saga yang amat penasaran.
"Kiyai Yusuf."
*
*
*
Mulai sekarang, baik manusia ataupun setan, semuanya tampak sama dan harus diwaspadai.
Apalagi setelah mengetahui masalah yang terjadi di rumah besar ini.
Andaikan tetap di kampung hidup miskin dan numpang di gubuk milik Alang. Tapi, terus di sana juga tak baik, artinya kebodohannya akan terus berlanjut hingga mendarah daging. Kebusukan Alang tak akan ia ketahui selamanya.
Saat ini Niken sudah tak punya pilihan. Apalagi sebentar lagi Alang akan di nikahkan dengan Dewi. Mau tak mau harus menjadi satu-satunya kelurga Alang. Niken menertawai diri sendiri.
"Dek."
Tiba-tiba Alang sudah berada di belakang Niken, sore itu lumayan cerah, Niken duduk di teras depan kamarnya seorang diri.
"Mas Alang, ada apa?" tanya Niken.
Alang memandangi Niken cukup lama, setelah beberapa hari mengumpulkan keberanian, kini baru punya kesempatan untuk bicara.
Alang duduk di ubin tepat di sebelah kaki Niken yang jenjang. Niken segera menarik kakinya, lalu berdiri canggung.
"Sebaiknya, tidak ada yang perlu kita bicarakan. Semua sudah jelas dan kamu akan segera menikahi Mbak Dewi." ucap Niken.
"Aku bisa membatalkannya Dek, jujur aku tidak bisa melupakan kamu. Aku mencintai kamu." kata Alang.
Niken memutar tubuhnya hingga membelakangi Alang, dia pun sempat berpikir kalau mereka saling mencintai. Tapi, melihat Alang bersama Dewi, semuanya hanyalah bohong.
"Dek!" Alang meraih tangan Niken, memaksa Niken berbalik menghadap dirinya.
"Jangan seperti ini. Kalau mereka lihat, kita akan di sangka selingkuh! Lalu apa kata Mbak Dewi kalau tahu aku bukan adikmu?" ucap Niken, menghempas tangannya.
"Aku tidak bisa meninggalkan kamu!" teriak Alang.
Niken semakin gelagapan, suara Alang terlalu keras. "Kecilkan suara mu Mas!" geram Niken.
"Aku tidak mau meninggalkan kamu Dek, aku tidak mungkin bisa melupakan kamu!" ucap Alang, memaksa suaranya pelan.
"Kalau tidak bisa mengapa sampai seperti itu dengan perempuan lain, Mas?"
"Aku_"
"Aku juga salah, dan aku pula yang bodoh." ucap Niken, tersenyum kecut. "Kalian sudah lama, lebih dulu ketimbang aku. Meskipun masih ku sesalkan satu pertanyaan yang tak bisa ku jawab sendiri?" ucap Niken, menatap wajah Alang yang memelas.
"Kalau sudah punya Dewi, mengapa kau lakukan itu kepadaku?" pertanyaan itu terlontar serentak dengan jatuhnya air mata.
"Niken. Aku salah." ucap Alang, matanya pun ikut mengabur, teringat segala kelicikan tapi tetap saja cintanya terhadap Niken lebih besar.
"Sekarang, sudah tak bisa di perbaiki. Biarlah semua orang tahu kalau aku ini adik mu. Meskipun hatiku selalu hancur berkali-kali ketika sebutan itu keluar dari bibirmu."
"Niken!" Alang terus memanggilnya.
Niken masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintunya, mengingat segala kenangan dari kecil hingga sekarang, semuanya begitu indah karena Alang selalu ada. Setiap kebersamaan membayang di pelupuk mata, Alang itu dulunya adalah belahan jiwa, sekarang telah berkhianat.
Niken kembali menangis setelah hari itu, rasanya tetap sakit ketika berhadapan dengan Alang. Belum ada yang berubah meskipun bibir berkata telah rela.
"Niken, tolong angkat selimutnya!" teriakan Mak Puah terdengar.
"Iya!"
Gegas menghapus air mata, kemudian pergi ke belakang mengangkat selimut Mak Puah. Ia membawanya naik, ke kamar atas.
"Mak, selimutnya letakkan dimana?" tanya Niken.
"Di sini."
Niken terkejut, karena yang bicara bukan Mak Puah, melainkan Saga.
"Nangis lagi ya?" tanya Saga, melihat mata Niken yang sembab.
Niken tak menjawabnya.
"Mau jalan-jalan nggak? Besok aku ada kepentingan ke kampung halaman mu." ucap Saga, meraih selimut tebal dari tangan Niken.
"Ha? ke kampung?" tanya Niken.
Saga mengangguk, "Mau mencari lahan, katanya di sana murah." ucap Saga.
Niken tampak berpikir, dia pun sudah dua setengah tahun tak pernah kesana, rindu.
"Mau nggak?" tanya Saga, kini dia sudah sembuh, wajahnya lebih segar dari sebelumnya.
"Siapa lagi yang pergi?" tanya Niken.
Saga tersenyum, lalu berkata. "Kita berdua."
"Hah? Apa gak di cari?" Niken terkejut.
"Siapa yang cari? Coba sebutkan, apakah ada yang peduli sama kita?"
Niken semakin tercengang. Siapa yang peduli?
Ada yang berbeda sore ini. Tuan Saga yang selalu kaku dan rapi, kini berpakaian santai, kaos oblong putih dan celana selutut. Memperlihatkan kesederhanaan, terbuka, sepertinya dia sedang menikmati hidup.
"Iya, aku mau."
aq mlah deg2an wis semua terbongkar kan alang mau dewi tau kebusukan mu juga lang
waktu ku tolol aq ga tau yang nongol2
ku sengol2 ku kira pistol ehh ternyata nya pistol 🤭🤭🤭
gendis g bisa lagi bikin saga tunduk akhirnya cari tumbal lain dan memghabisi dgn dgn sadis krn ketahuan 👻👻👻👻👻 the mit nya laper cuuuyy
kasih mie ayam apa yaaa 🤭
jd sebenarnya siapa itu hayoo
dan gendis ohh klakuan mu sunguh iblis