Dunia Kultivasi adalah dunia yang kejam bagi yang lemah dan indah bagi yang kuat
Karena itu Li Yuan seorang yatim piatu ingin merubah itu semua. bersama kawannya yaitu seekor monyet spiritual, Li Yuan akan menjelajahi dunia dan menjadi pendekar terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Kata-kata absurd
Pagi itu, Puncak Utama Sekte Awan Tenang dipenuhi oleh ribuan murid yang duduk bersila dengan rapi. Suasana begitu hening hingga suara jatuhnya sehelai daun pun bisa terdengar. Semua mata tertuju pada panggung tinggi, tempat Li Yuan duduk dengan jubah sutra putih yang berkibar tertiup angin gunung.
Di sampingnya, Dong Dong duduk dengan gaya meditasi yang dibuat-buat, meski sebenarnya ia sedang menahan kantuk karena terlalu banyak makan pisang spiritual semalam.
"Master Li," bisik Ketua Sekte Qing Feng dengan penuh hormat. "Para murid sudah tidak sabar mendengar intisari kultivasi dari seorang Senior seperti Anda. Mohon berikan satu atau dua kalimat bijak."
Li Yuan berkeringat dingin di balik jubahnya. "Intisari kultivasi apa? Aku saja belajar dari hantu kakek mulas dan membantai ular!" pikirnya panik.
Ia berdeham, menatap ribuan mata yang haus akan ilmu. Li Yuan teringat masa-masanya saat masih menjadi gembel, mencari makan di tumpukan sampah kota yang bau.
"Ehem..." Li Yuan memulai, suaranya bergema karena bantuan Qi. "Kultivasi itu... sebenarnya seperti mencari roti di tempat sampah."
Seluruh lapangan terdiam. Para murid saling pandang, bingung. Ketua Sekte Qing Feng mengernyitkan dahi, mencoba mencerna "metafora" yang sangat dalam itu.
"Kalian melihat sampah," lanjut Li Yuan, mulai asal bicara karena gugup. "Tapi jika kalian tidak takut kotor, jika kalian berani merogoh lebih dalam meskipun ada ulat dan bau busuk... kalian akan menemukan kerak roti yang tersisa. Kultivasi adalah keberanian untuk merogoh sampah dunia demi menemukan roti sejati di dalam jiwa kalian!"
Li Yuan berhenti sejenak, lalu teringat saat ia sakit perut hebat di gua. "Dan ingat! Jika perutmu mulas karena energi yang masuk, jangan ditahan! Lepaskan semuanya! Kosongkan dirimu sekosong-kosongnya sampai kau merasa ringan seperti... seperti setelah buang air besar di pagi hari!"
Dong Dong hampir saja terjungkal dari kursinya mendengar kata-kata itu. Namun, keajaiban terjadi.
Seorang murid di barisan depan tiba-tiba gemetar. Matanya terbelalak. "Merogoh sampah... roti sejati... mengosongkan diri... AKU MENGERTI! Selama ini aku terlalu sombong dengan bakatku, aku takut terlihat kotor di mata orang lain! Aku harus merendahkan diriku sedalam sampah untuk mencapai puncak!"
BOOM!
Aura murid itu meledak. Ia langsung menerobos dari ranah Pengerasan Dasar ke Arus Qi dalam sekejap.
Tak lama kemudian, murid lain berteriak, "Aku juga! Aku selama ini menahan emosiku, aku tidak mengosongkan jiwaku! Master Li benar, aku harus melepaskan semuanya!"
Satu per satu, ledakan aura spiritual terjadi di seluruh lapangan. Ratusan murid mengalami pencerahan massal hanya karena mendengar analogi sampah dan buang air besar dari Li Yuan.
Melihat fenomena itu, Li Yuan sendiri tertegun. Saat ia melihat para murid yang tulus belajar, hatinya merasa sangat tenang. Kedamaian itu memicu sesuatu di dalam dirinya. Ia teringat kembali wajah warga Desa Qingyun yang tersenyum saat ia mengajar mereka.
"Keadilan bukan hanya membalas dendam... tapi juga memberi kekuatan pada mereka yang ingin tumbuh," batin Li Yuan.
Tiba-tiba, energi spiritual dari seluruh puncak gunung tersedot ke arah Li Yuan. Langit yang tadinya cerah mendadak tertutup awan emas. Pedang hitam di pangkuannya bergetar, namun kali ini tidak mengeluarkan aura haus darah, melainkan cahaya ungu yang stabil dan agung.
Pikiran Li Yuan menjadi sangat jernih. Fondasi Penyatuan Roh miliknya yang sebelumnya goyah karena emosi, kini mengeras seperti baja.
Penyatuan Roh Tingkat 6... Tingkat 8... Tingkat 10!
Dan akhirnya, suara dentingan lonceng surgawi terdengar di dalam kepalanya. Pusaran energi di dadanya memadat dan meledak, memunculkan proyeksi sosok raksasa dirinya yang memegang pedang di belakang punggungnya.
Manifestasi Roh Tingkat 1.
Ketua Sekte Qing Feng jatuh berlutut, wajahnya dipenuhi air mata haru. "Luar biasa! Master Li memberikan petuah sambil melakukan terobosan besar! Beliau menggunakan pencerahan murid-muridnya sebagai energi untuk naik tingkat! Benar-benar metode yang belum pernah terdengar sebelumnya!"
Li Yuan membuka matanya. Ia merasa jauh lebih kuat, namun matanya kini memancarkan kebijaksanaan yang lebih dalam. Ia menatap Dong Dong yang kini menatapnya dengan mulut terbuka.
"Dong Dong," bisik Li Yuan. "Sepertinya... aku tidak sengaja menjadi Master sungguhan."
"Kau benar-benar gila, Li Yuan," sahut Dong Dong takjub. "Sekarang, bagaimana cara kita menjelaskan kalau 'roti sejati' itu sebenarnya memang roti beneran yang kita perebutkan dulu?"