Menjadi guru tampan dan memiliki karisma over power memang tidak mudah. Dialah Adimas Aditiya, guru muda yang menjadi wali kelas sebuah kelas yang anehnya terlalu hidup untuk disebut biasa.
Dan di sanalah Rani Jaya Almaira berada. Murid tengil, manis, jujur, dan heater abadi matematika. Setiap ucapannya terasa ringan, tapi pikirannya terlalu tajam untuk diabaikan. Tanpa sadar, justru dari gadis itulah Adimas belajar banyak hal yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah keguruan.
Namun karena Rani pula, Adimas menemukan jalannya rumahnya dan makna cinta yang sebenarnya. Muridnya menjadi cintanya, lalu bagaimana dengan Elin, kekasih yang lebih dulu ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Menjenguk Elyra
"Sepertinya Rani harus istirahat dulu, Pak. Biarkan saya yang bicara dengannya," ucap Ibu Rani. Adimas menghela napas kasar dan mengangguk pada akhirnya.
"Baik, terima kasih." Adimas pun keluar dari rumah itu setelah berpamitan dan mengucap salam.
Adimas pergi dari sana, dia pulang ke apartemennya. Badannya panas dingin, bahkan suhu tubuhnya terus meningkat sampai sore hari.
Sedangkan Rani di kamarnya mulai mengobati kakinya yang terluka, perih yang dirasakan kakinya tak sesakit hatinya saat ini.
"Rani?" Ibu Rani mengetuk pintu dan membuka pintu itu secara perlahan.
"Iya, Mah?" Rani tersenyum setelah melihat ibunya masuk.
"Kenapa dengan kakimu?" tanyanya. Rani hanya menghela napas kasar dan terus mengobati kakinya.
"Ish, Mah, tadi aku nggak sengaja nginjak kaca. Aku nggak apa-apa kok, Mah, asli nggak apa-apa." Rani berusaha tersenyum, namun sudut matanya justru berkata lain.
Ibunya duduk di tepi ranjang dan saat itu dia melihat ponsel Rani berdering, itu berasal dari Elyra, sebuah pesan singkat.
"Ran, aku hamil." Hanya itu saja, Rani menganga melihat pesan itu.
"Si gila ini!" kesal Rani. Mamahnya hanya terkekeh melihat kekesalan terlupa dari bibir Rani.
"Di mana kau? Biar aku ruqyah suamimu bertubi-tubi!" balas Rani. Kurang dari satu menit pesan baru sampai dari Elyra.
"Di RS, sayangku. Jangan lupa bawa rujak ya, beybeh.." balas Elyra. Rani mengepalkan tangannya.
"Mah, aku mau jenguk dulu Elyra ya?" pintanya. Ibu Rani menghela napas kasar dan menggeleng pelan.
"Nak, apa benar tak ada yang mau diceritain, hem?" tanya lagi Ibu Rani. Rani menggeleng cepat.
"Enggak kok, Mah," jawab Rani enteng, seolah memang tidak ada apa pun yang terjadi.
"Baiklah, Mamah titip salam untuk Elyra. Jangan bawa hadiah barang bayi, itu pamali. Bawa saja untuk ibunya, jangan untuk anaknya," ucap Ibu Rani. Rani akhirnya mengangguk dan meluncur ke kamar mandi.
Dia mandi agak lama, jelas dia sambil menangis di sana. Dia membersihkan seluruh badannya, dia juga menggosok bibirnya dan semua bagian tubuhnya. Dia merasa sangat kotor, dia merasa sangat tidak suka dengan hal semacam itu.
Rani keluar dari kamar mandi seolah tak terjadi apa pun, dia kembali menggunakan baju yang biasa dia kenakan. Dia turun menggunakan sepatu baru dan memainkan kunci motornya, tak lupa kebiasaan Rani yang sangat suka bersiul.
"Di rumah jangan bersiul, Ran. Pamali!" teriak sang Mamah dari arah dapur yang sedang merapikan belanjaannya.
"Dikit aja, Mah, dikit! Rani berangkat dulu ya, Mah. Assalamualaikum!" teriak Rani. Tak lama kemudian suara motor besarnya terdengar keluar dari garasi dan melaju dengan cepat.
Mata Rani dirasa sangat panas, angin yang mencoba mengeringkan rambutnya dan terus memukuli jaketnya membuat Rani tak sanggup lagi hanya fokus ke jalanan. Matanya terasa panas, jujur dia ingin sekali menumpahkan kekesalannya di jalan raya. Namun dia masih sayang nyawa, masih sayang Ayah dan Ibunya, dan masih sayang dengan masa depannya.
Rani sampai di depan rumah sakit, dia turun dan membeli rujak yang dijual di area parkiran rumah sakit. Rani berjalan dengan santai memasuki ruang rawat inap ke arah ruang VIP di lantai 3.
"Elyra? Assalamu'alaikum?" Rani datang, di dalam sana ternyata banyak orang yang menjenguk Elyra.
"Eh, ehem." Rani berdehem. Elyra tertawa menyambut temannya itu.
"Wa'alaikumussalam, beybeh. Mana rujaknya?" tanya Elyra cepat. Rani menatap sekeliling banyak orang yang membawa hadiah dengan harga di atas gaji UMR. Sedangkan dirinya justru memberi rujak seharga dua puluh ribu, itu pun dibeli di area parkir rumah sakit.
"Masuk," David juga ada di sana, wajahnya mirip sekali dengan Adimas, bedanya David memiliki luka di sudut alisnya.
"Permisi," ucap Rani. Dia langsung memeluk Elyra dan duduk di dekatnya.
"Beybeh-ku apa kabar?" tanya Elyra. Rani melihat banyak bekas nyamuk dewasa di leher Elyra.
"Baik, beh. Itu nyamuknya sangat suka gigit ya, Ly?" kekeh Rani. Elyra ikut tertawa.
"Takut ketuker kayanya, jadi dikasih tanda tiap malam," celetuk Elyra. Leon yang ada di sana menutup wajah. David juga menahan senyumnya.
"Gimana itu sama Aa Dimas?" tanya Elyra lagi. Rani mengerucutkan bibirnya.
"Gak tau ah, heheh..." Rani tersenyum, namun jelas ada luka dalam cengiran yang biasanya terlihat riang itu.
"Masih bilang gak tau setelah pakai gelang Nyonya Aditiya?" David mengangkat pergelangan tangan Rani, di mana tanda menantu dengan gelang penerus dikenakan Rani.
"Hadiah dari Bunda, bisa aja sama kamu, Bang, nikahnya. Biu!" Rani menirukan gaya menembak dengan dua jarinya ke arah David.
"Margaku Ghiffari," ucap David. Rani cemberut setelahnya dan menghela napas kasar.
"Heh, Bang, aku tadi pagi habis mukulin adikmu. Aku juga lempar dia, terus aku juga tampar dia. Masih cocok gak jadi Nyonya Aditiya?" ucap Rani kesal. Dia nyatanya sedih, namun dia berusaha sebaik mungkin agar ekspresinya tak menyiratkan kesakitan.
"Wah, cocok. Mommy juga kaya gitu," ucap David. Rani melongo tak percaya mendapat jawaban dari David.
"Serius kamu mukul Pak wali kelas?" tanya Elyra yang mendengarkan.
"Iyalah, enak aja mau nyentuh-nyentuh badan gue yang suci ini. Gak gue patahin tangannya aja syukur si itu. Dia ada cewek, beib, tapi malah kasih harapan. Kan gue jadi orang ketiga, coy. Apa kata dunia seorang Rani Jaya Almaira jadi orang ketiga? Ah, tentu tidak bisa," ucap Rani. David mengerutkan keningnya.
"Orang ketiga? Kalian memang sudah sejauh apa?" tanya lagi David. Rani mulai berpikir. Belum ada pernyataan resmi memang, tapi kan dalam keadaan seperti itu siapa yang tidak peka?
"Gak jauh sih, kan daripada kebablasan nih, Bang. Mendingan kita langsung teken rem sekencang mungkin dan berhenti ngegas. Lagian kalau ada jodoh, gak usah maksa juga udah jodoh. Kalau gak jodoh ya udahlah," ucap Rani. David mulai tertarik dengan perkataan Rani.
"Setahuku, Elin dan Dimas mau pisah. Itu yang dikatakan Dimas, tapi belum tuh ada rencana buat nembak kamu atau apa istilah gaulnya?" David nampak memutar jari telunjuknya.
"Wah, kasus, Ran," Elyra menatap Rani yang kini terdiam.
"Tapi dia udah gitu ke gue, Ly!" Rani mengecilkan volume suaranya dengan nada gereget, menggambarkan orang ciuman.
"Beh, parah men!" ucap lagi Elyra. Rani mengangguk setuju.
"Mau bukti gak, Ly?" tanya lagi Rani. Elyra jelas mengangguk cepat. Rani mengeluarkan ponselnya, namun sepasang suami istri nampak masuk ke ruangan itu.
"Gimana kondisinya, Nak?" ucap wanita paruh baya yang datang membawa banyak sekali hadiah itu.
"Mom, Alhamdulillah lebih baik," jawab Elyra. Mereka pun berpelukan dan Rani nampak tersenyum hambar. Dia mengulurkan tangannya dan mengecup punggung tangan Tuan Ghiffari dan Nyonya Aditiya.
"Ran?" Nyonya Aditiya terkejut melihat keberadaan Rani. Mata Tuan Ghiffari langsung tertuju pada ponsel Rani yang menyala dengan video yang ditangkap CCTV rumah Rani, sebuah kejadian di mana Adimas mencium paksa Rani, dan Rani memukul serta membanting Adimas dengan kasar.
Tuan Ghiffari langsung mengambil ponsel yang semula tergeletak di atas ranjang Elyra itu, dan terkekeh setelahnya.
Ya Allah malam² ngajak ditahan sambil batuk² 🤣🤣🤣
dasar Aryaaaaa astaghfirullah 🤣
pingin denger cerita Rani, yg ayah nya menjodohkan Rani sampai nangis gitu.
apa ibu nya Rani gak cerai dan jadi satu sama istri muda suaminya, kalau benar gak rela bgt aku.
dah 3 bab tapi masih kurang rasanya 😁
tetap ngakak walaupun mirip Gilang, tapi ngakak nya di tahan sampe perut sakit, mlm² di kira mba Kunti kalau ngakak 🫢
kayaknya banyak mengandung bawang