ON GOING | UPDATE SETIAP HARI
Hari dimana seharusnya Ayra Rayana bertemu klien pertamanya justru membuat dia terjatuh ke dalam kehidupan klien pertamanya itu. Regana Satya terpaksa menarik Ayra dalam kehidupannya tanpa rencana dan terjadi secara tiba-tiba.
"Bagaimana Pak Rega? Proposal ini apakah sudah sesuai?"
"Sepertinya kamu harus mengganti semuanya" Ucap Rega
"ganti jadi proposal pernikahan sepertinya cocok" Lanjut Rega
"cancel aja pak makasih!!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azrinamanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuh
Siang itu langit mendung. Rega baru sampai di rumah sakit dengan nafas yang berburu dan jantung yang berdegup kencang.
disana sudah ada mama dan ayah yang sedang duduk di ruang tunggu dengan menundukan kepalanya.
Rega yang bingung dengan situasinya langsung menghampiri orang tuanya.
"istriku dimana?" tanya rega panik
mama berdiri lalu memeluk rega dan berkata
"maafkan mama nak. Kamu harus ikhlas"
Deg....
kata itu yang tidak ingin di dengarnya. Rega merasakan tubuhnya sangat lemas. Gio yang melihat itu langsung membantu rega untuk duduk.
"gimana tante?" tanya gio yang tidak mengerti dengan situasinya
"Ayra membutuhkan waktu sendiri. Dia tidak ingin bertemu Rega sementara" jelas mama
Deg...
Rega hanya termenung mendengar ucapan mama nya. Ia sudah tidak bisa lagi mencerna kata-kata itu karna pemikirannya sedang kacau.
Orang tua mana yang tidak hancur melihat anaknya seperti ini. Mama hanya bisa menangis dalam pelukan rega sementara ayah menenangkan keduanya.
"sabar ya nak. Ini bukan akhir untuk kalian, jalan kalian masih panjang." lirih mama diva
ayah bangkit dari duduknya lalu menghampiri Gio yang hanya terdiam.
"untuk sementara Rega mau om bawa ke Perth ya. Om titip kantor sampai waktu yang tidak bisa di tentukan" ucap ayah Rino sambil menepuk pundak gio
"iya om ga masalah."
"kalo ada apa-apa bisa hubungi om ya. Nanti om bantu" ucap ayah pada gio
"ma hari ini kita ke perth. Ayo gio tolong bantu om bawa rega ke mobil."
Gio yang mendengar itu lalu membantu memapah rega ke mobil. Di sepanjang jalan rega hanya diam termenung sama sekali tidak mengeluarkan suara. Tatapan matanya kosong seperti tidak ada kehidupan di dalam dirinya.
"yah. Mama ga tega liat rega seperti ini!" ucap mama sambil menggenggam tangan rega
"kalo kondisi rega masih sama. lusa kita bawa ke psikolog ya ma"
mama hanya menganggukkan kepalanya menyetujui ayah.
***
1 minggu berlalu. Selama itu Ayra berada di apartement Resa untuk memulihkan dirinya dan sekarang ia sedang merapihkan barangnya untuk ia masukan ke koper. karna setelah pemulihan ini ayra memutuskan pergi ke swiss.
ayra sudah berada di dalam pesawat dengan elio yang menemaninya. Ayra memilih ke Swiss untuk memulihkan dirinya.
Awalnya tujuannya jerman tapi ia berfikir jika di jerman pasti rega akan menyusulnya jadi dia memutuskan ke Swiss
Sementara itu karna kabar duka itu, pernikahan niko dan resa diundur sampai waktu yang tidak di tentukan. Resa yang mengundur pernikahannya itu karna melihat sahabatnya sangat terpuruk.
Ayra hanya menangis dalam diam. Elio tau menangis seperti itu sangatlah sakit, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menemani ayra dalam keadaan terpuruknya.
"ay makan dulu ya. nangis gapapa kok tapi kan butuh tenaga" ucap elio menenangkan sambil memberikan ayra suapan
ia menurut lalu menerima suapan dari elio.
"jangan berlarut ya ay. gua ga tega liatnya" lirih elio lalu memeluk ayra
"sampai sana nanti istirahat ya. Bang Arven jemput kita di Zurich nanti."
Setelah menempuh perjalanan selama 8 jam. Mereka sampai di Doha untuk transit. Awalnya elio ingin mengambil penerbangan langsung ke Zurich namun karna mendadak hanya ada penerbangan yang transit 1x dan 2x.
Wajah ayra masih terlihat pucat. Matahari hangat menyinari Doha. Mereka berangkat pada bulan november, baru akan memasuki Winter jadi cuaca disana tidak terlalu terik dan panas justru lebih sejuk.
Elio membawa kan jaket tebal milik ayra. karna perbedaan musim di Doha yang cenderung sejuk dan di Zurich baru memasuki musim dingin sekitar 7-12°C
"are u ok ay?" tanya elio memastikan karna wajah ayra terlihat sangat pucat
ayra hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum ke Elio. Elio memutuskan mengabarkan Resa.
"ca, kita baru sampe Doha. Tapi aya-" ucapan elio terputus lalu menoleh ke arah ayra dengan tatapan sedih
"gua ga tega ca" ucap elio lirih
"maaf ya gabisa ikut kalian." tatapan sedih dari resa
"gua gapapa ko. nanti setelah sampai kita harus cari makanan enak ya di Zurich sebelum ke Diessenhofen." ucap ayra dengan senyum lemahnya
melihat ayra yang sudah mulai bangkit elio tersenyum lalu kembali berbicara dengan resa dan kini ayra sudah mulai bergabung dengannya
"udah dulu ya, kita mau lanjut lagi" ucap elio memutuskan panggilannya
mereka mulai take off, terlihat ayra sedang membaca novel dan terlihat sudah lebih tenang dari sebelumnya. Elio yang melihat perkembangan ayra lalu memilih memejamkan matanya karna saat ini sudah pukul 03.00 waktu doha dan mereka sampai pada puku 07.00 waktu zurich.
6 jam berlalu, mereka akhirnya sampai di bandara zurich namun mereka harus ke area imigrasi & baggage claim. Mereka tiba di Dock E (Area E) dan mereka harus menaiki kereta bawah tanah karna terminal utama terpisah dari Dock E.
sekitar 1 jam berlalu. mereka sudah berada di area tunggu dan menunggu bang arven tiba.
"aya" panggil bang arven lalu memeluk ayra. air mata ayra mulai runtuh. selama seminggu ini ayra hanya menangis dan kali ini ia nangis mengeluarkan suaranya dalam pelukan bang arven
"ada abang disini. Keluarkan saja semua. tapi aya harus janji setelah melepaskan semuanya harus lebih bahagia disini" ucap arven sambil mengelus rambut ayra
setelah sudah lebih tenang. Ayra mulai tersenyum dan berkata lapar, jadi mereka mampir dulu ke resto terdekat sebelum menuju pedesaan Diessenhofen.
sampai di resto mereka makan, ayra sudah lebih ceria saat ini karna melihat pemandangan di sekitarnya membuatnya lebih tenang. walaupun belum bisa melupakan semuanya tapi ayra sudah lebih baik saat ini.
***
Pert, Australia.
November di Perth bukanlah bulan yang ekstrem. Bulan itu adalah jembatan antara kesejukan musim semi dan panasnya musim panas. Sebuah waktu ketika segalanya terasa ringan. Namun tidak bagi rega, itu terasa berat bahkan menjalani hari-hari setelah kejadian disana membuatnya sangat runtuh
Rega menyusuri jalanan dengan berjalan santai di sekitar pekarangan rumah eyang di perth. Udara musim semi berhembus lembut, menggerakkan ujung daun eukaliptus di sepanjang jalan. wangi tanah kering bercampur aroma bunga liar yang bertahan sebelum musim panas datang.
"november segera berakhir. tapi mas seperti tidak hidup tanpa kamu aya"
2 minggu sudah rega berada di kediaman eyang. walaupun ia sudah merasa lebih tenang tapi tetap saja fikirannya hanya tertuju kepada sang istri yaitu ayra. Ia sama sekali tidak menyangka karna dirinya lah ayra keguguran dan meninggalkan rega
sudah banyak cara rega mencari ayra namun tetap nihil tidak di temukan jejak ayra, Bahkan hingga jerman sudah ia telusuri melalui kerabatnya tapi tetap tidak ada tanda keberadaan ayra disana.
ia tetap menghubungi ayra walaupun nomer itu sudah tidak aktif. bahkan semua sosial media nya tidak aktif tapi rega tetap gencar untuk menghubunginya mengirimkannya pesan ke nomer yang sudah tidak aktif itu.
"Maaf mas membuat mu kecewa aya. Pulanglah jika kamu sudah lebih baik. Mas akan tetap menunggumu"