Nayla Thalita Firliany 21 tahun, gadis cantik yang biasa di panggil Nayla ini merantau dari Riau ke ibu kota Jakarta untuk menuntut ilmu di salah satu kampus ternama.
Dan Naas Nayla harus kehilangan ke Virginan nya dalam sebuah insiden pemerkosaan saat ia tengah mabuk.
Karena pelaku bukan pria yang Nayla kenal, serta dirinya juga tidak hamil maka Nayla memilih melupakan kejadian itu dan menganggapnya sebagai mimpi buruk semata.
Namun beda halnya dengan Giovani Farmost 29 tahun, seorang Presdir sebuah perusahaan kontruksi yang merasa jika Nayla adalah takdirnya.
Gion panggilan dari Giovani menghalalkan segala cara untuk bisa membuat Nayla selalu di sisihnya
Namun kesalah pahaman yang terjadi di awal pertemuan mereka membuat keduanya tidak pernah akur. Terlebih Nayla yang tidak mencintai Gion membuat Gion selalu cemburu berlebihan.
Lalu apa yang akan terjadi pada kisah mereka berdua?
Simak kisah mereka selanjutnya dalam
I'M JUST FOR YOU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jujuk Aza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Gion
Jam istirahat sudah berlalu, tapi perut Gion masih terasa lapar. Gara-gara adegan india cowok gosong itu, ia jadi tidak makan siang dan sekarang perutnya terus-menerus berbunyi minta di isi, membuat dirinya tidak konsen saat kerja.
"Wulan keruangan saya sekarang!" Panggilnya pada sang sekertaris.
Tak seberapa lama pintu diketuk dari luar yang menandakan kalau Wulan sudah datang.
"Masuk!" perintahnya. Sosok wanita dengan blazer hitam dan sepatu high heels 10 cm memasuki ruangan kerjanya.
"Ada apa bapak memanggil saya?" Tanya wanita cantik itu sopan.
"Ini, berkas-berkas yang ada di meja saya sudah saya tanda tangani semua, jadi bisa diambil."
"Baik pak," Jawab Wulan sambil berjalan mendekati tumpukan berkas yang ada di atas meja Gion.
"Maksud saya, bukan kamu yang mengambil, tapi anak magang itu yang mengambil ini semua."
Wulan tampak bingung dengan ucapan Gion, "Tapi pak, anak magang yang ada sama saya sudah kembali ketempat semula, kan kemarin bapak yang nyuruh saya mengembalikan mereka," Protes Wulan mencoba mengingatkan kalau-kalau Gion amnesia.
"Iya saya tahu, makanya kamu ganti anak magang itu dengan yang lebih baik. Oh ya, kalau tidak, ganti dengan mahasiswi yang tadi makan siang di kantin bereng kita. Biar dia tidak pacaran terus sama cowok gosong itu!" perintah Gion pada wulan.
"Maksud bapak Nayla?" Tanya Wulan minta penjelasan.
"Iya itu, suruh dia kesini? Pisahkan dia dengan pacarnya, kalau dia tidak mau, usir saja dia dari perusahaan ini!"
"Mereka kan tidak pacaran pak?" protes Wulan lagi.
Gion menatap Wulan tajam, "Kalau kita biarkan saja, mereka bisa pacaran Wulan. Kamu dengar kan tadi, kalau mereka saling menyukai dan hal itu tidak boleh terjadi di perusahaan ini!" Ujarnya sarkas.
"Baik pak."
"Suruh dia pindah kesini! Membantu pekerjaan kamu sebagai sekertaris saya!" Perintahnya lagi.
"Baik pak."
"Dan lagi, begitu dia sampai, suruh Nayla ke ruangan saya untuk mengangkat semua dokumen ini!"
"Baik pak."
"Sekarang kamu boleh pergi!"
Wulan mengangguk hormat dan meninggalkan ruangan Gion menuju meja kerjanya.
*
*
*
*
Farel
Sebenarnya Ia tahu, jika bosnya itu pak Gion memiliki perasaan terhadap pacarannya. Karena beberapa kali tanpa sengaja dirinya menangkap basah Gion sedang memandang Nayla dengan tatapan penuh cinta.
Karena ia juga seorang pria, tentu Farel tahu bagaiman tatapan seseorang ketika memandang orang yang dia cintai. sama halnya ketika ia memandang gadis itu. Namun tampaknya Nayla belum menyadari, jika pak Gion menyukai dia. Sehingga membuat Farel harus ekstra ketat menjaga pacarannya di kantor ini, supaya tidak kecantol pria lain selain dirinya. Terutama Gion yang dari modelnya tampak kalau pria itu playboy.
Meski untuk menjauhkan Nayla dari bos kaya itu membutuhkan banyak uang, tapi Farel siapa bertempur jika demi Nayla. Hadis yang paling ia cintai. Apalagi posisi Nayla sekarang adalah kekasihnya, tentu membuat ia lebih mudah membangun sungai pemisah antara pacarnya dengan Gion.
Kini Farel memamerkan dua lembar tiket bioskop. Film terbaru kepada Nayla yang duduk di sebelah kanannya. Film itu baru rilis beberapa hari yang lalu dan tiketnya langsung habis terjual hanya dalam 15 menit setelah loket dibuka.
Farel mendapatkan tiket itu dari sepupunya yang masih SMA, yang ia beli dengan harga dua ratus ribu rupiah perlembar. Lantaran sepupunya tidak berniat menjual, makanya dia mematok harga tinggi. Semua terserah Farel, mau atau tidak.
Dasar anak IPS, pinter banget kalau disuruh mempraktekan hukum jual beli.
Lantaran Farel ingat, kalau sudah lama ia tidak mengajak Nayla kencan diluar, sekaligus Farel juga sedang butuh refreshing. Makanya ia menyanggupi harga segitu mahalnya. Tiket itu untuk jadwal nonton malam Minggu besok.
"Gimana mau nonton gak?" Tanya Farel.
Nayla mengangguk, "Mau lah. Tapi traktir makan juga ya?"
"Beres," Jawab Farel sambil mengusap rambut Nayla pelan.
"Eh, Kalau pak Gion tahu kita kencan gimana? Bukanya kita sudah sepakat bakal pacaran diem-diem selama magang di sini," Tanya Nayla sambil berbisik pada Farel.
"Gak bakalan deh, emang presdir kita kagak punya kerjaan apa? Sampai ngurusin karyawannya yang malam mingguan segala," Jawab Farel santai.
Nayla ikut tersenyum juga, "Iya juga sih."
"Makanya itu, aku jemput jam 7 ya?" ujar Farel.
Nayla mengangguk, dan Farel tersenyum senang.
Tak berapa lama setelah obrolan mereka berdua, pak Yoga ketua devisi pengembangan datang kemeja mereka dan menghampiri Nayla.
"Dek Nay, kamu saya pindahkan untuk bekerja ke lantai direksi, membantu sekertaris presdir disana," Ujar laki-laki berusia empat puluh tahun itu memberitahu.
"Maksud bapak bagaimana?" Tanya Nayla bingung.
"Dek Nayla, kerjanya pindah di lantai direksi, membantu bu Wulan yang menjadi sekertaris utama presdir," lelaki itu menjelaskan pada Nayla.
"Sekarang pak?" Tanya Farel
"Iya mas."
"Kok mendadak gini?" Tanya Nayla lagi.
"Saya juga tidak tahu. Tadi bu Wulan yang telpon, katanya disana ada banyak pekerjaan, jadi dia meminta dek Nayla untuk membantunya. Ayok dek Nay, saya antarkan ke sana sekarang!" Perintah pak Yoga.
Nayla memasukkan barang-barang yang dia bawa ke dalam tas, lalu pergi meninggalkan Farel sendiri.
Pasti ini ulah Gion, yang tidak suka ia dekat dengan Nayla. Ada-ada saja itu presdir, bikin aturan aneh. Farel sangat geram, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena yang berkuasa di kantor ini adalah Gion buka dirinya.
Ia memang tidak sebanding dengan pria itu, tapi Farel sangat mencintai Nayla dan akan mempertahankan pujaan hatinya apapun yang terjadi. Farel tidak akan membiarkan siapa pun mengambil Nayla dari sisihnya meski itu bosnya sendiri.
Dan ia tidak mau cintanya berakhir begitu saja hanya gara-gara Gion seorang. Lagipula meski Nayla pindah devisi bukan kah mereka masih bisa bertemu saat di luar kantor. Misal di kampus, di kost dan dimana pun tempat yang biasa mereka kunjungi berdua.
*
*
*
*
Nayla diantar oleh pak Yoga ke lantai dua puluh lima dimana ruangan Gion berada. Beliau mengantar Nayla sampai ke depan meja Wulan sang sekertaris cantik.
"Ini dek Nayla yang ibu minta tadi," Ujar pak Yoga menyerahkan Nayla pada wanita itu seolah dirinya barang saja.
"Oh iya, trimakasih pak, sudah mengantarkan kesini,"
Balas Wulan ramah, sambil tersenyum pada lelaki itu.
"Iya bu. Kalau begitu saya permisi dulu," Pamit pak yoga, namun sebelum pergi lelaki itu sempat berpesan dengan Nayla, "Yang rajin ya dek kalau kerja, semoga betah kerja di sini" Lanjutnya. Nayla tersenyum kemudian mengangguk.
"Ini kursi untuk dek Nayla," Wulan menjelaskan kursi kosong yang ada di sebelah kursinya pada Nayla tanpa ia minta, "Tugas dek Nay disini membantu saya melaksanakan pekerjaan. Seperti menyiapkan bahan untuk rapat untuk, mengangkat telpon dan mencatat hal penting yang perlu disampaikan, atau menelpon balik, membuat janji, menyusun jadwal untuk bos, pengarsipan, dan masih banyak yang lainnya," sambung Wulan yang belum apa-apa sudah menjelaskan masalah kerjaan, seakan Nayla mau dijadikan babu saja di kantor itu. Meski begitu, Nayla selalu positif thinking kepada Wulan.
"Iya bu," Nayla mengangguk setuju.
"Oh ya dek Nay, sebagai tugas pertama tolong ambilkan laporan yang ada di meja pak Gion, tadi beliau meminta laporan di mejanya untuk diambil, karena sudah ditandatangani semua."
"Baik bu."
"Ingat ya dek Nay harus sopan dan ramah. Karena sekertaris adalah wajah dari perusahaan. Jadi kita harus bersikap manis meski itu sulit," Wulan mengingatkan sebelum Nyala masuk keruangan Gion.
"Iya bu," Ujarnya sambil mengangguk.
Kemudian berjalan mendekati pintu hitam yang ada di depan mejanya itu.
"Tok tok tok!" Nayla mengetuk pintu itu tiga kali dan baru masuk setelah mendapat perintah dari pemiliknya.
"Pak, saya kesini mau ngambil berkas yang sudah bapak tanda tangani," Ujar Nayla ramah seperti permintaan Wulan tadi.
"Silahkan," Jawab Gion tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop yang ada didepannya.
Nayla mengambil setumpuk map hitam yang ada di atas meja kerja Gion, lalu melangkah meninggalkan meja itu.
"Tunggu!" panggil Gion sebelum Nayla sampai ke pintu, yang membuat ia menoleh kearah pria yang sedang duduk di kursi kerjanya, "Saya belum selesai bicara, kenapa kamu pergi begitu saja," Protes Gion yang membuat Nayla diam. Pasalnya ia tidak tahu jika Gion mau bicara dan sang presdir juga tidak menatapnya saat ia bicara tadi. Jadi Nayla pikir, memang tidak ada yang perlu disampaikan lagian, makanya ia pergi. Lagian Nayla kan bukan tuhan. Jadi mana tahu kalau Gion mau ngomong atau tidak, dasar orang udik pikir Nayla dalam hati.
"Bapak mau bicara apa?" Tanya Nayla dengan nada tidak suka.
Gion menatap Nayla datar, "Nayla, disini saya bos kamu dan kamu harus sopan terhadap saya. Saya tidak suka ada karyawan yang tidak sopan dengan atasannya atau yang lebih tua dari dirinya. Ingat itu!"
Mendapat teguran seperti itu membuat Nayla sadar, kalau yang di hadapannya ini bukan Gion yang dikenal. Melainkan sang presdir, yang berwibawa dengan sejuta keagungan dan kesombongan yang setinggi langit.
"Baik pak!" Nayla sadar diri kalau apa yang dilakukannya salah.
"Belikan saya nasi padang di kantin, dengan tiga lauk yang berbeda dan salah satunya pakai pergedel!" Perintah Gion.
"Tapi bapak kan sudah makan siang tadi?" Tanya Nayla penasaran.
"Satu hal lagi Nayla, saya tidak suka dibantah dan mengulangi perkataan saya!" Jawabnya, seolah tidak perduli dengan apa yang ditanyakan Nayla.
"Baik pak," Nayla membungkuk hormat lalu meninggalkan ruangan itu.
Ia meyerahkan berkas yang dibawanya ke meja Wulan, dan menatap wanita itu lama. Nayla bingung harus bertanya tentang pesanan Gion atau tidak.
"Ada apa dek Nay?" Tanya wulan yang melihat Nayla hanya mematung di depan mejanya.
"Bu, pak Gion meminta saya membeli nasi padang di kantin dan beliau meminta tiga lauk yang berbeda salah satunya bergedel, jadi menurut ibu saya harus belikan apa?" Tanya Nayla tulus.
Wulan tersenyum kearah Nayla, "pak Gion suka ayam bakar dan ikan nila, dek Nay. Jadi bisa di pesankan ayam bakar dan Nila semur sama bergedel, kuahnya dibanyakin dan sambal nya sedikit saja, soalnya beliau tidak suka pedas," Wulan menjelaskan.
Nayla mengangguk setuju, kemudian pergi meninggalkan Wulan menuju lantai dua dimana kantin itu berada.
*
*
*
*
Wulan
Menatap punggung Nayla yang sudah pergi dengan tersenyum tipis. Ia merasa geli dengan kebodohannya selama ini. Bagaimana tidak, ketika sang bos menyarankan untuk meminta mahasiswi magang membantu pekerjaannya. Ia malah memilih cewek yang paling cantik diantara para mahasiswi yang ada dan pilihannya jatuh pada Feby.
Wulan berharap dengan adanya Feby yang melayani Gion, membuat pria itu bisa berubah lebih manusiawi.Tapi dugaanya salah, sang bos bahklan tidak mengizinkan Feby masuk ke ruang kerjanya, meski gadis itu dengan senang hati keluar masuk ruangan Gion tanpa ia minta. Katanya sambil ngecengin wajah tampan sang bos. Namun semua itu akan membuat Gion berbalik marah kepada Wulan.
Gion sering terlambat datang ke kantor dan begitu masuk akan langsung marah-marah. Semua serba salah, membuat Wulan pusing tujuh keliling karena tidak tahu apa mau bosnya.
Gion memang tidak suka cewek yang terlalu berani dan genit, karena itu ia sempat menyesal meminta Feby menjadi asistennya.
Dan selama bekerja The Smart Grup, baru kemarinlah Wulan melihat Gion yang Moodnya selalu jelek setiap pagi. Bahkan itu terjadi lebih dari seminggu.
Akhirnya, atas permintaan Gion juga Wulan mengembalikan Feby keasal semula gadis itu berada yaitu tim pemasaran.
Dan kini atas permintaan sang bos lagi, Wulan meminta Nayla menjadi asisten pribadinya. Nayla sangat berbeda dengan Feby. Dia lebih kalem dan pendiam, seengaknya itu yang dapat ia tangkap. Dan tampaknya Gion juga menerima cewek itu. Karena sang bos memberi perintah Nayla untuk membelikan makan siang. Melihat itu semua Wulan tersenyum karena mengutuki kebodohannya sendiri yang tidak peka dengan keinginan Gion.
"Semoga saja Nayla betah kerja disini," Guman Wulan tulus.
Mengingat, sifat Gion yang sangat pemilih. Tentu Wulan berharap besar pada Nayla. Karena selama ia bekerja, Bos-nya tidak pernah mengizinkan office boy menyiapkan menu makan atau minum untuk nya.
Karena Gion memang sulit percaya terhadap orang lain. Jika tidak benar-benar dekat, ayu klik dengan hatinya.
*
*
*
*
*
Jangan lupa
tinggalkan jejak kalian disini.
like, komen, dan 🌷