NovelToon NovelToon
SISTEM TAJIR

SISTEM TAJIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi / Berondong
Popularitas:25.2k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Dimas, pria berusia 42 tahun yang hidupnya hancur dan berakhir sebagai gelandangan setelah dikhianati. Saat segalanya tampak berakhir, ia terbangun kembali di tubuhnya yang berusia 18 tahun, ketika masih menjadi mahasiswa.
Di titik balik hidup itu, Dimas memperoleh anugerah misterius sebuah sistem yang memberinya kekuatan dan peluang finansial luar biasa. Berbekal ingatan pahit masa depan dan kekuatan baru, ia bertekad mengubah takdir, membalas para pengkhianat, serta membangun kembali kekayaan dan kekuasaannya dari nol.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Dimas terkejut luar biasa karena kabar itu bukan hanya tentang film yang akan menjadi hit, tetapi juga karena cerita yang sangat menyentuh.

“Ya, aku bakal main bareng Vino G dan Tian,” kata Anin penuh semangat. Ini adalah terobosan pertamanya sebagai aktris.

“Wah, selamat ya. Film tentang apa? Jangan-jangan perang juga, ya… Agresi Militer Belanda?” tanya Dimas, pura-pura tidak terlalu paham.

“Mereka belum kasih detail lengkap. Mereka baru mengumumkan daftar pemain beberapa menit lalu. Aku terlalu senang sampai langsung telepon kamu. Kalau Bapak masih ada, pasti beliau bangga banget,” suara Anin terdengar bergetar meski lewat telepon.

“Beliau tetap bangga, di mana pun beliau berada. Dan aku juga bangga. Sudah, kembali ke briefing, dengarkan baik-baik semua instruksi mereka. Setelah itu kabari aku lagi. Aku mau ke kampus sekarang, nanti sore kalau sempat kita ketemu,” kata Dimas. Ia sengaja tidak menanyakan lebih jauh tentang film itu karena tidak ingin terlihat penasaran.

“Baik, nanti aku kabari kalau bisa ketemu,” jawab Anin, lalu panggilan pun berakhir.

Mobil melaju di tol, dan Henry sedang menyetir. Ia terlihat fokus penuh pada jalan. Setelah Dimas menutup telepon, Henry melirik sekilas lalu kembali fokus.

“Kencangkan sabuk pengaman, Dim,” kata Henry tiba-tiba dengan suara berat.

“Eh! Iya, lupa,” Dimas tersentak dan buru-buru memasang sabuk pengaman.

“Meskipun jatuh cinta di umurmu itu wajar, tapi hidupmu akan berubah total kalau kamu benar-benar menandatangani kontrak dengan tim,” kata Henry serius. Suaranya yang dalam membuat suasana mendadak tegang.

“Coach, memang harus pakai suara serem begitu ya?” Dimas mengeluh kecil, belum terbiasa dengan gaya bicara seperti itu.

“Ya sudah, aku coba suara normal,” Henry kembali santai.

“Begitu lebih enak, Coach. Sarankan saja cara terbaik. Aku lihat sendiri bagaimana Coach menghadapi dua orang itu tadi, dan aku percaya sama Coach,” Dimas tersenyum, meski sebenarnya ia bahkan tidak sepenuhnya percaya diri.

“Aku tahu. Oke, kita makan dulu di Restoran Arjuna Executive Lounge sebentar lagi, habis itu baru bicara soal bisnis.” Henry mengusap perutnya jelas lapar berat.

“Siap, Coach,” jawab Dimas. Jam baru menunjukkan pukul 11.30 siang.

Perjalanan memakan waktu sekitar dua puluh menit lagi. Dimas masih cukup segar, tetapi Henry terlihat sangat letih dan kelaparan.

Sesampainya di sana, awalnya mereka duduk di area luar. Namun Henry hampir meleleh karena panasnya cuaca, sehingga mereka pindah ke dalam restoran yang ber-AC.

Henry akhirnya tenang setelah menenggak tiga gelas cola besar.

“Dimas, dengarkan baik-baik,” kata Henry dengan suara pelan namun tegas. “Kontrak yang mereka tawarkan itu kesempatan sekali seumur hidup. Mereka siap membayar kamu bonus penandatanganan sebesar Rp150 miliar. Kamu tahu artinya?”

Henry berhenti sejenak lalu menatap langsung ke mata Dimas.

“Begitu kamu tanda tangan, kamu langsung jadi miliarder. Tepatnya sekitar Rp150 miliar tunai di depan.”

Dimas menarik napas panjang. “Iya, Coach… aku paham.”

“Baik, tunggu sebentar. Kita pesen makan dulu.” Henry melambai ke pelayan yang sedang mendekat.

“Pak, Anda baik-baik saja? Semua orang di restoran sempat khawatir melihat Anda masuk tergesa-gesa,” tanya pelayan itu sopan.

“Aku baik-baik saja. Tolong bawakan tiga Burger Arjuna 18, dua Burger Wagyu 30, dan dua cola besar,” kata Henry cepat. Lalu ia menatap Dimas. “Kamu mau apa, Dim?”

“Keren banget nafsu makan Coach. Buat aku burger Wagyu satu dan air mineral saja,” jawab Dimas.

“Haha, kamu tahu kenapa aku sebesar ini kan?” Henry tertawa sambil menepuk perutnya.

Setelah pelayan pergi, Henry kembali serius.

“Dimas, aku sudah negosiasi keras. Mereka cuma minta kamu hadir minimal 85% dari semua pertandingan Tim Voli Nasional,” kata Henry sambil menenggak cola besar pertamanya.

“Kalau yang dalam kontraknya secara lengkap, akan ribet. Jadi aku jelasin singkat mereka akan memberi kamu satu triliun rupiah kalau kamu bisa hadir seratus persen pertandingan. Tapi karena kamu juga sedang kuliah, aku berhasil meyakinkan mereka untuk mengurangi syaratnya menjadi 85%.” Henry tampak bangga.

Dimas menunduk hormat. “Terima kasih banyak, Coach.”

“Jangan salah paham,” Henry menunjuknya dengan garpu. “Tanpa bakatmu, semua yang aku lakukan cuma jadi angin kentut kuda.”

Henry melanjutkan sambil menyodorkan kertas draft kontrak.

“Dengan tanda tangan saja, kamu langsung dapat bonus awal Rp150 miliar.

Untuk mencapai total Rp1 triliun, kamu harus bermain atau hadir minimal 85% pertandingan.”

Henry menghitung dengan jari.

“Selain itu, kamu akan dapat:

Rp10 miliar per tahun dari sesi foto & video tim.

Rp30 miliar per tahun dari peresmian toko dan acara VIP.

Rp540 miliar dari tanda tangan fans, klinik pelatihan, dan kegiatan promosi lainnya.”

Dimas menatapnya dengan mata membesar. “Jadi… penghasilan utama justru dari luar lapangan?”

“Betul. Semua itu dari sponsor. Mereka bayar mahal dan tentu saja ingin balik untung,” jawab Henry.

Saat itu pelayan kembali dengan troli penuh makanan. Dua burger super besar membuat Dimas terpaku, tidak yakin bisa menghabiskannya.

“Oke, makan dulu atau bicara sambil makan,” kata Henry sambil langsung melahap burgernya.

Dimas menggigit burgernya. “Coach, jadi aku harus punya agen, ya?”

“Ya. Supaya kamu dapat kesepakatan yang adil. Tapi ingat, agensi top biasanya ambil 6% dari total kontrak,” jawab Henry.

“Dan mereka akan urus semua, kan? Pengacara, jadwal, sponsor?” tanya Dimas.

1
Jujun Adnin
yang banyak
JEREMIAツ
agak diluar nalar sih tapi menarik
btw kenapa kolom komentarnya sepi yah
Catur Warsono
baik
Makmur Djajamihardja
hai sobat semua
Dedeh Dian
keren bagus cerita nya.. semangat author ayo lanjut...makasih..
Rai Rainadus
lanjutkan cerita nya sampai tamat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!