Dimas, pria berusia 42 tahun yang hidupnya hancur dan berakhir sebagai gelandangan setelah dikhianati. Saat segalanya tampak berakhir, ia terbangun kembali di tubuhnya yang berusia 18 tahun, ketika masih menjadi mahasiswa.
Di titik balik hidup itu, Dimas memperoleh anugerah misterius sebuah sistem yang memberinya kekuatan dan peluang finansial luar biasa. Berbekal ingatan pahit masa depan dan kekuatan baru, ia bertekad mengubah takdir, membalas para pengkhianat, serta membangun kembali kekayaan dan kekuasaannya dari nol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Setelah semua siap, para pemain kembali ke lapangan GOR. Ketika Dimas keluar dari ruang istirahat, ia melihat Raga sudah berdiri di area serang, memegang bola voli di tangannya dengan sikap dominan seolah seluruh lapangan adalah wilayah kekuasaannya.
“Teman-teman, dan para penonton yang hadir,” pelatih berambut putih itu berseru dengan suara lantang. “Hari ini kita akan menyaksikan para pemain muda Depok Thunder menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Kita kedatangan empat tamu penting, jadi bersiaplah melihat kejutan.”
Pelatih itu tersenyum lalu memperkenalkan diri.
“Saya Pelatih Jaenal Purwanto, kepala pelatih Depok Thunder. Baiklah, mari mulai sesi uji coba!”
Wasit turun ke lapangan, meniup peluit sebagai tanda persiapan pertandingan percobaan.
Dimas melihat tribun penuh. Empat tamu VIP duduk berdampingan dengan Pelatih Jaenal, Henry, dan manajer Raga. Para tamu itu tampak mengamati setiap detail.
Dimas berjalan ke posisi penerima. Meski sedikit gugup, topi headband-nya membuat ia terlihat seperti pemain profesional sungguhan.
[Ding!!]
Misi: Menandatangani kontrak kecil Hadiah Minimum: Rp100.000.000).
Dimas terbelalak. Hadiahnya seratus juta?
Ia semakin semangat. Tujuannya memang ingin mendapat kontrak agar punya penghasilan tetap. Sistem ini memberinya dorongan ekstra.
Ia menggerakkan leher, memutar bahu, lalu melirik tribun VIP. Henry sedang berbicara dengan salah satu tamu penting, tampak bangga sambil sesekali melirik ke arah Dimas.
Dimas paham: Henry pasti sedang mempromosikannya. Ia harus tampil sempurna.
Kalau cukup dapat kontrak reguler saja sudah bagus. Sisanya bisa menyusul.
Wasit mengangguk, memberi tanda bahwa sesi uji coba resmi dimulai.
Raga sudah siap, dengan raut sombong yang sama. Ia memutar bola di tangannya, jelas ingin menunjukkan kekuatan serangannya.
Dimas membalas dengan tatapan tenang. Kakinya sedikit membungkuk, bersiap menerima. Ini bukan sekadar latihan ini penilaian hidupnya.
Di tribun VIP
Di kursi VIP, para tamu berdiskusi sambil memperhatikan pemain muda.
“Raga ini spiker luar biasa. Smash-nya paling keras di regional barat. Kami siap memasukkan dia ke tim utama musim depan,” kata seorang pria berjas yang tampak angkuh.
Pria itu bernama Edwin Wibowo, Direktur Teknik Tim Nasional Junior.
Di sampingnya duduk pria lembut berpenampilan rapi, Bram Setiawan, Manajer Rekrutmen Liga Pro Garuda, salah satu tim voli terbaik Indonesia. Bram hanya tersenyum kecil, tidak terpancing komentar Edwin.
“Statistik anak itu tidak bohong,” lanjut Edwin. “Rata-rata kecepatan smash 105 km/jam. Tinggi loncat 3,45 meter. Dia baru 18 tahun.”
Jerry kepala pemandu bakat klub Surabaya Falcon menambahkan,
“Kami bahkan siap kontrak Rp5.000.000.000 untuk mengamankan dia.”
Sementara itu, perwakilan Dakarta Putra, Lukman, menjawab santai,
“Kami siap lebih tinggi dari itu. Anak macam Raga ini masa depannya cerah.”
Pelatih Jaenal mengangkat tangan, menenangkan mereka.
“Tenang dulu, Pak. Hari ini bukan cuma tentang Raga. Ada satu pemain lain yang mungkin mengejutkan kalian.”
Bram tersenyum ke arah Jaenal.
“Ah, jadi ini dia pemain yang kamu bilang kemarin. Aku penasaran sekali.”
“Betul. Percayalah, Dimas ini… berbeda,” kata Pelatih Jaenal sambil melirik Henry.
Henry mengangguk mantap. Ia sangat yakin Dimas tidak akan mengecewakan para tamu besar ini.
“Kakak iparku sudah kasih kesempatan seumur hidup buat Dimas. Sisanya tergantung kamu, Nak…” gumam Henry dalam hati, menatap ke lapangan.
Begitu percakapan para VIP usai, wasit meniup peluit panjang. Seluruh tribun VIP langsung tenang.
Dimas menurunkan posisi tubuhnya, lutut sedikit ditekuk, tangan siap menerima. Ada rasa aneh di tubuhnya seperti ada energi yang terkunci lalu perlahan terbuka. Gerakannya terasa lebih ringan, lebih cepat, lebih tajam daripada biasanya. Napasnya stabil, fokusnya menyatu dengan bola.
Di sisi lain net, Raga berdiri dengan penuh arogansi. Bola di tangannya, tatapan dingin, seolah berkata: Siapa pun kamu, aku hancurkan.
Raga telah bermain di berbagai turnamen nasional junior. Banyak pelatih tim pro ingin langsung membawanya ke Liga Utama. Ia adalah calon bintang besar. Itu sebabnya ia memandang rendah Dimas, pemain baru yang bahkan tak punya sepatu sendiri.
Wasit mengangkat tangan.
“SERVIS!”
Raga melompat tinggi, sangat tinggi bahunya hampir setara dengan bibir net. Lengan kanannya melingkar ke belakang seperti busur yang ditarik penuh, lalu…
BAAAM!!!
Smash servis meluncur seperti petir.
Kecepatan bola menghantam udara seperti ledakan.
Fwooosh!
“ACE–? TIDAK!”
Dalam sepersekian detik sebelum bola menyentuh lantai, tubuh Dimas bergerak sendiri. Seakan insting hewan yang baru terbangun.
Ia meluncur ke depan refleknya tajam, tak terlatih tapi alami. Tangannya terulur dalam posisi passing sempurna, dan…
DUUUG!
Bola menempel keras di lengannya, tapi terangkat bersih ke udara passing sempurna menuju setter cadangan yang menunggu di belakang.
Seluruh GOR terdiam.
Tribun VIP serentak berdiri.
Henry tetap duduk, bibirnya terangkat puas.
Itu dia…
“APA TADI ITU?!” Bram, yang biasanya kalem, bangkit dari kursinya. “Refleks secepat itu? Anak baru itu?!”
Edwin terbelalak.
“Bukan refleks biasa itu. Kecepatan smash sekitar 105 km/jam barusan. Anak itu masih bisa nerima?!”
Jerry memukul lututnya.
“Itu setara rekor nasional penerimaan bola tercepat, Pak!”
Lukman tertawa kecil.
“Sepertinya anggaran kita tahun ini bakal naik. Hehe…”
Di lapangan, Raga menatap Dimas seperti baru melihat hantu.
Ia tahu smash servis barusan adalah salah satu yang tercepat miliknya. Dan pemula itu yang bahkan tidak punya sepatu sendiri menerimanya dengan bersih, tanpa gemetar.
Dimas, di sisi lain, terkejut karena reaksinya muncul begitu saja. Bola terasa menghantam kuat, tapi tubuhnya seolah mampu menahan guncangannya tanpa rasa sakit.
Jadi… Raga juga cuma manusia. Bukan dewa.
Raga menggeleng, membuang rasa kagetnya.
Ia mengambil bola kedua. Tatapannya berubah lebih serius, lebih tajam.
Wasit bersiap.
Penonton menahan napas.
Raga mengatur napasnya.
Dimas menunduk sedikit, siap menghadapi apa pun.
Seluruh GOR Depok Thunder hening.
Hanya ada dua anak muda di tengah lapangan.
Dua calon bintang.
Dan smash kedua akan menentukan segalanya.