NovelToon NovelToon
Tekad Gadis Desa

Tekad Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Teen Angst
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author:

Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!

4. TGD.4

Perjalanan dari desa menuju kota besar ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang Shelly bayangkan. Di dalam mobil travel yang melaju kencang membelah aspal, Shelly duduk menyandar di dekat jendela. Sepanjang jalan, pemandangan hijau sawah yang biasa ia lihat perlahan memudar, digantikan oleh jajaran pohon jati yang kering, lalu berubah menjadi deretan bangunan beton yang semakin rapat satu sama lain.

Suara mesin mobil yang menderu dan musik radio yang diputar sopir perlahan menenggelamkan Shelly dalam lamunan. Ia meraba saku tasnya, menyentuh bungkusan serundeng dan sambal teri dari Ibu. Aroma bumbu dapur yang samar-samar tercium dari tasnya itu seolah menjadi pelukan hangat yang menemaninya di tengah asingnya orang-orang di dalam mobil. Sesekali, ia membuka ponsel tuanya, membaca pesan singkat dari Abangnya: *"Sudah sampai mana, Dek? Jangan lupa minum. Ibu nanyain terus."* Shelly tersenyum kecil, namun ada sesak yang masih tertinggal di dadanya.

---

Setelah hampir delapan jam menempuh perjalanan, pemandangan di luar jendela berubah drastis. Mata Shelly membelalak lebar. Ia belum pernah melihat gedung setinggi itu—bangunan berkaca yang seolah menantang langit. Lampu-lampu jalan mulai menyala karena senja mulai turun, menciptakan pendar warna-warni yang menyilaukan mata gadis desa itu. Jalanan begitu padat; motor dan mobil saling berebut celah, suara klakson bersahut-sahutan seperti simfoni yang kacau.

"Kota besar ini berisik sekali ya, Pak," gumam Shelly dalam hati, membayangkan ketenangan sawah Bapak yang biasanya hanya dihiasi suara jangkrik.

Mobil travel akhirnya berhenti di sebuah terminal besar. Saat pintu terbuka, hawa panas kota yang bercampur asap knalpot langsung menyergap paru-parunya. Shelly turun dengan canggung, memegangi kopernya erat-erat karena takut ada orang jahat yang mengambilnya, persis seperti peringatan Ibu sebelum berangkat.

Ia melangkah keluar terminal menuju alamat asrama mahasiswa yang tertera di surat beasiswanya. Dengan bantuan ojek daring yang ia pesan dengan tangan gemetar, Shelly dibawa melintasi pusat kota. Ia melewati pusat perbelanjaan yang megah, jembatan penyeberangan yang dipenuhi orang berlalu-lalang tanpa saling tegur sapa, dan papan iklan raksasa yang bersinar terang. Segala sesuatu di sini terasa begitu cepat, begitu tidak sabar.

---

Tiba di depan gerbang asrama, Shelly berdiri mematung. Gedung itu cukup besar, terletak di sebuah gang yang tidak terlalu jauh dari kampus utamanya. Setelah melapor kepada penjaga asrama, ia diantarkan menuju kamarnya di lantai dua.

Saat pintu kamar terbuka, Shelly mendapati sebuah ruangan kecil dengan satu tempat tidur, satu meja belajar, dan sebuah lemari kayu sederhana. Ia meletakkan kopernya di lantai, lalu duduk di tepi ranjang yang terasa sedikit keras. Kesunyian tiba-tiba menyergap. Tidak ada suara candaan Abang, tidak ada rengekan si bungsu, dan tidak ada suara Ibu yang memanggilnya untuk makan malam.

Shelly berjalan menuju jendela kecil di kamarnya. Dari sana, ia tidak melihat hamparan sawah atau barisan bukit, melainkan atap-atap rumah penduduk dan lampu-lampu jalan yang tak pernah padam. Ia merasa sangat kecil di tengah kota yang raksasa ini. Perasaan takut, rindu, dan asing bercampur menjadi satu.

Ia meraih ponselnya, lalu menekan sebuah nomor. Setelah beberapa nada sambung, suara lembut Ibu terdengar di ujung telepon.

"Halo, Nduk? Sudah sampai?"

Mendengar suara itu, pertahanan Shelly runtuh. Air matanya mengalir tanpa suara, namun ia berusaha tegar agar tidak membuat Ibunya khawatir. "Sudah, Bu. Shelly sudah di kamar asrama. Bagus kamarnya, ada meja belajarnya juga."

"Alhamdulillah... sudah makan? Makan serundeng Ibu tadi ya," sahut Ibu. Lalu terdengar suara Bapak di latar belakang yang berteriak kecil, "Bilang sama Elly, tidur yang nyenyak! Jangan takut!"

Shelly tertawa kecil di sela isaknya. "Iya, Pak. Ibu, Bapak, Abang... Shelly di sini baik-baik saja. Shelly akan belajar rajin supaya cepat pulang bawa gelar."

Setelah telepon ditutup, Shelly menghapus air matanya. Ia membuka kopernya, mengambil foto keluarga yang sengaja ia selipkan di sela baju, lalu meletakkannya di atas meja belajar. Ia mengeluarkan toples sambal teri dari Ibu dan meletakkannya dengan rapi.

Malam itu, di tengah kebisingan kota yang tidak pernah tidur, Shelly menyadari satu hal: ia mungkin merasa asing di tempat ini, tapi ia membawa seluruh harapan keluarganya di dalam tasnya. Kota ini mungkin keras, tapi impiannya jauh lebih keras. Ia tidak boleh menyerah sebelum berperang.

Shelly merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar asrama dengan tekad baru. Esok pagi, ia akan melangkah ke kampus sebagai mahasiswi pertama dari keluarganya, pembuka jalan bagi adik-adiknya, dan kebanggaan bagi sawah sepetak milik Bapak di desa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!