Fiora Gabriela adalah definisi nyata dari kesempurnaan. Sebagai putri tunggal dari dinasti bisnis raksasa, kecantikan dan kekuasaannya adalah mutlak. Namun, ada satu hal yang belum bisa ia taklukkan: hati Galang Dirgantara, pria dingin yang menjadi tunangannya demi aliansi bisnis keluarga mereka.
Bagi Galang, Fiora hanyalah wanita arogan yang terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang. Ia menutup hati rapat-rapat, sampai akhirnya ia bertemu dengan Mira—seorang gadis dari kalangan bawah dengan hidup penuh kemalangan. Sosok Mira yang rapuh membangkitkan sisi protektif Galang yang belum pernah terlihat sebelumnya. Galang mulai berpaling, membiarkan rasa iba itu tumbuh menjadi cinta yang mengancam status Fiora.
Namun, Galang lupa satu hal. Fiora Gabriela bukanlah wanita yang akan menyerah begitu saja dan menangis dalam diam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Terjebak dalam 'Lapar' Sang Predator"
Setelah selesai makan, Galang membukakan pintu mobil untuk Fiora dengan gerakan yang sangat sopan namun terasa posesif. Begitu mesin menyala, Galang melirik Fiora sekilas.
"Fiora, hari ini Paman tidak mengantarmu pulang ke rumahmu," ucap Galang datar.
'Yes! Yes! Yes!' batin Fiora kegirangan. 'Berarti tidur di rumah Om Dirga dan Tante Maya! Aman deh gue, pasti Galang cuma mau ngajak makan malam romantis doang terus ada orang tuanya yang jagain gue. Rencana amnesia gue tetap aman!'
"Iya, Paman... Fio ikut Paman aja," jawab Fiora dengan nada manja yang dibuat-buat, sambil menyandarkan kepalanya di kursi mobil dengan perasaan lega.
Namun, perasaan lega itu tidak bertahan lama. Mobil Galang terus melaju melewati kawasan perumahan elit keluarga Dirgantara. Bukannya berbelok ke gerbang rumah besar yang Fiora kenal, mobil itu justru berhenti di sebuah lobi bangunan pencakar langit yang sangat megah.
Fiora mengerjapkan matanya. Tulisan emas "GRAND LUXURY HOTEL & RESORT" menyambut penglihatannya pada malam ini.
"P-paman... kok ke sini? Ini kan hotel?" tanya Fiora dengan suara yang mendadak bergetar.
Galang mematikan mesin mobil dan menoleh ke arah Fiora. Senyum tipis yang penuh rahasia terukir di wajah tampannya. "Rumah Paman sedang ada perbaikan pipa air, Fio. Tidak mungkin kita tidur di sana. Paman sudah memesan Executive Suite untuk kita malam ini."
'Astaga... astaga! Mampus gue!' batin Fiora berteriak histeris. Jantungnya berdegup kencang hingga rasanya ingin melompat keluar. 'Apa mungkin Galang mau gue ngelakuin hal itu?! Tenang Fio, tenang... jangan panik dulu! Tapi ini hotel! Kamarnya cuma satu! Mana Paman Galang auranya serem banget lagi!'
Fiora merasa sangat ketakutan, tangannya mulai dingin. Ia baru menyadari bahwa melarikan diri dari kejaran "pahlawan" yang sudah tahu rahasianya adalah misi yang mustahil.
"Ayo turun, Fio. Jangan buat Paman menunggu lama di kamar," bisik Galang sambil membukakan pintu mobil Fiora, membuat pikiran Fiora semakin melayang layang tak karuan.
Galang menatap Fiora yang masih diam terpaku di kursi mobil hotel. Ia tahu Fiora pasti sedang menyusun ribuan skenario di otaknya yang cerdas itu. Galang merasa puas. Sudah waktunya ia mengambil alih kendali situasi ini.
Ia keluar dari mobil, lalu membukakan pintu untuk Fiora.
"Lama sekali. Saya sudah sangat lapar, Fiora," ucap Galang dengan suara tenang, namun memberikan penekanan pada setiap kata.
Tanpa menunggu reaksi Fiora, Galang langsung mengangkat tubuh Fiora ke dalam gendongan bridal style. Fiora memekik kaget, tapi pelukan Galang begitu kuat, membuatnya tak bisa berkutik.
Glekkk...
Fiora menelan ludahnya dalam-dalam. Wajahnya pias menatap Galang, yang kini menyeringai tipis—sebuah ekspresi yang jarang sekali terlihat.
Galang melangkah masuk ke lobi hotel mewah itu, tatapannya dingin dan penuh otoritas. Seluruh pasang mata di lobi tertuju pada pasangan tersebut.
Di meja resepsionis, Galang berhenti.
"Tolong, siapkan kamar yang paling istimewa untuk saya dan tunangan saya malam ini," perintah Galang dengan suara tegas.
"Tentu, Pak Galang. Kami siapkan Presidential Suite di lantai teratas," jawab petugas hotel dengan hormat.
Galang mengangguk puas. Ia menatap Fiora, yang kini menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Galang, berharap bisa lenyap ditelan bumi.
"Tenang saja, Fio. Malam ini akan jadi malam yang panjang," bisik Galang, menyadari bahwa ia telah berhasil membalikkan keadaan. Situasi baru saja dimulai, dan kali ini, Galang yang memegang semua kendali.
Galang merebahkan tubuh Fiora di atas kasur king size yang sangat empuk di dalam kamar Presidential Suite tersebut. Aroma kemewahan menyeruak, namun bagi Fiora, ruangan ini terasa seperti sangkar emas yang menjebaknya.
Galang berdiri tegak di sisi ranjang, membuka kancing jasnya satu per satu dengan gerakan perlahan yang membuat jantung Fiora berdegup tak karuan. "Paman pergi mandi dulu, Fiora. Kamu... jangan ke mana-mana," ucap Galang dengan nada rendah sebelum melangkah masuk ke kamar mandi.
Begitu pintu tertutup dan suara kucuran air terdengar, Fiora langsung melompat dari kasur. Dengan tangan gemetar, ia menyambar ponselnya dan melakukan group call kepada The Circle.
"Oh my goat! Gais, gais! Gue takut parah!" bisik Fiora histeris sambil mondar-mandir di depan jendela besar yang menampilkan pemandangan Jakarta pada malam ini .
"Takut kenapa sih, Fio? Bukannya rencana 'pendekatan' lo berhasil?" sahut Jojo dari seberang telepon dengan nada santai.
"Galang bawa gue ke hotel, Jo! Gue sekarang di kamar berdua doang sama dia!"
"Astaga, Fio! Beneran?!" Vanya ikut berteriak kaget di telepon.
"Iya! Terus tadi dia bilang dia 'lapar' banget, padahal baru aja kita makan di kafe sampai kenyang!" seru Fiora lagi, suaranya hampir menangis karena panik.
"Wah, fiks itu sih. Berarti lo yang mau dimakan sama dia, Fio! Gila, Galang ternyata agresif juga ya kalau dikasih umpan," ceplos Jojo tanpa saringan.
"Diem lo, Jo! Gue lagi serius! Kasih solusi dong gais, gue takut! Bukan ini yang gue harapin... ya maksud gue, emang gue mau dia cinta sama gue, tapi nggak sekarang dalam kondisi gue lagi pura-pura amnesia begini!" Fiora meremas rambutnya frustrasi.
"Dengerin gue, Fio," potong Vanya. "Lo harus tetep di mode amnesia. Kalau dia macem-macem, lo akting sakit kepala hebat aja atau pura-pura pingsan. Dia kan punya hero complex, pasti dia nggak tega kalau liat lo menderita."
"Ide bagus! Oke, gue coba—"
Tiba-tiba, suara pintu kamar mandi terbuka. Fiora tersentak dan langsung mematikan teleponnya. Ia melempar ponselnya ke bawah bantal dan segera berbaring kembali, menarik selimut sampai ke dagu.
Galang keluar hanya dengan mengenakan bathrobe putih, rambutnya yang basah berantakan menambah kesan maskulin yang sangat kuat. Ia berjalan mendekati ranjang, menatap Fiora yang sedang memejamkan mata dengan sangat rapat.
"Fiora... Paman tahu kamu belum tidur," bisik Galang tepat di samping telinganya.