NovelToon NovelToon
Perfect Partner

Perfect Partner

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Karir / Duniahiburan / Persahabatan / Kisah cinta masa kecil / Romansa
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: nowitsrain

Ketika teman baiknya pergi ke Korea untuk menjadi seorang idol, Sena mengantarkan kepergiannya dengan senang hati. Menjadi penyanyi adalah impian Andy sejak kecil, maka melepasnya untuk menggapai mimpi adalah sebuah keputusan terbaik yang bisa Sena ambil.

Setelah kepergian Andy ke Korea, mereka kehilangan kontak sepenuhnya. Sependek pengetahuannya, persiapan menjadi idol berarti merelakan waktunya banyak tersita untuk berlatih banyak hal. Jadi hari-hari Sena lalui tanpa rasa keberatan. Malah, tak lupa selalu diselipkannya doa untuk teman baiknya, semoga kelak berhasil debut dan menggapai cita-citanya.

Namun siapa sangka, kerelaan hati Sena itu pada akhirnya membawa jalannya sendiri untuk kembali bertemu dengan Andy sang teman baik. Di pertemuan setelah sekian lama, akankah Sena menemukan Andy masihlah sama dengan Andy yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak?
Masihkah mereka menjadi perfect partner bagi satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tender Moments

Lee Sena sedang sekarat.

Sebagai perempuan, sudah tidak asing baginya untuk mendapat tamu bulanan. Meski rasanya sakit dan tidak nyaman, Sena biasanya masih bisa menahannya dengan baik. Tapi yang kali ini berbeda. Belum pernah sekali pun Sena merasakan sensasi sesakit ini. Perutnya nyeri, seperti diremas kuat-kuat oleh sepasang tangan raksasa yang tidak kasat mata. Saking sakitnya, rasanya seperti Sena akan pingsan sekarang juga.

Tapi tidak bisa. Saat ini, dia sedang ada di tengah kelas. Dia tidak ingin menimbulkan kegaduhan. Tidak ingin waktu yang berharga bagi orang lain, terganggu hanya karena rasa sakit yang dirasakannya. Jadi Sena berusaha untuk menahan rasa sakitnya. Ia menggigit bibir bawahnya, menarik dan membuang napas secara teratur, dan memejamkan mata. Berharap apa yang dia lakukan cukup untuk membuatnya bertahan sampai kelas selesai.

Saat dosen mengakhiri kelas, Sena tidak tunggu lama lagi, dia langsung membereskan barang-barangnya ke dalam tas. Ia meringis ketika suara gaduh memenuhi ruangan—para mahasiswa mulai mengobrol satu sama lain sambil berkemas sebelum keluar. Rasanya suara mereka terdengar terlalu keras, dan Gyuri buru-buru menyingkir dari sana, menuju satu-satunya tempat yang terasa tenang: mobilnya.

Matanya terpejam saat tubuhnya terhempas ke atas kursi pengemudi. Sena mengambil waktu diam beberapa detik, menggunakannya untuk mengatur napas sebelum meletakkan tasnya di jok samping dan menyalakan mobil. Dia menjalankan mobilnya keluar dari parkiran, mencoba menyetir seperti biasa kendati fokusnya terus terganggu karena denyut yang terasa kuat baik di perut maupun kepalanya.

Namun, sebaik apa pun Sena berusaha, rasa sakit itu tidak tertahankan juga. Sensasinya begitu mengganggu, membuat Sena sulit berkonsentrasi, sampai-sampai ia terlambat menyadari saat mobil di depannya mengerem mendadak. Jantungnya melonjak, dan ia membanting setir ke kiri, berhasil berpindah jalur tepat waktu sebelum terjadi sesuatu yang lebih serius.

Sena mencengkeram setir erat, membeku selama beberapa detik, menatap keluar pada mobil yang hampir ditabraknya kini berada sejajar dengan mobilnya. Ia menghela napas panjang setelah sadar dirinya berhasil lolos dari maut. Dilihatnya pengemudi mobil itu keluar dan membungkuk, lalu melemparkan tatapan tajam padanya.

"Maaf," katanya, usai  menurunkan kaca jendela. Pengemudi yang merupakan pria berusia akhir-an itu menghela napas panjang, mengomel sedikit sebelum akhirnya menyuruh Sena pergi.

Tidak pikir lama, Sena tancap gas setelah meminta maaf sekali lagi. Sudah bagus pengemudi tadi membiarkannya pergi. Karena kalau masalahnya diperpanjang, Sena bisa saja pingsan di tempat—karena demi Tuhan, sakit yang dirasakannya semakin tidak tertahankan.

Sesampainya di apartemen, Sena merasakan jantungnya masih berdetak kencang. Langkahnya terseret lemas menuju ruang tamu. Nan menyambutnya dengan ceria seperti biasa. Sena memaksakan senyum, menyambut Nan dan mengecup kepalanya.

"Aku hampir mati," adunya. Selayaknya mengerti, Nan menjilati wajah Sena, seperti berkata: Syukurlah hanya hampir. Sekarang kau tidak apa-apa, kan?

Sena tertawa, membuat perutnya mengalami kontraksi dan ia kembali meringis. "Ah," desahnya kesakitan. "Iya, aku tidak jadi mati," gumamnya pelan. "Tapi masih sekarat. Perutku sakit sekali."

Nan menggonggong, berlari menuju sofa. Sena mengikutinya, langsung merebahkan tubuhnya ke sofa. "Izinkan aku istirahat sebentar, ya. Nanti kita main kalau aku sudah membaik," katanya pada Nan, dengan mata terpejam.

Nan menggonggong sekali, lalau merebahkan tubuhnya di lantai, dan kedua matanya menatap Sena. Tatapannya dalam, menunjukkan pengertian dan perhatian.

                                                *******************************************************

"Kau akan ke sini?"

"Iya," sahut suara di seberang. "Kau bilang sedang sakit, jadi aku mau datang untuk menemanimu."

"Apakah itu tidak masalah?"

Seseorang di seberang telepon, Andy, tertawa keras. Sena bisa membayangkan bahu pria itu bergetar, dan tangannya yang bebas memukul apa pun yang ada di sekitarnya sekeras tawanya keluar. "Tentu saja tidak masalah. Aku ingin ada di dekatmu, walaupun tidak bisa membuatmu sembuh, bukannya lebih baik jika setidaknya ada seseorang yang menjagamu?"

Sena tidak langsung menyahut. Dia terdiam selama beberapa saat, merasa tersentuh karena Andy mau datang menemaninya. Tapi lebih daripada rasa harunya, perilaku Andy saat ini mengonfirmasi ucapan Joana tempo hari, bahwa sikapnya akan kembali seperti semula setelah ia memiliki cukup waktu untuk mencerna keadaan. Senyum Sena pun terkembang. Dia merasa lega karena Andy sudah tidak bersikap canggung lagi padanya.

"Baiklah," katanya, berjalan ke depan lemari pakaian, memilih setelan mana untuk digunakan menggantikan pakaian kampus yang masih melekat di tubuhnya. "Hati-hati di jalan, ya. Terima kasih!"

"Aight. See you soon, Elara."

"Iya, sampai berjumpa, Andy."

Telepon dimatikan oleh Andy, dan Sena pun telah menentukan pilihan. Kaus oversize dan celana olahraga pendek—keduanya warna navy—diambilnya dari dalam tumpukan. Ponselnya diletakkan dekat nakas, Sena mengganti pakaiannya dengan santai, disaksikan oleh Nan yang tengkurap bertopang kepala di kasur, dan Mala yang berguling santai di lantai.

Selesai ganti baju, Sena turun ke ruang tamu, diekori dua anak bulu kesayangannya. Dia duduk setengah rebah di sofa, menunggu kedatangan Andy.

Sekitar dua puluh lima menit kemudian, ber berbunyi. Sena membukakan pintu, menyambut Andy yang datang tidak dengan tangan kosong. Di satu tangan, ia memegang kantong plastik, sementara ponselnya ada di tangan yang lain. Rambutnya sedikit berantakan dan ia mengenakan masker untuk menutupi sebagian wajahnya. Tatapan mereka bertemu, dan Andy langsung melangkah masuk, membuka lengannya untuk memeluk Sena begitu ia menutup pintu.

Setelah pelukan singkat yang menenangkan, mereka berjalan ke ruang tamu dalam diam. Andy sibuk memperhatikan Sena yang kedapatan mengembuskan napas kecil berulang kali, seakan sedang mencoba meredakan rasa sakit yang tidak tertahankan. Ia juga sesekali melihat Sena memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya. Andy mengerutkan kening penuh khawatir. Disentuhnya lembut lengan Sena, membuat gadis itu mendongak menatapnya.

"Rebahan saja," katanya. "Tidak perlu memperlakukanku sebagai tamu. Aku datang ke sini juga kan untuk menemanimu."

Sena mengangguk. Dia melangkah pelan menaiki tangga, dengan Andy mengekor di belakangnya. Nan dan Mala mendadak senyap, kompak terdiam di sofa dan membiarkan sepasang muda-mudi pergi meninggalkan posisi.

Sesekali, Sena berhenti melangkah untuk sekadar mengatur napas. Andy dengan sabar menunggu di belakangnya, tidak memprotes sama sekali.

Sesampainya di kamar, Sena duduk di tepi ranjang. Ia perhatikan Andy menutup pintu pelan-pelan sebelum berbalik menuju ke arahnya. Kantong plastik yang dibawanya itu dibuka, isinya ternyata adalah beberapa cokelat dengan merek berbeda. Andy melemparkannya ke atas ranjang, lalu ikut duduk di sebelah Sena.

"Aku pernah dengar, cokelat bisa membantu memperbaiki mood di saat sedang datang bulan."

Sena tersenyum, mengambil batang-batang cokelat itu dan memeriksanya. “Terima kasih," bisiknya. Ia condong ke meja samping ranjang untuk mengambil botol air hangatnya dan berusaha bangkit, tapi Andy segera menghentikannya.

“Biar aku saja,” katanya sambil mengambil botol itu darinya. “Rebahan saja. Aku tidak akan lama.” Ia berjanji sebelum keluar kamar untuk mengisi botol itu dengan air panas di bawah.

Sena menghela napas pelan, lalu menjatuhkan diri kembali ke bantal. Ia memejamkan mata dan mencoba mengatur napasnya, perlahan memijat perutnya untuk sedikit meredakan rasa sakit.

Baru saat itulah ia menyadari bahwa Andy belum pernah melihatnya dalam kondisi seperti ini. Ia belum pernah datang bulan sebelumnya sebelum Andy pindah, jadi ini adalah pertama kalinya. Namun, dari cara Andy memperlakukan dirinya, pria itu seperti sudah sangat mahir dan terbiasa.

Andy kembali dengan botol air hangat yang sudah terisi penuh dan menyerahkannya pada Sena. Sena meletakkannya di bagian perut yang terasa paling sakit. Cara itu biasanya cukup efektif untuk membantu meredakan rasa sakitnya. Selagi menggulir botol, ia melirik Andy yang duduk memperhatikannya dari tepi ranjang. Ia tersenyum, lalu menepuk tangan Andy pelan.

"Terima kasih banyak, Andy. Kau seperti malaikat," ucapnya.

Andy tersenyum dan langsung menggeleng. "Tidak masalah. Istirahat saja yang benar."

Sena mengangguk dan mulai mengatur posisinya agar lebih nyaman, sementara Andy ikut berbaring di sampingnya. Ia menyandarkan kepala dengan ditopang beberapa bantal dan meletakkan tangannya di atas perut.Sena bergerak ke sana kemari, mencoba menemukan posisi rebahan yang pas, sambil mengerang kecil karena gerakannya kembali memicu rasa sakit.

“Dude,” Mark terkekeh pelan melihat kekacauan kecil yang ia buat. “Kemarilah."

Sena memutar tubuhnya hingga kepalanya bersandar di perut Andy, lalu menatap ke atas untuk memastikan posisi itu juga nyaman untuk pria itu. Andy memberi anggukan kecil dan menarik selimut menutupi bagian bawah tubuh Sena agar tetap hangat.

Sena menghela napas lega dan memejamkan mata, akhirnya merasa benar-benar nyaman.

"Bagaimana dengan kepalamu?" tanya Andy.

"Rasanya seperti mau meledak," jawab Sena lirih.

“Boleh aku pegang?” tanya Andy lagi.

Sena membuka mata sekilas dan melihat Andy mengangkat tangan. Ia mengangguk dan kembali memejamkan mata. Andy dengan lembut meletakkan tangannya di sisi kepala Sena dan mulai menggerakkannya perlahan. Ia memijat pelipisnya dengan hati-hati, dan Sena langsung menghela napas puas merasakan sensasi menenangkan itu. Tangan Andy bergerak perlahan di kulitnya, seolah tahu persis dari mana rasa sakit itu berasal.

Kelegaan dari kepalanya membuat pikiran Sena ikut rileks. Tanpa ia sadari, ia pun terlelap, kelelahan setelah seharian penuh menahan rasa nyeri. Andy tersenyum lembut ketika mendengar napas Sena yang kini teratur dan pelan. Ia terus menggerakkan tangannya dengan lembut, menyibakkan beberapa helai rambut dari wajah Sena agar gadis itu bisa tidur dengan tenang.

Bersambung...

1
Zenun
jiaelah babang
nowitsrain: 😁😁😁😁😁
total 1 replies
Zenun
🥺🥺🥺🥺🥺🥺
Zenun
teman yang lebih dari teman🤭
Zenun
benarkah begitu😁
Zenun
setuju dengan Andy sih
Zenun
waduh
Zenun
bisa bahasa qalbu😁
Zenun
dan teman-temannya Andy datang
Zenun
Kirain Andy menjaga jarak
Zenun
mungkin Andy jadi canggung karena dia sebenarnya hanya menganggap teman😁
Zenun
Kasihan kamu Andy😄
Zenun
benarkah begitu? 😁
Zenun
kayanya mereka kompak mau mngerjaimu, Andy
nowitsrain: Andy yang malang
total 1 replies
Zenun
kalau begitu kredit aja
nowitsrain: No no ya
total 1 replies
Zenun
weh, gak mau jagain mereka😁
nowitsrain: Wkwk ditinggal biar berduaan
total 1 replies
Zenun
hayoloooo
Zenun
bisa main bareng lagi ya Sena😁
nowitsrain: Yoyoyy.. Bersama mengguncang dunia
total 1 replies
Zenun
akankah pertemanan itu akan berubah menjadi asmara?
nowitsrain: Jeng jeng jeng
total 1 replies
Zenun
Nah, coba saran Hana ini
nowitsrain: Oraitt
total 1 replies
Zenun
Mungkin sebenarnya Andy ngeh, tapi lagi mengingat-ingat kaya kenal muka tapi lupa nama😄
nowitsrain: Wkwk bisa juga
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!