Serah Spencer adalah seorang Ratu yang terkhianati oleh tunangannya sendiri, Raja Louis dari kerajaan Mathilda.
Awalnya ia mengira dengan status pertunangannya akan membawa ketenangan juga kedamaian untuk rakyat dan kerajaannya di Regina yang sedang menjadi wilayah perebutan. Namun, setelah mengetahui rencana Louis yang licik, Serah memutuskan untuk tak tinggal diam.
Dia akan membalas Louis dan berdiri sendiri demi kerajaannya. Namun, sebelum itu ia harus lolos dari genggaman Louis.
Apakah Serah akan berhasil kembali ke kerajaannya sendiri yang sedang menjadi wilayah konflik antar Raja Louis dan Raja Grenseal? Sementara kedua Raja itu mulai jatuh cinta kepada Serah.
Apa yang akan dilakukannya nanti untuk melawan Louis sekaligus melindungi kekuasaannya sebagai Negeri yang bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32 : Isyarat tantangan dari Louis
Serah berjalan di lorong istana dengan para gadis yang sepertinya sedang sangat senang.
"Yang mulia, anda tadi hebat sekali! Panah itu melesat secepat angin!" Mary yang biasanya diam, kali ini dia yang terlihat paling antusias.
"Benar! Panah itu bahkan bisa membelah panah Raja Louis!" Timpal Patricia tak kalah heboh.
"Apa anda benar-benar berlatih saat di Regina, Yang mulia?" Tanya Brigatte penasaran.
"Ya, aku memang sempat belajar selama beberapa waktu, tapi belum terlalu lama," jawab Serah sedikit tertawa kecil.
"Wah, belum terlalu tapi anda sudah sehebat itu," ujar Cristine memuji, merasakan kekaguman yang sama seperti yang lain, kecuali Helena tentu saja.
Gadis tadi sejak tadi hanya memasang wajah sebal, dan sesekali itu terlihat mencibir tiap kali gadis-gadis lain memuji kehebatan Serah.
"Cih, apa hebatnya cuma memanah saja! Wanita harusnya lebih pintar menari dan merajut pakaian, buka melakukan pekerjaan laki-laki!" Helena mengejek dalam hati yang menganggap Serah sebagai Putri yang kasar hanya karena dia mahir menggunakan panah.
Di sisi lain Louis yang sudah kembali dan berada di dalam ruangannya kini harus dihadapkan oleh masalah lain.
Pope Francis mendatanginya untuk membicarakan perihal Helena yang menjadi tamu istimewanya dalam jamuan perburuan.
"Lord, Francis!" Louis yang awalnya kesal berubah sikap saat melihat pria tua berusia 72 tahun itu masuk. "Mari, Yang mulia, silahkan duduk. Sungguh suatu kehormatan anda mau datang kemari." Ya, perangai Louis menjadi sangat kontras, karena biar bagaimana pun segala keputusan soal tahta dan hak kerajaan harus melewati ijin pria tersebut.
"Tak usah basa-basi Louis. Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu!" Francis kemungkinan menjadi satu-satunya orang di istana yang berani memanggil sang Raja tanpa gelar. Ia tampak murka dan nada bicaranya terdengar tidak ramah.
"Apa yang membuat anda kesal?" Louis bertanya tak mengerti, kenapa pria ini marah terhadapnya sore-sore begini. Tepat disaat suasana hatinya sendiri sedang tak baik-baik saja.
"Kenapa anda menjadikan Helena tamu istimewa di jamuan itu?? Apa anda tau, seluruh istana membicarakan kejadian itu, bahkan ada yang bergosip posisi Ratu Serah akan anda geser!" Ternyata masalah ini dengan cepat sudah sampai ke telinga sang Pope.
"Ah, itu hanya salah paham..., anda jangan khawatir, karena hubunganku dengan Ratu Regina itu baik-baik saja," jawab Louis berusaha meyakinkan akan tujuannya seperti semula, tidak akan ada yang berubah.
"Anda harus ingat, Ratu Serah jauh lebih penting daripada gadis manja dari keluarga Esmerus itu! Dia tidak bisa dibandingkan dengan Lady Serah. Setelah anda memilikinya, Regina dan seluruh jalur utama perdagangan antar kerajaan bisa anda kuasa dan akan memperkuat posisi Mathilda sebagai kerajaan besar yang tak bisa dikalahkan!"
"Tentu aku tak akan lupa dengan tujuan itu, anda tenang saja."
Ternyata, siapa yang menduga kalau pria tua yang seharusnya fokus dalam urusan keagamaan itu ikut ambil andil dalam mengatur politik istana dalam Mathilda.
"Baguslah kalau anda memahami itu," ujar sang Pope dengan perasaan lega. Wajahnya berubah terlihat lebih tenang. "Saya tidak melarang kalau nantinya anda mau menikahi siapapun, asal Regina dan Ratu Serah sudah berada di bawah kendali anda," imbuhnya yang dapat dengan jelas kalau ia sama sekali tidak peduli bagaimana nantinya pernikahan Louis dan juga nasib Serah setelah menikah.
"Jangan khawatir, aku akan cepat memperistri wanita itu dan menguasai Regina...," balas Louis dengan kilat mata penuh dengan ambisi.
.
.
Langit senja pun akhirnya padam kala sang Raja telah kembali turun dari singgasana dan berganti dengan sang Ratu yang naik tahta, memancarkan pesona binarnya kepada siapapun yang masih merindukan malam.
Serah berdiri di depan jendela kamarnya dengan tirai yang terbuka sedikit, menatap langit ditemani dengan purnama sambil memikirkan cara untuk mempercepat eskalasi gosip mengenai Louis dan Helena agar tak bisa terbantahkan lagi oleh keduanya.
Di sisi lain, Grenseal pun telah tiba di gerbang Regina, tampak beristirahat sejenak, karena besok pagi ia akan melanjutkan perjalanan ke Mathilda.
Raja muda itu tampak sedang menikmati air segar sambil membakar daging hasil dari buruannya.
"Ah, menikmati malam yang dingin ditemani aroma daging bakar dan minuman, ini puncak kedamaian," ungkapnya yang kemudian bersandar sejenak pada pohon besar yang menaungi dirinya.
Tatapannya kini mengarah ke atas langit di mana rembulan muncul dengan kesempurnaan absolut.
"Besok, perjalanan ke Mathilda tak akan ada jeda, aku harus mengisi banyak energi!" Ujarnya kemudian dan melanjutkan makan dengan lahap.
.
.
Waktu berganti, api unggun yang semalam membakar telah padam. Sang pembuat terlihat sedang mempersiapkan kembali kudanya, juga semua bekal dan peralatan.
Pemuda itu terlihat puas lalu menaiki kuda hitam tersebut yang juga terlihat sudah tak sabar untuk berlari.
"Baiklah, ayo kita jalan Swarzh. Ingat ya kali ini kita harus terus berlari sampai Mathilda, tak ada istirahat, kau mengerti?" Grenseal mengajak kuda itu berbicara sambil mengelus bagian punggung kuda lalu menepuk bagian sampingnya beberapa kali. Kuda itu meringkik seakan memberi jawaban.
Grenseal pun memacu gerak kuda itu dalam satu tarikan yang langsung direspon dengan sang kuda dengan gerakan cepat, berlari. Pria itu sempat tertawa menikmati hembusan angin yang terbawa dan melintasi perbatasan Regina-Mathilda dengan dikelilingi oleh pohon pinus. Kemungkinan besar, Mathilda akan dapat ia capai dalam waktu dua hari lagi.
.
.
Pagi itu Serah seharusnya berlatih bersama dengan Glen, tapi kedatangan Louis membuat rencananya berubah.
"Kau ingin aku mengatur acara dansa di istana?" Serah tampak ragu dan menanyakan hal itu sekali lagi pada Louis.
Lelaki itu memang datang dan tiba-tiba saja memberikannya tanggung-jawab untuk mengurus acara besar di Kerajaan Mathilda yang memang diadakan sebulan sekali. Itu adalah acara rutin guna mempererat hubungan diplomatik dengan para bangsawan.
"Aku ingin kau terbiasa, karena kelak kalau sudah menjadi Ratu ku, semua urusan dalam istana kau yang akan mengaturnya, my Lady," ucap Louis sambil memberi ciuman pada tangan Serah.
"Baiklah, Yang mulia..., tanggung jawab ini akan aku coba jalankan," balas Serah sedikit mengangguk.
"Anda tak perlu cemas, karena nanti Beatrice dan beberapa pengabdi kerajaan juga akan membantu dan jangan buru-buru, acaranya masih besok malam, bukan hari ini." Louis mengusap lembut punggung tangan Serah dengan tatapan yang intens.
"Aku ingin lihat bagaimana caramu mengatasi hal ini, Serah...," ujarnya dengan licik dalam hati. Ia memiliki niat untuk membuat Serah tampak buruk karena gagal membuat acara besar agar ia dianggap tidak memiliki kompeten kalau mengatur acara saja dia gagal.
"Tentu, itu akan sangat membantu." Serah masih dapat berbicara tenang.
"Baiklah, Putri Serah, saya permisi dulu dan nikmati hari anda," ujar Louis dengan sarkasme karena dia tau Serah pasti akan sibuk dan pusing mempelajari semua ketentuan kerajaan Mathilda untuk acara pesta besar.
"Aku menerima tantangan mu Louis. Kau pikir aku tidak bisa melakukan permainan ini? Aku juga akan memberikan kejutan untukmu...." Serah pun hanya tersenyum. Di dalam otaknya sudah tersusun suatu rencana.
disini si louis sbg raja dia kek terlalu anak emasin helena ya , aku baca sejak bab awal jadinya si helena ini besar kepala merasa diatas angin.. merasa menang dr serah..
tapi bagusnya juga si serah langsung sadar dan bagus aku suka , lebih bagus lg buat si louis menyesal sampe ke dasar jurang karena melepas berlian demi batu kerikil di sungai keruh😏
gak pantes dia jd raja, otak nya cuma wanita, wanita dan wanita dan slengki aja 😏😏😏
jijay..
ayo serah lawan helena biar dia sadar diri posisi dan statusnya dia gak sebanding sama kamu
namun, yang aku pengen tahu adalah latar belakang putri serah. mengapa dia akan menikah dengan raja Louis. dipaksa? atau memang sukarela?