Sinopsis
Rania, seorang gadis desa yang lembut, harus menanggung getirnya hidup ketika Karmin, suami dari tantenya, berulang kali mencoba merenggut kehormatannya. Belum selesai dari satu penderitaan, nasib kembali mempermainkannya. Karmin yang tenggelam dalam utang menjadikan Rania sebagai pelunasan, menyerahkannya kepada Albert, pemilik sebuah klub malam terkenal karena kelamnya.
Di tempat itu, Rania dipaksa menerima kenyataan pahit, ia dijadikan “barang dagangan” untuk memuaskan para pelanggan Albert. Diberi obat hingga tak sadarkan diri, Dania terbangun hanya untuk menemukan bahwa kesuciannya telah hilang di tangan seorang pria asing.
Dalam keputusasaan dan air mata yang terus mengalir, Rania memohon kepada pria itu, satu-satunya orang yang mungkin memberinya harapan, agar mau membawanya pergi dari neraka yang disebut klub malam tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab: 32
Aroma bawang merah yang tajam memenuhi dapur kediaman keluarga Demitri sore itu. Rania berdiri terpaku di depan meja dapur, tangannya gemetar saat memegang pisau. Pikirannya tidak sedang berada di sana; ingatannya terus berputar pada percakapan antara Tania dan Airon yang tak sengaja ia dengar di balkon semalam. Kata-kata menikah dan pilihan Mama seolah menjadi belati yang lebih tajam dari apa pun yang ada di tangannya saat ini.
"Auch.."
Rania meringis pelan. Darah segar mulai merembes dari ujung jari telunjuknya. Pisau itu tergelincir, melukai kulitnya karena fokusnya yang terbelah.
"Kamu kenapa?"
Suara Airish yang tiba-tiba muncul di dapur untuk mengambil minum membuat Rania tersentak. Dengan cepat, Rania mencoba menyembunyikan tangannya di balik celemek, namun darah itu terlanjur menetes ke lantai marmer yang putih bersih.
"Saya tidak apa-apa, Non Airish," kata Rania lirih, mencoba menahan getaran di suaranya.
"Tidak apa-apa apanya? Jari kamu terluka parah, Rania!" Airish mendekat, raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang tulus. Ia meraih tangan Rania, melihat luka yang cukup dalam di sana. "Kenapa kamu ceroboh sekali?"
Rania hanya bisa menunduk. Tiba-tiba, air matanya jatuh tanpa bisa dibendung. Buliran bening itu mengalir deras membasahi pipinya yang pucat.
"Kamu menangis? Apa sesakit itu?" tanya Airish semakin panik. "Tunggu di sini, jangan banyak gerak. Aku cari plester dan obat merah dulu di kotak P3K."
Airish bergegas pergi meninggalkan dapur. Namun, begitu Airish menghilang, tangis Rania pecah dalam diam. Bahunya terguncang hebat. Ia menangis bukan karena rasa perih di jarinya. Luka fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan luka di hatinya. Ia merasa seperti seorang penyusup di rumah ini, seorang istri sah yang statusnya terhapus oleh harapan seorang ibu mertua yang menginginkan wanita lain untuk suaminya.
"Siapa yang terluka?"
Suara bariton Airon menggelegar di ruang tengah saat melihat Airish sibuk menggeledah lemari obat.
"Rania, jarinya teriris pisau di dapur," sahut Airish tanpa menoleh.
Mendengar nama itu, jantung Airon seolah berhenti berdetak sesaat. Dengan langkah lebar yang terburu-buru, ia menyambar kotak P3K dari tangan adiknya. "Biar aku saja yang mengurusnya."
Airon masuk ke dapur dan menemukan Rania sedang berdiri membelakanginya, bahunya masih sedikit gemetar. Airon mendekat, rasa sesak memenuhi dadanya melihat wanita yang ia cintai terluka di rumahnya sendiri.
"Tuan Airon..." Rania tersentak, cepat-cepat menghapus air matanya dengan punggung tangan yang tidak terluka. Ia mencoba memasang wajah sedatar mungkin.
"Kamu menangis?" tanya Airon lembut, ia meraih tangan Rania dan menatap mata istrinya yang memerah.
"Tidak, Tuan. Ini karena bawang. Mata saya jadi perih terkena uapnya," bohong Rania. Ia tak sanggup menatap mata Airon. Ia takut jika ia jujur, ia akan memohon pada Airon untuk tidak meninggalkannya, dan itu akan membuat posisi Airon semakin sulit di depan Tania.
Airon mendesah pelan, ia tahu istrinya sedang berbohong, namun ia memilih untuk tidak mendesak. Ia mulai membersihkan luka di jari Rania dengan sangat telaten. "Bagaimana kamu bisa kembali ceroboh begini? Apa kamu ingin jarimu ini habis?" ucapnya, mengingatkan pada kejadian serupa di vila dulu.
"Apa sakit?" tanya Airon lagi, suaranya melembut, penuh dengan kasih sayang yang tertahan.
"Tidak, Tuan," geleng Rania. Jari ini tidak sakit, Tuan. Yang sakit adalah kenyataan bahwa saya harus berdiri di sini sebagai pembantumu saat ibumu merencanakan pernikahanmu dengan wanita lain, batin Rania menjerit.
Airon menarik tangan Rania yang sudah dibalut plester, lalu mengecupnya pelan. Sebuah gestur intim yang sangat berisiko dilakukan di dapur rumah utama.
"Tuan!" Rania menarik tangannya dengan cepat, wajahnya pucat karena ketakutan jika Darti atau Tania melihat mereka. "Sebaiknya Tuan keluar. Saya akan menyelesaikan pekerjaan ini."
"Istirahatlah, biar Darti yang menyelesaikannya," perintah Airon.
"Tidak usah, Tuan. Biar saya saja. Saya tidak ingin Mbak Darti semakin membenci saya," tolak Rania tegas. Ia tahu posisi rentannya di rumah ini, dan ia tidak ingin memicu kecurigaan lebih jauh.
Di teras depan, sebuah mobil berhenti. Ergan turun dengan membawa beberapa berkas penting yang membutuhkan tanda tangan Airon. Sebenarnya, itu hanyalah alasan profesional. Alasan pribadinya adalah ia ingin memastikan Airish baik-baik saja setelah kejadian pemutusan hubungan dengan Harry.
"Selamat sore," ucap Ergan saat berpapasan dengan Airish di pintu depan.
"Ya, selamat sore," sahut Airish cuek. Ia melewati Ergan begitu saja menuju taman samping, seolah pria itu hanyalah angin lalu. Airish sengaja berlagak jual mahal; ia lelah terus-menerus diperlakukan dingin dan ingin melihat sejauh mana Ergan akan bertahan.
"Mau ketemu Airon?" tanya Airish singkat tanpa menoleh.
"Saya ingin mengantar berkas ini," jawab Ergan sembari mengangkat map di tangannya.
"Masuklah, dia ada di dalam," ketus Airish.
Ergan menghela napas panjang, menatap punggung Airish dengan rasa rindu yang tertahan. Ia melangkah masuk dan berpapasan dengan Rania yang baru saja keluar dari arah dapur.
"Nyonya Muda," panggil Ergan refleks.
Rania tersentak, matanya membelalak panik. "Ssshh... Ergan, jangan panggil saya begitu di sini! Kalau ada yang dengar bagaimana?" bisiknya tajam sembari melirik ke arah tangga.
"Maaf, Nyonya... maksud saya, saya tidak tahu harus memanggil Anda apa di rumah ini," ujar Ergan merasa bersalah.
"Panggil saja Rania. Tolong, Ergan. Demi keamanan kita semua," pinta Rania memohon.
Ergan terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. "Baiklah, Rania."
Tiba-tiba Airon muncul dari lantai atas. Matanya menyipit melihat Ergan dan Rania berbicara cukup dekat. Ada secercah api cemburu yang selalu muncul setiap kali ia melihat istrinya berinteraksi dengan pria lain, meskipun itu adalah sahabat kepercayaannya sendiri.
"Ada apa kamu datang?" tanya Airon ketus.
"Tanda tangan untuk proyek baru, Tuan," Ergan mengangkat berkasnya.
"Ikut saya ke ruang kerja." Airon berpaling pada Rania. "Buatkan kopi dan antar ke dalam."
"Baik, Tuan," sahut Rania patuh.
Di dalam ruang kerja yang kedap suara, Airon duduk di balik meja jati besarnya. Namun, ia tidak segera meraih pena. Ia menatap Ergan dengan pandangan yang sangat berat.
"Ergan, aku ingin meminta pendapatmu tentang sesuatu," buka Airon.
Ergan meletakkan mapnya, ia bisa merasakan beban berat di bahu sahabatnya itu. "Tuan ingin meminta pendapat saya sebagai bawahan, atau sebagai sahabat?"
"Keduanya," jawab Airon singkat.
"Baiklah. Sebagai bawahan, saya akan menyarankan Anda untuk mengikuti apa yang menurut Anda paling menguntungkan bagi stabilitas keluarga dan perusahaan," ucap Ergan dengan nada profesional.
"Lalu sebagai sahabat?"
Ergan menatap mata Airon dalam-dalam. "Sebagai sahabat, saya ingin Anda mendengarkan apa yang hati Anda inginkan. Anda sudah berjuang untuk mendapatkan Rania, jangan biarkan tekanan dari luar menghancurkan apa yang sudah Anda bangun."
Airon mendengus pahit. "Pendapatmu tidak memberikan jalan keluar, Ergan. Hati saya ingin Rania, tapi kondisi Mama... dia memohon padaku untuk menikahi wanita pilihannya. Dia bahkan bilang itu mungkin permintaan terakhirnya."
Airon menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit ruangan dengan rasa putus asa yang mendalam. Ia terjebak dalam labirin takdir; di satu sisi ada wanita yang telah menjadi belahan jiwanya, dan di sisi lain ada ibu yang telah melahirkannya. Dan di luar pintu itu, Rania berdiri dengan nampan kopi, air matanya kembali jatuh saat mendengar samar-samar kebingungan suaminya. Ia menyadari bahwa cinta saja mungkin tidak cukup untuk memenangkan peperangan melawan bakti seorang anak.
masa tangan kanan ga punya rencana 🤦🤦