Nethaniel adalah pria muda tampan, sukses, dan berkarisma. Lahir di tengah keluarga konglomerat dan hidup berkelimpahan. Namun ada yang kurang dan sulit diperoleh adalah pasangan hidup yang tulus mencintainya.
Ketika orang tua mendesak agar segera berkeluarga, dia tidak bisa mengelak. Dia harus menentukan pilihan, atau terima pasangan yang dipilih orang tua.
Dalam situasi terdesak, tanpa sengaja dia bertemu Athalia, gadis cantik sederhana dan menarik perhatiannya. Namun pertemuan mereka membawa Nethaniel pada pusaran konflik batin berkepanjangan dan menciptakan kekosongan batin, ketika Athalia menolaknya.
》Apa yang terjadi dengan Nethaniel dan Athalia?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "I Miss You Because I Love You."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 05. IMU coz ILU
...~•Happy Reading•~...
Setelah mendengar penjelasan Rion, Ethan tidak jadi minta dia datang menemuinya. Ada hal baru yang dipikirkan, setelah tahu gedung coffee shop milik keluarganya.
Sontak Ethan melihat semua karyawan, mencari pelayan yang mengantarkan kopinya. "Rion, telpon sopir. Bilang temui saya di sini."
"Pak Niel, tidak ke kantor?" Rion mengira, bossnya mau ke gedung kantor untuk survey.
"Tidak. Nanti saya telpon lagi." Ethan segera mematikan telpon.
Ethan melihat cup kopi di depannya, lalu pegang dengan kedua tangan tanpa berniat untuk diminum. Dia ingat perubahan wajah Athalia dan makin memerah saat pelayan meletakan cup kopi di meja. Emosinya naik level dan berharap sopirnya lekas tiba.
~••~
Sedangkan Athalia yang sudah bisa menyeberang, berjalan cepat bahkan berlari kecil, karena waktu istirahat telah berakhir.
Saat tiba di lobby gedung, salah satu teman di tempat resepsionis melambai ke arahnya. "Cepat, Talia. Mengapa terlambat? Tadi dicari, Pak Super." Mereka membahasakan supervisor.
"Sorry, Lea. Tadi nyangkut. Ada apa, ya?" Tanya Athalia sambil menenangkan detak jantung dan merapikan penampilannya.
"Menurut issu yang beredar, ada pergantian manager. Mungkin kita mau dibriefing sebelum pergantian."
"Oh, semoga tidak terjadi sesuatu. Apa aku harus temui Pak Super sekarang?"
"Ngga usah. Tadi aku bilang, kau lagi ke bank. Mungkin agak telat, karna ngantri." Alea menjelaskan sambil menunggu Athalia merapikan penampilan, agar bisa bergantian tugas.
"Makasih Lea. Sudah boleh ditinggal. Nanti cari info, ya. Aku baru di sini, jadi nggak enak tanya." Athalia meminta sebelum Alea meninggalkan dia.
"Tenang saja. Konsen untuk kerja yang baik di sini. Kau ingat kata Pak Super, kita wajah perusahaan ini. Supaya yang datang happy melihat kita." Ucap Alea sambil menyentuh dagu Athalia.
"Jangan pernah menunjukan wajah cuka." Ucap Athalia sambil meniru wajah masam yang ditunjukan supervisor sambil menyentuh dagu Alea, bak lebah bergantung. Hal itu membuat Alea tersenyum, hingga Athalia ikut tersenyum dan melupakan sikap tidak menyenangkan pelayan coffee shop.
"Ada apa? Mengapa kalian berdua senyam-senyum?" Athalia dan Alea keasyikan bercanda, tidak menyadari kedatangan supervisor.
"Oh, maaf, Pak. Saya lagi menghitung suara detak jantung Talia." Alea bercanda, mengalihkan.
"Maaf, Pak. Tadi agak telat, jadi berlari." Athalia menjelaskan lagi.
Supervisor menggelengkan kepala. "Nanti jangan langsung pulang, ya. Selesai dari sini, ke ruangan saya." Supervisor menjelaskan tujuannya menemui mereka.
"Iya, Pak." Ucap Athalia dan Alea bersamaan.
"Sepertinya, benar. Manager kita mau diganti." Bisik Alea lalu meninggalkan Athalia.
'Semoga masa trainingku mulus.' Athalia membatin sambil melihat punggung Alea dan tamu yang datang dari lobby.
~••~
Kembali ke coffee shop ; Ethan terus pegang cup kopi sambil berpikir dan berusaha menahan emosi. Ketika melihat sopirnya masuk ke dalam coffee, Ethan memberikan isyarat agar sopir duduk di depannya.
"Pak, apa ada masalah?" Tanya sopir yang melihat wajah bossnya kaku dan merah.
"Ke sana pesan dua cangkir coffe ...." Ethan menyebut nama kopi sambil menunjuk daftar menu.
Ethan minta sopir beli kopi yang diminta kepada Athalia dan cemilan paling mahal, yang disediakan coffee shop.
Sopir jadi mengerti, melihat cup kopi di tangan bossnya. Dia berpikir, mungkin pelayan telah menyinggung bossnya karena melihat penampilan dan pesanannya yang biasa.
"Kau punya uang?" Ethan bertanya seperti yang ditanya Athalia.
"Punya, Pak. Saya bisa gunakan card." Jawab sopir cepat, saat melihat harga kopi. Dia tahu, bossnya sedang menyamar, jadi tidak mau keluarkan uang atau card.
Ethan melakukan demikian, setelah bisa berpikir. Dia tidak mau para pengunjung dan pelayan berpikiran negatif, bahwa dia baru menipu seorang wanita dengan berpura-pura sebagai tuna netra. Oleh sebab itu, dia putuskan untuk tetap berperan hingga meninggalkan coffee shop.
"Ok. Perhatikan dan cari tahu nama pelayan wanita yang berambut lurus dan licin seperti perosotan." Ucap Ethan serius sebelum sopirnya berdiri.
"Baik, Pak." Sopir tidak bertanya lagi. Dia segera berdiri melakukan permintaan bossnya.
Namun suasana hati dan emosi Ethan belum surut. Walau sudah minta sopir beli yang diinginkan, dia merasa gagal di awal penyamaran.
Ethan sangat marah, karena tidak bisa mengendalikan emosi sehingga lupa berterima kasih yang layak kepada wanita yang sudah menolongnya. Dan terutama, dia lupa menanyakan nama dan tempat kerjanya.
"Kau dapat namanya?" Tanya Ethan setelah sopirnya kembali.
"Iya, Pak. Dari temannya, karna dia sedang istirahat."
"Berikan namanya." Ethan mengulurkan tangan untuk mengambil catatan di tangan sopir.
"Kau parkir mobil di mana?" Tanya Ethan lagi.
"Di tempat parkir kantor, Pak. Karna tidak bisa parkir di luar." Sopir menjelaskan situasi yang terjadi saat mencari tempat parkir.
"Ok. Silahkan minum, lalu ambil mobil. Saya tunggu di sini."
"Pak, saya minum kopi yang itu saja." Sopir menunjuk cup kopi yang dibeli Athalia.
"Minum yang itu. Ini akan saya bawa." Ucap Ethan yang tidak melepaskan sebelah tangannya dari cup kopi yang dibeli Athalia.
~••~
Setelah mengambil mobil dan parkir di depan coffee shop, sopir menuntun Ethan seperti yang dilakukan Athalia.
"Kita ke mana lagi, Pak?" Tanya sopir setelah Ethan duduk dalam mobil.
"Langsung pulang." Ethan tidak mau meneruskan penyamaran lagi sebagai penyandang tuna netra. Dia merasa bersalah pada wanita yang telah menolongnya.
Ethan langsung menelpon Rion menjelaskan yang akan dilakukan dan perubahan rencananya. Agar Rion tidak sibuk mengatur atau menunggu kedatangannya.
Setelah melewati jalanan yang padat merayap, mobil Ethan masuk ke halaman mansion. Mamahnya yang hendak keluar rumah, terkejut melihat mobil yang tidak dikenal berhenti di depannya.
"Ethan, mobil siapa ini?" Mamahnya terkejut melihat Ethan keluar dari mobil.
"Mobil baru Ethan. Mamah masuk lagi dulu." Ethan mengajak Mamahnya kembali masuk ke dalam rumah.
Setelah di ruang keluarga, Ethan menjelaskan rencananya dan mobil harus sesuai dengan penyamaran. Mamahnya tidak setuju. Tetapi setelah mendengar Opah sudah setuju, dengan berat hati Mamanya menerima.
"Jadi mulai sekarang, Mamah tidak boleh bilang ada penyusup di rumah ini." Ethan tersenyum dalam hati melihat wajah tidak rela Mamahnya.
"Jadi kau akan biarkan wajahmu tumbuh duri landak?"
"Tidak sesadis itu, Mah. Tidak kasar, hanya terlihat agak kotor. Yang penting, aku masih anak Mamah." Ethan memegang pinggiran pipi dan dagunya yang dibiarkan tidak bercukur.
"Ini akan berlangsung berapa lama?" Mamanya khawatir.
"Sampai aku merasa sudah cukup usahaku, supaya Opah bisa lihat anakku." Ethan jadi tersenyum dengar ucapannya.
"Jadi kau akan menanggalkan semua ini?" Mamahnya menunjuk ruang keluarga dengan membuka tangan.
"Tidak, Mah. Aku masih tinggal di sini. Kalau Mamah tidak bersedia, aku pindah tinggal di apartemen."
"Tidak bisa. Tetap di sini. Jangan bikin Mamah jantungan."
"Ok, deal. Mamah tutup mata lihat perubahanku." Ucap Ethan sambil memeluk Mamahnya.
"Mengapa tidak terima Vel ...."
"Jangan diteruskan, Mah. Aku bisa pindah tinggal di luar, biar menyamar total." Ancam Ethan, agar Mamahnya berhenti protes dan menyebut nama Velina.
...~•••~...
...~•○♡○•~...