Semua ini tentang Lucyana Putri Chandra yang pernah disakiti, dihancurkan, dan ditinggalkan.
Tapi muncul seseorang dengan segala spontanitas dan ketulusannya.
Apakah Lucyana berani jatuh cinta lagi?
Kali ini pada seorang Sadewa Nugraha Abimanyu yang jauh lebih muda darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jemiiima__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sedikit Kecewa
Lucy masih terpaku menatap layar ponsel itu.
“Bebe?” bisiknya pelan. “Bukannya dia bilang nggak punya pacar…”
Ada rasa mengganjal di dadanya. Ekspresinya meredup; bukan marah, hanya sedikit kecewa. Ia buru-buru meletakkan ponsel Dewa kembali ke meja, tangannya yang tadi merapikan travel bag berubah kaku.
Telepon Lucy tiba-tiba berdering. Ia sedikit terkejut sebelum melihat nama di layar: Momsky🩷
“Halo, Mah,” ucap Lucy sambil mengatur napas.
“Halo, Neng. Mamah sama Papah tunggu di bawah aja ya. Nggak kuat lagi naik ke atasnya.”
“Iya, Mah. Bentar lagi kita turun.”
Lelaki itu keluar dari kamar mandi tepat saat Lucy menurunkan ponsel dari telinganya. Rambutnya masih basah, dan ia memiringkan kepala sedikit, memberi isyarat bertanya siapa? Lucy menjawab dengan lirikan lembut dan satu kata singkat, “Mama.”
Panggilan terputus.
Lucy kembali membereskan barang-barang yang tersisa. Dewa membantunya tanpa banyak bicara. Mengambil jaket, mengancingkan tas, memastikan tidak ada yang tertinggal. Setelah selesai mereka kemudian menuju lift. Langkah keduanya beriringan. Begitu pintu lift terbuka dan keduanya melangkah ke lobi, aroma antiseptik pelan-pelan terganti oleh udara hangat dari pintu utama rumah sakit.
Di lobi yang mulai ramai, seorang pria berdiri menunggu suster yang sedang menyiapkan berkasnya. Ia menatap sekeliling lobi, tatapannya bergerak santai… sampai tanpa sengaja berhenti pada sosok yang baru keluar dari lift.
Alisnya terangkat tipis.
"…Lucyana?" Tatapannya beralih kepada pria yang disebelahnya—Dewa.
"Laki-laki itu, bukannya dia mahasiswa Unpas?" gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri karena ragu dengan apa yang ia lihat.
Tatapannya mengikuti langkah Lucy yang terus menjauh bersama seorang pria di sampingnya. Seorang suster mendekatinya sambil menyodorkan kertas.
“Pak, ini resepnya. Bisa diambil di farmasi, ya.”
Pria itu tersentak keluar dari lamunannya. “Iya, baik Sus… terima kasih.”
Ia mengambil resep itu dan berjalan menuju farmasi. Tapi di pikirannya ada satu pertanyaan yang terus berputar.
"Mengapa Lucy ada di rumah sakit bersama laki-laki itu?" Matanya menyipit curiga. "Ada hubungan apa mereka?"
Sesampainya di farmasi, pria itu berdiri menunggu sambil mengusap tengkuknya—kebiasaan yang muncul setiap kali ia merasa tidak tenang. Tak lama kemudian petugas farmasi memanggilnya.
“Pak, obat untuk Bu Ratna sudah siap.”
Pria itu segera mendekat.
“Oh—iya. Terima kasih,” ucapnya sambil menerima dua kantong kecil obat.
Petugas itu memeriksa kembali catatan di mejanya. “Sudah lengkap semua, Pak. Ini aturan minumnya, satu pagi, satu malam. Kalau ada keluhan, bisa langsung kembali ke poli.”
Pria itu mengangguk pelan. “Baik. Terima kasih, ya.”
“Siap, Pak. Semoga ibunya lekas pulih.”
Ia tersenyum tipis sebagai jawaban, kemudian memutar badan dan berjalan kembali ke area tunggu. Tak jauh dari pintu, ibunya sudah duduk tenang di kursi roda.
“Ayo, Mah,” ucapnya lembut sambil menunjukkan kantong obat. “Obatnya udah aku ambil, kita pulang sekarang.”
Ibunya mendongak, senyum hangat tipis menghiasi wajahnya. Ia mengangguk tanpa banyak kata. Pria itu memperbaiki posisi selimut di pangkuan ibunya, memastikan ujungnya tidak terseret lantai. Setelah memastikan semuanya aman, ia mulai mendorong kursi roda keluar menuju parkiran.
...****************...
Sementara itu, Lucy, Dewa, dan kedua orang tua Lucy baru saja tiba di rumah. Udara hangat dari dalam menyambut mereka, memberikan sedikit rasa lega setelah beberapa hari di rumah sakit.
“Mah, Pah pasti capek. Istirahat dulu aja di kamar sebelah,” ucap Lucy sambil membuka sepatu. “Nanti kalau makan sore udah siap, Lucy panggil.”
Indriani mengangguk pelan. “Ya sudah. Ayo, Pah… istirahatkan dulu badanmu itu,” katanya sambil menepuk lengan suaminya.
Surya tersenyum tipis dan mengikuti istrinya menuju kamar tamu.
Setelah keduanya masuk, rumah kembali terasa sunyi. Lucy membawa travel bag ke kamar, membukanya di atas ranjang, lalu mulai menyusun baju ke dalam lemari satu per satu. Namun jelas, pikirannya melayang kembali pada pesan tanpa nama di ponsel Dewa.
“Long time no see! I miss you Bebe.”
Kalimat itu masih bergema di kepalanya, menusuk pelan.
Saat wanita itu hendak menutup lemari, tiba-tiba ada lengan melingkar dari belakang.
Dewa memeluk pinggangnya sambil menurunkan dagu ke bahunya. “Lo juga istirahat,” ucapnya lembut. “Biar sisanya nanti gue yang beresin.”
Lucy tetap diam sejenak. Lalu ia menjawab tanpa menoleh, “Nanggung. Bentar lagi selesai. Sekalian mau siapin makan sore.” Suaranya terdengar lebih datar dari biasanya. Ia melepas pelukan suaminya secara perlahan, lalu kembali membereskan barang.
Dewa mengernyit. Ia memperhatikan bahu istrinya yang sedikit menegang, tatapannya yang tidak pernah benar-benar mengarah padanya. Ada jarak yang tidak ia mengerti.
Lucy kalau ngindarin gue begitu… biasanya dia lagi marah.
Alisnya menyatu, bingung. Kali ini… salah apa gue?
Dewa belum sempat mengecek ponselnya. Itu sebab nya dia tidak tau alasan dibalik sikap cuek istrinya itu.
Ia menatap pungung lucy. Mencoba membaca gelagatnya. Tapi hanya menemukan keheningan yg semakin terasa diantara mereka. Setelah membereskan barang dikamar. Wanita itu bergerak menuju dapur, mengeluarkan bahan yang bisa dimasak untuk makan malam. Dewa yang sedari tadi memperhatikannya dari balik pintu kamar, akhirnya ikut melangkah ke luar. Ia ingin mendekat, tapi langkahnya berhenti ketika ponselnya tiba-tiba berdering.
Timtam – Ryan.
Dewa menghela napas singkat lalu mengangkatnya sambil berjalan menuju ruang tamu.
“Halo, Yan. Kenapa?”
Di seberang, terdengar suara bising seperti sedang di luar ruangan.
“Lo dirawat di ruang berapa? Gue sama anak-anak mau ke situ bentar lagi,” ujar Ryan, suaranya tergesa.
Dewa duduk di sofa, menunduk sedikit sambil menyandarkan siku ke lutut.
“Gak usah. Gue udah di rumah. Besok juga udah ngampus lagi.”
Belum sempat napasnya teratur, Ryan langsung mengubah panggilan jadi video call.
“Mana?! Lo beneran udah di rumah? Takutnya lo bohong lagi biar gak kita jenguk.”
Pria itu mendecak kecil, lalu memutar kamera ke belakang.
“Nih, lihat! Gue udah di rumah. Ngapain gue bohong.”
Ia mengarahkan kamera, memperlihatkan ruang tamu, meja makan, lalu secara tidak sengaja kameranya menyapu ke dapur. Di sana, Lucy sedang berdiri membelakangi kamera, rambutnya disanggul asal, tangan sibuk di wastafel. Sekilas saja, tapi cukup jelas.
Terdengar suara gaduh dari panggilan.
“WOI—WOI BENTAR!” Arka hampir berteriak. “Itu siapa cewe di dapur?!”
“Lah iya!” Bayu menyahut cepat. “Ada cewe ituu! ”
“Wah parah lo, Dew,” Ryan ikut menggoda. “Main masukin cewe ke rumah euy.”
Dewa sontak memutar kamera kembali ke depannya. Wajahnya jelas terlihat kaget dan sedikit panik.
“Emang ada cewe? Kagak ada tuh!”
Bayu langsung mencibir. “Bro, muka lo udah gelagapan banget sumpah. Udah lah ngaku aja.”
Arka menoyor layar dengan jarinya. “Siapa itu, hah?”
Dewa menatap layar pasrah, mengusap wajahnya satu kali.
“Iya, iya! Itu cewe gue! Puas lo semua?!”
Dari dapur, suara Lucy terdengar cukup jelas meski tidak keras.
“Cih… cewenya apaan,” gumamnya, tanpa menoleh.
Dewa langsung menutup telepon cepat-cepat.
“Udah ya! Gue mau istirahat! Jangan ada yang ke sini!” katanya terburu-buru.
“Eh, jangan tut—”
Flip!
Panggilan terputus sepihak.
Dewa menjatuhkan ponsel ke sofa sambil memijat pelipis. Nafasnya masih agak berantakan karena panik. Namun baru beberapa detik kemudian, ia baru sadar ada pesan masuk yang belum terbaca.
0821-xxxx-xxxx
Long time no see! I miss you bebe
Dewa terdiam. Bahunya menegang tajam, napasnya surut.
DEG!
D-dia…?
Buat apa hubungin gue lagi?
Ia memandangi layar lama, tatapannya mengeras, lalu berubah gelisah.
Apa… ini penyebab Lucy tiba-tiba beda sama gue? Dia lihat pesan ini?
Jantungnya memukul dada lebih cepat, dan untuk pertama kalinya hari itu, kegelisahan mulai merayap memenuhi ruang tamu.
...----------------...
Jadi, kamu mengenalnya Dewa? siapa dia?
Siapa juga sosok misterius yang ada di rumah sakit?
Pantengin terus yaa untuk setiap kelanjutan kisah mereka 😘
Halo...
Halo...
Sehat-sehat kah readers semuaa? Jaga kesehatan ya teman, cuaca lagi gak bagus nih ☹️
Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak berupa vote like dan komentar nya yaa 🤗
Berkah dan sehat selalu teman-teman readers 🥰❤
Terimakasih 💕
Assalamualaikum...
ehh jawabnya ,,lagi dikamar mandi
apa itu bener🤔