Warning!! Hanya untuk pembaca 21 tahun ke atas.
Lyra menjadi wanita yang haus akan kasih sayang setelah kepergian suaminya. Usia pernikahannya baru berjalan 2 bulan, namun harus berakhir dengan menyandang status janda di tinggal mati. Bertemu Dika seorang lelaki yang bekerja di daerah tempat tinggalnya. Membuat mereka terlibat dengan hubungan cinta yang penuh dosa.Tapi siapa sangka, ternyata Dika sudah menikah, dan terobsesi kepada Lyra.
Lyra akhirnya memutuskan untuk sendiri menjalani sisa hidupnya. Namun ia bertemu Fandi, rekan kerjanya yang ternyata memendam rasa padanya.
Bagaimana kisah kehidupan dan cinta Lyra selanjutnya?
Yuk simak kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Kenyataan Yang Membuat Luka
Bab 23
Kenyataan Yang Membuat luka
Tangis Novia mereda, air matanya mengering, meninggalkan jejak perih di wajahnya. Iqbal menunggu dalam diam, kesabarannya terasa hambar di tengah atmosfer yang sarat akan kehancuran. Ruang sempit mobil itu menjadi saksi bisu dari runtuhnya cinta dan kepercayaan yang selama ini menjadi fondasi rumah tangganya. Di sisi lain, cinta Iqbal yang terpendam sekian lama kini terasa seperti bara api yang membakar hatinya sendiri.
Iqbal menyesal. Mengalah dan menyerahkan cinta pertamanya pada sang kakak ternyata berbuah luka yang lebih dalam bagi Novia. Pengkhianatan Dika telah meremukkan hati wanita yang diam-diam dicintainya.
Iqbal ingin sekali merengkuh tubuh Novia yang bergetar hebat. Ia ingin menyalurkan kekuatan, mencoba menyembuhkan luka yang menganga di hatinya. Namun, ia sadar diri. Ia hanyalah seorang ipar. Tindakan itu akan sangat tidak pantas, bahkan mungkin akan memperkeruh suasana.
Perlahan, Novia mulai tenang. Meski jejak air mata masih membekas di bulu matanya yang lentik, ia mencoba menghapusnya dengan tisu yang tergeletak di dashboard mobil.
"Kamu... sudah baikan, Nov?" tanya Iqbal dengan nada lirih, penuh kehati-hatian.
Novia mengangguk lemah. "Bukankah aku memang harus kuat? Kita masih harus menghadapi wanita itu."
"Aku tahu ini berat, Nov. Aku... aku juga tidak menyukai semua ini." Iqbal menggantung kalimatnya, mencari kata-kata yang tepat. "Tapi, apa pun keputusanmu nanti, aku akan selalu mendukungmu. Ingat, ada aku di sini. Kamu bisa bersandar padaku jika kamu butuh."
"Terima kasih, Iqbal," bisik Novia, suaranya serak.
Iqbal menarik napas dalam-dalam, merasa sedikit lega.
"Kita lanjutkan perjalanan?"
"Iya," jawab Novia singkat.
Iqbal kembali menyalakan mesin mobil. Perlahan, mobil itu melaju, membelah jalanan yang semakin gelap.
Perjalanan panjang itu memakan waktu hampir enam jam. Ketika mereka tiba di kota tujuan, malam telah larut. Iqbal segera mencari penginapan terdekat.
Dua kamar terpisah dipesan Iqbal. Setelah beristirahat sejenak dan membersihkan diri, mereka mencari tempat makan di sekitar penginapan. Suasana canggung masih terasa kental di antara mereka.
"Bagaimana jika... jika aku tidak sanggup menghadapi wanita itu besok?" tanya Novia, suaranya bergetar.
"Aku akan mendampingimu. Kamu tidak akan sendirian, Nov." Iqbal meraih tangan Novia, menggenggamnya erat untuk sesaat, lalu melepaskannya kembali, sadar bahwa mereka bukan lagi hanya seorang sahabat seperti dulu. "Apa kamu ingin memergoki mereka secara langsung?" Iqbal bertanya lagi, menutupi ke canggungan yang terjadi padanya.
Novia menggeleng pelan. "Aku tidak ingin membuat keributan. Mas Dika pasti akan marah besar, dan mungkin... mungkin dia akan lebih memilih wanita itu daripada aku. Aku ingin berbicara baik-baik dengannya. Berharap dia punya hati nurani dan mau mengalah."
"Kalau begitu, kita tunggu saat dia sedang sendiri."
"Iya. Mas Dika pasti bekerja di pagi hari dan pulang di sore hari. Aku akan menemuinya saat itu."
"Kalau begitu, makan lah yang banyak. Kamu butuh tenaga ekstra buat besok. Jika masih terasa berat, ingat Ibra sebagai kekuatanmu."
Novia mengangguk lemah. Dengan gerakan pelan, ia menyuapkan makanan ke mulutnya, namun rasa hambar memenuhi indranya.
-
-
-
Meskipun sudah beberapa tahun berlalu, Novia masih hafal betul letak rumah dinas tempat suaminya tinggal. Meskipun hari masih sangat pagi, aktivitas di kawasan itu sudah mulai ramai. Mereka menunggu di dalam mobil, sedikit menjauh agar tidak menarik perhatian Dika.
"Uhuk... Uhuk... Uhuk!"
Novia tiba-tiba terbatuk. Iqbal dengan sigap mencari air mineral kemasan, namun sia-sia.
"Tunggu sebentar di sini," ujarnya pada Novia, lalu bergegas menuju warung yang tidak jauh dari tempat mereka berada. Ia membutuhkan sesuatu untuk meredakan batuk Novia.
Saat mendekati warung, telinga Iqbal menangkap percakapan ibu-ibu yang sedang bergosip. Nama kakaknya disebut, membuatnya terhenti dan memasang telinga.
"Eh, kalian sudah dengar? Katanya Pak Dika sedang mencari penghulu. Sepertinya dia akan segera menikahi janda itu."
Jantung Iqbal berdegup kencang. Kata-kata itu menghantamnya seperti gelombang pasang.
"Baguslah! Biar cepat hilang kesialan di kampung kita ini!"
"Sebenarnya, Mbak Lyra itu orang baik. Dulu dia tidak seperti itu. Anaknya sopan dan ramah, tidak terlihat genit sama sekali. Tapi, kenapa dia mau saja menjalin hubungan dengan Pak Dika dan tinggal serumah? Padahal, dulu mereka baik-baik saja tinggal terpisah bersebelahan."
"Dengar-dengar, dia datang ke sini setelah suaminya meninggal karena kecelakaan, kan? Terus, keluarganya juga habis semua, meninggal karena bencana banjir bandang besar di kota Xy yang viral beberapa tahun lalu, kan?"
"Kasihan sih sebenarnya, tapi kalau sudah kumpul kebo, tetap saja salah."
"Bu, air mineral botolnya dua ya?"
Iqbal menyela percakapan mereka, berusaha menyembunyikan gejolak emosi yang berkecamuk di dadanya.
"Iya, Mas. Mana ada kumpul kebo itu baik," sahut Ibu pemilik warung , seolah membenarkan ucapan sebelumnya.
Air mineral botol segera diambilkan dan diserahkan kepada Iqbal.
"Berapa, Bu?"
"Sepuluh ribu saja."
"Ah, sudah, aku mau pulang dulu. Nanti diteriaki Mas Bejo kalau kelamaan di warung, kopinya tidak jadi-jadi," ujar ibu yang lain, beranjak pergi.
"Ini uangnya." Iqbal menyerahkan selembar uang.
"Terima kasih ya, Mas."
Iqbal mengangguk singkat. "Sama-sama." Ia lalu bergegas kembali ke mobil, hatinya dipenuhi amarah dan kekecewaan. Ia tahu, ia harus segera memberitahukan apa yang didengarnya kepada Novia.
"Minum ini...," ujar Iqbal seraya menyodorkan sebotol air mineral kepada Novia begitu ia sudah duduk di dalam mobil. Nada suaranya datar, namun matanya memancarkan kekhawatiran yang mendalam.
"Terima kasih."
Novia menerima botol itu dari tangan Iqbal. Sentuhan mereka singkat, namun cukup untuk menyalurkan sedikit kekuatan. Ia meneguk air itu perlahan, membiarkan cairan dingin itu membasahi kerongkongannya yang kering.
"Tadi...aku tidak sengaja mendengar percakapan ibu-ibu di warung," kata Iqbal, suaranya tercekat. Ia tidak berani menatap Novia, takut melihat reaksi wanita itu.
Novia menoleh ke arah Iqbal, rasa penasaran bercampur dengan firasat buruk menghantui benaknya. Ia tahu ada sesuatu yang tidak enak telah didengar oleh Iqbal.
"Wanita itu... dia seorang janda yang ditinggal mati suaminya karena kecelakaan," lanjut Iqbal, akhirnya memberanikan diri untuk menatap Novia. "Dia lalu pindah ke sini dan tinggal... tinggal di sebelah rumah dinas Bang Dika."
Novia tersentak. Ia menoleh ke arah rumah bercat putih yang dipenuhi bunga-bunga di halamannya. Rumah itu berdiri persis di sebelah rumah dinas suaminya, seperti yang diingatnya. Kenangan indah tentang rumah itu kini terasa pahit dan menyakitkan.
"Entah bagaimana mereka mulai menjalin hubungan dan..." Kalimat Iqbal terjeda, ia menelan salivanya, " tinggal satu rumah," ucap Iqbal, kata-katanya bagai cambuk yang mencambuk hati Novia.
Novia kembali menatap Iqbal, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia tidak ingin percaya dengan apa yang didengarnya, namun ia tahu, ada kebenaran yang tersembunyi di balik kata-kata Iqbal.
"Kurasa Bang Dika kasihan padanya," lanjut Iqbal dengan suara lirih. "Katanya, keluarganya meninggal semua ketika banjir bandang di kota Xy beberapa tahun silam. Kamu ingat beritanya? Banjir itu memang dahsyat... ratusan ribu orang meninggal dunia hanya dalam satu hari."
Hati Novia hancur berkeping-keping, setiap kata yang diucapkan Iqbal bagai pecahan kaca yang menusuk-nusuk jiwanya. Namun, belum sempat ia mencerna semua informasi itu, kenyataan pahit menghantamnya dengan kekuatan yang lebih dahsyat.
Dari balik pintu bercat putih yang tadinya tampak polos, muncul sosok Dika. Bersamanya, seorang wanita yang telah merenggut kebahagiaannya, yang telah merampas suaminya. Wanita itu tersenyum lembut pada Dika, senyum yang seharusnya berikan pada suaminya.
Dan Dika... Dika terlihat bahagia. Ia mencium kening wanita itu dengan penuh rasa sayang, gestur yang selama ini selalu ia tunjukkan pada Novia. Adegan itu bagai pisau yang mengiris-iris hatinya, mengoyak setiap jengkal kepercayaan yang pernah ia berikan pada Dika.
Meskipun ia sudah tahu kebenaran itu, melihatnya secara langsung tetap saja menghancurkan Novia. Darahnya terasa mendidih dalam nadinya, amarah membakar jiwanya. Hatinya kembali sakit, terluka lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Adegan pengkhianatan itu terukir jelas di depan matanya, menjadi mimpi buruk yang tak mungkin bisa ia lupakan.
Nafas Novia tercekat, dadanya terasa sesak. Ia ingin berteriak, ingin meluapkan semua emosi yang berkecamuk dalam dirinya. Namun, ia hanya bisa terdiam, terpaku menyaksikan adegan yang menghancurkan hidupnya.
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
pas pulang lyra udah pergi.. kayaknya bakalan nambah Maslah deh Novia.. mending ber3 bicaranya..klo sepihak gitu nantinya badan dika dikamu tapi hati dan jiwanya di lyra