Arka kembali ke masa lalu di saat kota kelahiran nya masih aman dan sebelum gerombolan monster menyerang, Arka dengan kisah cinta mengejar perempuan cantik dari anak tuan penguasa kota dan kisah arka mengubah masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YuniPus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Bagian 8 – Hati Wanita
Memegang kaki putih mulus Sekar membuat jantung Arya berdetak tak karuan. Arya dapat melihat dengan jelas bentuk kaki Sekar yang sempurna.
"Jangan salah paham, aku hanya mengobati. Aku menyukai Lestari. Merupakan suatu kehormatan dapat bertemu denganmu. Aku harap kita dapat berteman," jelas Arya sambil melihat wajah Sekar yang mempesona.
Mendengar perkataan Arya, Sekar mengangguk dan bergumam pelan, "En."
("En" merupakan suara tanda setuju, memiliki arti yang sama dengan kata Oke)
Dari dulu hingga sekarang, selain ayahnya, Arya satu-satunya pria yang menyentuhnya. Namun, orang yang disukai Arya adalah Lestari. Memikirkan hal itu membuat hidungnya merasakan rasa asam.
Arya mencengkram kaki Sekar dengan posisi ibu jari berada di daerah memar dan pelan-pelan melakukan pemijatan. "Ah" teriak Sekar tak dapat menahan rasa sakit.
"Akan terasa sakit saat pertama kali. Tahanlah sebentar" kata Arya. Ia tiba-tiba memikirkan sesuatu yang membuatnya malu. Memegang kaki gadis dan mengatakan kata tersebut, terdengar sedikit aneh. Walaupun Sekar berusia 13 tahun, ia tumbuh di keluarga aristokrat, dan tentunya memiliki pengetahuan mengenai beberapa hal. Setelah itu, gadis-gadis di usianya telah siap untuk menikah.
Sekar menundukkan kepalanya. Pipinya merah merona, dan tak bisa menahan perasaan kalutnya.
Wajah Sekar yang merona. Walaupun ia baru berusia 13 tahun, ia sangat mempesona. Membuat jantung Arya berdegup tak karuan. Di kehidupan sebelumnya Sekar memiliki kecantikan yang setara dengan Lestari. Mereka berdua merupakan Dewi yang membuat para anak laki-laki selalu memandang. Lestari sosok yang anggun dan elegan, sedangkan Sekar sosok yang dingin, keduanya memiliki banyak pengagum.
Tetapi Arya tak Ingin memikirkan Lestari saat ini, ia hanya ingin fokus pada pengobatan Sekar.
Sekar tak lagi merasakan sakit seperti diawal pemijatan, ia merasakan kehangatan tangan Arya di kakinya. Setelah beberapa saat, ia merasakan kesemutan dan panas di kakinya, menyebabkan gatal, yang berlanjut mati rasa. Sekar tak dapat menahan suara kecilnya "Ah", yang membuatnya tersipu malu.
Memar yang telah ada sejak 6-7 bulan lalu. Selama itu, ia kesakitan yang sangat luar biasa. Sekar telah menahan kesakitan dengan sisa-sisa tenaganya selama itu. Meskipun demikian, bagaimanapun ia berusaha menahannya, rasa sakit itu telah menyiksanya sepanjang waktu. Awalnya Ia berpikir pengobatan ini akan sangat menyakitkan, namun, ia terkejut bahwa pijatan Arya sangat lembut. Ia merasakan perubahan yang jauh lebih baik. Ia tak dapat menahan air matanya. Tak ada yang tahu betapa sakitnya menahan ini. Setiap malam, ia hanya menangis diam-diam. Setelah menghapus air matanya, ia akan melanjutkan latihan. Ia tak pernah menyangka setelah dipijat oleh Arya, rasa sakit itu akan sangat berkurang. Ia merasa sangat bersukur.
Di bawah sinar bulan, wajah Arya terlihat lebih jelas. Ekspresi serius Arya membuat hati Sekar berdesir, sehingga sulit baginya untuk tetap tenang.
"Selesai" kata Arya menyelesaikan pijatannya.
Ia tersenyum dan berkata, "Untuk beberapa hari, rasa sakit masih akan terasa, namun istirahatlah dan kau akan baik-baik saja."
"En" jawab Sekar, menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba, pipinya memerah lalu ia berkata, "Aku masih memiliki memar, dapatkah kau juga memijatnya?"
"Memar yang lain?"
Arya berpikir sejenak, "Betul… masih ada satu. Memar di kaki tak akan mungkin membuat mu berbaring selama 2 tahun. Pasti ada memar yang sangat serius".
"Di mana?" tanya Arya.
"Jika hanya di kaki, maka tak masalah Arya memijatnya, tapi jika memarnya berada di…." Sekar merasa malu, wajahnya menjadi merah merona.
"Jika merasa tak nyaman …" kata Arya membuka percakapan sambil melihat ekspresi Sekar. Ia langsung menyadari bahwa memar tersebut berada di lokasi yang tak nyaman untuk diperlihatkan.
"Arya, orang yang kau suka adalah Lestari?"
"Ya," Arya menjawab dan mengangguk, mengingat kembali semua hal di masa lalu. Hidup dan mati yang ia lewati bersama Lestari. Hatinya penuh kebahagiaan hanya dengan memikirkannya. Ia akan melindungi Lestari.
Setelah mendengar jawaban Arya, Sekar merasakan ada yang aneh di hatinya. Arya adalah lelaki pertama yang mampu menggetarkan hatinya namun hal itu tak berbanding sama, karena yang disukai Arya adalah Lestari.
Tatapan Sekar penuh dengan kekecewaan, berpikir sejenak dan berkata, "Lalu, apakah Lestari menyukaimu?"
Lestari yang saat ini sama sekali tak mengetahui apapun tentang Arya, tak membencinya merupakan hal yang sudah lebih dari cukup. Arya menengadahkan kepalanya, tersenyum dan percaya diri berkata, "Ia akan jatuh cinta padaku!"
Melihat Arya, Sekar tertawa, "Jadi Cinta Arya belum tentu terbalas, aku tak tahu kenapa ia begitu yakin. Ia begitu yakin yang mulia Lestari akan menyukainya."
Bukan berarti Arya tak pantas mendapatkan cinta Lestari, namun tak satupun dari mereka mengenal satu sama lain. Kesempatan untuk mereka bersama begitu sedikit. Lestari masih belum dapat mengetahui sosok Arya, oleh karena itu ia tak memiliki perasaan ke Arya. Namun satu hari nanti, ia akan menyukai Arya saat ia memahami kepribadiannya.
Sampai sekarang, tak ada satupun yang menyadari bakat Arya. Namun, satu hari nanti ia akang bersinar. Di saat itu, ia takut bahkan seorang gadis terhormat Lestari akan luluh kepada Arya.
Di mata yang lainnya, Arya masih seorang lelaki yang bodoh, namun Sekar tahu bahwa kemampuan yang ia miliki jauh di atas bayangan orang-orang. Arya akan menjadi iblis petarung tingkat legenda seperti Handoko di masa depan atau menjadi orang terkuat yang pernah ada.
Sekar bertahan dengan hatinya. "Jika penyakit ini tak dapat disembuhkan, aku akan tertinggal jauh dari orang-orang jenius yang seumuranku."
Sejak Arya menjadi satu-satunya orang yang mengobatinya, ia tak akan mempermasalahkannya. Ia mulai melepaskan kancing bajunya sambil menggertakkan gigi. Melihat aksi Sekar, Arya merasa malu.
Arya mengusap hidungnya dan berkata, "Ini tak sopan. Saya orang yang terhormat."
Arya melihat Sekar perlahan melepaskan bajunya. Sosoknya yang dingin memiliki pesona yang tak bisa terungkapkan.
Sekar melihat Arya dan berpikir, "Apakah dia gadis semacam itu?"
Jika bukan untuk pengobatannya, Sekar tak akan membuka bajunya. Saat ia melepaskan kancing bajunya, tangannya gemetar dan pergolakan batin dapat terlihat.
Arya berpikir sejenak, "Aku tahu ini untuk menyelamatkannya, aku tak boleh berpikir lain. Aku tak dapat membiarkan harapan Sekar pupus oleh penyakit."
Suasana sekitar menjadi begitu tenang. Kancing pertama, lalu kancing kedua. Kulit putih mulus Sekar dapat terlihat, bersinar di bawah sinar bulan.
Setelah kancing yang ke lima terbuka, bentuk dada sempurna Sekar begitu menakjubkan. Dadanya terikat sebuah bandana ketat dengan tonjolan indah yang terdorong keluar. Melihat adegan ini, ia tak dapat menahan untuk menelan air liurnya. Di masa lalu, walaupun Sekar sangat konservatif dalam berpakaian, sosoknya tetap saja terlihat menawan. Dengan sekali lirikan, ia dapat membuat para lelaki menjadi mabuk kepayang.
Sekar akan tumbuh menjadi wanita yang mempesona dan menarik. Sosok kaku dan ningrat membuatnya menjadi objek para pria untuk di taklukkan.
Arya menenangkan pikiran untuk sesaat dan matanya tertuju pada tulang rusuk Sekar. Di bagian bawah tulang rusuk terdapat memar yang sangat mengejutkan. Walaupun hanya sebesar ibu jari, warna memar telah menghitam. Ia merasa kasihan kepada Sekar.
"Bagaimana bisa seorang gadis yang terhormat dan menyedihkan menahan rasa sakit ini?" tanyanya dalam hati.
Arya meletakkan tangannya di atas memar tersebut dan memijatnya perlahan-lahan. Sekar memiliki kulit sedingin air. Postur tubuh yang proporsional dengan tekstur lembut, yang dapat ia rasakan melalui tangannya, membuat hatinya melonjak-lonjak. Ia mengangkat kepala menatap wajah Sekar. Wajahnya memerah, bagaikan orang yang telah meminum alkohol, membuat kecantikannya tak dapat diutarakan. Melihat dari atas, ia dapat melihat bahu putih Sekar, dan menyadari aroma wangi seorang perempuan.
Hening, mereka tak mengucapkan sepatah katapun dan hanya terdiam.
Sekar dapat merasakan hangatnya telapak Arya. Dari dulu, ini pertama kalinya seorang pria melakukan kontak yang dengan tubuhnya. Saat ini, bajunya terlepas setengahnya, memperlihatkan sebagian besar kulitnya, membuatnya memerah. Walaupun hatinya sangat kuat, dalam kegelapan malam, ia merasa sangat kesepian. Saat merasakan sakit yang tak tertahankan akibat memar, ia ingin menemukan seseorang untuk dapat berbagi. Namun dalam keluarganya, entah ayah ataupun saudara laki-laki, ia tak dapat melakukannya. Saat itu, Arya hadir sebagai satu-satunya sosok yang tepat untuknya berbagi.
Hal terbaik yang ia miliki telah ia tunjukkan kepada Arya. Ia melirik ke arah Arya dan menyadari bahwa Arya tengah fokus memijit area memar. Ekspresi ini yang membuat Sekar merasa bersukur, namun disisi lain ia merasa hampa.
Sementara ibu jari Arya memijit area tersebut, ia tak sengaja menyentuh lengan Sekar berkali-kali. Sentuhan tersebut tak mengganggunya, bahkan Jika itu terjadi. Pikiran Arya hanya menerawang pada adegan antara ia dan Lestari di malam yang penuh gairah itu.
Saat itu Ye Ziyun telah mengalami perubahan yang lebih baik dibanding Sekar saat ini, namun Sekar yang berada di depannya saat ini masih sangat muda. Saat tumbuh dewasa, ia tidak akan banyak berbeda dengan Lestari.
Penampilan Lestari yang mempesona dan elegan akan selalu terbayang di pikiran Arya setiap saat dan ia selalu ingat bahwa Lestari telah mengorbankan nyawa untuk menyelamatkannya. Oleh karena itu, setelah kejadian terlahir kembali, Arya tak akan membiarkan Lestari kecewa. Arya merasakan kenyamanan ketika memikirkan hal tersebut.
Saat Arya sedang memijat dengan penuh kehati-hatian, ia juga memijit beberapa titik penting akupuntur. Karena bentuk tubuh Sekar yang hampir sempurna, ia sesekali memijit titik sensitif dan merasakan dada yang lembut, membuatnya merasa sedikit malu.
Sekar merasakan panas dari tangan Arya yang mengalir di bagian rusuk. Semakin lama ia merasakan mati rasa. Tangan Arya terkadang menyentuh dada yang tak satupun pria pernah menyentuhya, membuat pipinya bagaikan anggur merah. Ekspresi ini membuatnya terlihat menarik. Gadis yang menarik dan mempesona membuat para pria tak dapat melakukan apapun selain memeluknya.
Ini merupakan sebuah tantangan. Setelah memijat selesai, Arya menghembuskan napas, tersenyum dan berkata, "Selesai!"
Sekar merasakan sesuatu yang hilang saat Arya melepaskan tangannya. Ia akui, pijatan Arya sangat menyenangkan. Membantunya melepaskan kesakitan yang telah lama.
"Terima Kasih," bisik Arya sambil mengancing kembali bajunya. Melihat kulit putih, lekukan tubuh yang sempurna menghilang dari penglihatannya. Membuat perasaan Arya yang tadinya tak karuan menjadi lebih tenang.
Dengan wajah kaku, Arya berkata, "Beristirahatlah dengan baik selama beberapa hari. Akan membantu proses penyembuhan. Aku akan memijat setiap tiga hari, selama beberapa kali dan sumber penyakit akan hilang. Sebelum mencapai tingkat perunggu, jangan memaksakan diri berlatih saat malam. Menyerap sinar bulan terlalu banyak, akan menyebabkan akibat yang fatal jika kau tidak dapat mengolahnya dengan baik"
"En" Sekar mengangguk. Ia tak akan berani latihan lagi. Jika bukan karena Arya, ia tak dapat membayangkan dampak kedepannya. Semua usaha dan kerja keras hanya akan sia-sia.
Melihat Sekar menjadi lebih baik, Arya berdiri dan berkata, "Saatnya aku pergi."
"Oh."
Ia tak bisa mengatakan perasaannya, ia hanya mengangguk dan terdiam sejenak sebelum berkata, "Arya, kau telah membantuku. Jika kau membutuhkan bantuanku kedepannya, aku akan membantumu!"
Melihat ekspresi serius Sekar, Arya tersenyum. Sambil mengangguk, ia berkata "Oke, jika aku membutuhkan bantuan, aku akan menemuimu!"
Kenyataannya adalah, Arya menolong Sekar sebab kasihan. Ia tak pernah mengharapkan imbalan.
Arya perlahan-lahan meninggalkannya, bayangannya perlahan-lahan menghilang ke dalam hutan.
Sekar melihat sosok Arya yang meninggalkannya. Ia berdiri untuk beberapa lama, merasakan bahwa rasa sakit perlahan-lahan menghilang. Perasaannya pun kembali bahagia.
"Arya, orang seperti apa kau sebenarnya?" gumam Sekar, melihat Arya dari belakang. Saat ia tak dapat menatap sosok Arya, ia berbalik arah dan berjalan menuju pintu keluar arena pelatihan.
Bulan bagaikan air. Sinar bulan yang bersinar, memancarkan lapisan penutup sepanjang malam.