NovelToon NovelToon
Sugar Daddy-ku Sang Mafia

Sugar Daddy-ku Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Cinta Terlarang / Obsesi / Beda Usia / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Celina González ♥️

Zaira Montes tumbuh di lingkungan kumuh dengan satu tekad: keluar dari kemiskinan lewat kuliah dan pekerjaan yang menguras habis tenaganya. Tapi malam ketika sahabatnya sendiri "menjualnya" ke sebuah klub eksklusif, hidup gadis itu berubah selamanya—karena di balik pintu ruang VIP, seorang lelaki menunggunya.

Leonardo Santos. Taipan berusia lima puluh tahun, dingin, berkuasa, dan menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Dunia mengenalnya sebagai hartawan tak tersentuh; hanya sedikit yang tahu kerajaannya berdiri di atas bisnis-bisnis kelam dan rahasia berdarah. Ia tak mencari cinta. Ia hanya ingin memiliki Zaira—dan lelaki seperti dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.

Zaira bersumpah dirinya bukan barang yang bisa dibeli. Namun antara penolakan dan gairah yang tak sanggup ia bendung, garis itu perlahan kabur. Dari kesepakatan penuh nafsu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan yang bisa menghancurkan mereka berdua.

Sebab di dunia Leonardo, mencintai berarti menjadi kelemahan. Dan seseorang dari masa lalunya telah lama menunggu—menanti Sang Mafia jatuh cinta, agar akhirnya ia punya sesuatu untuk direnggut.

Ketika peluru mulai berbicara dan pengkhianatan menampakkan wajahnya, Zaira harus memilih: lari dari pria paling berbahaya yang pernah ia kenal, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang lahir dari kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celina González ♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Kesunyian gang itu masih menyelimuti mereka, bagai selubung rahasia yang memisahkan keduanya dari dunia. Di luar, kota berjalan pada arusnya sendiri, jauh, acuh, tetapi di dalam mobil segalanya membeku. Udara terasa pekat, sarat bukan hanya oleh hasrat, melainkan oleh kebutuhan yang begitu dahsyat hingga menyakitkan untuk ditahan. Seolah kendaraan itu ikut bernapas bersama mereka, seakan setiap permukaan bergetar mengikuti irama ketegangan di antara tubuh keduanya.

Leonardo tak bergerak. Zaira begitu dekat hingga ia bisa merasakan getar halus napas gadis itu di bibirnya. Tangannya tetap di pipi Zaira, menelusuri lekuk rahangnya perlahan, seolah menghafal kulitnya dengan ujung-ujung jari.

"Aku tidak mau pergi tanpa memilikimu," gumamnya dengan suara berat, serak, pecah oleh desakan. "Tidak kali ini, Zaira."

Zaira menatapnya, matanya terbuka lebar, berkilau di bawah cahaya samar yang menyusup dari tiang lampu di kejauhan. Napasnya cepat, terputus-putus. Panas merambat naik dari tengkuknya bagai lidah api yang membuatnya kehilangan tenaga.

"Di sini, di dalam mobil?" bisiknya, kebingungan. "Di gang ini? Kamu sudah gila?"

Leonardo tak melepaskannya. Tatapannya berselaput kelam, sarat oleh sesuatu yang lebih dari sekadar hasrat: kelaparan yang tertahan. Pupilnya membesar, memantulkan sedikit cahaya dari luar dan berkilau dengan intensitas yang ganas.

"Tak seorang pun bisa melihat kita di dalam sini," ucapnya, menyelusurkan tangan ke pahanya, mendaki sedikit dengan jari-jarinya. "Kacanya gelap. Tak seorang pun akan tahu. Tak seorang pun... kecuali kau dan aku."

Zaira menelan ludah. Udara terasa bagai logam panas di lidahnya, aroma kulit tua dan hasrat liar. Di luar, sebuah motor lewat di kejauhan. Terdengar radio dari jendela terdekat, sebuah bolero lawas yang melebur dalam desah. Tetapi di dalam mobil, semuanya lain: sebuah semesta tertutup, padat, yang tercipta hanya dari kulit, embusan napas berat, dan ketegangan.

"Leonardo..." Zaira mulai berucap, tetapi tak sanggup melanjutkan. Suaranya menguap ketika pria itu menciumnya lagi.

Itu bukan ciuman lembut. Itu adalah serangan pada perasaan. Sebuah tuntutan. Bibirnya melebur dengan bibir Zaira dengan kekuatan, dengan kerinduan yang murka. Lidahnya mencari lidah Zaira, menyelubunginya, menjadikannya miliknya. Dan gadis itu, meski sempat mencoba melawan, luruh pada ciuman itu seperti nyala api yang luruh pada angin: bergetar, tak terelakkan, terlahap habis.

Jok mobil berderit di bawah gerak tubuh mereka. Kulit jok di bawah kaki mereka terasa hangat, licin oleh gairah yang membakar tiap pori. Zaira merasakan jari-jari pria itu menyusup di balik blusnya, membelai perutnya dengan penghormatan yang merampas napasnya.

"Kamu gemetar," bisiknya, menyentuhkan bibir ke pusar Zaira sembari mencondongkan tubuh. "Ini takut atau hasrat?"

"Keduanya..." aku Zaira dengan mata terpejam, menggigit bibir bawahnya.

Leonardo menurunkan sandaran jok penumpang dengan sekali sentak, membuatnya nyaris rebah datar. Zaira tersengal ketika pria itu menangkap pinggangnya dan menuntunnya berbaring, tanpa berhenti menciuminya, sementara tangannya yang lain menyingkirkan apa saja yang menghalangi. Kulit jok berderit di bawah tubuh mereka, kain kusut, tangan-tangan mereka bertaut.

Ia menempatkan diri di atas gadis itu, di antara kedua kakinya, menyesuaikan posisi dengan susah payah, mengeratkan pinggulnya ke pinggul Zaira, napasnya memburu.

Zaira melingkarkan kedua kaki mengelilinginya, menaikkannya perlahan menyusuri sisi tubuh pria itu hingga mengunci pinggangnya. Gesekan tubuh mereka memancing embusan tertahan dari keduanya. Leonardo menahan tubuh dengan satu tangan di jok, tangan yang lain menyusup ke punggung Zaira untuk membuka kaitan branya. Kulit gadis itu lembut dan hangat. Puncak dadanya mengeras begitu udara menyentuhnya, dan Leonardo menciuminya dengan rakus, satu, lalu yang lain, di sela desah yang tercekat.

"Aku ingin melihatmu kehilangan kendali," bisiknya dengan suara serak. "Aku ingin mendengarmu mendesah hanya untukku."

Zaira menjawab dengan melengkungkan punggung, memejamkan mata erat-erat. Pinggulnya bergerak menuruti naluri, mencari sentuhan yang membuatnya gila. Pria itu menurunkan celananya dengan kaku di ruang yang sempit. Lalu pakaian dalamnya. Mobil dipenuhi bunyi halus kain yang terlucuti, embusan napas tertahan, derit jok, dan napas yang berubah menjadi ayunan berirama.

Ketika akhirnya keduanya menyatu, Zaira melepas erang rendah yang dalam, yang tenggelam di kerongkongannya. Leonardo menahannya erat, bergerak pelan mula-mula, dengan hati-hati, seakan menikmati tiap senti, tiap kejang yang dilepaskan gadis itu di bawah tubuhnya.

Kedua kaki Zaira melingkar semakin erat di sekelilingnya. Ia merasakan pria itu dalam, memenuhi, berdenyut di dalam dirinya. Panasnya menyesakkan, lembap, kulitnya menempel pada kulit Leonardo di tiap hentakan pinggul. Dadanya bergesekan dengan dada telanjang pria itu, dan kukunya menghunjam ke punggung Leonardo saat pria itu mempercepat irama, mendorong dengan kuat, dengan hasrat yang tertahan, dengan kebutuhan purba.

"Leonardo..." desahnya, wajahnya menegang, pipinya merona dan bibirnya terbuka sedikit. "Begini... jangan berhenti..."

"Aku tak pernah bosan padamu," gumam pria itu di leher Zaira. "Tak pernah..."

Gerakannya makin liar. Zaira merasakannya di sekujur tubuh, dari akar rambut hingga ujung-ujung jari. Pria itu memenuhinya dengan cara yang brutal sekaligus manis. Ia mencium bibir Zaira, lehernya, dadanya, sementara menembus dirinya dengan kuat, dengan gairah murni, seakan hidup bergantung pada saat itu.

Ketika puncak itu tiba, dahsyat rasanya. Zaira melengkungkan tubuh dan mencengkeram pria itu dengan jerit tertahan. Leonardo menyusul, bergetar, membenamkan wajah ke leher Zaira, melepas erang serak yang panjang, tergetar dari dalam. Tubuh keduanya berguncang oleh pelepasan itu, seakan energi memecah mereka dari dalam.

Mereka tetap begitu, saling bertaut, berkeringat, terengah. Bagian dalam mobil dipenuhi uap, aroma seks, kulit, dan jok yang panas. Di luar, malam terus berjalan. Angin sepoi menggoyang sebuah kantong plastik yang menggelinding lewat di depan mobil. Tak seorang pun tahu apa yang terjadi di sudut dunia yang tersembunyi itu.

"Aku tidak mau pergi," bisiknya, masih di atas Zaira, tanpa memisahkan diri. "Satu kali saja tidak cukup bagiku. Kamu tak pernah cukup bagiku."

Zaira membelai rambut pria itu, dadanya naik-turun dengan liar. Kakinya masih gemetar.

"Kalau begitu, kembalilah," ucapnya dalam bisikan yang membakar kerongkongannya. "Tapi jangan lama-lama... karena aku pun tak sanggup menahan diri."

Pria itu menciumnya, kali ini pelan, dengan lembut. Sebuah ciuman yang berasa janji.

Di tengah gang itu, mobil menjelma tempat suci mereka. Sebuah tempat berlindung di mana dunia lenyap, dan hanya tersisa mereka berdua, kulit bertemu kulit, hasrat bertemu hasrat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!