NovelToon NovelToon
SISTEM IQ TAK TERBATAS

SISTEM IQ TAK TERBATAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:12.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.

Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.

Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Teng!

Lagi-lagi bel milik SMA Nusantara berbunyi lebih dulu.

"Dua puluh delapan Juni tahun sembilan belas sembilan belas!" jawab siswi perempuan rekan setim Leo dengan sangat cepat.

"Benar! Sepuluh poin tambahan."

Pertandingan berjalan dengan tempo yang sangat gila dan tidak masuk akal.

Tim SMA Nusantara mendominasi jalannya permainan dengan kecepatan reaksi yang nyaris tidak manusiawi.

Mereka memborong hampir dua puluh soal pertama tanpa memberikan kesempatan sedikit pun bagi sekolah lain untuk menjawab.

Nadin mulai terlihat panik dan berkeringat dingin.

Teng!

Nadin akhirnya berhasil menekan bel pada soal fisika dasar.

"Berapa besar gaya gravitasi bumi pada benda bermassa sepuluh kilogram?"

"Sembilan puluh delapan Newton," jawab Nadin dengan napas sedikit terengah.

"Benar, sepuluh poin untuk SMA Garuda."

Meskipun Nadin berhasil memecah kebuntuan, poin SMA Garuda masih sangat tertinggal jauh di papan klasemen sementara.

Dari lima puluh sekolah yang bertanding, SMA Garuda berada di urutan ke-dua puluh lima dengan perolehan dua puluh poin.

Sementara SMA Nusantara memimpin kokoh di puncak dengan dua ratus sepuluh poin.

"Waktu tersisa untuk babak penyisihan ini tinggal lima belas menit," umumkan juri.

"Hanya sepuluh sekolah dengan nilai tertinggi yang berhak lolos ke babak selanjutnya besok."

Nadin menelan ludah dengan susah payah.

Batas nilai untuk peringkat kesepuluh saat ini adalah delapan puluh poin.

Itu artinya ia harus menjawab minimal tujuh soal benar secara beruntun dengan kecepatan kilat untuk bisa lolos.

"Gue gak akan sanggup," batin Nadin dengan tangan gemetar.

Ia menoleh ke arah Tommy yang sedari tadi hanya diam menatap layar monitor dengan wajah kosong.

"Tom," panggil Nadin dengan suara putus asa.

"Iya, Din?"

"Lo bener-benar gak tahu satu pun jawaban dari soal-soal tadi?" tanya Nadin dengan nada memohon.

Tommy menatap wajah gadis itu, melihat raut keputusasaan dari seorang juara kelas yang harga dirinya sedang diinjak-injak oleh keadaan.

Di dalam otaknya yang ber-IQ seratus sembilan belas, Tommy sebenarnya sudah menjawab seluruh seratus soal itu dalam kepalanya sebelum bel lawan berbunyi.

Ia sengaja diam karena ia sedang menganalisis pola permainan dan ambang batas aman untuk lolos tanpa terlihat terlalu mencolok.

"Sekarang adalah saat yang tepat," batin Tommy.

"Aku gak tahu teorinya, Din," bohong Tommy sambil menghela napas panjang.

"Tapi kayaknya dari tadi pertanyaannya mirip sama soal kuis tebak-tebakan di TV ya."

Nadin mengerutkan keningnya tidak mengerti.

"Maksud lo apa?"

"Gini aja," ucap Tommy sambil melepaskan tangannya dari saku celana.

Ia meletakkan jari telunjuk kanannya di atas tangan Nadin yang masih berada di atas bel.

"Nanti kalau ada soal itung-itungan yang panjang, aku pencet belnya pakai tangan kamu ya," bisik Tommy.

Nadin langsung menarik tangannya dengan kaget.

"Gila lo! Kalau salah kita bisa minus lima poin dan peringkat kita makin hancur!" tolak Nadin tegas.

"Percaya deh, Din, intuisi tebakanku lagi bagus hari ini," rayu Tommy dengan senyum bodoh andalannya.

Sebelum Nadin sempat menolak lagi, suara juri kembali menggema membacakan soal berikutnya.

"Soal bidang matematika terapan, bernilai dua puluh poin karena tingkat kesulitannya," umumkan juri.

"Sebuah kolam renang berbentuk silinder memiliki diameter empat belas meter dan kedalaman dua meter."

"Jika air diisi dengan debit sepuluh liter per detik, berapa jam waktu yang dibutuhkan untuk memenuhi kolam tersebut hingga batas bibir kolam?"

Semua peserta, termasuk Leo dari SMA Nusantara, langsung mengambil kertas dan pulpen untuk menghitung rumus volume tabung dan mengkonversi satuan debit.

Menghitung persamaan panjang itu secara manual tanpa kalkulator membutuhkan waktu setidaknya dua puluh detik bagi orang pintar sekalipun.

Tepat saat juri selesai mengucapkan kata terakhir dari soal tersebut.

Teng!

Suara bel berbunyi nyaring dari arah meja nomor tujuh belas.

Seluruh kepala di dalam aula serempak menoleh ke arah meja SMA Garuda.

Layar monitor di depan Tommy dan Nadin menyala hijau terang.

Nadin mematung dengan wajah pucat pasi.

Tangan Tommy baru saja menekan tangan Nadin ke atas bel dengan sangat cepat sebelum Nadin menyadarinya.

"S-silakan, SMA Garuda," ucap juri yang juga sedikit terkejut melihat kecepatan reaksi tersebut.

Nadin menelan ludah, ia bahkan belum selesai menuliskan angka empat belas di kertas coretannya.

Ia menoleh ke arah Tommy dengan tatapan horor, siap menerima pengurangan nilai dan rasa malu di depan ratusan pasang mata.

Tommy balas menatap Nadin dengan wajah santai lalu meraih mikrofon di atas meja.

"Jawabannya," ucap Tommy dengan gaya bicara yang sedikit canggung.

Ia berpura-pura melihat ke arah langit-langit aula, seolah sedang menghitung sesuatu yang tidak kasat mata.

"Delapan koma lima puluh lima jam, Pak," jawab Tommy lantang.

Hening.

Tidak ada satu pun peserta yang berani bernapas menunggu keputusan juri.

Bahkan Leo menghentikan coretan penanya karena angka yang baru saja ia dapatkan setengah jalan berbeda dengan jawaban Tommy.

"Tepat sekali!" seru dewan juri dengan wajah tidak percaya.

"Dua puluh poin untuk SMA Garuda!"

Sorakan penonton kali ini meledak jauh lebih meriah dari sebelumnya.

Mereka baru saja melihat seorang murid yang terlihat culun mengalahkan kecepatan menghitung tim juara bertahan.

Nadin menutupi mulutnya dengan kedua tangan, matanya terbelalak lebar menatap Tommy seolah melihat hantu di siang bolong.

"D-dari mana lo bisa ngitung secepat itu, Tom?!" bisik Nadin dengan suara bergetar.

Tommy meletakkan kembali mikrofon itu dan menggaruk tengkuknya sambil tertawa renyah.

"Kan aku udah bilang, Din, soalnya mirip tebak-tebakan," bohong Tommy dengan sangat natural.

Ia menunjuk ke arah gambar tabung yang pernah ia buat di kertas Nadin saat bimbingan di perpustakaan.

"Soalnya ngomongin kolam renang bulet, aku jadi inget toren air di rumahku lagi."

"Kemarin toren airku isinya delapan ribu liter, terus aku isi pakai selang pelan-pelan sambil dengerin radio."

Tommy melanjutkan kebohongannya dengan detail cerita yang sangat konyol.

"Acara radio favoritku selesainya jam delapan setengah malam, dan pas acara itu selesai, toren airnya pas luber."

"Jadi aku tebak aja angkanya delapan setengah jam lebih sedikit."

Nadin menyandarkan punggungnya ke kursi dengan napas yang memburu cepat.

Logikanya sebagai manusia rasional kembali diserang habis-habisan oleh alasan bodoh yang tidak masuk akal itu.

"Toren air lagi?" batin Nadin frustrasi, kepalanya terasa ingin pecah.

Bagaimana mungkin seseorang bisa menyelesaikan soal konversi volume dan debit tingkat tinggi hanya dengan mengingat toren air dan acara radio?

"Ini sudah tidak bisa disebut kebetulan lagi," gumam Nadin pelan, matanya menatap tajam ke arah Tommy.

Ting!

Suara sistem berbunyi jernih di dalam kepala Tommy.

[MISI MENDADAK SELESAI.]

[Evaluasi: Pengguna berhasil memanipulasi perhitungan kompleks menggunakan alibi yang memperkuat persona idiot di depan publik.]

[Mengirimkan hadiah...]

[IQ pengguna meningkat +2 poin.]

[Poin Sistem bertambah +20 PS.]

[IQ Saat Ini: 121 Kategori: Cerdas Tingkat Tinggi]

[Poin Sistem Saat Ini: 70 PS]

Tommy tersenyum sangat tipis, nyaris tidak terlihat oleh siapa pun di ruangan itu.

Angka seratus dua puluh satu.

Batas kecerdasan manusia pada umumnya kini sudah ia tinggalkan jauh di belakang.

Ia bisa merasakan setiap impuls saraf di otaknya terhubung dengan kecepatan cahaya, menciptakan skenario dan probabilitas jutaan kali lipat lebih cepat dari komputer biasa.

"Pertunjukannya baru saja dimulai, Nadin," batin Tommy sambil melirik ke arah papan skor.

"Siapkan mentalmu untuk lebih banyak kebetulan gila yang akan menyelamatkan harga diri sekolah kita."

1
Adelina Lin
thor, buat Clarissa dan keluarganya juga prof. handoko dipermalukan diacara Olimpiade, dan titel juara Clarissa di cabut, karena dia memenangkan oliampide yang dulu pun tidak jujur.
Wega Luna
kadang lelucon konyol selain untuk menghibur bisa jadi pisau bermata dua,aku sering memakai lelucon konyol untuk membungkam orang tua wali murid yang gengsinya gede ,teman yang sok pamer atau sok pintar, atau orang yg ngerasa dirinya itu spesial,,,🤣🤣🤣🤣
Nissa Safira: WKWKWK KAKAK INI SENIORNYA TOMMY SIH😂🤣
Bener banget kak, saya setuju banget sih!
Lelucon konyol itu senjata paling ampuh buat ngadepin orang yang gengsinya selangit. Kalau kita ladenin serius, kita capek. Kalau kita bales pakai joke receh tapi logikanya nusuk, yang gengsi gede itu yang malah keliatan bodoh sendiri.
Tommy itu emang saya inspirasikan dari orang-orang kayak kakak ini kak, yang di luar keliatan cengengesan, tapi otaknya muter cepet buat ngebalikin analogi lawan😎🔥
total 1 replies
Wega Luna
secangkir kopi untuk Tommy👍👍👍
Wega Luna: gas ,,,,aku jadi penasaran🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Wega Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣100 tom ,,,,👍
Night Watcher
ini outhor yg baik dan berfikiran maju, mau menerima kritik sekalipun pedas dgn lapang hati.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
Nissa Safira: Waaaah makasih banyak kak 😭🙏
Seneng banget. Soalnya buat saya, pembaca yang mau komen pedes jujur itu berharga banget kak.
Kritik pedesnya kakak yang bikin novel ini bisa maju. Jadi jangan kapok komen pedes lagi ya kak!🥰🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
di bab² olympiade ini jujur sangat gak masuk akal, jd bikin bosen.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
Nissa Safira: Wah makasih banget kak udah jujur, ini masukan paling berharga buat saya 🙏
Bener kak, saya akui bab olimpiade ini memang agak maksa. Harusnya kan cerdas-cepat, Teng! Jawab! Teng! Jawab selesai, bukan malah debat satu regu di atas panggung 😅
Jujur niat saya pengen nunjukin kocaknya Tommy, tapi saya kebablasan naruh dramanya di tengah lomba, jadinya kesannya kayak diskusi kelas, bukan olimpiade kota. Maaf ya kak bikin bosen🙏🙏🙏
Makasih udah diingetin kak🤝🙏
total 1 replies
Night Watcher
mana ada diacara beginian peserta sempet bercakap² soal kecepatan ngitung...
Nissa Safira: HAHAHA bener banget kak 😅🙏
Iya kak kalau di olimpiade beneran mah, jangankan ngobrol, napas aja harus dihemat ya kak, waktunya mepet banget.
Itu aku sengaja lebay-in dikit kak biar dramanya dapet. Soalnya kalau aku tulis realnya:
Teng! Jawaban 8,55 jam. Benar.
Udah gitu doang, kan kempes kak gak ada greget keselnya si Leo 😂
Anggep aja itu adegan slow-motion ala film kak, di dunia nyata cuma 2 detik, tapi di novel aku lambatin biar pembaca bisa ngerasain Nadin yang otaknya udah mau meledak denger alesan ngawur Tommy.
Makasih koreksinya kak🤝🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
45 kyknya bukan ukuran kecil utk standar kaki org indo deh...
logis dikit kelesss..😇😇
Night Watcher
awas, ntar kepalanya melayang sendiri..🤭🤭🤭
Night Watcher
kok kakak kelas? kan sama² kls 12?
Night Watcher
tadi pas bell masuk, listrik padam. jd utk belnya mukul velg mobil yg digantung..🤭🤭🤭
Nissa Safira: WKWKWK IDE BAGUS KAK🤣🤣🤣
Kringgg! = bel listrik normal
Teng! Teng! Teng! = pas listrik padam, Pak Satpam mukul velg mobil yang digantung di pos satpam pake kunci inggris 😂
Makasih kak idenya! Mulai bab besok kalau ada tulisan Teng Teng Teng berarti di sekolah lagi mati lampu ya kak! Detailnya dapet banget!🤣🤣🤣
total 1 replies
Night Watcher
kadang "kringgg" kadang "teng tenggg"..🤭🤭
Nissa Safira: HAHAHA ketahuan deh 🤣 kamu udah jeli banget sih kak🤣🤣
Iya kak, itu aku yang typo pas nulis kebut-kebutan, kadang bel listrik tulisnya Kringgg! kadang bel manual tulisnya Teng Teng Teng! niatnya mau bedain bel kelas sama bel upacara, tapi malah jadi bikin bingung ya kak.
Makasih udah diingetin kak😅😅
total 1 replies
Night Watcher
duh... sayang banget, sistemnya masih manual.. gak matic ehh gak otomatis terpasang..🤭🤭
Nissa Safira: HAHAHA Iya kak, sengaja aku bikin sistemnya manual, gak matic🤣🤣
Kalau otomatis kepasang terus, Tommy jadi OP gak ada obat kak, 1 detik langsung dewa hacker. Gak seru dong, musuhnya belum sempet napas udah kalah😅
Jadi di novel ini sistemnya kayak alat tukang kak, dipasang kalau dibutuhin aja. Contohnya pas di warnet Berkah Net itu, dia aktifin Kriptografi Dasar dulu baru otaknya ngebut. Kalau dia lagi di kelas pura-pura bodoh, skillnya dia matiin biar akting begonya natural 100%.
Makanya Tommy harus mikir dulu "aku butuh skill apa nih buat lawan musuh ini?" bukan sistem yang mikirin buat dia. Biar kesannya dia yang ngendaliin sistem, bukan sistem yang ngendaliin dia💪🙏🙏
total 1 replies
Wega Luna
jujur otak aku emang GK ber-IQ 140 tapi pura pura bodoh itu keahlian ku🤣🤣🤣🤣🤣,jadi tahu mana yg bener bener baik atau gk🤣🤣🤣🤣lebih suka praktek langsung daripada teori, lanjutkan tom ,,,aku mendukungmu👍🤣🤣
Nissa Safira: HAHAHA kak ini komen paling jujur se-Indonesia! 🤣🤣🤣
Setuju banget kak, pura-pura bodoh itu skill dewa tau! Soalnya pas kita pura-pura bego, baru keliatan mana temen yang beneran baik kayak Nadin, mana yang toxic kayak Clarissa.
Tommy juga gitu kak, dia IQ 140 tapi sengaja jadi peringkat 31 biar bisa ngamatin semua. Orang pinter teori banyak, tapi yang jago praktek langsung di lapangan kayak kakak & Tommy itu yang paling bahaya 😎🙏🤣🤣
total 1 replies
Rifqy Channel
saya memohon kakak untuk bisa di publik Tommy itu supaya gak pura-pura bodoh lagi. biarkan untuk segera diungkapkan dan ikut serta Olimpiade dan juga ubah pura-pura nya. aku udah bosen kalo pura-pura terus. saya mau Tommy segera di ungkap aslinya😭🙏😭
Nissa Safira: Halo kak, terima kasih banyak udah baca sampai sejauh ini dan kasih masukan jujur! 🙏
Aku paham banget rasa bosennya kalau Tommy pura-pura terus. Justru itu yang mau aku bangun kak.
Kalau dia diungkap sekarang pas IQ 117, efeknya cuma "oh pinter". Tapi kalau dia diungkap nanti pas IQ 150+ di depan ribuan orang di Olimpiade kota, efeknya bakal "GILA MERINDING".
Aku lagi nabung rasa sakit hatinya biar nanti pas payback rasanya 10x lebih puas. Sabar sedikit lagi ya kak, panggung kota sudah dekat. Topengnya akan retak di sana🤣🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!