Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Teng!
Lagi-lagi bel milik SMA Nusantara berbunyi lebih dulu.
"Dua puluh delapan Juni tahun sembilan belas sembilan belas!" jawab siswi perempuan rekan setim Leo dengan sangat cepat.
"Benar! Sepuluh poin tambahan."
Pertandingan berjalan dengan tempo yang sangat gila dan tidak masuk akal.
Tim SMA Nusantara mendominasi jalannya permainan dengan kecepatan reaksi yang nyaris tidak manusiawi.
Mereka memborong hampir dua puluh soal pertama tanpa memberikan kesempatan sedikit pun bagi sekolah lain untuk menjawab.
Nadin mulai terlihat panik dan berkeringat dingin.
Teng!
Nadin akhirnya berhasil menekan bel pada soal fisika dasar.
"Berapa besar gaya gravitasi bumi pada benda bermassa sepuluh kilogram?"
"Sembilan puluh delapan Newton," jawab Nadin dengan napas sedikit terengah.
"Benar, sepuluh poin untuk SMA Garuda."
Meskipun Nadin berhasil memecah kebuntuan, poin SMA Garuda masih sangat tertinggal jauh di papan klasemen sementara.
Dari lima puluh sekolah yang bertanding, SMA Garuda berada di urutan ke-dua puluh lima dengan perolehan dua puluh poin.
Sementara SMA Nusantara memimpin kokoh di puncak dengan dua ratus sepuluh poin.
"Waktu tersisa untuk babak penyisihan ini tinggal lima belas menit," umumkan juri.
"Hanya sepuluh sekolah dengan nilai tertinggi yang berhak lolos ke babak selanjutnya besok."
Nadin menelan ludah dengan susah payah.
Batas nilai untuk peringkat kesepuluh saat ini adalah delapan puluh poin.
Itu artinya ia harus menjawab minimal tujuh soal benar secara beruntun dengan kecepatan kilat untuk bisa lolos.
"Gue gak akan sanggup," batin Nadin dengan tangan gemetar.
Ia menoleh ke arah Tommy yang sedari tadi hanya diam menatap layar monitor dengan wajah kosong.
"Tom," panggil Nadin dengan suara putus asa.
"Iya, Din?"
"Lo bener-benar gak tahu satu pun jawaban dari soal-soal tadi?" tanya Nadin dengan nada memohon.
Tommy menatap wajah gadis itu, melihat raut keputusasaan dari seorang juara kelas yang harga dirinya sedang diinjak-injak oleh keadaan.
Di dalam otaknya yang ber-IQ seratus sembilan belas, Tommy sebenarnya sudah menjawab seluruh seratus soal itu dalam kepalanya sebelum bel lawan berbunyi.
Ia sengaja diam karena ia sedang menganalisis pola permainan dan ambang batas aman untuk lolos tanpa terlihat terlalu mencolok.
"Sekarang adalah saat yang tepat," batin Tommy.
"Aku gak tahu teorinya, Din," bohong Tommy sambil menghela napas panjang.
"Tapi kayaknya dari tadi pertanyaannya mirip sama soal kuis tebak-tebakan di TV ya."
Nadin mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Maksud lo apa?"
"Gini aja," ucap Tommy sambil melepaskan tangannya dari saku celana.
Ia meletakkan jari telunjuk kanannya di atas tangan Nadin yang masih berada di atas bel.
"Nanti kalau ada soal itung-itungan yang panjang, aku pencet belnya pakai tangan kamu ya," bisik Tommy.
Nadin langsung menarik tangannya dengan kaget.
"Gila lo! Kalau salah kita bisa minus lima poin dan peringkat kita makin hancur!" tolak Nadin tegas.
"Percaya deh, Din, intuisi tebakanku lagi bagus hari ini," rayu Tommy dengan senyum bodoh andalannya.
Sebelum Nadin sempat menolak lagi, suara juri kembali menggema membacakan soal berikutnya.
"Soal bidang matematika terapan, bernilai dua puluh poin karena tingkat kesulitannya," umumkan juri.
"Sebuah kolam renang berbentuk silinder memiliki diameter empat belas meter dan kedalaman dua meter."
"Jika air diisi dengan debit sepuluh liter per detik, berapa jam waktu yang dibutuhkan untuk memenuhi kolam tersebut hingga batas bibir kolam?"
Semua peserta, termasuk Leo dari SMA Nusantara, langsung mengambil kertas dan pulpen untuk menghitung rumus volume tabung dan mengkonversi satuan debit.
Menghitung persamaan panjang itu secara manual tanpa kalkulator membutuhkan waktu setidaknya dua puluh detik bagi orang pintar sekalipun.
Tepat saat juri selesai mengucapkan kata terakhir dari soal tersebut.
Teng!
Suara bel berbunyi nyaring dari arah meja nomor tujuh belas.
Seluruh kepala di dalam aula serempak menoleh ke arah meja SMA Garuda.
Layar monitor di depan Tommy dan Nadin menyala hijau terang.
Nadin mematung dengan wajah pucat pasi.
Tangan Tommy baru saja menekan tangan Nadin ke atas bel dengan sangat cepat sebelum Nadin menyadarinya.
"S-silakan, SMA Garuda," ucap juri yang juga sedikit terkejut melihat kecepatan reaksi tersebut.
Nadin menelan ludah, ia bahkan belum selesai menuliskan angka empat belas di kertas coretannya.
Ia menoleh ke arah Tommy dengan tatapan horor, siap menerima pengurangan nilai dan rasa malu di depan ratusan pasang mata.
Tommy balas menatap Nadin dengan wajah santai lalu meraih mikrofon di atas meja.
"Jawabannya," ucap Tommy dengan gaya bicara yang sedikit canggung.
Ia berpura-pura melihat ke arah langit-langit aula, seolah sedang menghitung sesuatu yang tidak kasat mata.
"Delapan koma lima puluh lima jam, Pak," jawab Tommy lantang.
Hening.
Tidak ada satu pun peserta yang berani bernapas menunggu keputusan juri.
Bahkan Leo menghentikan coretan penanya karena angka yang baru saja ia dapatkan setengah jalan berbeda dengan jawaban Tommy.
"Tepat sekali!" seru dewan juri dengan wajah tidak percaya.
"Dua puluh poin untuk SMA Garuda!"
Sorakan penonton kali ini meledak jauh lebih meriah dari sebelumnya.
Mereka baru saja melihat seorang murid yang terlihat culun mengalahkan kecepatan menghitung tim juara bertahan.
Nadin menutupi mulutnya dengan kedua tangan, matanya terbelalak lebar menatap Tommy seolah melihat hantu di siang bolong.
"D-dari mana lo bisa ngitung secepat itu, Tom?!" bisik Nadin dengan suara bergetar.
Tommy meletakkan kembali mikrofon itu dan menggaruk tengkuknya sambil tertawa renyah.
"Kan aku udah bilang, Din, soalnya mirip tebak-tebakan," bohong Tommy dengan sangat natural.
Ia menunjuk ke arah gambar tabung yang pernah ia buat di kertas Nadin saat bimbingan di perpustakaan.
"Soalnya ngomongin kolam renang bulet, aku jadi inget toren air di rumahku lagi."
"Kemarin toren airku isinya delapan ribu liter, terus aku isi pakai selang pelan-pelan sambil dengerin radio."
Tommy melanjutkan kebohongannya dengan detail cerita yang sangat konyol.
"Acara radio favoritku selesainya jam delapan setengah malam, dan pas acara itu selesai, toren airnya pas luber."
"Jadi aku tebak aja angkanya delapan setengah jam lebih sedikit."
Nadin menyandarkan punggungnya ke kursi dengan napas yang memburu cepat.
Logikanya sebagai manusia rasional kembali diserang habis-habisan oleh alasan bodoh yang tidak masuk akal itu.
"Toren air lagi?" batin Nadin frustrasi, kepalanya terasa ingin pecah.
Bagaimana mungkin seseorang bisa menyelesaikan soal konversi volume dan debit tingkat tinggi hanya dengan mengingat toren air dan acara radio?
"Ini sudah tidak bisa disebut kebetulan lagi," gumam Nadin pelan, matanya menatap tajam ke arah Tommy.
Ting!
Suara sistem berbunyi jernih di dalam kepala Tommy.
[MISI MENDADAK SELESAI.]
[Evaluasi: Pengguna berhasil memanipulasi perhitungan kompleks menggunakan alibi yang memperkuat persona idiot di depan publik.]
[Mengirimkan hadiah...]
[IQ pengguna meningkat +2 poin.]
[Poin Sistem bertambah +20 PS.]
[IQ Saat Ini: 121 Kategori: Cerdas Tingkat Tinggi]
[Poin Sistem Saat Ini: 70 PS]
Tommy tersenyum sangat tipis, nyaris tidak terlihat oleh siapa pun di ruangan itu.
Angka seratus dua puluh satu.
Batas kecerdasan manusia pada umumnya kini sudah ia tinggalkan jauh di belakang.
Ia bisa merasakan setiap impuls saraf di otaknya terhubung dengan kecepatan cahaya, menciptakan skenario dan probabilitas jutaan kali lipat lebih cepat dari komputer biasa.
"Pertunjukannya baru saja dimulai, Nadin," batin Tommy sambil melirik ke arah papan skor.
"Siapkan mentalmu untuk lebih banyak kebetulan gila yang akan menyelamatkan harga diri sekolah kita."
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇