Sebulan menjelang pernikahan, Dera harus menelan kenyataan pahit saat Vivian, kakak kandungnya sendiri, mengaku hamil anak Galih, calon suaminya.
Lebih menyakitkan lagi, kedua orang tua mereka justru merestui pernikahan Galih dan Vivian, sementara Dera harus merelakan semua persiapan pernikahan yang dibayar dari hasil kerja kerasnya.
Hancur dan dikhianati keluarganya sendiri, Dera memilih pergi ke Jakarta untuk memulai hidup yang baru.
Tak disangka, pertemuannya dengan seorang miliarder tampan mengubah takdirnya. Pria itu bukan hanya menawarkan cinta, tetapi juga sebuah pernikahan yang akan membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal.
Namun, mampukah Dera menemukan kebahagiaan, atau justru terjebak dalam permainan cinta sang miliarder?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Mario duduk di balik meja kerja besar yang terbuat dari kayu gelap. Layar komputer di depannya menampilkan deretan laporan keuangan dan grafik penjualan yang harus segera ia setujui. Jas hitamnya masih terpasang rapi, dasi longgar sedikit di leher, dan wajahnya serius tanpa senyum.
Di kantor, Mario Pratama adalah sosok yang berbeda sama sekali dari tingkah konyolnya saat di luar.
Tok
Tok
Ketukan pintu terdengar, lalu David, asisten pribadinya, masuk dengan langkah cepat. Ia membawa map hitam di tangan dan tablet yang sudah menyala.
“Tuan, hari ini kita ada kunjungan ke kantor cabang,” ucap David formal. “Jadwalnya pukul sepuluh. Tim di sana sudah menunggu kita”
Mario menghentikan pekerjaannya. Jarinya yang semula mengetik kini terangkat, lalu ia menatap David dengan tatapan tajam namun tenang.
“Lima menit lagi kita berangkat,” jawabnya singkat.
David langsung mengangguk. “Baik, Tuan.” Ia segera keluar untuk menyiapkan mobil dan dokumen yang dibutuhkan.
Ruangan kembali sunyi. Mario menyandarkan tubuhnya di kursi, menghela napas pelan. Di luar kantor, ia bisa tertawa lepas, bercanda dengan ibunya, bahkan memikirkan perempuan yang baru ia temui kemarin. Tapi begitu ia melangkah masuk ke gedung ini, semua itu ditinggalkan di pintu. Di sini, ia adalah pemimpin. Keputusan harus tepat, ekspresi harus terkendali, dan tidak ada ruang untuk keteledoran.
Ia merapikan jasnya, menutup laptop, lalu berdiri. Di cermin kecil di sudut ruangan, ia memeriksa penampilannya sebentar. Rambut rapi, wajah datar, mata tajam. Inilah versi Mario yang dikenal para karyawan dan mitra bisnis profesional, tegas, dan sedikit menakutkan jika sedang fokus.
Lima menit kemudian, ia sudah berada di lift bersama David. Perjalanan menuju kantor cabang di kawasan industri berlangsung dalam keheningan. Mario membaca laporan singkat di tablet, sesekali memberikan instruksi singkat kepada David tentang poin-poin yang harus dibahas nanti. Tidak ada candaan, tidak ada senyum. Hanya urusan bisnis.
Di dalam mobil yang melaju stabil, pikiran Mario sempat melayang sejenak memikirkan Dera. Mario mengerjap, lalu mengusir bayangan itu.
Ia menoleh ke jendela, menatap gedung-gedung yang berlalu. Di kantor, ia harus menjadi Mario Pratama yang dikenal dunia bisnis. Bukan pria yang tiba-tiba tertarik pada pasien psikolog temannya.
Mobil berhenti di depan kantor cabang. David segera turun dan membuka pintu untuknya. Mario keluar dengan langkah mantap, wajahnya kembali datar dan profesional.
Dan seperti biasa, di lingkungan kerja, tidak ada yang berani menunda atau bercanda di hadapannya.
Saat Mario melangkah masuk ke dalam lobi, suasana langsung berubah. Seluruh staf yang sudah menunggu sejak pagi berjejer rapi di dekat pintu masuk. Laki-laki dan perempuan berpakaian formal berdiri tegak dalam dua baris, tangan di samping tubuh, wajah serius.
Begitu pintu kaca terbuka dan Mario muncul, mereka serentak membungkuk sedikit.
Ceklek.....
“Selamat siang, Tuan,” ucap mereka hampir bersamaan, suara mereka terdengar hormat dan terlatih.
Mario hanya mengangguk singkat. Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan panjang. Ia melangkah maju dengan langkah mantap, sepatu kulitnya berbunyi pelan di lantai keramik yang mengilap. David berjalan setengah langkah di belakangnya, membawa map dan tablet.
Suasana lobi yang semula ramai dengan bisik-bisik langsung menjadi hening. Para staf tetap membungkuk hingga Mario melewati mereka sepenuhnya. Baru setelah itu mereka tegak kembali, saling melirik dengan campuran lega dan tegang. Kehadiran pemilik perusahaan selalu membawa tekanan tersendiri.
Mario Pratama dikenal sebagai pemimpin yang tidak suka basa-basi, sangat detail, dan jarang memberikan pujian kecuali benar-benar pantas.
Manajer cabang, seorang pria berusia empat puluhan bernama Pak Hendro, segera menyambut di ujung barisan. “Selamat pagi, Tuan Mario. Semua sudah siap. Ruang rapat utama sudah disiapkan.”
Mario menatapnya sebentar. “Baik. Langsung saja kesana”
Mereka berjalan menyusuri koridor yang bersih. Dindingnya dipenuhi foto-foto pencapaian perusahaan dan grafik pertumbuhan. Karyawan yang berpapasan langsung menunduk hormat, beberapa bahkan menyingkir ke sisi lorong agar tidak menghalangi jalan. Mario tidak menoleh ke kiri atau kanan. Matanya lurus ke depan, fokus pada tujuan.
Di ruang rapat, meja panjang sudah tertata rapi. Beberapa kepala divisi sudah duduk menunggu dengan dokumen di depan mereka. Begitu Mario masuk, mereka langsung berdiri.
“Silakan duduk,” kata Mario singkat setelah mengambil tempat di ujung meja.
Ia meletakkan ponselnya di samping, lalu membuka map yang disodorkan David. Tanpa banyak basa-basi, ia langsung masuk ke inti.
“Laporan bulan lalu menunjukkan penurunan di divisi logistik. Saya ingin penjelasan lengkap, bukan alasan.”
Suaranya tenang, tapi setiap kata terasa berat. Para hadirin saling melirik. Tidak ada yang berani berbicara sebelum dipersilakan. Inilah sisi Mario yang hanya terlihat di lingkungan kerja, tegas, langsung, dan tidak memberi ruang untuk ketidakjelasan.
Ia menatap para staf di hadapannya dengan tajam. “Kita mulai dari angka penjualan.”
Dan rapat pun berjalan dalam suasana yang penuh konsentrasi dan sedikit ketegangan, tepat seperti yang selalu terjadi setiap kali Mario datang berkunjung.
Setelah dua jam penuh dengan ketegangan, akhirnya rapat pun selesai. Mario menutup map di depannya, lalu mengangguk singkat pada David.
“Rapat selesai. Silakan kembali ke ruangan masing-masing,” ucap David dengan suara jelas.
Mario dan David segera berdiri dan keluar lebih dulu. Satu per satu peserta rapat menyusul di belakang mereka, beberapa masih berbisik pelan membahas poin-poin yang baru saja dibahas, sementara yang lain lega karena sesi yang menegangkan itu telah berakhir. Koridor kembali ramai dengan langkah kaki dan suara pintu yang terbuka-tertutup.
Di depan lift, David menoleh pada Mario. “Kita makan siang di mana, Tuan?”
“Dekat sini saja,” jawab Mario singkat. Wajahnya masih membawa sisa keseriusan dari rapat, tapi bahunya sudah sedikit lebih rileks.
David mengangguk. Mereka keluar dari kantor, menyeberang jalan yang tidak terlalu ramai, lalu masuk ke sebuah kafe di seberang. Tempatnya cukup nyaman, dengan jendela kaca besar menghadap jalan dan aroma kopi yang menggoda.
Beberapa pengunjung sudah duduk di dalam, suara denting sendok dan obrolan pelan memenuhi ruangan.
Mario memilih meja di dekat jendela. Ia baru saja hendak duduk, matanya tak sengaja menangkap sosok familiar di pojok ruangan.
Dera sedang duduk bersama dua temannya, tertawa kecil sambil menyuap makanannya. Rambutnya diikat seadanya, wajahnya terlihat lebih cerah dibanding kemarin sore saat bertemu dengannya, namun rasa sedih masih terlihat jelas di matanya.
Mario terdiam sejenak. Senyum tipis perlahan muncul di bibirnya. “Jodoh memang tidak ke mana,” ucapnya pelan, hampir seperti bergumam pada diri sendiri.
David yang sedang membuka menu menoleh, bingung. “Ada apa, Tuan?”
Mario tidak menjawab. Matanya masih tertuju pada meja Dera.
sayangi dan cintai dirimu sndiri dera....
krna istrimu jg org tuanya sifatnya pda buruk & g waras smua....
dan satu"nya org yg waras dan normal di keluarga istrimu.... cuma dera....
bikin dera pintar dikit apa thor..bikin gemes aja sama pola pikir deraa