NovelToon NovelToon
Saving My Ex-Husband

Saving My Ex-Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mafia / Penyelamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hyacinthus Rainwood

IG: @hyacinthschia

Brooklyn dan Liam menikah karena perjodohan demi menyelamatkan keluarga Liam, meski hati pria itu tetap milik Helena. Selama beberapa tahun Brooklyn setia menjaga rumah tangga dengan cinta sendirian, hingga kembalinya Helena memicu perceraian di hari ulang tahunnya.

Brooklyn menghilang dan berubah menjadi agen rahasia, sementara Liam baru menyadari ketulusan Brooklyn serta kebohongan Helena setelah semuanya terlambat. Saat Liam diburu mafia, ia tak menyangka bahwa sosok yang ditugaskan melindunginya adalah mantan istrinya sendiri. Kini, di tengah bahaya yang mengintai, keduanya terpaksa berhadapan kembali dengan masa lalu yang belum selesai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Kata-Kata di Balik Pintu

Malam kembali menyelimuti kota New York, membawa kesunyian yang terasa jauh lebih berat dibandingkan malam-malam sebelumnya. Brooklyn berdiri di depan pintu kamar utama, tangannya menggenggam bantal kecil dan selimut tipis, ragu-ragu antara mengetuk atau berbalik pergi.

Sudah dua hari sejak pernikahan mereka, dan sudah dua malam pula Brooklyn tidur sendirian di kamar tamu, sementara suaminya menempati kamar utama tanpa pernah sekali pun mengajaknya untuk berbagi ruang yang sama.

Namun malam ini, Brooklyn memutuskan untuk mencoba sekali lagi. Bukan karena ia berharap keajaiban akan terjadi, melainkan karena ia tahu bahwa sebagai suami istri, mereka perlu setidaknya mencoba menjalani kehidupan pernikahan yang normal—meski hanya sekadar berbagi ranjang tanpa harus berbagi hati.

Ia mengetuk pintu pelan.

"Liam? Boleh aku masuk?"

Tidak ada jawaban selama beberapa detik, hingga akhirnya terdengar suara langkah kaki mendekati pintu. Pintu terbuka, menampilkan sosok Liam yang masih mengenakan kemeja putih setengah terkancing, rambutnya berantakan, dan raut wajahnya yang tampak lelah namun tetap dingin.

"Ada apa?" tanyanya datar, tidak ada nada ramah sedikit pun dalam suaranya.

Brooklyn menelan ludah, mencoba mengumpulkan keberanian yang tersisa. "Aku pikir... mungkin malam ini aku bisa tidur di sini. Bersamamu. Kita kan sudah menikah, Liam. Setidaknya untuk terlihat wajar di depan orang lain, kita perlu—"

"Tidak," potong Liam cepat, suaranya tegas dan dingin seperti es. "Aku tidak nyaman tidur bersamamu."

Kata-kata itu terasa seperti pisau yang menusuk langsung ke jantung Brooklyn. Namun ia tidak menyerah begitu saja.

"Liam, aku mengerti kau belum bisa menerima pernikahan ini. Tapi setidaknya, bisakah kita mencoba bersikap normal? Aku tidak meminta banyak. Aku hanya—"

"Aku bilang tidak!" bentak Liam, suaranya kali ini jauh lebih keras, membuat Brooklyn tersentak mundur selangkah. "Kembalilah ke kamarmu, Brooklyn. Jangan memaksakan sesuatu yang tidak akan pernah terjadi antara kita."

"Tapi—"

"Pergi!"

Suara bentakan itu bergema di sepanjang koridor apartemen yang sunyi. Liam menatap Brooklyn dengan mata yang dipenuhi amarah dan keputusasaan yang bercampur aduk, sebelum akhirnya membanting pintu tepat di depan wajah Brooklyn.

Suara pintu yang membentur kusennya terdengar begitu keras, seakan menjadi simbol dari penolakan yang berkali-kali harus Brooklyn terima sejak hari pertama pernikahan mereka.

Brooklyn berdiri mematung di depan pintu tertutup itu, bantal dan selimut masih ia dekap erat di dadanya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh tanpa bisa ia bendung lagi, mengalir perlahan di pipinya yang pucat.

Ia berbalik dengan langkah gontai, berjalan menuju kamar tamu yang kini menjadi kamarnya sendiri. Sepanjang koridor yang panjang dan sunyi itu, hanya suara isak tangisnya yang tertahan yang menemani langkahnya.

Sesampainya di kamar, Brooklyn merebahkan diri di atas ranjang yang terasa begitu dingin dan asing, meski ranjang itu empuk dan mewah seperti semua perabotan lain di penthouse tersebut. Namun kemewahan itu tidak berarti apa-apa jika hati yang menghuninya terus dipenuhi kesepian.

"Kenapa aku harus menerima semua ini?" bisiknya pada dirinya sendiri di tengah kegelapan kamar. "Kenapa aku harus terus berusaha, jika dia bahkan tidak pernah mau mencoba?"

Namun tidak ada jawaban yang datang, hanya kesunyian malam yang semakin terasa mencekam, menemani Brooklyn hingga akhirnya lelah membawanya jatuh tertidur dengan bantal yang basah oleh air mata.

...***...

Pagi harinya, sinar matahari menembus tirai kamar tamu, membangunkan Brooklyn dari tidurnya yang tidak nyenyak. Matanya masih terasa bengkak akibat tangisan semalam, namun ia tetap bangkit dan bersiap untuk menjalani hari seperti biasa.

Sebagai seorang istri, meski pernikahan ini penuh luka, Brooklyn tetap merasa memiliki tanggung jawab untuk memastikan Liam bangun tepat waktu dan tidak terlambat menghadiri rapat penting pagi ini di kantor Whitmore Group.

Ia berjalan menuju kamar utama, bermaksud mengetuk pintu untuk membangunkan suaminya. Namun ketika ia mendekat, ia mendengar suara Liam yang sedang berbicara di telepon, nadanya terdengar santai—jauh berbeda dari nada dingin dan kasar yang biasa ia tunjukkan pada Brooklyn.

Brooklyn berhenti di depan pintu yang sedikit terbuka, ragu-ragu antara mengetuk atau menunggu sebentar hingga percakapan itu selesai.

"...ya, aku tahu, Ethan. Pernikahan ini benar-benar menyebalkan," terdengar suara Liam dari dalam kamar, berbicara dengan seseorang yang tampaknya adalah sahabat dekatnya.

Brooklyn membeku di tempatnya, tangannya yang sudah terangkat untuk mengetuk pintu perlahan turun kembali.

"Brooklyn itu... entahlah, dia terlalu berusaha keras untuk terlihat baik," lanjut Liam, suaranya terdengar jelas melalui celah pintu yang tidak tertutup rapat. "Dia pikir dengan membuatkan bubur atau berpura-pura peduli, aku akan melupakan Helena begitu saja? Itu konyol."

Terdengar suara tawa dari seberang telepon, diikuti oleh jawaban Liam yang semakin membuat hati Brooklyn teriris.

"Aku tahu ini terdengar kejam, tapi aku benar-benar tidak tahan berada di dekatnya. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya diingatkan bahwa aku terjebak dalam pernikahan yang tidak pernah kuinginkan. Dia bukan Helena. Dia tidak akan pernah bisa menggantikan Helena di hatiku."

Brooklyn menutup mulutnya dengan tangan, mencoba meredam isak tangis yang hampir lolos begitu saja. Setiap kata yang keluar dari mulut Liam terasa seperti pisau yang menyayat hatinya berkali-kali, lebih menyakitkan daripada bentakan atau makian yang pernah ia terima secara langsung.

"Yang paling menyebalkan," lanjut Liam lagi, "dia terus berusaha bersikap baik seolah itu akan mengubah segalanya. Padahal semakin dia berusaha, semakin aku merasa terkurung dalam pernikahan konyol ini. Aku benar-benar berharap ada cara untuk keluar dari semua ini tanpa menghancurkan reputasi keluarga."

Brooklyn melangkah mundur perlahan, menjauh dari pintu itu dengan langkah yang nyaris tak bersuara, seolah takut Liam akan menyadari kehadirannya jika ia bergerak terlalu keras. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya, namun kali ini ia tidak membiarkan dirinya terisak. Ia hanya berdiri diam di tengah koridor, membiarkan air mata itu mengalir tanpa suara.

Selama ini, Brooklyn tahu bahwa Liam tidak mencintainya. Ia tahu hati pria itu masih sepenuhnya milik Helena. Namun mendengar langsung betapa Liam merendahkan setiap usaha tulus yang telah ia lakukan—bubur yang ia masak dengan penuh perhatian, obat yang ia siapkan dengan kekhawatiran yang nyata, kesabaran yang ia jaga meski dibalas dengan kekasaran—membuat luka di hatinya terasa jauh lebih dalam daripada yang pernah ia bayangkan.

Ia berbalik dan berjalan kembali menuju kamarnya sendiri, menutup pintu dengan pelan, lalu duduk bersandar di tepi ranjang sambil memeluk lututnya sendiri. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu berlangsung, Brooklyn membiarkan dirinya benar-benar merasakan kepedihan yang selama ini ia coba tutupi dengan senyuman dan ketegaran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!