Meng Lin, seorang gadis modern yang baru menyelesaikan pendidikan S2 di bidang sains, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel.
Suatu malam, ia tertidur saat membaca novel berlatar tahun 1974. Ketika terbangun, ia justru mendapati dirinya berada di dalam novel tersebut—menjadi Meng Lin, gadis berusia sembilan belas tahun yang memiliki nama sama dengannya.
Meng Lin asli adalah gadis cantik, baik hati, dan lemah lembut. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya, Meng Wan. Meski memiliki nilai sekolah terbaik, kesempatan kerja justru diberikan kepada Meng Wan. Tanpa pilihan lain, Meng Lin dikirim ke desa sebagai pemuda terpelajar.
Lebih menyedihkan, kekasihnya, Tang Qi, perlahan terlibat dengan Meng Wan. Dalam cerita asli, Meng Lin akhirnya menghilang dari kisah, sementara Meng Wan dan Tang Qi menikah.
"Hmm.. Karakter Utama itu akan menjadi milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Sebuah Peluang
Setelah membeli semua keperluan di toko persahabatan. Meng Lin meminta Yan Rao menunggunya di gerbang kota, di mana gerobak sapi menunggu.
Meng Lin sudah mengubah penampilannya menggunakan topi dan masker. Dia berjalan menghampiri seseorang yang sedang berdiri di sebuah gang.
Pria itu bersikap santai tapi matanya melihat sekeliling dengan waspada.
"Aku mau tanya sesuatu!" kata Meng Lin dengan suara datar sambil menyodorkan sebungkus dua batang rokok.
Mata Pria itu berbinar, tapi tidak langsung mengambilnya. "Ikut aku, di sini tidak aman!" ajaknya sambil berjalan pergi jauh masuk ke dalam gang.
Meng Lin mengikutinya, dia berjalan tanpa ragu. Jika pria itu menyerangnya, dia bisa melawan balik, setelah beberapa hari minum air spiritual, tubuhnya sangat kuat dan bertenaga.
"Nona.. Apa yang kamu ingin tanyakan?" tanya pria itu dengan tatapan santai, seolah-olah dia sudah sering melihat orang seperti itu.
"Apa kau tau di mana lokasi pasar gelap?" tanya Meng Lin to the point.
"Hmm aku kira kau ingin tanyakan apa, ternyata cuma itu!" balas Pria itu sambil tersenyum. "Kamu bertanya pada orang yang tepat, pasar gelap di kota Ping'an ada dua. Kau ingin tau yang dekat ata yang jauh?"
Meng Lin terdiam sejenak lalu berkata. "Yang dekat saja!"
"Pasar gelap yang dekat ada di bawah jembatan 2, buka setiap hari!". Pria itu juga menjelaskan bagaimana situasi dan apa saja aturan yang berlaku.
Meng Lin mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Sebelum pergi, dia memberi pria itu uang sebanyak 5 yuan.
"Nona.. Senang senang berbisnis denganmu!' serunya dengan semangat. Baru kali ini dia bertemu dengan orang yang sangat royal.
"Hmm..!"
Meng Lin berbalik, dan berjalan keluar dari gang. Dia mampir di toilet umum dan mengganti pakaiannya.
Saat keluar dari toilet, dia tidak sengaja mendengar dua gadis muda sedang membicarakan ujian untuk menjadi guru Matematika di SMP.
Meng Lin yang merasa tertarik terus menguping.
"Apa kamu sudah untuk besok?" tanya Gadis berambut pendek.
"Hmm.. Aku sudah belajar semampuku. Jika tidak lulus, berarti bukan jodohku..!" balas gadis yang berambut kepang.
"Haaah.. Dengar-dengar ada 40 orang yang mau ikut ujian. Sangat kecil harapan untuk lulus..!"
"Ya. Tapi setidaknya kita sudah berusaha. Kalau tidak lulus, kita bisa kembali bekerja di pabrik.!"
"Emm.. Tidak ada pilihan lain.!"
Mata Meng Lin berbinar. Ujian Matematika? Meski bukan bidangnya, tapi itu tetaplah perhitungan seperti fisika. Apalagi, pemilik tubuh nilainya sangat baik.
***
Tiba di gerbang kota. Yan Rao sudah menunggunya. Karena tidak ada penumpang lagi, mereka akhirnya kembali ke desa.
"Kamu dari mana?" tanya Yan Rao penasaran.
"Tadi aku beli bakpao di Restoran Negara, tapi lumayan ramai, jadi aku harus antre.!" jelas Meng Lin membual. Bakpao itu, sudah lama di ruangnya.
"Oh. Ternyata kamu antre demi bakpao.!" Yan Rao menggeleng pelan. Meng Lin sekarang sudah benar-benar berubah.
"Ya. Ini makanlah, aku beli cukup banyak, untuk yang lainnya juga!" Meng Lin ingin lihat, di antara semua pemuda terpelajar, apakah ada mulutnya yang suka bocor. Jika mereka mau bekerja sama, maka dia tidak akan pelit.
"Heheh kalau begitu, aku tidak sungkan..!" Yan Rao mengambil bakpao dan langsung memakannya.
"Paman ini untukmu..!" Meng Lin menyodorkan, kepada pria tua yang mengendarai gerobak.
"Nak. Tidak perlu, kamu bisa bawa pulang, dan memakannya sendiri..!" ucapnya menolak.
"Paman.. Aku baru saja tiba di desa. Ini adalah niat baikku, anggap saja sebagai hadiah perkenalan.!" ujar Meng Lin.
"Paman ambil saja! Temanku ini sangat baik.!" sela Yan Rao.
Pria itu terdiam, dia merasa sedikit malu. Karena mau bagaimanapun, Meng Lin baru saja tiba di desa dan harus berhemat. Tapi, dia juga paham maksud Meng Lin.
"Baiklah.. Paman ambil untuk di bawa pulang saja. Biarkan bocah nakal yang memakannya di rumah!" Pria itu akhirnya mengambil bakpao tersebut.
Meng Lin mengangguk sambil tersenyum. mau dimakan Siapa itu bukan urusannya lagi. Dia hanya ingin berbagi saja.
...----------------...
Keduanya baru saja memasuki halaman ketika melihat Xia Ning dan para pemuda terpelajar lainnya sedang makan siang.
Xia Ning yang sedang memegang mangkuk segera melihat kedua gadis itu. “Kalian sudah kembali? Bagaimana, apakah barang-barang yang kalian cari berhasil dibeli?”
“Sudah. Aku cuma beli sapu dan termos.,” jawab Yan Rao sambil meletakkan keranjang belanjaannya di dekat pintu. Padahal Ibunya sudah menyiapkan untuknya, tapi dia menolak karena terlalu repot.
Xia Ning mengangguk, lalu menunjuk tempat kosong di dekat meja. “Kalian pasti lapar setelah perjalanan pulang. Ayo, duduk dan makan bersama kami.”
Meng Lin tersenyum sopan. “Terima kasih, Kak Xia. Tapi aku belum lapar. Kalian makan saja, jangan sampai makanan kalian keburu dingin.”
Xia Ning tidak memaksanya. Ia mengira kedua gadis itu mungkin sudah makan di kota sebelum pulang.
Namun, ketika Meng Lin membuka keranjang yang dibawanya, aroma daging yang gurih segera menyebar ke udara.
Ia mengeluarkan beberapa bakpao yang dibungkus kertas, lalu meletakkannya di atas meja.
“Ini untuk kalian. Aku hanya mendapat beberapa, jadi masing-masing satu orang satu.”
Gerakan sumpit di tangan para pemuda terpelajar mendadak melambat.
Beberapa orang menoleh hampir bersamaan. Bahkan seorang pemuda yang baru saja memasukkan sesendok nasi ke mulutnya tanpa sadar menelan ludah ketika aroma daging yang menggugah selera semakin jelas tercium.
Bakpao dengan kulit putih lembut itu masih tampak utuh dalam bungkusnya. Aroma isian dagingnya membuat makanan sederhana yang sedang mereka santap mendadak terasa kurang menarik.
Xia Ning memandang bakpao di atas meja, kemudian kembali menatap Meng Lin. “Ini… kalian membelinya untuk kami?”
Meng Lin mengangguk santai. “Ya. Kebetulan kami melewati tempat yang menjualnya, jadi aku membelinya sekalian.”
Ia tidak menjelaskan lebih jauh. Karena Meng Lin yakin, mereka semua pasti tau di mana satu-satunya orang bisa beli bakpao.
Yan Rao yang melihat reaksi mereka menutup mulutnya, menahan tawa kecil.
“Kak Xia, kalian makan saja dulu. Bakpaonya tidak akan lari.” Ia melirik bakpao yang masih terbungkus. “Kalau tidak suka makan dalam keadaan dingin, kalian bisa menghangatkannya nanti.”
Ucapan itu membuat beberapa pemuda tersenyum malu.
“Bukan begitu,” jawab salah seorang dari mereka. “Hanya saja, sudah lama aku tidak mencium aroma bakpao daging seperti ini.”
“Benar,” sahut yang lain. “Sejak datang ke desa, kami harus menghitung pengeluaran dengan cermat. Membeli bakpao di kota bukan sesuatu yang bisa dilakukan setiap kali menginginkannya.”
Xia Ning menghela napas kecil, lalu memandang Meng Lin dengan ekspresi tulus.
“Terima kasih, Meng Lin. Kamu sudah banyak membantu kami sejak kemarin. Kami bahkan belum sempat membalas kebaikan kalian.”
“Tidak perlu berterima kasih berkali-kali, Kak Xia. Ini hanya beberapa bakpao.”
“Bagimu mungkin hanya beberapa, tetapi bagi kami, makanan seperti ini cukup istimewa.” Xia Ning tidak berlebihan ketika mengatakan itu.
Sejak turun ke desa, mereka harus mengatur pengeluaran sebaik mungkin. Poin kerja yang diperoleh dalam beberapa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Mereka tidak bisa menghabiskan uang sesuka hati, terlebih jika masih membutuhkan pakaian, perlengkapan hidup, dan barang-barang lainnya.
Membeli bakpao daging di kota mungkin hanya bisa mereka lakukan sekali dalam sebulan, itu pun jika memiliki uang lebih.
Jika membuat bakpao sendiri, mereka biasanya menggunakan isian sayuran agar lebih hemat. Daging terlalu mahal untuk dijadikan bahan makanan sehari-hari.
Karena itulah, pemberian sederhana dari Meng Lin terasa begitu berarti.
Zhang Wei yang duduk tidak jauh dari meja mengangkat bakpao miliknya dan berkata dengan sungguh-sungguh, “Kalau begitu, kami akan menerimanya. Terima kasih, Adik Meng Lin.”
“Terima kasih,” ujar yang lain menyusul.
Meng Lin mengangguk ringan. “Sama-sama. Makanlah jangan sungkan..!"
Xia Ning mulai membagikan bakpao itu kepada semua orang, memastikan setiap orang mendapat satu. Setelah itu, ia sendiri mengambil bagian terakhir yang tersisa.
Begitu menggigit kulit bakpao yang lembut, aroma daging berbumbu langsung terasa. Beberapa pemuda bahkan tanpa sadar memejamkan mata sejenak, menikmati rasa yang sudah lama tidak mereka rasakan.
“Enak sekali,” gumam seseorang.
“Isian dagingnya banyak juga.”
“Kalau setiap hari bisa makan seperti ini, aku tidak akan mengeluh lagi meskipun harus bekerja di ladang sampai sore.”
“Jangan bermimpi. Kita bisa mendapatkannya karena Adik Meng Lin mentraktir kita hari ini,” sahut rekannya sambil tertawa.
Suasana meja makan menjadi lebih ramai. Meski hanya mendapat satu bakpao, mereka menikmatinya dengan sungguh-sungguh, seolah ingin mengingat setiap gigitan.
Setelah meletakkan keranjang belanja di kamar, Meng Lin kembali keluar untuk membantu merapikan barang-barang yang mereka bawa. Ia tidak berniat menjadikan pemberian kecil itu sebagai sesuatu yang perlu dibicarakan panjang lebar.
Namun, bagi Xia Ning dan para pemuda terpelajar lainnya, perhatian tersebut meninggalkan kesan yang baik.
Mereka tahu bahwa Meng Lin baru tiba di desa. dia belum mendapatkan poin kerja dan masih harus mengatur persediaan sendiri. Meski demikian, Meng Lin tetap bersedia berbagi makanan yang tidak mudah mereka nikmati.
Bagi orang-orang yang menjalani kehidupan sederhana dengan banyak keterbatasan, kebaikan seperti itu tidak mudah dilupakan.
.
.
.
next double up ya Thor 😁
update nya kurang banyak Thor 😀👍