Di balik tatapan kosong dan cemoohan sebagai "dokter idiot" yang selalu diremehkan di rumah sakit elit, Arka Prasetya sebenarnya menyimpan kejeniusan otak super serta sertifikasi bedah internasional yang tidak diketahui siapa pun. Ketika hidupnya terus diinjak-injak oleh para dokter senior yang arogan dan terjebak dalam perjodohan tak terduga dengan Clara, seorang pewaris konglomerat yang angkuh, Arka perlahan mulai menunjukkan taringnya lewat operasi-operasi mustahil yang akan memberikan tamparan telak bagi siapa saja yang berani merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Malam semakin larut ketika konvoi mobil hitam milik keluarga Wijaya melaju kencang meninggalkan pusat kota.
Tujuan mereka adalah sebuah gudang terbengkalai di kawasan industri pinggiran kota yang sunyi.
Arka duduk di kursi belakang dengan wajah tenang tanpa ekspresi tegang sedikit pun.
"Berdasarkan data dari sistem, pabrik produksi utama obat ilegal itu berada tepat di bawah gudang tua ini," kata Arka datar.
Clara yang duduk di sampingnya mengepalkan tangan dengan sorot mata penuh tekad.
"Kita tidak boleh biarkan satu pun penjahat itu lolos malam ini, Arka," ucap Clara tegas.
Siska yang duduk di kursi depan menoleh ke belakang sambil memegang tablet pemantau keamanan.
"Laporan, Dokter Arka, semua akses keluar sudah ditutup rapat," lapor Siska cepat.
"Bagus, mari kita akhiri permainan kotor kartel ini sekarang juga," balas Arka tersenyum tipis.
Mobil berhenti tepat di depan gerbang gudang berkarat yang tampak sepi dari luar.
Suara jangkrik malam terdengar bersahutan di sekitar area industri yang gelap gulita.
Krik... krik... krik...
Arka membuka pintu mobil lalu melangkah keluar dengan tenang.
Clara dan Siska mengikuti di belakang Arka dengan langkah sigap.
Beberapa petugas kepolisian berseragam lengkap langsung mendekati posisi mereka.
"Laporan, Dokter Arka, semua jalur pengamanan sudah siap," ucap komandan polisi memberi hormat.
"Bagus, pimpin jalan ke pintu masuk bawah tanah," perintah Arka singkat.
Mereka berjalan mendekati pintu besi tua yang dijaga oleh dua orang preman berbadan kekar.
Kedua preman itu menoleh kaget melihat kedatangan rombongan polisi bersenjata lengkap.
"Siapa kalian?! Jangan mendekat!" bentak preman pertama mengangkat pentungan besi.
Belum sempat preman itu mengayunkan senjatanya, Siska melangkah maju dengan gerakan cepat.
Bugh!
Satu tendangan telak mendarat di perut preman tersebut hingga tersungkur lemas.
Prang!
Preman kedua mencoba melawan dengan mencabut pisau lipat dari sakunya.
Arka bergerak secepat kilat menepuk titik saraf di lengan preman kedua.
Bruk!
Preman itu langsung pingsan seketika tanpa sempat melukai siapa pun.
"Lumayan juga latihan bela dirimu, Siska," puji Arka melirik ke arah perawatnya.
"Aku belajar dari cara kerjamu yang tidak pernah buang waktu," jawab Siska tersenyum bangga.
Clara menggelengkan kepalanya pelan melihat aksi cepat kedua orang di depannya.
"Sudah, jangan pamer keahlian dulu, cepat buka pintu rahasianya," suruh Clara tidak sabar.
Arka mendekati panel kunci elektronik di sebelah pintu besi.
[Sistem Mendeteksi Enkripsi Pintu Keamanan Rendah]
[Membuka Akses Masuk Fasilitas Bawah Tanah Secara Otomatis]
Suara notifikasi bernada datar berderik pelan di dalam kepala Arka.
Krik... klik...
Pintu besi berat itu terbuka lebar secara perlahan menampilkan tangga gelap ke bawah.
Bau bahan kimia menyengat langsung tercium pekat begitu pintu terbuka.
"Baunya sangat tidak enak, ini pasti tempat produksi obat palsu itu," tutup Clara hidungnya.
"Pakai masker medis kalian masing-masing," instruksi Arka membagikan masker steril.
Mereka bertiga menuruni tangga beton satu persatu dengan sangat hati-hati.
Suara mesin pabrik beroperasi terdengar semakin jelas dari dalam ruang bawah tanah.
Bung... bung... bung...
Begitu mencapai ruangan utama, pemandangan mengejutkan langsung terhampar di depan mata.
Puluhan pekerja paksa mengenakan seragam laboratorium tampak sibuk mengemas pil-pil berbahaya ke dalam botol.
Beberapa pengawas bersenjata api berdiri mengawasi para pekerja dengan tatapan bengis.
"Hei! Siapa kalian berani masuk ke ruang produksi rahasia?!" jerit pengawas utama kaget.
Pengawas itu langsung mencabut pistol dari pinggangnya mengarah ke kepala Arka.
"Jangan bergerak atau kalian kutembak mati sekarang juga!" ancam pengawas itu gemetar.
Arka menatap lurus ke arah senjata yang diacungkan tanpa menunjukkan rasa takut sedikit pun.
"Menodongkan senjata di depan dokter bedah adalah keputusan paling bodoh," ucap Arka dingin.
Swish!
Arka melemparkan sebuah skalpel bedah kecil dari jarinya dengan kecepatan luar biasa.
Tcep!
Skalpel itu menancap tepat di tangan pengawas yang memegang pistol.
"Arghhh!" jerit pengawas itu kesakitan menjatuhkan senjatanya ke lantai.
Bruk!
Sebelum pengawas lain sempat bereaksi, tim kepolisian langsung menyerbu masuk dari tangga.
"Tengkurap! Jangan bergerak! Kalian semua dikepung!" teriak komandan polisi tegas.
Para pekerja ketakutan langsung menjatuhkan barang bawaan mereka lalu tiarap di lantai.
Suasana pabrik gelap itu seketika berubah menjadi kekacauan total bagi para penjahat.
Siska membantu mengamankan beberapa pekerja yang tampak lemas akibat paparan bahan kimia.
"Kalian tenang saja, kami di sini untuk membebaskan kalian," ucap Siska menenangkan para korban.
Clara memeriksa tumpukan dokumen produksi yang berserakan di atas meja utama.
"Semua catatan transaksi dan daftar pengiriman kartel tersimpan rapi di sini, Arka," lapor Clara.
Arka berjalan mendekati mesin utama produksi obat ilegal di tengah ruangan.
"Hancurkan mesin ini sampai tidak bisa diperbaiki lagi," perintah Arka kepada petugas kepolisian.
[Sistem Mendeteksi Penghancuran Total Pabrik Kartel Farmasi]
[Misi Pembongkaran Fasilitas Gelap Berhasil Sempurna]
Suara notifikasi bernada datar berderik pelan di dalam kepala Arka.
Petugas kepolisian langsung memasang bahan peledak penjinak di bawah mesin utama.
"Semua keluar sekarang, area ini akan segera diledakkan!" seru komandan polisi memberi komando.
Arka, Clara, dan Siska berjalan mundur meninggalkan ruang bawah tanah yang kacau.
Mereka menaiki kembali tangga beton menuju permukaan tanah dengan selamat.
Duar!
Suara ledakan tertahan terdengar dari dalam tanah mengguncang sedikit halaman gudang tua.
Asap putih mengepul keluar dari celah-celah pintu masuk yang kini tertimbun reruntuhan.
Pabrik gelap utama milik kartel farmasi nasional resmi musnah tanpa sisa malam ini.
Herman dan sisa bos kartel yang tertangkap di dalam langsung digiring masuk ke mobil tahanan.
"Operasi malam ini berjalan sangat sukses berkat bantuanmu, Arka," puji Clara tersenyum lebar.
"Ini baru permulaan dari pembersihan seluruh jaringan kartel di negeri ini," balas Arka tenang.
Siska menghela napas lega lalu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Besok kita harus istirahat seharian penuh sebelum melanjutkan misi berikutnya," usul Siska manja.
Arka tertawa kecil melihat ekspresi lelah namun puas dari perawat setianya itu.
"Baiklah, besok kita ambil cuti santai di rumah sakit," setuju Arka ringan.
Mobil mewah keluarga Wijaya meluncur kembali membelah malam kota yang tenang.
Kemenangan mutlak kembali diraih oleh Arka dan tim setianya melawan kejahatan korporasi.
"Apa kamu yakin tempat ini tidak punya jalur pelarian rahasia lain, Arka?" tanya Clara saat mobil mereka mendekati titik kumpul.
"Sistem sudah memindai seluruh peta bawah tanah, tidak ada jalan keluar lain selain pintu utama yang kita jaga," jawab Arka meyakinkan.
Siska mengangguk setuju sambil memandangi layar tablet yang menampilkan titik-titik hijau posisi polisi.
"Semua pergerakan musuh terpantau jelas di sini, tidak ada celah bagi mereka untuk kabur," tambah Siska antusias.
Mobil pun berhenti tepat di garis perimeter pengamanan polisi.
Udara malam terasa dingin menusuk kulit, namun semangat mereka bertiga membara luar biasa.
"Mari kita selesaikan babak ini dengan sempurna," ajak Arka melangkah keluar lebih dulu.
Langkah kaki mereka bertiga begitu mantap menembus kegelapan malam di kawasan industri terbengkalai itu.
Para polisi senior memberikan hormat begitu melihat kehadiran Arka di lokasi penggerebekan.
"Situasi di dalam sudah terkendali, Dokter Arka," lapor perwira polisi dengan nada sangat segan.
"Bagus, ikuti saya masuk untuk mengamankan barang bukti utama," titah Arka berwibawa.
Pintu besi bawah tanah yang tadi tertutup rapat kini sudah berhasil dijebol oleh tim penjinak.
Bau bahan kimia yang tajam langsung menusuk hidung begitu mereka melangkah masuk lebih dalam.
"Tutup hidung kalian erat-erat, konsentrasi gas di sini cukup tinggi," ingatkan Siska kepada Clara.
"Terima kasih, Siska, untung ada masker medis ini," balas Clara tersenyum ramah.
Suasana di dalam laboratorium bawah tanah tampak porak-poranda akibat serbuan kilat tadi.
Beberapa ilmuwan bayaran kartel tampak terduduk gemetar di sudut ruangan dengan tangan diborgol.
"Tolong jangan apa-apakan kami, kami hanya pekerja suruhan!" ratis salah seorang ilmuwan ketakutan.
Arka berhenti tepat di depan meja utama tempat formula racun itu diracik.
"Kalian tidak akan apa-apa asalkan jujur memberikan semua kode akses server pusat," ujar Arka tenang.
Ilmuwan itu mengangguk cepat tanda setuju tanpa berani membantah sepatah kata pun.
"Ini... ini flashdisk berisi seluruh sandi rahasia server pusat kartel farmasi!" serah ilmuwan menyerahkan sebuah benda kecil.
Arka menerima flashdisk itu lalu memasukkannya ke dalam saku jasnya.
[Sistem Berhasil Mengunduh Seluruh Akses Jaringan Kartel Farmasi Nasional]
Suara notifikasi bernada datar berderik pelan di dalam kepala Arka.
"Kerja bagus, sekarang kalian bisa ikut polisi untuk menjalani pemeriksaan lanjutan," kata Arka santai.
Petugas kepolisian langsung menuntun para ilmuwan itu keluar dari ruang bawah tanah.
Clara mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan laboratorium yang penuh tabung pecah.
"Tidak disangka tempat sekotor ini menjadi pusat peredaran racun bagi ribuan warga kota," geram Clara kesal.
"Dunia ini memang penuh dengan orang-orang yang menghalalkan segala cara demi uang," balas Arka dingin.
Siska mendekati Arka lalu memegang lengan pemuda itu pelan.
"Tapi setidaknya malam ini kita berhasil menghentikan kejahatan besar mereka, Arka," ucap Siska lembut.
Arka menatap Siska dengan senyuman tipis yang menenangkan.
"Benar, Siska, dan ini adalah berkat kerja sama tim yang luar biasa," puji Arka tulus.
Pipi Siska merona merah mendengar pujian tulus dari sang kepala divisi bedah.
Clara berdehem pelan sengaja mengalihkan perhatian mereka berdua.
"Ehem, sepertinya kita masih harus merapikan laporan resmi untuk kementerian kesehatan besok pagi," sindir Clara tersenyum usil.
"Urusan laporan serahkan saja pada birokrat yang suka lembur, aku mau tidur," kelit Arka santai.
Mereka bertiga tertawa bersama menikmati momen kemenangan kecil di tengah reruntuhan pabrik ilegal.