Rafa Arya Prasetio adalah tipe lelaki kolot di zaman yang serba canggih ini. Dia itu hidupnya terlalu lurus, hanya dihabiskan untuk bekerja dan keluarga. Percaya gak, jika dia belum pernah pacaran di usia yang ke 28 tahun ini? Tapi dia sudah tidak perjaka. Enggak, dia bukan penganut *** before married. Tapi sipolos ini pernah meniduri seorang gadis saat tengah mabuk.
Dimasa depan, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang datang ke kantornya dan mengaku anaknya. Kemana mamanya? Tidak tahu, anak itu bungkam dan mau tinggal sama Papa katanya. Yah, yang jadi Papanya itu dia.
Terus, kemana sosok ibunya? Masa kabur? Apa benar Rafa ayahnya anak itu? Tapi bagaimana bisa?
Ayo temukan kisah mereka di sini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elvan Curhat (Bonus Chapter)
**
"Mau pulang!" Aku berteriak untuk yang kesekian kalinya, tapi mereka tidak ada yang membawa aku pulang.
Aku gak suka tempat ini, gak mau di sini, aku mau pulang sekarang. Eh, sebelum pulang mau ke tempat Cio dulu, mau main perang air di sana.
"Gemesnya."
Tuh kan, orang-orang di sini jahat. Tiap detik pipi aku dicubit sesuka hati mereka, seperti orang ini yang dipanggil Auntie Ila yang sering cubit pipi aku.
"Ikut Auntie hayu, kita jajan hayu? Auntie traktir jajan hayu!" ajak Auntie Ila, ajakannya yang kesekian kali aku tolak. Aku masih kesal dia sering cubit, terus tadi mandiin aku sambil gelitikin perut aku.
Mau ketemu Papa! Semenjak datang ke sini dari kemarin belum ketemu Papa. Mama juga jarang temui aku, semalam saja pas aku mau bobo terus Mama belum datang, tidak tahu kemana. Papa kemana? Mau ketemu dia sekarang, mama selalu bilang papa masih sibuk ketemu Abah yang rambutnya putih kaya bihun. Pas aku tadi ketemu tadi malam, dia jahat gak senyum dan aku greget mau gigit rambutnya enak kaya bihun bakso. Di sini juga banyak wanita yang nyuruh panggil aku panggil nenek, dari nenek 2, nenek2 dan nenek3.
Aku gak tahu ini di mana, tapi di sini juga aku banyak ketemu orang yang maksa harus dipanggil Auntie dan Om. Tubuhku juga banyak dicubit sana-sini.
"Aduh, lucu banget sih, ini!"
Tuhkan, belum lagi berjalan lama eh ... digendong maksudnya aku udah ketemu orang lagi yang nyubit pipi. Saat ini, terpaksa aku ikut Auntie Ila jalan-jalan. Aku tetap gak mau, tapi Auntie Ila gendong dan langsung bawa keluar kaya gini. Aku udah meronta minta dilepas, tapi Auntie Ila ancam akan kirim ke aku ke tempat Abah rambut buhun. Gak mau! Terpaksa aku diam tidak melakukan perlawanan lagi.
"Iya, dong keponakan aku," jawab Auntie Ila seolah bangga karena terus menciumi pipiku. Lepas!
"Gak mau cium, udah gede!" Aku berteriak protes yang sangat yakin memang akan sia-sia.
"Mana sini lihat yang udah gede, gak mau cium?" Auntie Ila malah menggendongku tinggi-tinggi mau dibawa terbang.
"Ih ... turun!"
Auntie dan sekarang kawan-kawannya malah tertawa lihat aku yang digendong tinggi.
Seharian ini, aku seperti boneka yang pindah gendongg sana-sini, peluk sana-sini, cium sana-sini. Aku tadi juga makan disuapin sana-sini, untung tadi mandi doang cuman sama Auntie Ila, malu lah kalau dimandiin sana-sini juga. Aku kan, sudah gede.
Dari pagi, aku sama sekali belum bertemu papa, apalagi papa dari kemarin belum nemuin aku. Mereka kemana, sih? Mereka sengaja ke sini mau buang aku? Apa mereka rela kehilangan anak yang seganteng aku?
"Papa!" Aku spontan berteriak memanggil papa yang baru saja masuk dari pintu gerbang.
Papa terlihat melihat ke arahku, terus berbicara dengan beberapa orang di sana lalu berlari menghampiri aku. Beruntung, tadi aku setuju diajak Auntie Ila buat main keluar karena bosan. Akhirnya, bisa ketemu papa, kan. Horee!!!
"Anak Papa, apa kabar? Kangen banget, ih!" Aku sudah beralih di gendongan papa yang terus menciumi pipiku. Kalau dicium papa aku mau, gak seperti tadi dicium sana-sini sama orang-orang.
"Papa gak jadi buang aku, kan? Gak mau kan buang anak ganteng kaya aku?"
Papa malah ketawa. "Siapa, yang mau buang kamu, Boy?"
"Papa sama mama yang tinggalin aku di sini sama orang-orang." Aku melipat bibir kesal.
"Maafin Papa yah sayang, karena gak temui kamu dari kemarin. Maaf ... Mama juga, karena dia juga pasti sibuk jarang temui kamu." Aku mengangguk mendengar ucapan Papa. "Tunggu sebentar lagi yah, nanti Papa akan bawa kamu pulang sama Mama kamu secepatnya. Main dulu sama orang-orang di sini, mereka baik-baik, kok."
"Mereka cium dan peluk aku terus, gak suka aku kan udah gede!" protesku langsung menatap tajam Auntie Ila.
Auntie Ila malah cengengesan. "Habisnya Elvan lucu Om, teman-teman aku suka gemes tiap lihat Elvan jadi spontan cium, deh."
"Gak mau cium, udah gede!"
"Jangan terlalu sering aja yah, dia emang kurang suka dicium gitu. Saya titip Elvan sama kamu yah, sementara ini. Saya sama mama-nya masih sibuk, kamu pasti mengerti. Maaf yah, merepotkan."
"Gak mau!" Aku berteriak protes saat papa mah menitipkan aku. Kenapa gak sama Papa, sih?
"Gak papa, Om. Elvan kan, keponakan saya juga, Om. Pasti saya jagain, kok."
"Gak mau!" Aku berusaha meluk Papa sangat erat, gak mau sama Auntie Ila lagi.
"Jadi anak baik, yah? Sebentar lagi kita pulang, Elvan mau main kemana aja nanti Papa temenin. Ok mau, yah sama Auntie dulu? Papa janji, nanti malam ke tempat Elvan kita bobo bareng, ok?"
Aku masih menimang, beralih melihat wajah Papa sampai terpaksa aku mengangguk. Mengacungkan jari kelingking. "Janji?"
Papa mengangguk, mengaitkan jari kelingkingnya juga. "Iya, janji. Nanti kita pulang, yah."
Akhirnya, setelah Papa menciumi pipiku, dia beranjak pergi ke tempat orang-orang tadi. Aku mau nangis, tapi gak boleh karena aku sudah gede dan gak boleh cengeng. Papa kan, tadi sudah janji nanti malam temani aku bobo.
"Kita kemana Auntie sekarang?"
"Udah sedihnya?" Auntie Ila malah balik bertanya, ah ... tidak sepertinya itu sedang meledekku.
"Aku gak udah gede, gak sedih, gak cengeng, gak nangis juga," elakku mempertahankan kedewasaan ini.
"Iya, iya ... yang udah gede Auntie percaya. Sini cium dulu!"
"Gak mau!" Aku berontak dari gendongan Auntie hingga akhirnya terlepas. Aku mau lari, tapi tangan Auntie sudah pegang tangan aku.
"Udah jangan ngambek, Auntie janji gak akan cium sembarangan lagi. Ayo kita main ke luar, kita jajan hayu!"
Aku memicing tidak percaya ke arah Auntie, hingga akhirnya terpaksa aku mengangguk. Kita akhirnya berjalan ke luar buat jalan-jalan yang ditemani banyak teman-teman Auntie juga.
*
"Mama huwaa!!" Aku sudah gede gak boleh nangis, ini cuman lagi tes vocal saja, kok.
"Papa huwaa! Mama huwaa!"
Ini bukan air mata kok, tapi kelilipan. Kan, aku sudah gede gak mungkin nangis.
Gak kuat, aku mau nangis saja sekarang. Boleh, kan? Aku udah gede tapi kata Cio orang gede juga boleh nangis. Lelaki juga manusia biasa, kan? Aku tetap lelaki sejati bukan kalau nangis? Jawab!
"Papa huwaa!!! Mama huwaa!! Mau tidur sama Papa dan Mama! Gak mau tidur sama nenek-nenek, Auntie-Auntie. Pokonya aku mau tidur sama Papa dan Mama!!"
Aku tidur menelungkup, gak mau lihat wajah banyak Auntie dan nenek itu yang maksa buat aku bobo sama mereka. Pokonya, kalau gak ada Papa sama Mama, gak mau tidur!
Mereka kemana, sih? Papa tadi janji mau tidur sama aku, terus Mama juga tadi pulang bilang mau tidur sama aku juga. Tapi, sekarang mereka kemana? Mereka jahat! Suka bohong!
"Huwa!! Huwa!!"
"Jangan nangis, sayang! Ayo, bobo sama Nenek1!"
"Iya, Nenek2 juga mau temenin Elvan Bobo!"
"Nenek3 bacain dongeng yah, biar Elvan Bobo!"
"Auntie-Auntie juga mau temenin Elvan Bobo. Ayo, bobo yuk!"
"Gak mau bobo sama kalian! Mau bobo sama Papa dan Mama! Huwa!!" Aku berteriak sekencang mungkin, sampai suaraku sudah sakit.
"Mama sama Papa masih sibuk. Nanti juga ke sini, pas Elvan udah bobo!"
Aku gak tahu siapa itu yang ngomong, kan aku memunggungi mereka.
"Elvan mau dinyanyikan sebelum bobo, apa?"
Aku menendang-nendang siapapun itu yang mau memegang tubuh aku. Aku bukan lagi ngamuk yah, tapi ini adalah cara orang dewasa sedang marah.
"Ini nih, akibat salah didik. Anak kecil ini gak ada sopan santunnya."
"Ini ada apa?" Terdengar suara Mama, yah itu mama!
"Huwaa Mama!" Aku buru-buru terduduk, merentangkan kedua tangan meminta digendong, saat melihat Mama muncul di pintu.
"Kenapa sayang?" Mama menggendongku sambil duduk.
"Mau bobo sama Mama dan papa, gak mau sama mereka!" Aku menunjuk ke arah mereka semua.
"Gak boleh tunjuk gitu, sayang. Itu gak sopan." Mama meraih tanganku.
"Ayah, aku tidur sama Elvan, yah! Aku juga capek mau istirahat!"
Kakek tua itu melihatku, aku balik melihat galak. "Baik. Cuman kalian berdua dan gak ada lelaki itu. Didik anakmu dengan benar dan ajarkan sopan santun. Ayo, semuanya keluar!"
Setelah Kakek bihun berkata itu, semuanya keluar dan tinggal aku sama Mama
Mama membaringkan aku. Kita berdua sekarang sudah tidur saling berpelukan.
"Maaf yah, Mama lama. Maaf mama jarang temani Elvan, janji sebentar lagi kita pulang, sayang." Mama sudah menciumi aku, gak papa suka dicium Mama.
"Ayo, pulang!" Aku merengek karena benar-benar gak betah di sini.
"Iya, sebentar lagi. Elvan jadi anak baik yah, gak boleh bentak orang yang lebih tua, ok!"
Gak tahu kenapa, aku malah mengangguk aja. "Papa mana? Aku mau tidur sama kalian!"
"Malam ini, tidur sama Mama dulu yah, sayang. Papa masih ada urusan orang dewasa. Gak papa, yah?" Aku juga orang dewasa, kenapa gak diajak?
"Papa udah janji tadi, mau tidur sama aku!"
"Maafin Pala yah, gak temenin bobo. Ayo, Elvan bobo biar kita cepat pulang!"
Gak tahu kenapa, aku malah mengangguk lagi. Peluk Mama erat. "Iya, ayo bobo."
"Anak baik." Mama kembali menciumi pucuk kepalaku.
Ayo, Auntie-Auntie online yang katanya cantik bobo sama aku? Ada Om online juga gak, yah?
*
Aku lagi naik mobil Tayo, tapi tiba-tiba pipiku terasa diciumi. Siapa nih, yang cium-cium?
Aku akhirnya membuka mata walau kesal, masih ngantuk tapi juga penasaran siapa yang lagi cium-cium.
"Papa!" Mataku langsung terbuka lebar saat melihat papa tidur di sebelah, sekarang aku tidur diapit papa sama Mama.
"Syut ... jangan berisik ayo bobo! Maaf yah, Papa datang telat."
Aku mengangguk. "Iya, ayo bobo!"
"Anak pinter." Papa kembali menciumi pucuk kepalaku kaya Mama tadi.
Aku akhirnya, malam ini bisa tidur sambil meluk Mama sama Papa. Senangnya hatiku.
##